Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.
Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Nadia terdiam sejenak, memandangi ujung sepatunya yang kusam. Jemarinya yang masih gemetar membalik lembaran kertas di buku tulis kecilnya yang sudah kumal, lalu menuliskan jawaban dengan ketukan pena yang lambat.
[Saya butuh uang untuk biaya hidup dan melunasi utang orang tua saya, Tuan. Hanya tempat itu yang mau menerima pekerja dengan keterbatasan seperti saya]
Aksa membaca kalimat sederhana itu. Tidak ada nada memelas, tidak ada dramatisasi, hanya pernyataan fakta yang jujur. Sorot mata pekat Aksa meredup sejenak, menyimpan riak emosi yang tak mampu ia definisikan.
"Berapa utang orang tuamu?" tanya Aksa, suaranya terdengar datar namun menuntut.
Nadia sempat ragu. Namun, mengingat kebaikan pria di hadapannya yang baru saja menyelamatkannya.
[Ratusan juta, Tuan]
Aksa hanya melirik angka itu tanpa berkedip, baginya nominal ratusan juta hanyalah angka kecil yang berputar dalam hitungan detik di mejanya. Namun bagi gadis ringkih ini, angka itu adalah beban gunung yang siap meremukkan seluruh hidupnya.
"Entah berapa lama hutangmu akan lunas dengan gaji di tempat sampah itu," ucap Aksa.
Nadia menunduk makin dalam, ia tahu Aksa benar. Senyum pahit terukir di bibirnya yang masih terasa perih akibat robekan.
Keheningan kembali menyelimuti mobil tersebut sampai kendaraan itu akhirnya berhenti di sebuah rumah sakit swasta ternama.
Pak Edo dengan sigap membukakan pintu. Aksa turun terlebih dahulu, lalu kembali mengulurkan tangannya pada Nadia. Nadia sempat ragu dan bermaksud menolak secara halus dengan lambaian tangan, namun Aksa tidak memberi ruang. Dengan gerakan tegas yang tak terbantahkan, pria itu menuntun Nadia masuk ke dalam gedung rumah sakit.
Seorang dokter jaga dan perawat langsung menangani Nadia di ruang pemeriksaan. Luka robek di sudut bibirnya dibersihkan secara steril dan diberikan jahitan halus, sementara memar di pipi kirinya dikompres dengan salep khusus.
Selama proses pengobatan berlangsung, Aksa berdiri bersedekap dada di dekat tirai. Matanya yang tajam tak pernah lepas mengawasi gerak-gerik perawat, memastikan tidak ada perlakuan kasar pada gadis itu.
"Luka luar di wajahnya sudah ditangani, Tuan. Namun pasien mengalami kelelahan fisik yang sangat parah dan gejala dehidrasi, kami sarankan untuk rawat inap setidaknya satu malam untuk infus vitamin," ujar dokter jaga seraya melepas sarung tangan latex-nya.
[Tidak usah, Dokter. Saya mau pulang saja]
Aksa melangkah mendekati brankar tempat Nadia duduk. Tanpa memandang tulisan Nadia, ia menatap dokter tersebut. "Pindahkan dia ke kamar VIP lantai atas sekarang, siapkan semua perawatan terbaik,"
"Baik, Tuan Aksa," jawab dokter itu penuh rasa hormat.
Mata Nadia membelalak kaget. Ia menarik-narik ujung kemeja abu-abu Aksa, menggelengkan kepala berulang kali dengan wajah memohon. Jemarinya mengetik cepat.
[Tuan, jangan! Saya tidak bisa bayar kamar VIP! Tolong biarkan saya pulang!]
Aksa menunduk, menatap Nadia dari atas. Tatapannya pekat, penuh dominasi yang sulit dibantah.
"Siapa yang bilang kamu harus bayar? Duduk diam dan turuti perintah saya," desis Aksa pelan.
Nadia terpaku, kehangatan yang tegas dari nada bicara pria itu mendadak mengunci lidah dan gerakannya. Tanpa bisa menolak lagi, Nadia dipindahkan ke kamar perawatan VIP yang luas dan nyaman.
Sementara itu, di kediaman Mahendra, suasana pagi hari berubah menjadi sangat tegang. Papa Mahendra duduk di ruang tengah dengan raut wajah rahang mengeras, sementara Mama Bella bolak-balik menyusuri ruangan dengan kecemasan yang membuncah.
"Aksa nggak pulang ke rumah, Pa? Ponselnya mati dari semalam, kemana anak itu pergi setelah bertengkar sama Papa?" tanya Mama Bella khawatir.
Papa Mahendra menyesap kopinya dengan gusar. "Biarkan saja! Anak itu makin hari makin keras kepala! Papa hanya berniat baik menjodohkannya dengan putri almarhum teman Papa, tapi dia malah menolak mentah-mentah hanya karena gadis itu tidak bisa bicara!"
"Itu Papa tahu kalau Aksa keras kepala, jadi Papa nggak bisa memaksanya begitu saja. Kita bahkan belum pernah bertemu langsung dengan putri teman Papa itu," ucap Mama Bella.
Papa Mahendra menghela napas berat, ingatan masa lalunya kembali membayangi. "Teman Papa itu orang yang menyelamatkan Papa saat terpuruk dari kebangkrutan puluhan tahun lalu. Papa tidak peduli kalau gadis itu tidak bisa bicara, dia tetap berhak mendapatkan perlindungan dari keluarga kita!"
Papa Mahendra mengetuk meja kayu dengan jari-jarinya, "Hari ini juga, Papa akan minta otang buat cari tahu di mana keberadaan putri teman Papa itu. Kalau Aksa tetap menolak menemuinya, Papa sendiri yang akan menjemput gadis itu!"
Di kamar perawatan VIP rumah sakit, matahari pagi mulai menerobos masuk melalui celah gorden tebal, Nadia perlahan membuka matanya. Rasa sakit di wajahnya sudah jauh berkurang, dan cairan infus yang mengalir ke tubuhnya membuat staminanya sedikit pulih.
Nadia menoleh ke samping. Di atas kursi sofa mewah ruangan itu, Aksa tampak tertidur lelap dengan posisi menyandarkan kepala. Kemejanya tampak kusut dan dua kancing teratasnya terbuka, menampilkan kesan maskulin yang berantakan namun menawan.
Nadia menatap wajah tertidur Aksa dengan lekat. Dalam posisi tenang seperti ini, raut kejam dan dingin yang biasa dipancarkan pria itu seolah menghilang, berganti dengan ketampanan yang menggoda.
'Kenapa Tuan begitu baik sama saya? Orang asing seperti Tuan justru yang menolong saya, sementara orang-orang yang saya kenal malah merendahkan dan menghancurkan hidup saya,' batin Nadia sendu.
Perlahan, Nadia menggeser kakinya turun dari tempat tidur. Ia memegangi tiang infus dengan pelan agar tidak menimbulkan suara gaduh, lalu melangkah menuju sofa. Nadia mengambil selimut ekstra yang terlipat di ujung tempat tidur, lalu menutupi tubuh Aksa dengan sangat hati-hati.
Saat Nadia hendak menarik tangannya kembali, tiba-tiba pergelangan tangannya dicengkeram erat. Nadia tersentak pelan saat Aksa membuka matanya, manik mata hitam pekat itu langsung terkunci pada sosok Nadia yang berdiri begitu dekat dengannya.
"Mau kemana?" suara Aksa terdengar serak khas bangun tidur, sangat berat dan rendah.
Nadia menunjuk selimut yang baru saja diusapkannya ke tubuh Aksa, lalu menyatukan kedua tangannya di depan dada sebagai permintaan maaf karena telah mengejutkannya.
Aksa melepaskan cengkeraman tangannya perlahan, ia memperbaiki posisi duduknya dan menyapu wajahnya dengan kasar lalu menatap selimut di pangkuannya. Tatapan dinginnya kembali terpasang, namun ada kilat kehangatan tipis yang tersembunyi.
"Dokter bilang kamu sudah boleh pulang setelah infusnya habis," ujar Aksa seraya berdiri dan merapikan kemejanya.
Nadia mengangguk pelan, lalu meraih papan tulis kecilnya di atas meja nakas.
[Terima kasih banyak, Tuan Aksa. Saya tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Tuan, saya janji akan mencicil seluruh biaya rumah sakit ini setelah saya dapat pekerjaan baru]
Aksa membaca tulisan itu, lalu melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa satu tapak, ia menatap lurus ke dalam mata jernih Nadia.
"Saya tidak butuh uangmu," ucap Aksa datar.
Nadia menatap Aksa dengan tatapan bingung, "Uang saya banyak, anggap saja saya sedang membantu," lanjut Aksa.
.
.
.
Bersambung.....