"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 15, Sudah Menikah
Lorong Instalasi Gawat Darurat dipenuhi aroma antiseptik yang menusuk hidung. Lampu putih di langit-langit memancarkan cahaya dingin, membuat suasana terasa semakin sunyi meski langkah para medis tak pernah berhenti.
Sherly masih duduk di kursi tunggu.
Kedua telapak tangannya saling menggenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memucat. Sejak beberapa menit lalu ia terus menatap pintu ruang observasi, berharap sewaktu-waktu Anna membuka mata dan membutuhkan sesuatu.
Namun harapan itu masih menggantung, tak ada pergerakan sama sekali dari Anna.
Ponselnya bergetar.
Nama Irene memenuhi layar ponselnya, begitu panggilan tersambung suara Irene terdengar tergesa.
"Sher, Anna gimana?"
"Belum sadar..." jawab Sherly pelan.
"Aku lagi di jalan, kamu udah hubungin Mas Jeevan?"
"Sudah. Katanya lagi on the way ke sini." Jawab Sherly.
"Oke. Kalau gitu, aku nyetir dulu. Kamu tunggu aku, ya."
"Iya. Cepetan ya, Ren. Aku takut kenapa-kenapa sama Anna." Pintanya.
"Iya."
Sambungan terputus. Sherly kembali memasukkan ponselnya kedalam tas kecil miliknya. Lalu kembali menggenggam jemari tangannya erat.
Pria ber jas barusan sudah kembali setelah mengurusi administrasi rumah sakit milik Anna. Ia kemudian duduk di sisi Sherly yang tengah panik setengah mati.
Pria itu menoleh dan menatap Sherly. "Lama gak ketemu, Sher."
Sherly menoleh, membalas menatap pria itu sambil mengingat-ingat siapa dia? kenapa tahu namanya?
"Eh? Kamu kenal sama aku?" tanya Sherly sembari menunjuk dirinya sendiri.
Pria itu tersenyum sembari mengalihkan pandangannya dari Sherly.
"Tentu saja, masa gak kenal. Kita ini temen SMA loh. Masa kamu gak inget?" ucapnya santai.
"Temen SMA?" ulang Sherly mengingat.
Pria itu terkekeh seraya melirik Sherly sebentar. "Lupa ya. Aku Rendra."
Sherly membulatkan matanya saat nama tak asing terdengar di kedua telinganya. Ia langsung menatap intens kepada pria yang duduk di sampingnya.
"Rendra anak Pak Afif itu?" tanyanya hampir terlonjak.
Pria bernama Rendra itu tersenyum. "Iya. Aku Rendra yang dulu sering di bully sama Rangga and the gang itu."
Sherly menutup mulutnya sebentar lalu memukul pelan lengan Rendra.
"Ya ampun... pantesan aja aku liat kamu kaya gak asing sama mukanya. Ya...kalau sekarang sih banyak perbedaan." Ucap Sherly.
Rendra kembali tersenyum. "Kamu gak perlu khawatir soal Anna. Dia gak ketabrak kok, dia tiba-tiba tidak sadarkan diri saat menyebrang."
Sherly lagi-lagi membulatkan matanya. "Serius?"
Rendra mengangguk pelan. "Iya."
"Ya ampun...terus gimana dong...barusan aku bilang sama Irene sama Mas Jeevan kalau Anna tertabrak mobil." Serunya panik.
"Oh iya, kalian udah lama di Jakarta?" tanya Rendra.
"Selepas kuliah kami menetap di Jakarta. Kamu tahu sendiri kalau tinggal di kampung halaman kita sudah buat nyari kerjaan." Curhat Sherly.
Gadis itu melirik Rendra, memperhatikan cara berpakaian pria itu yang terlihat begitu formal.
"Aku dengar saat ujian akhir...kamu ke luar negeri ya?" tanya Sherly penasaran.
Rendra lagi-lagi mengangguk. "Iya. Seperti yang kamu lihat, kami sekeluarga pindah ke luar negeri karena Papa ada urusan di sana. Dan empat bulan lalu kami baru saja kembali lagi dan menetap di Jakarta."
Sherly terkekeh pelan. "Wah...pasti kamu kangen banget ya sama Indonesia."
Belum sempat Rendra menjawab ucapan Sherly barusan, suara langkah kaki yang tergesa memenuhi lorong.
Jeevan muncul terlebih dahulu.
Kemeja putih yang sejak pagi tampak begitu tapi kini sedikit kusut. Dasi biru navy yang biasa terikat sempurna telah dilonggarkan, sementara napasnya terdengar lebih berat daripada biasanya.
Di belakangnya, Abimanyu mengikuti dengan wajah yang tak kalah tegang.
"Mana Anna?" tanya Jeevan tanpa basa-basi.
Sherly langsung berdiri. "Mas Jeevan, akhirnya dateng juga. Anna di dalam, Mas..."
Rendra yang sejak tadi duduk akhirnya memilih berdiri di samping Sherly. Pria itu menatap Jeevan penuh tanda tanya. Lalu melirik Abimanyu yang berdiri di belakang Jeevan.
Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruang observasi.
"Wali dari pasien Ny. Anna Savitri?" tanyanya seraya menyapu pandang orang-orang yang berdiri di dekat kursi tunggu.
Pada saat Rendra hendak melangkah maju, Jeevan terlebih dulu melangkah sembari mengangkat tangannya.
"Saya suaminya, Dok." Ucap Jeevan tanpa ragu. "Bagaimana kondisi istri saya?"
Rendra seketika refleks menoleh ke arah pria tinggi, mungkin tinggi pria itu sekitar 184 cm. Ia mundur satu langkah.
"Ternyata Anna sudah menikah." Batinnya tak lepas dari pandangan pria itu.
Dokter mengangguk. "Kalau begitu, mari ikut saya."
Jeevan mengangguk. "Baik, Dok."
Sepeninggalan Jeevan kini tersisa Abimanyu, Sherly dan juga Rendra.
Rendra menoleh ke arah Sherly, "Anna sudah menikah?"
Sherly menoleh. "Iya. Pernikahan mereka juga hampir lima tahun. Kenapa?"
Rendra terkekeh kecil. "Enggak, tanya saja. Aku kira...Anna tetap masih mengejar mimpinya. Apa...Anna masih suka menulis seperti dulu?"
"Setelah menikah, setahu aku...dia tidak menulis lagi." Jawab Sherly.
Rendra tertegun sejenak, ingin menanyakan lebih dalam namun rasanya tidak mungkin.
💞
"Sherly!"
Sherly menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya.
Tampak seorang wanita yang masih mengenakan pakaian kantor tersebut berlari menuju ke arahnya. Wajahnya terlihat panik dan khawatir.
"Gimana Anna?" tanyanya setelah kini berdiri di hadapan Sherly.
"Dia belum siuman." Jawab Sherly, ia meraih lengan sahabatnya. "Maaf, kamu pasti panik ya? Sebenarnya Anna gak ketabrak mobil. Tapi pingsan tiba-tiba di jalan."
"Astaga...jantung aku hampir copot tahu gak pas kamu bilang Anna ketabrak mobil." Ucapnya seraya mengusap wajahnya lega.
Abimanyu yang sejak tadi duduk memperhatikan orang-orang itu, ia langsung terdiam menatap wanita berpakaian formal tersebut.
"Loh...dia kan..."
"Ren, apa kabar?"
Irene menoleh ke arah Rendra yang berdiri tak jauh dari mereka. kedua bola mata Irene refleks membulat saat melihat teman masa SMA nya yang berdiri di hadapannya sekarang.
"Rendra? Kamu...kapan balik ke Indonesia?" tanya Irene.
"Empat bulan lalu." Jawabnya santai.
"Widih, lawyer perusahaan besar emang beda ya." Ejek Irene seraya menyenggol lengan Rendra.
Sherly menatap bergantian kedua temannya. "Lawyer? Seriusan?"
"Loh, kamu belum tahu? Padahal pusat perbelanjaan tempat kamu bekerja itu masih satu mitra sama HK Grup." Seru Irene.
Sedangkan Abimanyu hanya memperhatikan ketiga orang yang tengah berdiri sambil mengobrol kesana kemari tersebut.
Irene sempat melirik ke arah Sherly, dengan sebuah gerakan cepat Sherly langsung mengerti.
"Dia datang bareng Mas Jeevan barusan." Bisik Sherly pelan.
Irene pun mengangguk kecil. Lalu dua sahabat itu memilih duduk, sedangkan Rendra memilih pamit untuk segera pergi ke kantor karena sebentar lagi ada rapat penting.
"Aku...cabut dulu ya. Harus ke kantor, titip salam buat Anna." Ucap Rendra pamit.
"Iya, nanti kita sampein. Makasih ya Ren, udah nemenin Anna." Ucap Irene.
"Oke," ucapnya pendek.
Rendra melangkah meninggalkan mereka, langkahnya cepat.
"Jadi, Anna sudah menikah. Ternyata aku telat."
...💞💞💞...
Hayo....
Ternyata ada orang yang diam-diam patah hati nih.
...BERSAMBUNG...