Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Udara dingin pegunungan langsung menusuk tulang saat rombongan itu turun dari mobil pikap.
Rizky berdiri menatap hamparan pohon pinus raksasa yang menjulang tinggi menutupi cahaya matahari pagi.
Di belakangnya, Bang Jali dan kelima anak buahnya sedang sibuk menurunkan ransel-ransel besar berisi perlengkapan logistik.
"Hutannya gelap sekali padahal ini masih jam delapan pagi Bos," keluh seorang preman kurus bernama Udin.
"Namanya juga Hutan Larangan Din, kalau terang benderang itu namanya taman kota," balas Bang Jali sambil mengikat tali sepatunya.
Rizky tersenyum tipis melihat tingkah laku bawahannya yang masih sempat bercanda di depan zona berbahaya.
"Pastikan semua parang penebas semak sudah diasah tajam Bang Jali," perintah Rizky dengan suara tenang.
"Sudah Bos, kami juga membawa masker gas dan tambang tebal sesuai pesanan Bos kemarin sore," lapor Bang Jali sambil menepuk ransel besarnya.
Rizky mengangguk puas lalu merogoh saku jaketnya untuk memastikan botol kaca berisi serbuk kecubung halusinasi aman di sana.
"Kita akan masuk sekarang, bentuk formasi satu baris dan jangan ada yang tertinggal di belakang."
Rombongan itu mulai melangkah masuk menembus semak belukar yang basah oleh embun pagi.
KRESEK KRESEK.
Suara parang Bang Jali membabat ranting berduri menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan hutan lebat tersebut.
Rizky berjalan di urutan kedua tepat di belakang Bang Jali untuk memantau arah menggunakan insting dari liontinnya.
"Arahkan jalan kita lurus ke selatan Bang Jali, menuju celah bukit berbatu di depan sana," arahkan Rizky menunjuk sebuah bukit gelap di kejauhan.
"Siap Bos, tapi jalan ke sana tanahnya agak berlumpur, hati-hati langkah kalian semua," teriak Bang Jali mengingatkan adik-adiknya di belakang.
Mereka berjalan selama tiga jam penuh tanpa istirahat menyusuri medan bukit yang terus menanjak dan licin.
Napas para mantan preman itu mulai terdengar tersengal-sengal karena beban ransel yang mereka bawa cukup berat.
"Bos, bisakah kita istirahat lima menit saja? Kaki saya rasanya mau copot," keluh Udin menyeka keringat di dahinya.
"Tahan sebentar lagi Udin, kita istirahat di area datar di balik pepohonan besar itu saja," jawab Rizky memberi semangat.
Namun saat mereka berhasil melewati rimbunan pepohonan besar tersebut, langkah Bang Jali mendadak terhenti kaku.
Pemandangan di depan mereka sama sekali bukan area istirahat yang nyaman seperti bayangan mereka.
Hamparan hutan yang seharusnya hijau lebat kini berubah menjadi tanah lapang yang hancur berantakan.
Puluhan pohon langka berukuran raksasa tampak tumbang dengan bekas potongan gergaji mesin yang sangat kasar.
Tanah di sekitar area itu hancur dipenuhi jejak ban kendaraan berat yang sangat dalam.
"Astaga naga, siapa yang berani menebang pohon liar sebanyak ini di tengah hutan lindung?" gumam Udin tidak percaya.
Rizky melangkah maju mengamati serbuk gergaji dan tanah yang berantakan dengan mata memicing tajam.
"Ini bukan penebangan biasa Udin, mereka sengaja mencari sesuatu dan menghancurkan apa pun yang menghalangi jalan mereka," analisa Rizky tenang.
Bang Jali berjongkok di dekat sebuah tunggul pohon dan memungut sebuah benda kecil dari atas tanah lumpur.
"Bos Rizky, coba lihat ini, tebakan saya tentang sindikat itu ternyata benar seratus persen."
Bang Jali menyodorkan sebuah selongsong peluru kuningan yang masih terlihat lumayan baru ke hadapan Rizky.
"Ini selongsong peluru senapan serbu kaliber besar Bos, cuma Kartel Taring Beruang yang punya akses senjata militer begini di daerah sini."
Rizky mengambil selongsong peluru itu dan mengamatinya dengan tatapan mata yang sangat dingin.
"Sepertinya kartel itu sedang mencari tanaman langka bernilai tinggi di jalur yang sama dengan tujuan kita Bang Jali."
"Lalu bagaimana sekarang Bos? Kalau kita nekat maju, kita pasti akan berpapasan langsung dengan pasukan bersenjata mereka," tanya Bang Jali mulai khawatir.
"Kita tetap maju ke depan, kalau mereka berani menghalangi jalan, aku akan membuat mereka menyesal pernah lahir ke dunia ini."
Kata-kata Rizky terdengar sangat datar namun memancarkan aura membunuh yang membuat keenam preman itu menelan ludah.
"Baik Bos, kami ikut perintah saja, mari kita jalan lebih hati-hati sekarang," putus Bang Jali kembali mengangkat parangnya.
Mereka melanjutkan perjalanan mengikuti jejak kerusakan yang ditinggalkan oleh kendaraan berat kartel tersebut.
Semakin dalam mereka masuk, udara di hutan itu terasa semakin aneh dan lembap.
Aroma tanah basah bercampur dengan bau manis yang sangat menyengat hidung mulai tercium di udara.
"Bau apa ini Bos? Manis sekali seperti wangi sirup, tapi bikin kepala agak pusing," keluh salah satu anak buah Bang Jali menutup hidungnya.
"Pakai masker kalian sekarang juga, ini bukan bau bunga biasa," perintah Rizky merogoh maskernya sendiri.
Semua orang langsung menurut dan memakai masker kain tebal yang sudah mereka siapkan dari kota.
Rizky mengaktifkan mata penilainya dan menyapu pandangan ke sekeliling hutan yang mulai dipenuhi kabut tipis.
TING.
Kotak teks holografis tiba-tiba muncul berkedip cepat tepat di depan wajah Rizky dengan warna peringatan merah.
[Peringatan Sistem: Area Bahaya Biologis Terdeteksi.]
[Pengguna telah memasuki zona berburu Nepenthes Carnivora Mutan atau Kantong Semar Pemakan Daging.]
Rizky menghentikan langkahnya dan membaca peringatan mematikan itu dengan jantung yang sedikit berdebar.
"Tanaman karnivora mutan? Pantas saja bau manis ini sengaja dikeluarkan untuk memancing mangsa datang," batin Rizky menganalisa situasi.
[Informasi Tambahan: Tanaman raksasa ini tumbuh subur karena menyerap radiasi energi dari Pecahan Liontin Kedua di dekatnya.]
"Bang Jali, berhenti melangkah, jangan ada yang bergerak dari tempat kalian berdiri sekarang," teriak Rizky dengan nada mendesak.
Bang Jali dan anak buahnya langsung mematung di tempat tanpa berani membantah sedikit pun.
"Ada apa Bos? Bos melihat orang-orang kartel itu bersembunyi di semak-semak ya?" bisik Bang Jali sambil mengedarkan pandangan panik.
"Bukan orang kartel Bang Jali, tapi sesuatu yang jauh lebih lapar dari sekadar manusia bersenjata," jawab Rizky menunjuk ke arah rimbunan semak belukar raksasa di sebelah kanan mereka.