NovelToon NovelToon
Mengasuh Anak Dari Maduku

Mengasuh Anak Dari Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Pengkhianatan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 14- Permintaan Polos

Ep. 14- Permintaan Polos

Dua minggu berlalu sejak tanah merah di atas pusara Rendra dan Ayu mengering. Bunga-bunga duka di halaman depan telah dibersihkan sepenuhnya, menyisakan rutinitas rumah tangga yang perlahan kembali normal.

Selama dua minggu itu pula, keberadaan Aura di rumah besar tersebut tak lagi bisa sepenuhnya diisolasi. Walau Kirana secara emosional masih menjaga jarak dan membatasi interaksinya dengan anak dari wanita yang telah merenggut kebahagiaannya, ruang gerak anak-anak tidak mengenal sekat kebencian orang dewasa.

Setiap hari, Keisya yang kehilangan sosok papa dan merasa kesepian di rumah yang sepi, perlahan-lahan mulai tertarik pada sosok balita mungil yang kini tinggal di kamar belakang.

Awalnya hanya sebatas saling menatap dari balik pintu, lalu berlanjut dengan Keisya yang membagikan biskuitnya, hingga akhirnya kedua anak itu tak terpisahkan.

Ikatan darah yang mengalir di dalam tubuh mereka seolah bekerja secara alami. Keisya bertindak sebagai kakak yang pelindung dan penuh perhatian, sementara Aura menempel pada Keisya dengan kepatuhan dan rasa sayang yang tulus.

Pagi itu, sinar matahari hangat menembus kaca jendela ruang keluarga. Di atas karpet bulu tebal berwarna krem, Keisya dan Aura duduk bersila berdampingan. Mereka sibuk menyusun blok-blok mainan kayu warna-warni menjadi sebuah bangunan yang menyerupai istana.

"Aura, yang warna merah ini pasangnya di atas sini, ya," ujar Keisya dengan nada menggurui layaknya seorang kakak tertua yang bijak.

"Sini? Owa bisa!" cicit Aura ceria. Jemari mungilnya yang gempal meletakkan blok kayu merah dengan hati-hati. Saat bangunan itu berdiri tegak tanpa roboh, Aura bertepuk tangan kegirangan. "Holeee! Istana Kakak Keisya baguuus!"

Keisya tersenyum lebar, lalu mengacak pelan rambut halus Aura dengan rasa bangga. "Pintar! Aura kan adik Kakak yang paling pintar!"

Kirana yang baru saja turun dari lantai dua dengan membawa seberkas dokumen keuangan keluarga, menghentikan langkah kakinya tepat di sela anak tangga terakhir.

Matanya menatap pemandangan di atas karpet tersebut dengan tatapan datar namun hatinya seperti diiris oleh sembilu yang tumpul.

Ada rasa hangat saat melihat senyum bahagia kembali terpancar di wajah Keisya, namun ada pula rasa perih yang tak tertahankan saat menyadari betapa miripnya guratan wajah Aura dengan almarhum Rendra sewaktu kecil.

Kirana menghela napas panjang dan menetralkan gemuruh di dadanya, lalu melangkah perlahan menuju meja makan yang tak jauh dari area bermain anak-anak.

Melihat kehadiran sang ibu, mata Keisya langsung berbinar. Gadis kecil itu bangkit berdiri dan menyapu gaun merah mudanya, lalu berlari-lari kecil menghampiri Kirana.

Aura pun melompat ikut berdiri, menirukan gerakan Keisya dan berjalan mengekor di belakangnya dengan langkah sempoyongan yang menggemaskan.

"Mama! Mama, lihat deh! Keisya sama Aura bikin istana bagus banget!" seru Keisya sambil menarik-narik ujung baju Kirana untuk meminta perhatian.

Kirana memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Ia merendahkan tubuhnya, lalu mengusap dahi Keisya yang sedikit berkeringat. "Iya, Sayang... bagus sekali istananya. Keisya pintar ya."

Namun, Keisya tidak kembali ke area bermainnya. Gadis kecil itu justru menggenggam kedua tangan Kirana sambil memiringkan kepalanya, dan menatap wajah ibunya dengan binar mata polos khas anak-anak yang dipenuhi oleh sebuah harapan besar.

"Mama... Keisya mau ngomong sesuatu sama Mama," ucap Keisya dengan nada serius yang menggemaskan.

Kirana mengernyitkan dahinya dan merasa heran dengan perubahan raut wajah putrinya itu. "Mau ngomong apa, Sayang? Mau beli mainan baru?"

Keisya menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia lalu berbalik dan merangkul bahu kecil Aura yang berdiri polos di sampingnya sambil mengenyot jari jempolnya.

"Mama... sekarang kan Papa udah nggak ada..." kata Keisya, suaranya mengecil sejenak saat menyebut kata 'Papa', namun kembali bersemangat di kalimat berikutnya. "Keisya sering kesepian kalau di rumah. Tapi sejak ada Aura, Keisya seneng banget! Aura baik, nurut sama Keisya, terus Aura lucu banget kalau diajak main."

Kirana mendengarkan dengan perasaan yang mulai tidak tenang. Firasat seorang ibu membisikkan bahwa ada permintaan tak terduga yang akan meluncur dari bibir putrinya.

"Lalu... maksud Keisya bagaimana?" tanya Kirana.

Keisya tersenyum sangat lebar dengan sorot mata yang berbinar-binar penuh kepolosan.

"Keisya mau Aura jadi adik Keisya beneran, Ma!" seru Keisya penuh antusiasl. "Keisya mau janji bakal jagain Aura terus! Tapi... Aura kasihan, Ma. Aura suka nangis nyariin ibunya yang udah tidur di makam. Boleh nggak, Ma... kalau Aura juga panggil Mama dengan sebutan 'Mama'? Boleh ya, Ma? Biar Aura punya Mama lagi, dan Keisya punya adik beneran!"

DEG.

Kata-kata yang meluncur dari bibir polos Keisya serasa bagai petir di siang bolong yang menghantam dada Kirana secara telak.

Mulut Kirana seketika menganga. Matanya membelalak penuh keterkejutan yang luar biasa. Tubuhnya membeku kaku di atas lantai, seolah seluruh pasokan udara di dalam ruangan itu mendadak tersedot habis.

"Aura... memanggilku 'Mama'? Menjadikannya adik Keisya secara resmi?" batin Kirana berteriak histeris.

Rasa sakit, cemburu, dan luka pengkhianatan Rendra yang selama dua minggu ini ia coba tekan kuat-kuat, mendadak membumbung tinggi menembus dada.

Bagaimana mungkin ia sanggup mendengarkan anak dari wanita simpanan suaminya memanggil dirinya dengan sebutan "Mama", sebuah panggilan sakral yang hanya berhak diucapkan oleh Keisya, darah dagingnya sendiri?

Bagaimanakah ia bisa menerima kenyataan bahwa wanita yang telah menghancurkan kebahagiaan rumah tangganya kini anaknya akan memanggilnya sebagai ibu?

"Mama...?" panggil Keisya bingung, saat melihat perubahan drastis pada wajah ibunya yang mendadak pucat pasi dengan tatapan mata yang bergetar.

Keisya menggoyang-goyangkan tangan Kirana. "Mama kenapa? Kok Mama kaget gitu? Boleh kan, Ma? Aura panggil Mama juga?"

Aura yang tidak mengerti apa-apa, menatap Kirana dengan mata bulatnya yang jernih. Anak balita itu memiringkan kepala, lalu menyunggingkan senyum polos tanpa dosa.

"Ma... ma...?" cicit Aura menirukan ucapan Keisya dengan suaranya yang cadel.

Suara kecil Aura yang menguncupkan kata "Mama" terasa bagai tusukan sembilu yang tajam sekaligus menghentakkan sudut nurani Kirana yang paling dalam.

Kirana mengepalkan kedua tangannya. Ia ingin sekali berteriak, ingin menolak permintaan itu secara tegas, ingin mengatakan pada Keisya bahwa anak di hadapannya adalah bukti dari kepedihan paling besar dalam hidupnya!

Namun... saat Kirana menatap dalam-dalam ke dalam mata Keisya, Kirana terenyuh.

Di dalam mata bulat putrinya, Kirana melihat ketulusan, kepolosan, dan binar kebahagiaan yang sudah lama hilang sejak kepergian Rendra.

Keisya sama sekali tidak tau kebenaran pahit di balik kehadiran Aura. Bagi Keisya, Aura adalah anugerah kecil yang hadir menghapus kesepian dan kesedihannya.

Jika Kirana menolak dan memarahi Keisya saat ini, ia hanya akan mematahkan hati putrinya yang sangat rapuh dan masih berduka.

Kini, Kirana diapit oleh dua pilihan yang sangat menyiksa, mempertahankan ego serta rasa sakit hatinya, atau menjaga senyuman dan harapan polos dari putri tunggalnya tersebut.

"Mama... kok Mama diam aja?" rengek Keisya lagi, raut wajah cerianya perlahan berubah menjadi cemas karena Kirana tak kunjung memberi jawaban. "Mama nggak suka ya kalau Aura jadi adik Keisya?"

Kirana menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Air mata yang tak kasat mata bergelora di dalam jiwanya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa dalam pertarungan antara rasa benci dan kasih sayang seorang ibu pada putrinya, Kirana sama sekali tidak becus untuk menolak.

Dengan tangan yang sedikit gemetar Kirana mengulurkan jemarinya. Ia mengusap pipi Keisya, lalu dengan berat hati beralih mengusap lembut puncak kepala Aura.

"Keisya... Kalau Keisya bahagia... kalau Keisya mau menjaga Aura dengan baik... Mama... Mama izinkan."

Seketika itu juga, wajah Keisya meledak dalam kegembiraan yang luar biasa. "Horeeee! Makasih, Mama! Keisya sayang banget sama Mama!" jerit Keisya gembira sambil memeluk leher Kirana erat-erat.

Keisya kemudian membalikkan badan dan merangkul tubuh Aura dengan penuh kemenangan. "Aura! Denger kan? Sekarang kamu punya Mama! Panggil Mama, Aura!"

Aura pun tertawa kecil menirukan kegembiraan Keisya. "Mama! Mamauuu!" seru balita itu sambil bertepuk tangan.

"Ma-ma..."

Bersambung...

1
Lisa
Aura keras kepala juga y..hayo g bisa dibiarin tuh.
Lisa
Wah Aura mulai ngambek nih 😊
Lisa
Aura ingin juga disuapi sama Kirana...teruslah bersikap adil pada kedua putrimu Kirana..
Lisa
Wah sepertinya Aris ini bakal jadi teman deketnya Kirana..lucu banget 2 pengawal cilik itu 😊
Lisa: 😊 iya Kak..
total 2 replies
Lisa
👍👍 ayo Kirana lawan si nenek itu..
Anonim
Kok gini sih
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Lisa
Benar Kak.
Lisa
Syukurlah Kirana sudah menyadari kesalahannya dan mau menyayangi Aura..
Lisa
Cpt sembuh Aura..Kirana kamu harus sadar jgn dendam terus pada Aura..
Lisa
Amin..kasihan banget Aura..moga Kirana mampu menyayangi Aura..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Aurora: terimakasih.../Rose/
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Suka banget Kak
total 2 replies
Banu Tyroni
... akhirnya Aura mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
Banu Tyroni
Aura.... kasihan kamu 😭
Banu Tyroni
... siapin tisu yg banyak.
Banu Tyroni
... sedih banget lihat Aura, besok kedepannya bagaimana ya? 😭
Banu Tyroni
... menarik.
Aurora: terimakasih /Rose/
total 1 replies
Banu Tyroni
Baca di awal ini nampaknya cerita akan penuh konflik dan menguras air mata... siap² tisu 😄
Irmha febyollah
lanjut lagi kk.
Aurora
kaya tega banget ya Kirana 🤭
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!