Hanya satu hari sebelum hari pernikahan, Bayu Andarsono harus kehilangan sang mempelai dalam kecelakaan yang merenggut nyawa Annisa, belahan jiwanya. Keluarga besar dari kedua pihak tidak bisa menanggung malu, maka dengan keputusan tanpa perasaan mempelai wanita diganti, Andin, adik kandung Annisa. Bayu dan Andin menikah tanpa cinta, keduanya membuat kontrak hitam di atas putih. Andin setuju karena hatinya sudah dimiliki Bian Wijaya, kekasihnya yang setia. Bayu pun tak keberatan, sebab baginya, Andin hanyalah pengganti sementara. Namun, dibalik kehidupan pernikahan yang dingin, misteri mulai terkuak, sedikit demi sedikit. Bayu Andarsono bukanlah pria biasa. Ia adalah Alpha dari klan werewolf tertua di Tanah Jawa. Semakin lama kehidupan pernikahan antara Bayu dan Andin, semakin kuat pula ikatan gaib yang tak terlihat. Benarkah gadis yang ia anggap hanya pengganti itu sebenarnya adalah Mate sejati yang ditakdirkan oleh Bulan untuknya? Bisakah pernikahan palsu itu berubah menjadi ikatan a
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Adalah Manusia Serigala
Sudah terhitung hampir dua hari, Andin berada di Red Moon Pack. Gadis itu masih disana, tanpa tahu apa-apa.
Semua orang di Pack, dari orang tua Bayu, para tetua, teman-temannya, hingga para pelayan, semuanya memperlakukan gadis itu dengan baik— hampir terlalu hati-hati.
Seolah ia benda rapuh yang bisa pecah hanya karena hembusan angin.
Mungkin karena menganggap gadis manusia itu lemah.
Sementara itu Bayu, sejak percakapan mereka yang terakhir hingga saat ini, lelaki itu belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Percakapan itu memang berakhir buruk. Andin tidak mengerti apa yang salah, tetapi Bayu pergi dengan wajah menahan amarah yang begitu kentara, meninggalkannya sendirian di kamar yang terasa terlalu besar.
“Nona Andin.” Lisa membuyarkan lamunan Andin.
“I-iya, Lisa.” Kikuk Andin.
“Hari ini, mau berkeliling untuk melihat-lihat sekitar?” Tanya Lisa dengan senyum cerah, siap menjadi pemandu dadakan.
“Bisakah?”
“Tentu saja, nona.”
Perjalanan mereka dimulai dari halaman luas yang terletak di depan rumah utama. Halaman itu luas, hampir dua kali lipat lapangan sepak bola. Rumput hijau terawat rapi, dikelilingi pepohonan tinggi yang menjulang.
“Halaman ini biasa digunakan untuk tempat berkumpulnya semua anggota Pack, nona. Beberapa anak muda biasa pamer kekuatan disini.” Lisa menjelaskan, kala keduanya melewati lapangan itu.
“Kekuatan apa yang biasa mereka pamerkan, Lisa??” Andin bertanya antusias.
“Ee… itu… oh! Kekuatan otot, nona. Mereka bertaru— eh, maksudnya mereka latihan tinju, gulat, lari, dan semacamnya.”
Gugup Lisa.
Andin mengangguk pelan. Memang benar, hampir semua pria di sini bertubuh tinggi kekar dengan otot yang terpahat jelas. Wajah mereka pun cenderung kasar dan sangar, seolah selalu siap menghadapi bahaya.
Lisa melanjutkan penjelasannya sambil berjalan. “Di sebelah sana adalah area pemukiman. Banyak rumah kecil untuk keluarga pack. Kemudian, gedung besar yang di utara adalah tempat latihan yang sebenarnya.” Lisa menjelaskan panjang lebar.
“Tapi, Lisa. Kenapa orang-orang disini harus selalu latihan? Apa itu perlu?”
“Tentu saja perlu, nona. Kami harus melatih otot kami agar tetap kuat dan siap menghadapi musuh kapan saja.”
“Musuh?? Bukankah kita di tengah hutan yang—”
“N-nona!!” Lisa berteriak, panik.
“Tuan Bayu mencari anda.” Lisa yang gelagapan mencoba mencari pengalih perhatian dan kebetulan melihat Bayu sedang berjalan ke arah gedung latihan.
“Mas Bayu? Mana??”
“Itu disana, nona.” Tunjuk Lisa.
Andin menoleh ke arah yang ditunjuk Lisa. Tatapannya langsung bertemu dengan Bayu yang sedang berjalan menuju gedung latihan.
Detik itu juga, Bayu berhenti. Tatapannya tajam, intens, dan sedikit gelap.
Tanpa sadar, Andin menggigit bibir bawahnya, gadis itu merasakan bahwa tatapan Bayu kelewat intens.
Entah sejak kapan, Bayu sudah berdiri tepat di hadapannya. Langkahnya begitu cepat dan senyap.
“Andin.” Sapa Bayu, datar dan dingin.
“M-mas.” Balas Andin.
Sedangkan Lisa, entah sejak kapan sudah pergi meninggalkan mereka.
Bayu melepas jaket hitamnya dan menyampirkannya ke pundak Andin dengan gerakan lembut tapi tegas.
“Pakai ini,” katanya pelan. “Cuaca di sini lebih dingin daripada Jakarta. Jangan sampai kamu masuk angin.”
Padahal alasan sebenarnya karena Bayu tidak suka aroma manis Andin yang begitu mencolok menyebar ke udara, mengundang tatapan lapar dari serigala-serigala lain.
Andin merasa pipinya memanas. “Terima kasih, Mas.”
Suasana langsung menjadi canggung. Angin sepoi berhembus di antara mereka, tapi tak mampu melenyapkan ketegangan yang pekat.
Bayu menatap Andin beberapa saat, rahangnya mengeras. Akhirnya ia membuang napas pelan.
“Saya ke tempat latihan dulu,” ucapnya singkat.
Tanpa menunggu jawaban, Bayu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Andin yang masih berdiri memeluk jaketnya yang hangat dan membawa aroma tubuh suaminya.
……
H-2 Sebelum Bulan Purnama
Malam itu, angin berhembus lebih dingin dari biasanya.
Andin sedang berdiri sendirian di balkon kamarnya, memeluk tubuhnya sendiri sambil menatap halaman luas yang langsung berbatasan dengan hutan rimbun.
Daun-daun bergoyang pelan seperti bisikan ribuan makhluk tak kasat mata.
Cahaya bulan sabit menyusup tipis di antara cabang-cabang pohon, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang seolah bergerak.
Tiba-tiba….
“Andin.”
Suara itu datang tepat di belakang telinganya. Rendah dan sangat dekat.
Andin tersentak keras. Tubuhnya oleng kedepan, hampir jatuh. Tetapi sebelum jeritannya sempat keluar, sepasang tangan kekar dan panas langsung menangkap pinggangnya, menariknya kembali dengan kuat ke dada bidang yang keras.
Napas Andin tersengal. Jantungnya seperti mau meledak.
“M-mas Bayu…..” bisiknya gemetar dengan suara nyaris hilang.
“Maaf,” gumam Bayu pelan di atas kepalanya. Suaranya dalam, tapi ada getaran aneh yang tak biasa.
“Saya tidak bermaksud mengagetkanmu.”
Lelaki itu lalu memapahnya dengan lembut, tetapi tegas ke lursi rotan yang ada di balkon. Setelah Andin duduk, ia sendiri duduk tepat di sebelahnya.
Jarak keduanya begitu dekat, hingga Andin bisa merasakan panas tubuh lelaki itu yang tidak wajar di malam sedingin ini.
Sesaat hanya ada keheningan. Hanya suara angin dan detak jantung Andin yang bertalu kencang.
Bayu menunduk, sikunya bertumpu di lutut, kedua tangan besarnya saling meremas kuat. Rahangnya menegang. Cahaya bulan menyentuh wajahnya, memperlihatkan garis-garis ketegangan yang dalam.
“Andin,” katanya akhirnya, suaranya berat dan serak.
“Ada sesuatu yang harus saya katakan padamu malam ini.”
Andin meremas ujung dressnya hingga jari-jarinya memutih.
“Apa… apa itu, Mas?”
Bayu menoleh. Matanya menatap Andin dalam-dalam. Ada sesuatu di balik pupilnya, sesuatu yang liar, dan gelap, yang seolah sedang berjuang untuk tetap terkunci.
“Tapi sebelumnya…” suaranya turun menjadi bisikan, “berjanjilah bahwa kamu akan percaya padaku. Sepenuhnya. Apa pun yang aku katakan.”
Andin menahan napas. Udara malam terasa semakin berat.
Ia mengangguk pelan, meski ketakutan sudah merayap di tulang punggungnya.
Bayu lalu menarik napas panjang. Dada bidangnya naik turun dengan berat.
Lalu, dengan suara yang hampir tidak manusiawi, ia berkata…..
“Saya… sebenarnya adalah manusia serigala.”
Untuk sesaat, Andin hanya bisa menatap suaminya itu dengan mata membelalak lebar. Wajahnya memucat seketika, seolah semua darahnya tersedot keluar. Bibirnya terbuka tanpa suara, napasnya tertahan di tenggorokan. Pupil matanya juga melebar penuh kengerian dan ketidakpercayaan.
Tubuhnya membeku di tempat, jari-jarinya mencengkeram lengan kursi hingga buku-bukunya memutih.
“Apa kamu bilang, mas?” suaranya keluar dengan susah payah dan hampir tak terdengar. Sebuah bisikan parau yang penuh keterkejutan.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya. hanya tekan profile, terima kasih 🤭/Grin/