Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Dekret Altar Emas dan Amukan Isak Tangis sang Putri Solari
Gema bising dari puluhan mesin bor uap di sepanjang palung tambang utama Sektor Emas Timur mendadak senyap total. Keheningan yang tiba-tiba ini terasa sangat aneh dan membuat merinding semua budak yang sedang bekerja di area pelataran bawah. Sistem penahan lift utama Menara Kristal bergerak turun dengan sangat lambat, mengeluarkan bunyi dengingan berat yang menggetarkan udara di sepanjang Dataran Tinggi Titan Prime.
Hari itu, sebuah maklumat rahasia berskala besar baru saja diturunkan langsung dari balik meja dewan tetua Solari. Maklumat tersebut ditandatangani langsung oleh Kepala Pengawas Tambang tertinggi, Gendo Solari, yang merupakan ayah kandung dari Elena. Keputusan sepihak yang diambil oleh sang penguasa emas itu seketika memicu kepanikan di antara jajaran perwira tinggi klan yang selama ini menguasai jalur logistik tambang.
Penyebab dari memanasnya hawa politik yang sangat mendadak tersebut adalah lahirnya Perintah Perjodohan Paksa untuk mengunci diri Elena bersama Zephyr, si budak pembersih kerak pelumas dari Pabrik Peleburan Sektor Tiga. Gendo Solari sengaja mengambil langkah gila yang berada di luar akal sehat ini murni sebagai taktik hukum adat kuno untuk menjegal rencana kelompok faksi barat yang berniat merebut seluruh aset tambang emas miliknya minggu depan.
Dalam aturan klan yang berlaku di Titan Prime, mengawinkan putri tunggal bangsawan dengan seorang budak kasta terbawah yang memiliki darah murni bumi adalah tameng hukum paling kuat untuk membatalkan seluruh surat perjanjian dagang bersama bangsa mesin asing secara mutlak. Gendo tahu betul, musuh-musuhnya tidak akan bisa menyentuh hartanya kalau aturan adat kuno ini sudah dikunci menggunakan hubungan darah.
Di atas Altar Emas Utama yang berada di puncak tertinggi menara langit, suasana sore itu terasa sangat mencekam dan menyesakkan dada siapa saja yang melangkah masuk. Elena berdiri membeku di samping meja kristal dengan tubuh indahnya yang gemetar hebat menahan luapan amarah yang mendidih di dalam dadanya. Gaun sutra emas mewah bersulam benang perak matahari yang melekat di tubuhnya nampak berkilau benderang dihantam cahaya tiga matahari kembar, namun wajah cantiknya yang putih bersih terlihat sangat pucat pasi tanpa ada rona darah sedikit pun. Sepasang mata biru jernihnya menatap kosong dengan tatapan penuh rasa tidak percaya ke arah gulungan dokumen kulit kuno yang tersegel cap darah kerajaan di atas meja altar. Pikirannya benar-benar kacau dan dunianya serasa runtuh dalam sekejap mata.
TANG!
Kipas perak bertatahkan berlian di tangan kanan Elena mendadak terlepas dari genggamannya, jatuh membentur lantai logam emas yang keras hingga mengeluarkan suara dentangan keras yang memecah kesunyian ruangan suci tersebut. Suara besi beradu itu bergaung berulang-ulang di sepanjang dinding kristal, mempertegas betapa tegangnya situasi di dalam ruangan. Seluruh dinding keangkuhan, kesombongan kasta bangsawan tinggi, dan sifat sedingin es yang ia rawat dengan sangat bangga sejak masih kecil mendadak hancur berantakan menjadi seonggok abu keputusasaan.
Elena tidak bisa menahan keteguhan batinnya lagi menghadapi kenyataan pahit ini. Air mata frustrasinya langsung mengalir deras membasahi pipinya yang mulus, pecah menjadi isak tangis histeris yang luar biasa menyayat hati siapa pun yang mendengarnya sore itu.
"Ayah... kau pasti sudah gila! Kau sengaja ingin membunuh masa depanku!" jerit Elena tersedu-sedu dengan suara yang melengking tinggi, dipenuhi rasa frustrasi yang luar biasa mendalam memenuhi ruangan. Dia meremas ujung kain gaun sutra mewahnya sekencang mungkin dengan sepasang tangan yang memutih pasi karena menahan rasa muak yang luar biasa gila. "Kau ingin mengunci diri dan seluruh harga diri bangsawanku pada takdir busuk seorang kuli panggul berbau belerang kotor?! Zephyr itu cuma seekor cacing cacat yang hidupnya dibuang di lubang tungku peleburan bawah tanah yang dekil! Dia miskin, tubuhnya penuh noda hitam pembakaran, dan bahkan tidak memiliki energi pelindung sedikit pun di dalam tubuhnya! Menikah dengan makhluk menjijikkan seperti dia adalah penghinaan terbesar bagi kesucian darah murni keluargaku, Ayah!"
Elena terus menangis meraung-raung, meluapkan seluruh isi kepalanya yang menolak keras keputusan ini. Dia merasa martabatnya sebagai putri emas Sektor Timur telah diinjak-injak sampai ke titik paling rendah oleh keputusan ayah kandungnya sendiri. Bayangan bahwa dia harus bersanding di pelaminan bersama seorang pelayan kotor yang setiap hari mandi abu besi membuat batinnya merasa sangat jijik dan mual. Isak tangisnya semakin keras, mengguncang pundak indahnya yang tertutup kain sutra mahal. Dia berharap semua ini cuma mimpi buruk, tapi dokumen segel darah di depan matanya dengan kejam menegaskan bahwa ini adalah realitas nyata yang tidak bisa dia hindari.
Gendo Solari tetap berdiri kaku seperti topeng kuno yang mati di balik meja altar, menolak untuk menunjukkan rasa kasihan sedikit pun kepada anaknya. Dia membiarkan jubah emasnya menyapu lantai batuan dengan angkuh. Sepasang matanya yang tajam menatap kosong keluar jendela besar, menembus hamparan pemandangan kilang industri terapung yang terus berputar di bawah siraman tiga matahari kembar. Sebagai seorang pemimpin yang berwatak kejam dan berhati dingin, Gendo menolak untuk goyah oleh tangisan emosi atau jerit keputusasaan putri tunggalnya. Bagi pria tua ini, kelangsungan kekuasaan klan dan harta tambang emas berada jauh di atas urusan air mata seorang remaja perempuan yang manja.
"Diam, Elena! Jaga lidah beracunmu di depan altar suci ini!" bentak Gendo secara mendadak dengan getaran suara yang begitu berat, parau, dan penuh wibawa yang kejam. Suaranya yang menggelegar seketika memotong seluruh isak tangis Elena dan memaksa lampu di sekeliling dinding ruangan bergoyang kaku menahan tekanan mental yang keluar dari tubuh raksasanya. "Pernikahan politik paksa ini sama sekali bukan karena aku kasihan pada nasib Zephyr atau ingin menghina dirimu! Dengarkan baik-baik dengan otakmu yang sempit itu, Elena! Budak kurus dari Sektor Tiga itu hanyalah sebilah perisai dan tameng aturan adat yang sengaja kumanfaatkan untuk membungkam keserakahan faksi radikal barat yang mau merebut kilang tambang kita! Dengan mengunci silsilah darahmu pada status hukum Zephyr, kita bisa mengusir pasukan mereka dari stasiun ini secara sah!"
Gendo melangkah tegap mendekati tubuh Elena yang sedang bergetar, lalu mencengkeram erat sepasang pundak putrinya dengan telapak tangan kasarnya yang penuh dengan kapalan tebal akibat puluhan tahun memimpin perang. Tatapan matanya menusuk lurus ke dalam manik mata biru Elena, mengunci seluruh bantahan yang mau keluar dari mulut anaknya. Tekanan yang dilepaskan Gendo begitu berat, membuat atmosfer di dalam ruangan terasa semakin tipis dan menyesakkan dada.
"Aku tidak peduli jika kau membenci kemiskinan dan bau asap tubuh Zephyr sampai kau mati seumur hidupmu. Aku juga tidak peduli jika kau meludahi jalan setapak kakinya atau pakaian karung goninya yang kotor penuh abu karat setiap hari di dalam rumah barumu nanti," desis Gendo dengan nada suara yang teramat dingin, kaku, dan tanpa ampun. "Tugasmu di dunia ini cuma satu, Elena: jalankan ritual pengikatan darah tradisional bersama budak itu minggu depan, pasang wajah paling dingin dan sedingin es di depan altar pernikahan, dan biarkan seluruh pengawas stasiun tahu bahwa kau sudah resmi menjadi alat politik untuk mengubur ambisi keserakahan musuh-musuhku! Jangan mempermalukan nama Solari dengan tangisan cengeng mu ini!"
Elena langsung jatuh terduduk lemas di atas lantai altar logam yang dingin setelah cengkeraman tangan ayahnya terlepas. Kekuatan di kedua kakinya mendadak hilang sepenuhnya, membiarkan gaun sutra emasnya yang indah terhampar kotor di atas ubin, tenggelam dalam pusaran dendam dan kebencian baru yang mulai membakar lubuk hatinya.