Malam di Hutan Hitam tidak pernah ramah, tetapi bagi Dante, kegelapan malam ini adalah panggung pembantaian. Bau mesiu yang menyengat bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang menetes dari luka-lukanya. Dante, pria berusia tiga puluh dua tahun yang dipuja sekaligus ditakuti sebagai bos mafia paling kejam di wilayah utara, kini terdesak. Senjata otomatisnya telah habis meriamnya, tersisa hanya satu pisau komando yang terselip di pinggangnya.
Suara langkah kaki yang berat dan makian dalam bahasa asing mendekat dari segala penjuru. Kelompok rivalnya, klan Arcanum, telah merencanakan penyergapan ini dengan sangat rapi. Puluhan tentara bayaran bergerak mengepungnya, menyisir semak-semak tebal dengan senter berdaya tinggi. Cahaya putih memotong kegelapan, mendekati titik semak tempat Dante bersembunyi.
"Dante! Keluar kau, Anjing! Tidak ada tempat bersembunyi lagi di hutan ini!" teriak suara serak yang sangat dikenalnya—Marco, mantan tangan kanannya yang berkhianat.
Dante menga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api Dendam Dibalik Keheningan
Malam makin larut, tetapi percakapan di antara mereka di depan nyala api tungku belum juga usai. Udara dingin hutan merayap masuk lewat celah dinding bambu, membuat kehangatan dari kayu bakar yang berpijar terasa semakin nikmat. Dante terus mengunyah daging kelinci panggangnya dengan tenang, sementara matanya yang tajam mengamati pergerakan Aura.
Gadis itu menusukkan sisa potongan daging ke bilah bambu berikutnya. Suasana gubuk yang sunyi membuat suara derak kayu terbakar terdengar begitu dominan.
"Kau tidak takut tinggal sendirian di sini?" tanya Dante pelan, memecah keheningan. "Ini hutan belantara. Biasanya penuh dengan binatang buas."
Aura terkekeh kecil seraya menggelengkan kepalanya. "Anehnya, meski dibilang hutan lebat, aku jarang sekali bertemu binatang buas di area ini. Paling hanya rusa, kelinci, atau burung malam. Seolah-olah tempat ini sengaja melindungiku dari bahaya."
Gadis itu terdiam sejenak, menatap nyala api tungku yang memantulkan bayangan merah di matanya. "Sudah dua tahun aku mengisolasi diri dari dunia luar. Dua tahun penuh kesunyian, tanpa membawa ponsel, tanpa kabar dari kota, tanpa siapa pun."
Dante mendengarkan dengan saksama. Dua tahun tanpa teknologi dan interaksi manusia adalah waktu yang sangat lama bagi seorang gadis muda. Namun, raut wajah Aura yang tadinya polos perlahan berubah. Ada kilatan dingin dan pekat yang tiba-tiba muncul di dasar mata cokelatnya—sebuah pendar emosi yang sangat familiar bagi Dante.
Itu adalah tatapan mata milik seorang pemburu. Tatapan mata milik seseorang yang didorong oleh dendam.
"Aku tidak melarikan diri ke sini hanya untuk bersembunyi atau meratapi nasib," lanjut Aura dengan suara yang mendadak memberat, kehilangan keceriaan biasanya. "Aku mengisolasi diri untuk melatih diriku. Aku berniat membalas dendam kepada para mafia yang telah membantai keluargaku."
Dante tertegun. Kata-kata itu meluncur begitu tenang dari bibir Aura, namun membawa bobot dendam yang sangat berat. Pria itu menyipitkan matanya, melihat betapa api kebencian telah membakar jiwa polos gadis ini selama dua tahun terakhir.
"Membalas dendam?" bisik Dante dingin. "Kau tahu seberapa berbahaya orang-orang yang kau maksud? Mereka bukan cuma penjahat jalanan, Aura. Mereka adalah iblis berpakaian rapi yang memegang senjata dan uang."
"Aku tahu," jawab Aura tegas, menatap lurus ke dalam mata Dante tanpa gentar sedikit pun. "Karena itulah aku menyiapkan semuanya dengan matang. Saat melarikan diri dari rumah malam itu, aku tidak membawa pakaian yang terlalu banyak. Aku hanya membawa satu ransel tas."
Aura berdiri dari duduknya, berjalan ke sudut ruangan yang gelap di dekat lemari kayu tua. Ia menarik sebuah ransel kain tebal berwarna hijau tentara yang tampak lusuh namun terawat. Gadis itu meletakkannya di atas meja di hadapan Dante.
Dengan perlahan, Aura membuka ritsleting utama ransel tersebut.
Dante menunduk memandang isi tas itu. Di dalamnya, tersusun rapi beberapa helai pakaian ganti. Namun yang menarik perhatian Dante adalah Kilauan kuning keemasan yang memantulkan cahaya lampu minyak. Di dasar tas itu, menumpuk beberapa batangan emas murni serta perhiasan bernilai tinggi milik keluarga Aura yang berhasil diselamatkan dari bungker.
"Ini barang-barang berharga yang sempat dibawa Papa sebelum semuanya hancur," kata Aura lirih, jemarinya mengelus permukaan dingin batangan emas itu. "Emas ini cukup untuk membiayai rencana pembalasan dendamku. Aku hanya menunggu waktu yang tepat, saat kakiku cukup kuat dan rencanaku cukup matang untuk kembali ke kota."
Dante menatap tumpukan emas itu, lalu beralih menatap gadis di hadapannya. Hatinya bergetar hebat oleh simpati bercampur rasa ironi yang menyiksa. Gadis ini telah merawat lukanya, memberinya tempat berteduh, dan membagikan makanannya—tanpa menyadari bahwa pria yang dia percayai ini adalah salah satu raja puncak dari dunia mafia yang sangat dia benci.
Dante tahu betul betapa kejamnya dunia yang ingin dimasuki Aura. Seorang gadis polos dengan satu ransel emas dan dendam membara tidak akan bertahan hidup di hadapan serigala-serigala kota. Mereka akan mencabiknya, merebut emasnya, dan menghancurkan sisa hidupnya tanpa ampun.
Dante menghela napas panjang, tatapannya mengeras. Jika Aura memang ditakdirkan untuk melangkah ke dalam neraka dunia bawah demi membalas dendam, maka Dante—sang iblis yang berutang budi pada nyawanya—tidak akan membiarkan gadis ini berjalan sendirian.