Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.
Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?
📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Calon Suami Sekaligus Selingkuhannya
Wajah Nara seketika pucat, ibarat trauma berat anak Ibu Ratna mendengar lamaran Juragan barusan. Semua yang di teras membulatkan mata, kecuali Nurlela yang malah angguk-angguk mengulum senyum yang hampir keluar dengan semburan tawa.
"Mohon maaf Juragan, saya sama sekali tidak tertarik. Juragan bisa cari yang lain untuk jadi istri keempat Juragan," tolak Nara mentah-mentah dengan raut ketidaksukaan serta tidak nyaman yang kentara. Tidak lagi ditutup-tutupi oleh gadis 27 tahun itu.
Walaupun putus asa karena diselingkuhi, dikatakan tidak laku, dan perawatan tua, serta Juragan yang hanya pria satu-satunya di muka bumi ini. Nara akan tetap mengatakan 'TIDAK!', biarlah ia menjadi perawan tua seumur hidupnya.
"Kenapa?" tanya Juragan dengan wajah yang dibuat memelas.
Wajah Sagara menunjukkan raut jijik, sedangkan Pak RT menggeleng. "Bapak jangan ngeyel, dia sudah menolak Bapak. Bapak mau ditolak dua kali?!" ketus Sagara yang langsung hajar, ikut nimbrung. Tidak akan ia biarkan anak ibu kosnya merasa tidak nyaman dan terancam saat bersamanya. Apa lagi ibu gadis itu sudah memberikan kepercayaan padanya untuk membawa anaknya.
"Ya, justru di situ letak perjuangannya." Juragan tentu tidak ingin kalah, "Bukankah begitu, Pak RT?"
Sudarsana gelagapan sendiri diikut pautkan dalam pembicaraan tersebut. "Tidak begitu konsepnya, Juragan. Juragan ini sudah punya istri tiga, loh. Lagi pula tadi Neng Nara sudah bilang punya calon suami. Tidak baik menjadi sumber tikungan untuk mereka yang sudah berkomitmen untuk melangkah ke pelaminan." Jelas Pak RT dengan bijak, membuat wajah Juragan masam. Harapnya mendapatkan dukungan, tetapi malah mendapatkan ceramah.
"Ellleh, itu Nara yang bohong, Pak RT. Saya tidak percaya dia punya calon suami. Emang ada lelaki yang mau dengan dia yang modelan begini? Calon suami orang kota? Yang benar saja, para lelaki desa saja tidak ada yang mau sama dia. Ya, kecuali Juragan yang memang dermawan mau menampung Nara untuk jadi istri keempatnya, sama duda anak satu di kampung sebelah!" Khodam mulut gosip, ember nan lemes Bu Nurlela keluar. Berita Nara yang memiliki calon suami dari kota telah tersebar ke seantero penjuru desa yang dimulai dari Imas yang mengkonfirmasi ke Nurlela akan kejadian di pasar itu.
Nara seketika mengepalkan tangan, tetapi perkataan wanita paruh baya itu benar. Tidak ada yang mau dengannya. Yang pertama saja dan menjadi terakhir untuknya saat ini, juga hanya memanfaatkan dan menginginkan kesuciannya saja. Gadis itu menunduk dalam-dalam dengan dada sesak.
"Benar itu," angguk Juragan antusias, akhirnya ada yang mendukungnya.
"Maksud Ibu mengatakan hal tersebut?" tanya Sudarsana, suaranya serius nan dalam. "Perkataan Ibu akan melukai hati Neng Nara, lagi pula dari mana Ibu bisa menyimpulkan bahwa Neng Nara ini berbohong?"
Nurlela menunjukkan wajah yang sama sekali tidak merasa bersalah, ia malah menyunggingkan senyum sinis. "Kalau memang Nara punya calon suami dari kota? Lantas, kenapa dia tidak menjaga diri, dan malah petantang-petenteng naik motor dengan pria gondrong ini. Yang maaf, kaya berandal! Kalau bukan karena dia gadis gatal yang peselingkuh!" ujarnya yang semakin menyakitkan saja.
"Cukup, Bu. Ibu Lela keterlaluan! Jika saya memang gadis gatal kaya yang Ibu bilang barusan, saya sudah hamil di luar nikah sejak dulu kaya anak Ibu, Yasmin itu! Baru nikah 4 bulan kok langsung melahirkan?!" balas Nara tidak tahan lagi, ia tidak akan membiarkan seseorang menghinanya sedangkan orang itu tidak bercermin pada diri sendiri.
Mata Nurlela melotot, hampir keluar jika saraf-saraf matanya tidak kokoh. "Kenapa bawa-bawa anak saya?!"
"Ya, Ibu duluan yang mulai. Kenapa malah menuduh saya pembohong dan peselingkuh?" sengit Nara, memperbaiki kacamata tebalnya demi lancar adu mulut.
"Kan benar 'kan?! Kalau bukan pembohong, berarti kamu peselingkuh!" tuduhnya lagi. Walaupun tanpa bukti, ia akan menyeruakkan dengan lantang.
"Semua perkataan Ibu, tidak ada yang benar," ungkap Sagara, memotong perkataan Nara yang siap meluncur dan ikut meledak. Cupu-cupu begini, seperti kata Sagara, Nara itu aslinya bar-bar.
Atensi semua orang beralih pada Sagara. "Maksud kamu?! Kamu memang ada buktinya, kalau semuanya perkataan saya tidak benar?!"
Sudarsana menepuk dahinya sendiri, sepanjang menjabat sebagai ketua RT, baru kali ini ia menyadari ada warganya yang di luar nalar. Entah egonya atau ketololannya yang merajalela.
"Saya sendiri buktinya, Bu. Saya calon suami, sekaligus orang yang Ibu tuduhkan sebagai selingkuhannya Nara," kata Sagara, menjawab dengan tenang dan tegas. "Lagi pula, sedari Ibu bicara tadi, tidak menunjukkan bukti sedikit pun. Ibu tahu pentingnya berbicara dengan bukti, tetapi kenapa Ibu terus saja berujar hal yang menuduh. Awas Bu ... tahaann ... takutnya Ibu langsung kena azab di dunia sebelum akhirat." Selain karena penampilannya, Sagara juga dikenal berandal karena ucapan yang frontal, tidak pandang bulu selama orang itu masuk ke dalam list yang tidak disukainya.
"Kamu! Kurang ajar sekali pada saya. Lihat Pak RT, dia hanya pendatang, dan sekarang berani menghina saya!" tuding Nurlela tidak terima.
"Ibu sebelum saya menghina, sudah lebih dulu menghinakan diri sendiri dengan menggunjing," ujar pria itu telak, membuat Nurlela ternganga. Pak RT tanpa sadar mengangguk-angguk samar, menyetujui. "Lagi pula Bu, saya sama sekali tidak bermaksud menghina Ibu. Saya hanya menjadi cermin yang mengembalikan segala pantulan sikap dan perkataan Ibu sejak tadi!"
"Kamu—" jari telunjuk Nurlela semakin menuding, mulutnya terbuka ingin mengatakan sesuatu, tetapi sama sekali tidak ada yang bisa ia katakan untuk membalas perkataan pria itu. Nurlela berdiri dengan kasar sampai membuat kursi plastik yang didudukinya terjengkang jatuh. "Saya pamit Pak RT, permisi!" katanya dengan amarah yang tertahan, kemudian berlalu pergi dari sana secepat mungkin.
"Waalaikumsalammmm ... hati-hati di jalan, Bu. Awas terjungkal kaya kursi ini!" teriak Sagara mengiringi langka Bu Nurlela yang mendengus. Karena marah, ia sampai lupa mengucapkan salam.
Sagara terkekeh tak kala Nurlela berbalik dengan mata melotot, kemudian melanjutkan langkah yang semakin ia percepat.
Nara menggeleng, memukul lengan Sagara yang tengil kepada Nurlela. Tetapi tidak dipungkiri, ia puas karena wanita paruh baya itu mendapatkan balasan yang semestinya. Nara akan berterima kasih pada pria yang selalu dikatainnya berandal ini.
"Hah?! J-jadi kamu calon suaminya?" tanya Juragan dengan nada bergetar, baru tersadar dari rasa syoknya. Ia sampai memegang dadanya yang tiba-tiba sesak akibat menerima kabar mengejutkan ini.
"Benar, Nara adalah calon istri saya. Jadi Bapak, jangan pernah lagi menggodanya. Kalau tidak, siap-siap saja berhadapan dengan saya sebagai pria gentle di arena. Saya siap, adu otot. Saat ini juga saya sudah sangat siap," Sagara menyikap lenga jaketnya, memperlihatkan otot tangan bagian bawahnya yang kencang, ketat dan urat-urat yang menonjol. Tidak sia-sia ia menyisihkan waktunya untuk berolahraga di kala kesibukannya.
Juragan meneguk ludahnya susah, tidak bisa membayangkan jika tangan berotot itu melayangkan pukulan ke tubuhnya, ototnya yang mulai kendur ini tidak akan dapat menangkis.
"Wah, semoga Neng Nara dan A Saga lancar sampai ke pelaminan." Doa Pak RT dengan tulus, tidak mengetahui bagaimana ributnya pikiran Nara akan kebohongan baru ini.
Bagaimana jika ibu tahu?!
***
Bersambung ...
Menyala Kang Selingkuhan 🔥😎🤣