NovelToon NovelToon
Overtime With My Enemy

Overtime With My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:492
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 : Cemburu yang Tak Diakui

Setelah malam ketika mereka saling bercerita tentang kehilangan, hubungan Nara dan Damar berkembang ke tahap yang berbeda.

Bukan hubungan yang memiliki nama.

Belum.

Namun keduanya mulai saling memahami tanpa perlu banyak kata.

Nara mulai mengerti bahwa di balik sikap dingin Damar, ada seseorang yang memikul beban terlalu besar sendirian.

Sementara Damar mulai menyadari bahwa di balik sikap tomboy dan keras kepala Nara, ada hati yang hangat dan tulus.

Dan justru karena itulah segalanya menjadi semakin rumit.

---

Pagi itu, kantor terasa sibuk sejak jam delapan.

Proyek baru memasuki tahap penting.

Semua orang bekerja tanpa banyak istirahat.

Siska bahkan mengeluh sejak baru datang.

"Aku merasa hidupku sekarang hanya terdiri dari kerja, tidur, lalu kerja lagi."

Raka yang sedang minum kopi langsung mengangguk.

"Itu karena kamu belum kaya."

"Kalau aku kaya?"

"Kamu akan kerja sambil liburan."

Siska langsung melempar tisu ke arahnya.

Nara yang melihat itu hanya tertawa kecil.

---

Namun suasana santainya tidak berlangsung lama.

Sekitar pukul sepuluh pagi.

Seorang pria datang ke ruang proyek.

Tingginya hampir setara dengan Damar.

Berpenampilan rapi.

Dengan senyum ramah yang langsung menarik perhatian beberapa karyawan perempuan.

"Nara?"

tanyanya.

Nara yang sedang mengetik langsung mengangkat kepala.

Lalu matanya membesar.

"Farel?"

Pria itu tersenyum lebar.

"Sudah lama tidak bertemu."

---

Siska langsung menoleh cepat.

Raka juga.

Bahkan beberapa staf lain ikut memperhatikan.

Karena reaksi Nara jelas menunjukkan bahwa ia mengenal pria tersebut dengan baik.

"Kamu ngapain di sini?"

tanya Nara.

"Aku yang harusnya bertanya."

balas Farel sambil tertawa.

"Kamu benar-benar kerja di sini."

Nara berdiri.

Mereka berjabat tangan.

Terlihat sangat akrab.

Dan tanpa mereka sadari...

Seseorang sedang memperhatikan dari balik kaca ruang kerja.

Damar.

---

Farel ternyata adalah teman lama Nara saat kuliah.

Kini ia bekerja di perusahaan mitra yang akan menangani sebagian proyek baru.

Karena itu mereka harus sering berkoordinasi.

"Kebetulan sekali."

ucap Siska setelah Farel pergi ke ruang rapat.

"Kebetulan apa?"

"Teman kuliahmu tampan."

Nara memutar bola mata.

"Tidak semua hal harus dinilai dari ketampanan."

"Benar."

jawab Siska.

"Tapi yang ini memang tampan."

---

Siang hari.

Nara dan Farel menghabiskan cukup banyak waktu berdiskusi soal proyek.

Karena sudah lama saling mengenal, pembicaraan mereka mengalir dengan mudah.

Sesekali terdengar tawa.

Sesekali mereka saling meledek soal masa kuliah.

Hal yang sebenarnya normal.

Sangat normal.

Namun tidak bagi seseorang.

---

Damar berdiri di dekat meja mereka.

"Membahas pekerjaan?"

tanyanya.

Farel langsung mengangguk.

"Tentu."

Damar melirik beberapa lembar dokumen.

Lalu menatap Nara.

"Kamu tertawa terlalu keras."

Nara berkedip.

"Hah?"

"Ruang kerja bukan kantin."

ucap Damar datar.

Kemudian pergi begitu saja.

Meninggalkan keheningan aneh.

---

Farel menatap punggung Damar.

Lalu menoleh ke Nara.

"Bosmu selalu seperti itu?"

Nara menghela napas.

"Kurang lebih."

Padahal dalam hati ia juga bingung.

Biasanya Damar tidak pernah mempermasalahkan hal seperti itu.

Kenapa hari ini berbeda?

---

Sore harinya.

Farel mengajak Nara minum kopi sebentar setelah pekerjaan selesai.

"Ayo."

katanya.

"Sudah lama kita tidak ngobrol."

Nara sempat ragu.

Namun akhirnya setuju.

Bagaimanapun juga mereka memang teman lama.

---

Kafe yang mereka kunjungi berada tidak jauh dari kantor.

Suasananya nyaman.

Dan penuh cerita lama.

Mereka membahas masa kuliah.

Dosen yang galak.

Tugas kelompok yang kacau.

Sampai kejadian-kejadian memalukan yang membuat keduanya tertawa.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari.

Nara benar-benar rileks.

---

Namun tanpa mereka sadari.

Seseorang baru saja keluar dari gedung kantor.

Damar.

Pria itu sebenarnya berniat langsung pulang.

Namun langkahnya terhenti saat melihat Nara melalui jendela kafe.

Bersama seorang pria.

Tertawa.

Terlihat bahagia.

Jauh lebih santai dibanding saat bersamanya.

Entah kenapa.

Pemandangan itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.

---

Damar mengerutkan kening.

Kesal.

Namun bukan pada Nara.

Melainkan pada dirinya sendiri.

Karena ia tahu perasaan itu.

Ia hanya tidak ingin mengakuinya.

---

Malam harinya.

Nara kembali ke rumah dengan suasana hati cukup baik.

Sampai ponselnya berbunyi.

Pesan dari Damar.

"Laporan kerja sama sudah selesai?"

Nara langsung mengernyit.

Pukul sembilan malam.

Dan pria itu masih memikirkan laporan?

Ia membalas singkat.

"Sudah."

Beberapa detik kemudian balasan masuk.

"Bagus."

Hanya itu.

Nara memandang layar ponselnya.

Lalu tertawa kecil.

Aneh.

Sangat aneh.

---

Keesokan paginya.

Suasana kantor kembali normal.

Atau setidaknya terlihat normal.

Karena Damar masih belum bisa menghilangkan perasaan mengganggu yang muncul sejak kemarin.

Dan keadaan semakin buruk ketika Farel kembali datang.

---

"Selamat pagi."

sapa Farel.

"Pagi."

jawab Nara.

Pria itu kemudian memberikan secangkir kopi.

"Untukmu."

Nara tersenyum.

"Terima kasih."

Pemandangan sederhana itu ternyata dilihat oleh Damar.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Pewaris Grup Wijaya itu merasa kesal karena secangkir kopi.

---

"Pak?"

Raka yang sedang berdiri di dekatnya terlihat bingung.

"Hm?"

"Kenapa pulpen Anda patah?"

Damar melihat tangannya.

Baru sadar bahwa ia mematahkan pulpen tanpa sengaja.

---

Siang hari.

Tim kembali mengadakan rapat.

Kali ini melibatkan perusahaan Farel.

Selama presentasi berlangsung, Farel beberapa kali bertukar pendapat dengan Nara.

Kerja sama mereka terlihat sangat baik.

Terlalu baik.

Menurut Damar.

---

Setelah rapat selesai.

Semua orang keluar dari ruangan.

Kecuali Damar dan Raka.

Raka yang sejak tadi memperhatikan akhirnya tersenyum.

"Saya baru sadar sesuatu."

Damar mengangkat kepala.

"Apa?"

"Pak Damar cemburu."

Kalimat itu membuat ruangan mendadak hening.

---

"Cemburu?"

ulang Damar.

"Iya."

Raka mengangguk santai.

"Jelas sekali."

"Itu tidak masuk akal."

"Oh, jadi mematahkan pulpen karena kopi juga masuk akal?"

Damar langsung terdiam.

Sementara Raka berusaha keras menahan tawa.

---

Di sisi lain.

Nara sama sekali tidak menyadari apa yang sedang terjadi.

Ia hanya fokus pada pekerjaan.

Sampai sore hari ketika Farel mengajaknya makan malam.

Sebagai reuni kecil teman lama.

Dan sebelum sempat menjawab...

Sebuah suara terdengar.

"Nara."

Ia menoleh.

Damar berdiri tidak jauh dari mereka.

Ekspresinya datar seperti biasa.

Sulit ditebak.

---

"Ada yang perlu dibahas soal proyek."

ucap Damar.

"Sekarang?"

tanya Nara.

"Iya."

Farel melirik keduanya.

Lalu tersenyum kecil.

"Tidak apa-apa."

katanya.

"Kita bisa lain kali."

Setelah itu pria tersebut pergi.

Meninggalkan Nara yang masih bingung.

---

Begitu Farel menghilang dari pandangan.

Nara langsung menatap Damar.

"Proyek apa?"

Damar terdiam.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Lalu pria itu berkata,

"Sebenarnya tidak ada."

Nara melongo.

"Hah?"

---

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Damar Wijaya tidak tahu harus menjelaskan alasannya.

Karena alasan sebenarnya terlalu memalukan untuk diucapkan.

Bahwa ia tidak suka melihat Nara pergi makan malam dengan pria lain.

Bahwa ia tidak suka melihat wanita itu tertawa bersama orang lain.

Bahwa ia tidak suka ketika perhatian Nara teralihkan.

Dan itu hanya mengarah pada satu kesimpulan.

Kesimpulan yang selama ini berusaha ia hindari.

Ia jatuh cinta.

---

Sementara dari kejauhan.

Bianca memperhatikan semuanya.

Termasuk cara Damar memandang Nara.

Dan senyum tipis perlahan muncul di bibirnya.

Karena akhirnya ia menemukan kelemahan terbesar Damar.

Bukan perusahaan.

Bukan jabatan.

Bukan kekuasaan.

Melainkan seorang wanita bernama Nara.

Dan Bianca berniat memanfaatkan hal itu.

Bersambung...

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Satisuci Ituaku: mksih kk sudah mampir🙏🙏🙏
total 1 replies
Tys Azka
kok selalu hujan sih
Satisuci Ituaku: iy kak biar romantis ala2
mksih kk udh mampir 🙏🙏
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, Nara.. Damar.
Satisuci Ituaku: Terima kasih sudah mampir kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!