NovelToon NovelToon
TUNGKU EKSTRASI SURGAWI

TUNGKU EKSTRASI SURGAWI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Dihina karena dantiannya cacat, Xiao Bai mendadak mendapatkan Tungku Ekstraksi Surgawi—sebuah artefak gaib yang berfungsi sebagai sistem mutlak. Tanpa perlu berkultivasi dengan cara biasa, ia bisa mengekstrak esensi monster, tumbuhan obat, hingga pusaka kuno menjadi pil murni tanpa cacat! Dari seorang sampah yang diinjak-injak, Xiao Bai bangkit mengekstrak langit dan bumi untuk menjadi penguasa tunggal yang tak tertandingi.

#Romance #Drama #Adventure #Kultivasi #Sistem #Overpowered #BalasDendam #Action-Fantasy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuduhan di Hutan

# TUNGKU EKSTRAKSI SURGAWI

Lin Hai berdiri mematung sesaat, matanya berkedip seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya—Li Ling'er, putri Master Sekte Agung yang selama ini ia kejar dengan segala cara, kini berlutut di tanah hutan yang lembab, tangannya masih menempel di dada seorang pemuda yang terbaring lemah, berlumuran darah, dengan jubah compang-camping yang begitu ia kenali.

"Ling'er," suaranya bergetar antara syok dan amarah yang membara cepat, "apa yang kau lakukan? Kenapa tanganmu—kenapa kau menyentuh dadanya seperti itu?"

Li Ling'er cepat menarik tangannya, wajahnya memerah bukan karena malu atas tuduhan yang tersirat, melainkan karena kesal. "Aku sedang memeriksa kondisinya, Lin Hai. Dia sekarat karena luka parah, aku hanya berusaha menolong."

"Menolong?" Lin Hai melangkah cepat mendekat, matanya menyapu tubuh Xiao Bai yang masih lemah dengan tatapan penuh jijik dan curiga sekaligus. "Kenapa harus kau yang menolongnya, Ling'er? Ada penduduk desa, ada tabib kota—kenapa harus Nona Ling'er sendiri yang turun tangan untuk sampah buangan sekte ini?"

"Karena aku kebetulan berada di sini saat menemukannya," Li Ling'er berdiri, menghadap Lin Hai dengan dagu terangkat, tak sedikit pun gentar meski amarah pemuda itu semakin jelas terlihat. "Apakah salah menolong seseorang yang nyaris mati kehabisan darah? Apakah kau ingin aku membiarkannya mati begitu saja di depan mataku?"

"Dia bukan siapa-siapa, Ling'er!" Lin Hai berteriak, kesabarannya mulai habis. "Dia diusir dari sekte karena tak berbakat sama sekali! Kenapa kau begitu peduli dengan nasib orang seperti ini?"

Xiao Bai, meski tubuhnya masih lemah, memaksakan diri untuk bangkit setengah duduk, bersandar pada batang pohon di dekatnya. "Aku di sini karena hendak mencari bahan makanan di hutan, dan diserang monster liar," katanya, suaranya masih serak tapi cukup tegas. "Nona Li Ling'er kebetulan lewat dan menyelamatkan nyawaku. Tidak ada yang perlu dicurigai dari itu."

Lin Hai menatap tajam ke arah Xiao Bai, rahangnya mengeras. "Kau masih berani bicara di hadapanku? Sudah cukup kau mempermalukan dirimu sendiri dengan mendekati Nona Ling'er secara diam-diam kemarin. Sekarang kau berpura-pura sekarat untuk mendapatkan simpatinya?"

"Berpura-pura?" Li Ling'er menunjuk luka di lengan Xiao Bai yang masih dibalut kain berlumuran darah. "Kau lihat ini? Kau pikir seseorang bisa berpura-pura kehilangan darah sebanyak ini hanya demi simpati murahan?"

Kata-kata Li Ling'er yang penuh keyakinan membuat Lin Hai terdiam sesaat, meski amarahnya belum sepenuhnya reda. Ia mengepalkan tangan, matanya berkilat penuh perhitungan sebelum akhirnya mengubah taktik.

"Baiklah," katanya, suaranya melunak dipaksakan, mencoba terdengar lebih rasional. "Anggap saja aku salah paham soal itu. Tapi tetap saja, Ling'er, ayahmu tidak akan senang mendengar putrinya menghabiskan waktu berduaan di hutan dengan murid buangan sekte yang reputasinya sudah hancur di seluruh kota. Kau tahu bagaimana orang-orang bicara. Reputasimu sendiri bisa ikut ternoda."

Li Ling'er terdiam sesaat mendengar itu—bukan karena setuju dengan Lin Hai, melainkan karena menyadari kebenaran pahit di balik kata-katanya. Sebagai putri Master Sekte Agung, setiap gerak-geriknya memang selalu diawasi, dinilai, dan bisa jadi bahan gosip yang berbahaya bagi posisi keluarganya.

"Aku akan menanggung risiko itu sendiri," katanya akhirnya, meski suaranya sedikit lebih pelan dari sebelumnya. "Menolong seseorang yang sekarat bukanlah aib, Lin Hai. Kalau ayahku memang keberatan, aku akan menjelaskan sendiri kepadanya."

Lin Hai menatap Li Ling'er lama, menyadari bahwa argumen langsung tidak akan berhasil melawan tekad gadis itu. Ia menghela napas, lalu mengalihkan pandangan kembali ke Xiao Bai dengan seringai dingin.

"Baiklah, Ling'er. Kalau begitu biar aku yang menyelesaikan urusan dengan sampah ini." Ia melangkah maju, berdiri tepat di depan Xiao Bai yang masih lemah bersandar di batang pohon. "Dengar baik-baik, murid buangan. Aku tidak peduli seberapa besar simpati yang berhasil kau curi dari Nona Ling'er hari ini. Tapi jika aku menemukanmu berada di dekatnya sekali lagi, aku tidak akan bertindak sehalus ini."

"Lin Hai!" Li Ling'er melangkah maju, wajahnya memerah menahan amarah. "Jangan mengancamnya seperti itu!"

"Aku hanya menyampaikan kenyataan, Ling'er," Lin Hai membalas tanpa menoleh, matanya masih terkunci pada Xiao Bai yang menatapnya balik dengan tenang meski tubuhnya masih lemah. "Kenyataan bahwa orang seperti dia tidak pantas berada dekat-dekat dengan orang sepertimu. Dan kenyataan bahwa aku tidak akan segan-segan mengingatkannya, dengan cara apa pun yang diperlukan."

Xiao Bai menatap balik mata Lin Hai tanpa gentar, meski setiap kata yang keluar dari mulut pemuda itu terasa seperti bara yang membakar dadanya. Ia sudah terlalu sering menelan penghinaan dalam beberapa hari terakhir—dari Wan Fu, dari pemilik penginapan, dari para preman, dari sang tabib. Tapi ancaman kali ini terasa berbeda, lebih personal, lebih tajam, karena kini menyangkut seseorang yang untuk pertama kalinya memperlakukannya sebagai manusia, bukan sebagai sampah.

"Aku akan mengingat kata-katamu, Lin Hai," kata Xiao Bai akhirnya, suaranya tenang namun dingin, "sama seperti aku mengingat setiap penghinaan yang sudah kau berikan padaku sejak hari pertama."

Lin Hai tertawa mengejek, tak menganggap serius kata-kata itu. "Ingatlah sesukamu, sampah. Ingatan orang lemah tidak pernah berarti apa-apa." Ia berbalik ke arah Li Ling'er, nadanya kembali melunak. "Ayo, Ling'er. Sudah cukup kau menghabiskan waktu di tempat kotor seperti ini. Biar kuantar kau kembali sebelum hari semakin gelap."

Li Ling'er menatap Xiao Bai sekali lagi, matanya menyiratkan permintaan maaf yang tak sempat terucap, sebelum akhirnya mengikuti langkah Lin Hai keluar dari area hutan, meninggalkan Xiao Bai sendirian bersandar di batang pohon dengan luka yang masih berdenyut dan pikiran yang dipenuhi rasa penasaran akan ruangan terlarang yang disebutkan Li Ling'er sebelumnya.

---

Setelah kedua sosok itu menghilang di antara pepohonan, Xiao Bai menghela napas panjang, meraih kembali inti monster yang setengah terekstrak, tergeletak di sisinya sejak ia pingsan.

> **[Host, kondisi tubuhmu masih lemah namun stabil berkat ramuan yang diberikan Nona Li Ling'er. Aku dapat melanjutkan proses ekstraksi yang sempat terhenti, jika Host bersedia.]**

"Lakukan," gumam Xiao Bai, memejamkan mata, mencoba mengabaikan rasa sakit di lengannya untuk berkonsentrasi.

Cahaya keemasan kembali mengalir, kali ini lebih stabil dari sebelumnya, menyempurnakan proses yang tertunda hingga akhirnya sebuah pil kecil berwarna merah gelap terbentuk sempurna di telapak tangannya—pil energi hasil ekstraksi inti Serigala Bayangan, taruhan nyawa yang akhirnya membuahkan hasil.

Namun di tengah rasa lega itu, pikiran Xiao Bai tak bisa lepas dari kata-kata Lin Hai yang penuh ancaman, dan lebih dari itu, dari kata-kata Li Ling'er tentang ruangan terlarang di kediaman ayahnya—sebuah ruangan yang menyimpan "warisan yang belum saatnya diwariskan", dengan energi yang identik dengan Tungku Ekstraksi Surgawi yang kini bersemayam di dalam dadanya.

"Master Sekte Agung," bisiknya pelan, menatap ke arah langit senja yang mulai gelap, "apa sebenarnya hubunganmu dengan kekuatan yang kumiliki ini?"

Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban di udara hutan yang mulai sunyi, namun satu hal sudah pasti bagi Xiao Bai: jalan hidupnya kini tidak lagi hanya soal bertahan dari penghinaan seorang Lin Hai, atau membuktikan diri pada Sekte Awan Sembilan yang membuangnya. Ada rahasia jauh lebih besar yang menanti untuk diungkap, dan entah bagaimana caranya, jalan menuju rahasia itu kini bersinggungan langsung dengan gadis yang baru saja menyelamatkan nyawanya.

1
Aisyah Suyuti
seru
Luó Lìxuān: makasih kak jangan lupa bintang 5 nya kak
total 1 replies
Crimson
daftar target baru balas dendam di masukkan./Angry/
Luó Lìxuān: kan bagus bg 🤣
total 5 replies
Crimson
Gw mampir lagi min. seru soalnya. hehehe /Grin/
Luó Lìxuān: makasih bg
total 1 replies
Luó Lìxuān
menurut kalian su yan ada rahasia apa ya kok bisa artefak kelas dewa di sembunyikan
Crimson
bunga untuk mu, min/Good/
Luó Lìxuān: makasih bg
total 1 replies
Crimson
Ciri" kacang lupa kulit ya, ini. Kan, biadab emang.😡🤬
Luó Lìxuān: soal nya perjalanan xiao bai masih panjang bg
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!