Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Malam Penempaan dan Rahasia Darah Suci
Di dalam kegelapan gua kapur yang sunyi, api unggun kecil memantulkan bayangan dua insan yang duduk saling berhadapan.
Pedang Bintang Tujuh Kedewaan yang baru saja termanifestasi diletakkan secara melintang di atas pangkuan Satria Pamungkas.
Bilah hitamnya yang legam sesekali menangkap cahaya jingga dari api, memancarkan kilau mistis yang menenangkan namun sarat akan ancaman mematikan.
Dyah Sekar Ayu menatap pedang itu, lalu mengalihkan pandangannya pada sepasang mata hitam Satria. Di dalam hatinya, ada gejolak aneh yang terus tumbuh. Pengaruh dari fungsi Asmaragama Siphoning telah menembus jauh ke dalam lapisan kesadarannya, membuat rasa angkuh yang dulu ia pertahankan di istana Kadiri menguap tanpa bekas setiap kali ia berada di dekat pemuda anti-hero ini.
"Bagaimana cara kita memulai, Satria?" tanya Sekar Ayu, suaranya melembut, kehilangan intonasi dingin yang biasa ia gunakan di depan para bawahannya.
"Lepaskan penyamaranmu," perintah Satria datar. "Mantra Pengalih Rupa itu menahan aliran murni dari Darah Suci Dewi Sri di dalam tubuhmu. Untuk penempaan tingkat tinggi, aku butuh esensi spiritualmu berada dalam kondisi paling murni."
Dyah Sekar Ayu mengangguk patuh. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, dan membalikkan aliran Prana di sekitar wajahnya. Seketika, struktur otot wajahnya bergeser kembali ke bentuk semula.
Kulitnya yang sawo matang memudar, digantikan oleh kulit seputih pualam yang halus. Bibir merah merekah dan sepasang mata es utaranya kembali memancarkan kecantikan surgawi yang mampu meruntuhkan sebuah kerajaan. Jubah kain kasarnya ia biarkan merosot dari pundak, menyisakan kemben sutra hijau zamrud yang melekat ketat di tubuh indahnya.
Satria menatap perubahan itu tanpa ada kedipan nafsu fana di matanya. Baginya, kecantikan Sekar Ayu adalah instrumen kekuatan yang sempurna.
"Ulurkan tanganmu, genggam gagang pedang ini bersamaku," ucap Satria.
Sekar Ayu maju selangkah, duduk hingga lutut mereka saling bersentuhan. Ia mengulurkan kedua tangannya, menggenggam bagian atas gagang Pedang Bintang Tujuh Kedewaan, sementara tangan kanan Satria berada di bagian bawahnya, mengunci jemari halus sang putri di bawah telapak tangannya yang kokoh.
Wush!
Begitu kulit mereka bersentuhan dengan mediasi pedang ghaib tersebut, lingkaran Prana di dalam gua mendadak berputar hebat. Tujuh permata rasi bintang pada bilah pedang langsung menyala terang, memancarkan seberkas cahaya perak yang menyelimuti tubuh mereka berdua ke dalam sebuah kubah pelindung spiritual.
[Bip! Mendeteksi resonansi tingkat tinggi antara Inang dan Heroine Utama.]
[Garis Keturunan: 'Darah Suci Dewi Sri' milik Dyah Sekar Ayu teraktivasi penuh!]
[Memulai Fase Menengah Asmaragama Siphoning: Penyelarasan Dua Sukma.]
Satria merasakan gelombang energi yang sangat hangat dan berbau harum bunga mawar gaib mengalir dari tubuh Sekar Ayu, merambat melalui bilah pedang, dan langsung menghantam jantungnya.
Itu adalah esensi dari Darah Suci—energi ini memiliki sifat regenerasi dan pemurnian yang luar biasa.
Saat energi itu memasuki dantian Satria, sisa-sisa ketegangan otot akibat pertarungan melawan Senopati Ronggolawe siang tadi lenyap seketika.
Di sisi lain, Dyah Sekar Ayu merasakan tubuhnya bergetar hebat. Jiwanya seolah ditarik masuk ke dalam sebuah samudra luas yang berwarna biru keperakan—dunia batin milik Satria yang dipenuhi oleh niat membunuh yang murni dan Ajian Pedang Pembelah Lautan.
Alih-alih merasa takut, jiwa Sekar Ayu justru merasa aman di dalam dekapan energi yang begitu dominan tersebut.
"Jangan menahan energinya, Sekar Ayu. Biarkan Pranaku menuntun aliran darah sucimu untuk membuka gerbang ketiga di dalam meridianmu," bisik Satria, suaranya terdengar langsung di dalam kepala sang putri.
"Ngg... emm..." Sekar Ayu melenguh pelan, wajah cantiknya merona merah akibat sensasi panas yang menjalar di sekujur tubuhnya. Keringat tipis mulai membasahi kening dan leher pualamnya, membuat beberapa helai rambut hitamnya menempel di pipi, menambah kesan sensual yang sangat alami.
Satria tidak terpengaruh. Ia memusatkan seluruh konsentrasinya untuk mendorong Prana biru miliknya melesat ke dalam tubuh Sekar Ayu, bertindak sebagai pasak yang menghancurkan dinding pembatas Ranah Satria Tahap 2 milik sang putri.
Brak!
Sebuah suara retakan ghaib kembali terdengar di dalam kesadaran mereka. Kubah cahaya perak yang menyelimuti mereka meledak, memancarkan gelombang angin yang kuat hingga memadamkan api unggun di tengah gua. Namun, kegelapan gua langsung terusir oleh cahaya keemasan samar yang memancar dari pori-pori kulit Dyah Sekar Ayu.
[Bip! Selamat! Heroine Dyah Sekar Ayu berhasil menembus ke: Ranah Satria (Tahap 3)!]
[Tingkat Kepatuhan Mutlak meningkat menjadi: 65%.]
[Memicu Harem Feedback Loop: Inang menerima 40% dari total energi akumulasi terobosan!]
Boom!
Dantian Satria bergolak hebat. Energi balik dari tubuh Sekar Ayu mengalir seperti air bah yang suci, langsung menghantam dinding pembatas Ranah Wira Tahap 6 miliknya. Tanpa ada rasa sakit, pembatas itu hancur berkeping-keping dalam sekejap, melontarkan esensi spiritual Satria ke tingkat yang jauh lebih tinggi.
[Selamat! Ranah kekuatan Anda naik: Ranah Wira (Tahap 6) menjadi Ranah Wira (Tahap 7)!]
[Penguasaan 'Ajian Pedang Pembelah Lautan' meningkat: 15% menjadi 35%!]
Satria membuka matanya yang kini memancarkan kilatan cahaya biru yang sangat pekat. Kekuatan di dalam tubuhnya terasa berlipat ganda. Di Ranah Wira Tahap 7, ia yakin bisa menghadapi dua senopati setingkat Ronggolawe sekaligus tanpa perlu menggunakan Ajian Kebal Jolo Sutro.
Dyah Sekar Ayu terkulai lemas ke depan, menjatuhkan kepala indahnya tepat di atas dada bidang Satria. Napasnya tersengal-sengal, namun wajahnya memancarkan kebahagiaan spiritual yang luar biasa. Hambatan kultivasi yang biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun, kini terkikis habis hanya dalam satu malam berkat pemuda di hadapannya ini.
"Kau... benar-benar seorang penyihir, Satria," bisik Sekar Ayu dengan suara yang sangat lembut, tangannya tanpa sadar mencengkeram jubah hitam Satria dengan erat, enggan untuk melepaskan diri dari kehangatan tubuh sang pemuda.
Satria tidak mendorongnya menjauh. Ia membiarkan sang putri bersandar di dadanya untuk memulihkan tenaga, sementara tangan kanannya perlahan mengelus rambut hitam panjang Sekar Ayu—sebuah gerakan yang tampak penuh kasih sayang namun di dalamnya terdapat penguncian dominasi yang mutlak.
Satria tahu bahwa mengikat hati wanita ini secara emosional akan membuatnya menjadi senjata paling setia yang tidak akan pernah berkhianat.
"Ini baru permulaan, Sekar Ayu," ucap Satria dingin sambil menatap langit-langit gua. "Besok pagi, berita tentang kematian Ronggolawe akan menyebar ke seluruh pelosok Dwipantara. Pihak istana Blambangan akan mengutus dua Senopati kembar, Surogento dan Suroganti, untuk mencariku. Mereka berdua berada di Ranah Satria Tahap 8 dan memiliki formasi gabungan yang merepotkan."
Sekar Ayu mengangkat kepalanya, menatap Satria dengan mata esnya yang kini dipenuhi binar kepatuhan. "Lalu, apa taktikmu selanjutnya? Apakah kita akan menjebak mereka lagi di lembah?"
"Tidak," seulas senyum kejam terukir di wajah tampan Satria. "Kali ini, kita yang akan mendatangi markas pertahanan mereka di pinggir kota. Kita akan membantai mereka di depan mata para prajuritnya sendiri, agar seluruh kota tahu bahwa waktu bagi dinasti Blambangan untuk runtuh... sudah dimulai."