"Saya akan berikan kamu satu milyar, jika kamu bisa melahirkan anak laki-laki untuk saya!"
Demi kesembuhan sang ibu, malam itu Aluna mengambil keputusan yang begitu besar dalam hidupnya
Arjuna Bimantara, pengusaha ternama yang ingin mencari seorang wanita untuk melahirkan penerus bagi Bimantara sebab istrinya yang super model menolak memberikan anak
Akankah kesepakatan Arjuna dan gadis muda itu menghadirkan cinta? Atau selamanya Aluna hanya akan menjadi istri rahasia pria bernama Arjuna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA
Mereka harus menunggu hingga keesokan harinya sampai wanita paruh baya itu membuka matanya
Aluna tersenyum pada sang ibu yang tengah menatapnya. Dokter melakukan pemeriksaan lalu membuka beberapa alat yang terpasang ditubuh wanita paruh baya itu setelah memastikannya dalam keadaan baik
"Ibu" Aluna ingin memeluk namun urung mengingat kondisi sang ibu yang baru saja selesai melakukan operasi besar
"Nak.." Wanita paruh baya itu mencoba mengangkat tangannya walaupun lemah "Sini!"
Aluna memeluk sang ibu walaupun dengan gerakan yang sangat hati-hati. Azura yang melihat itu jelas saja merajuk
"Aku juga mau Bu"
Diah terkekeh "Sini!" Ketiganya saling berpelukan, menumpahkan kegelisahan yang sejak kemarin mereka rasakan
"Terima kasih karena ibu masih mau bersama kami" Lirih Aluna dalam dekapan sang ibu
"Maafkan ibu, ibu pasti merepotkan kalian"
Aluna menggeleng masih dalam dekapan wanita yang paling berarti dalam hidupnya itu
"Kita bersyukur karena operasi ibu sukses" Kali ini Azura yang bicara
"Oh iya nak, kalian dapat uang dari mana? Biaya operasinya pasti sangat mahal" Diah melepas pelukannya
"Ibu tenang aja! Aluna udah urus semuanya!" Aluna tersenyum saat mengatakannya
"Tapi dari mana uangnya nak? Kamu gak ngutang kan?"
Aluna tersenyum "Aluna dapet kerjaan dirumah orang kaya, Aluna jadi pembantu disana" Ucapnya sedikit berbohong
"Bos-nya baik banget mau minjemin Aluna uangnya, nanti dipotong dari gaji Luna setiap bulan"
"Syukurlah!" Diah mengucap syukur "Ibu hanya tidak mau menyusahkan kalian"
"Sudah kewajiban kami untuk melakukan apapun demi ibu"
"Sini! Peluk ibu lagi!" Keluarga kecil itu kembali saling berpelukan hingga kedatangan seseorang memaksa mereka memisahkan diri
Diah menatap penuh tanya pada seorang pria dalam balutan pakaian formal. Pemuda ini begitu tampan dan terlihat berkelas
"Tuan, anda disini!"
Aluna ingat pria ini, pria ini yang datang menemuinya pertama kali, Aluna tidak mungkin melupakan wajah tampannya
Setiap kali menatapnya membuat jantung ini berdetak tidak karuan, astaga, Aluna tidak pernah merasa seperti ini terhadap seorang pria
"Nona Aluna! Sekarang sudah saatnya!" Ucap pria mempesona itu
"Bisa kita bicara diluar sebentar tuan"
Pria itu hanya mengangguk kecil lalu melangkah keluar "Aluna bicara diluar sebentar yaa Bu"
Sesampainya diluar ruang perawatan, Aluna menunduk didepan pria berwibawa ini
"Saya mendapat perintah dari tuan, untuk segera membawa anda!" Ucapnya
"Bisa nggak tunggu sebentar lagi! Setidaknya sampai ibu saya diizinkan pulang" Aluna benar-benar berharap jika pria didepannya ini bersedia mengerti
"Maaf nona! Jika anda seperti ini, bukan kesalahan saya jika anda mendapat masalah!" Tegasnya "Tuan besar jelas tidak akan menyukai hal ini"
"Iya saya tau, tapi.." ucapan Aluna tergantung di udara karena pria didepannya segera memotong
"Segera nona! Saya tidak bisa menunggu lama! Malam ini anda sudah harus berada dihadapan tuan"
Aluna tidak bisa lagi menghindar, memang sekarang saatnya karena jika ia menunda, maka nyawanya mungkin akan lenyap bersama uang satu Milyar itu
"Baiklah! Berikan saya lima menit untuk pamit pada ibu dan adik saya"
"Baiklah! Saya akan menunggu disini"
Aluna kembali masuk, tersenyum pada sang ibu agar wanita itu tidak merasa khawatir
"Ada apa nak?" Tanya Diah saat putri sulungnya itu masuk
"Aluna harus pergi sekarang! Ibu baik-baik yaa disini! Jangan khawatir sama Luna, Luna akan baik-baik saja" Ucapnya dengan tersenyum
"Tapi kamu yakin sama mereka? Mereka bukan orang jahat kan?"
"Enggak Bu, buktinya majikan Luna mau bayarin operasi ibu, ibu tenang aja!"
Aluna lalu menatap sang adik "Kakak titip ibu yaa! Jaga ibu baik-baik, kamu juga harus sekolah yang bener"
"Iya kak"
"Ibu gak usah keliling jualan kue lagi!" Aluna memberikan buku tabungannya "Disini ada uang lima puluh juta, ibu sebaiknya jualan gado-gado atau apapun didepan rumah"
"Apa ini juga dari majikan kamu?"
Aluna mengangguk "Luna pergi dulu yaa Bu! Ingat pesan Luna"
"Iya nak, kamu bawel"
Aluna kembali memeluk tubuh sang ibu, ia ingin menangis rasanya. Namun ia tidak ingin membuat sang ibu merasa khawatir
"Luna pergi yaa Bu"
"Hati-hati yaa nak" Aluna mengangguk sambil menahan tangisnya
"Kakak pergi dulu yaa dek, jaga ibu!" Azura mengangguk lalu memeluk sang kakak
***
Mibil mewah itu melaju membelah jalanan ibukota. Aluna hanya menatap jalan dari dalam mobil
"Saya mau ambil baju dirumah sebentar!" Lirih Aluna dengan suara terdengar takut
"Tidak perlu, Nona! Semua keperluan anda sudah ada dirumah tuan"
Pasrah, Aluna kembali memfokuskan perhatian nya pada pohon-pohon yang bergerak
Setelah ini hidupnya akan berubah, berada dalam sangkar emas hingga waktu yang telah ditentukan
Sekitar satu jam perjalanan, mobil mewah itu berhenti didepan gerbang berwarna hitam lalu seorang pria membukanya
Mobil melaju lagi dan saat ini Aluna telah melihat sebuah rumah yang menurutnya begitu mewah
Rumah dua lantai bergaya eropa, Aluna bahkan tidak bisa berkedip saat melihat bangunan dihadapannya
"Mari Nona!"
Aluna mengangguk lagi, ia berjalan dibelakang pria tinggi yang berdiri tegap. Punggungnya yang lebar seakan mengundang Aluna untuk meletakkan kepalanya disana
"Semat datang tuan Joseph!" Seorang wanita berseragam pelayan menunduk
Sekarang Aluna tau siapa nama pria dengan manik biru ini, wajahnya memang menggambarkan jika ia bukanlah keturunan asli Indonesia
"Panggil semua pekerja!"
"Baik"
Mereka masih berdiri diruang depan sampai beberapa orang berdiri dihadapan mereka dengan kepala yang senantiasa menunduk
Ada sekitar delapan orang, lima perempuan dan tiga orang laki-laki, dimana salah seorangnya menggunakan pakaian security
"Perkenalkan! Dia nona Aluna! Dia adalah nyonya rumah ini, hormati dia sebagaimana kalian menghormati tuan Arjuna!" Suara pria bernama Joseph begitu tegas
"Selamat datang dirumah nona, saya Wulan, saya kepala pelayan dikediaman ini" Seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahunan menyahut
Aluna hanya tersenyum sambil mengangguk, ia tidak berani membuka mulutnya
"Bona"
"Saya tuan" Wanita disisi kiri kepala pelayan menyahut
"Kamu akan menjadi pelayan pribadi nona Aluna! Siapkan semua keperluannya! Buat dia nyaman dan jangan berpikir untuk menyakiti nya!"
"Baik tuan"
Bagi Aluna ini terdengar berlebihan, ia pikir dirinya akan menjadi pekerja, tapi sepertinya ia akan dilayani layaknya seorang ratu
"Ingat ini!" Wajah tampan pria blasteran itu terlihat serius "Jangan sampai keberadaan nona Aluna sampai dirumah utama! Karena jika itu terjadi, maka nyawa kalian yang akan menjadi bayarannya!"
"Baik tuan" Sahut kedelapan orang itu
"Baiklah nona! Semoga anda betah berada disini! Jika ada keperluan atau ada sesuatu yang Anda inginkan bisa beritahu mereka!" Ujar Joseph pada Aluna
Gadis bermata indah itu mengangguk "Baik tuan"
"Bona!" Yang dipanggil maju satu langkah "Tunjukkan kamar nona Aluna dan siapkan segala keperluannya!"
"Baik tuan!" Wanita muda yang usianya mungkin sama dengan Aluna itu menatap kearah Aluna "Mari Nona!"
Aluna menurut, ia melangkah dibelakang wanita pelayan ini. Keduanya menaiki tangga hingga tiba didepan sebuah kamar
Gadis bernama Bona itu membuka pintu lalu mempersilahkan nyonya rumah ini untuk masuk
"Silahkan nona! Ini kamarnya!" Aluna masuk, langkahnya terhenti saat melihat kamar yang begitu mewah