Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.
Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.
Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.
Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?
Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?
yuk simak....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kunjungan sepupu
Sunyi.
Hanya deru mesin yang menghiasi perjalanan Maara dan Revan.
Maara bahkan tak sanggup meski hanya sekedar menarik nafas seolah-oleh itu akan mengusik Revan.
Dari ujung mata, Maara bisa melihat kilatan amarah.
Erat, Maara menekan tali tas selempangnya.
Mobil berhenti di teras parkir rumah Revan
"Terima kasih atas tumpangannya... Selamat malam..." pamit Maara hendak keluar dari mobil.
Namun suara Revan mengurungkan niatnya.
"Jangan pernah mengatakan apapun pada siapapun tentang pernikahan rahasia ini! Aku tidak ingin menjelaskan apapun pada siapapun termasuk pada sahabat-sahabat ku...! Paham!" ujar Revan penuh penekanan.
"Paham... Aku masuk, selamat malam" cicit Maara yang bergegas turun dari mobil.
Rasanya udara semakin menipis jika dirinya terus berada disekitar Revan.
Begitu sampai didalam kamar, Maara langsung menghempaskan dirinya diatas ranjang.
Tubuhnya lelah, namun batinnya jauh lebih lelah.
Revan seolah sedang menuduhnya ingin ambil keuntungan dari pernikahan rahasia mereka.
Demi apapun, Maara tidak pernah berfikir demikian.
Di mobil, Revan menghela nafas kasar. Menatap punggung Maara yang menghilang dibalik pintu masuk.
Jika boleh jujur, dia tidak benci kepada Maara hanya saja, ketika melihat perempuan itu entah kenapa rasa kesal menguasai hatinya.
Dia sadar, ini bukan salah Maara, tapi kedua orangtuanya.
Revan jengkel dengan permintaan ibunya yang memaksa dirinya menikahi Maara hanya demi sebuah tanggung jawab dan agar ibunya tidak dipenjara.
Memang, Revan tidak ingin ibunya dipenjara tapi rasanya masih ada solusi lain selain menikahi Maara.
Menjadikannya adik angkat misalnya.
Revan memijit pelipisnya.
Pening memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan kepada kekasihnya nanti karena cepat atau lambat Laura akan mengetahui statusnya yang telah menikah.
Entah bagaimana dirinya akan menjelaskan semua ini pada gadis itu kelak.
Belum lagi pada kedua orangtua Laura. Mereka pasti akan sangat kecewa padanya.
...****************...
Jam menunjukkan pukul 3 sore.
Maara baru saja keluar dari salah satu toko buku tua yang berada disekitaran jalan Braga.
Aroma kopi yang menguar dari kafe-kafe disekitaran menambah manisnya sore ini.
Belum lagi ditambah dengan aroma bunga-bunga yang ditanamn di sekitaran trotoar.
Biasanya weekend ini Maara lebih senang menghabiskan waktu dirumah, bersantai dengan semua koleksi novelnya atau mencoba resep kue-kue baru yang dia peroleh di salah satu akun sosmed yang Maara ikuti.
Namun weekend kali ini beda.
Maara akan menghabiskan setengah harinya diluar rumah.
Pindah dari toko buku satu ke toko buku lain demi hunting novel-novel jadul yang memang sulit didapat jika ke toko buku modern.
Selain itu, ini sebagai alasan demi menghindari sepupu-sepupu Revan yang sedang berkunjung ke rumah.
Sejak kejadian dia bertemu dengan Revan beberapa waktu lalu di gedung pengadilan, Maara lebih sering menghindari laki-laki itu dan jika tak sengaja bersitatap dirumah, maka dia tetap menyapa sopan lalu masuk kedalam kamar.
Meminimalisir pertemuan dengan Revan adalah jalan terbaik untuk dirinya agar tak lagi bersedih.
"Huft..."
Maara menutup lembaran terakhir novel yang berada ditangannya.
Salah satu kebiasaannya dalam membeli novel adalah membaca sinopsis diakhir atau sampul dibelakangnya.
"Kayaknya ini udah terlalu banyak deh" gumamnya melirik isi tas plastik yang berada dalam kalungan lengannya.
Sudah ada empat novel, ditambah satu ditangan jadi total ada lima novel.
Maara menimbang-nimbang apakah akan dia ambil semua atau dua saja.
"Kayaknya nggak pa-pa deh.. Toh kan aku jarang-jarang bisa kesini..."
"Okey deh, aku ambil aja..." putusnya kemudian.
"Terima kasih A..." ucap Maara setelah membayar novel-novel yang ia beli.
Maara berdiri di sisi trotoar.
Menimbang akan kemana lagi dirinya saat ini.
"Kayaknya duduk di kafe itu nggak masalah deh..." gumamnya menatap salah satu kafe yang suasananya cukup tenang.
Dengan langkah ringan, Maara berjalan menyebrangi jalan untuk sampai ke Stand Coffee yang berada diseberang toko buku.
Ting...
Lonceng kafe berdenting ketika Maara mendorong pintu kaca besar tersebut.
Bertepatan dengan seseorang yang juga mendorong pintu kaca.
"Maaf..." ujar sebuah suara bariton tepat disisi wajah Maara.
Cepat Maara menoleh. Rasanya dia kenal suara itu tapi lupa siapa.
Aroma parfum maskulin merasuki hidung Maara dan dia menyukainya.
Seorang pria berdiri menjulang disisinya. Senyum tipis menghias bibir penuhnya.
"Nggak pa-pa..." ujar Maara bersikap sopan.
"Eh... Temannya Lisa dan Rio kan?" ujar pria itu menunjuk kearah Maara.
Maara mengernyit untuk mengingat pria tinggi memakai kemeja navy didepannya ini.
"Saya Kenan, atasannya Rio. Masih ingat?" tanyanya memperkenalkan diri kembali.
"Oh.. iya... Maaf, aku suka lupa sama orang apalagi baru sekali ketemu..." ujar Maara beberapa detik kemudian.
"It's okey... Saya juga kadang gitu... Kalau saya faktor U sih..." celetuk Kenan diiringi tawa kecil diakhir kalimatnya.
Maara terkekeh kecil mendengarnya.
"Kamu sendiri? Nggak sama Lisa?" tanya Kenan lagi.
"Iya pak... Lisa kan lagi kumpul sama keluarganya mas Rio... "
Kenan manggut-manggut dan bergumam kecil.
"Well... Saya duluan ya... Mau ketemu klien disekitaran sini... See you..." pamit Kenan bergegas memesan kopi dan setelahnya berlalu dari hadapan Maara.
Maara mengangguk sopan.
...****************...
"Istri mu mana? Sejak tadi nggak kelihatan?" tanya Gian sambil mengunyah cookies yang sisa setengah.
"Nggak tahu dan nggak mau tahu....!" sahut Revan cuek.
"Ck ,dasar suami jahat! Awas kamu kalau dia kenapa-napa, kamu yang akan nyesal nanti" ujar Gian lagi sok bijak.
Revan melirik Gian sinis.
"Laura kapan pulang?" kali ini Denis yang bertanya.
"Bulan depan kemungkinan" sahut Revan singkat.
"Kamu nggak kesana? Kan dia wisuda S2..." tanya Gian kepo.
"Mau, tapi aku belum bisa cuti.."
Denis meletakkan stik PS miliknya dan menghadap penuh pada Revan yang masih asik bermain.
Kali ini ekspresi wajahnya serius.
"Kamu udah ada alasan jika Laura tanya soal Maara?" tanyanya penasaran.
Jari Revan yang tadinya asik bermain mendadak berhenti.
Matanya menatap Denis serius.
"Belum, tapi nanti aku akan jelasin sendiri semuanya kalau aku cuma terpaksa nikahin perempuan itu"
Gian yang semula asik makan, kini mulai ikut menyimak keduanya.
"Jujur Van... Kamu nikahin Maara sebenarnya kenapa? Kok tiba-tiba? Apa kamu atau om dan tante punya hutang budi sama dia?" tanya Gian.
"Karena mama nggak sengaja nabrak dia dan ibunya sehingga menyebabkan ibunya koma dan akhirnya meninggal dunia..."
Gian dan Denis ternganga mendengarnya. Mereka saling pandang.
"Dan hal yang paling parahnya adalah, karena kecelakaan itu pula, rahim gadis itu bermasalah akibat benturan dan terhempas ke aspal" sambung Revan.
Gian dan Denis tak bisa berkata-kata setelah tahu alasan Revan menikahi Maara.
Jika boleh jujur, Gian merasa iba pada gadis manis berkerudung dan berwajah teduh itu dan mengutuk ke egoisan keluarga sepupunya ini.
"Kalian memang harus bertanggungjawab atasnya..! Jika aku yang berada diposisi Maara, bisa jadi aku menuntut kalian untuk dihukum!" nada kesal Denis merubah suasana jadi kaku horor seketika.
Laki-laki itu memang bermulut pedas. Tapi kali ini, kalimat yang Denis lontarkan cukup membuat Revan tak bisa berkata-kata meski sekedar membela diri seperti biasanya.
Suara langkah seseorang mengalihkan perhatian ketiganya.
Maara yang baru saja pulang berdiri mematung di ambang pintu penghubung antara ruang keluarga dan area dapur.
Niat hati ingin minum justru dirinya mendengar hal yang lebih menyakitkan dari pada menjadi istri siri Revan.
"Baru pulang Ra?" tegur Gian ramah mencoba berbasa-basi.
Maara memaksa sebuah senyuman dibibirnya.
"I~iya mas... Maaf ganggu kalian.... Aku permisi kekamar" ujar Maara yang melangkah cepat menuju kamarnya masih diikuti tatapan ketiga laki-laki itu.
Setelah Maara menghilang, barulah Denis dan Gian menatap Revan kembali.
"Kami balik dulu! Udah mau magrib..." ucap keduanya beralasan
Tangan Gian baru saja akan meraih pintu mobil menggantung.
Dia kemudian berbalik.
Tatapannya terarah pada Revan yang berdiri diambang pintu.
"Baik-baik dengannya Van... Jika memang kamu nggak bisa hidup bersamanya, lepaskan dia demi kebahagiannya... Jangan siksa dia dua kali... Jangan jadi pria jahat yang akan kamu sesali nantinya..." ujar Gian menepuk bahu Revan.
Denis hanya mengangguk kecil disisi mobil sebelum akhirnya masuk dan duduk disisi Gian yang mengambil alih kemudi mobil.
bersambung....