NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Pertemuan di Pinggir Hutan Roban.

Sudah hampir dua minggu sejak Erlang meninggalkan puing-puing pondoknya di lereng Gunung Lawu. Langkah kaki modal nekatnya kini telah membawanya sampai ke pinggiran Hutan Roban, sebuah kawasan yang terkenal sangat angker dan rawan oleh serbuan para penyamun. Matahari siang itu bersinar sangat terik, membuat pelipis pemuda lima belas tahun itu dibanjiri keringat.

Erlang menghentikan langkahnya di bawah sebatang pohon beringin besar yang rindang. Ia menurunkan buntalan kainnya, lalu duduk bersandarkan akar pohon yang mencuat ke permukaan tanah. Dengan tangan agak gemetar karena lelah, ia membuka buntalannya dan mengambil sepotong singkong bakar terakhir yang sudah agak keras dan dingin.

"Tinggal satu potong ini bekal dari rumah. Uang pemberian Kang Jaya juga cuma sisa dua keping tembaga," gumam Erlang pada diri sendiri, menatap miris makanan di tangannya.

Baru saja Erlang hendak menggigit singkong tersebut, indra pendengarannya yang tajam karena terbiasa hidup di tengah keheningan hutan gunung menangkap sebuah suara aneh. Itu adalah suara erangan lirih yang tertahan, disusul oleh suara semak-semak yang tersibak kasar tak jauh dari tempatnya duduk.

“Uhg... keparat... darahku...”

Erlang langsung waspada. Ia menaruh kembali singkongnya ke dalam kain, lalu tangan kanannya reflek memegang gagang pisau kecil di pinggangnya. Dengan langkah yang sangat pelan dan berhati-hati, ia mendekati semak belukar yang berada sekitar sepuluh langkah di sebelah kirinya.

Saat menyingkap daun-daun talas yang lebar, mata Erlang terbelalak. Di balik semak-semak itu, terkapar seorang kakek tua berambut putih panjang yang acak-acakkan. Pakaian kain sutra birunya yang semula tampak mewah kini sudah robek-robek dan basah kuyup oleh darah segar. Dada dan perut kakek itu mengalami luka sayatan yang sangat lebar dan dalam.

"Astagfirullah... Kakek tidak apa-apa?" tanya Erlang spontan, melupakan rasa waspadanya dan langsung berlutut di samping tubuh kakek tua itu.

Kakek tua itu terkejut. Mata tuanya yang mulai sayu berkedip perlahan, menatap wajah polos Erlang dengan pandangan curiga. "S-siapa kau... Uhuk! Apakah kau... anak buah bandit-bandit bajingan itu?" tanya sang kakek dengan suara tercekat di tenggorokan, mencoba menggerakkan tangannya yang gemetar untuk menyerang, namun langsung terkulai lemas karena kehabisan tenaga.

"Bukan, Kek! Bukan! Saya Erlang, saya cuma pengembara numpang lewat. Saya bukan penyamun," sahut Erlang panik, dengan cepat memegangi tangan kakek itu agar tidak banyak bergerak. "Luka Kakek parah sekali. Siapa yang tega berbuat seperti ini?"

Kakek tua itu membuang napas berat, memuntahkan segumpal darah hitam dari sudut bibirnya. "Gerombolan... penyamun Hutan Roban. Mereka mengeroyokku... jumlah mereka terlalu banyak, ada dua puluh orang lebih. Mereka... mereka menginginkan apa yang kubawa..."

"Dua puluh orang?!" Erlang bergidik ngeri membayangkannya. "Kek, bertahanlah. Saya punya sedikit air dan makanan. Tunggu sebentar."

Erlang berlari cepat kembali ke pohon beringin tempat buntalannya berada. Ia mengambil jeriken bambu kecil berisi sisa air minumnya dan sepotong singkong bakar terakhir tadi, lalu bergegas kembali ke sisi sang kakek.

"Ini, Kek. Minum dulu airnya perlahan-lahan," kata Erlang sambil menopang bagian belakang kepala kakek tua itu dengan lengannya, lalu mengalirkan air ke dalam mulut yang pecah-pecah tersebut.

Kakek tua itu meneguk air minum dari Erlang dengan rakus. Setelah beberapa tegukan, napasnya yang tadinya memburu agak sedikit mereda, meskipun wajahnya tetap sepucat kain kafan. "Terima kasih... Nak Erlang. Tenggorokanku rasanya tadi seperti terbakar," bisik sang kakek lemah.

"Sama-sama, Kek. Ini, saya juga punya singkong bakar. Walaupun agak keras, mungkin bisa sedikit menambah tenaga Kakek," ujar Erlang sambil menyodorkan makanan terakhirnya dengan tulus, tanpa memikirkan bahwa setelah ini perutnya sendiri yang akan kelaparan.

Kakek tua itu menatap potongan singkong di tangan Erlang, lalu beralih menatap mata pemuda itu yang jernih dan tanpa pamrih. Kakek itu terkekeh lemah, sebuah tawa yang terdengar sangat getir. "Kau anak yang aneh... Di tempat seberbahaya ini, kau malah memberikan bekal terakhirmu pada orang asing yang sekarat seperti aku. Apakah kau tidak takut kelaparan?"

"Paman saya selalu berpesan, kalau melihat orang kesusahan, kita harus menolong semampu kita, Kek. Masalah lapar... nanti malam kan saya bisa mencari buah hutan atau bertapa menahan lapar. Yang penting luka Kakek ini harus ditutup dulu," jawab Erlang polos sembari merobek bagian bawah baju kain kasarnya sendiri untuk dijadikan kain perban darurat.

"Tidak usah repot-repot, Nak Erlang... Uhuk! Jangan buang-buang bajumu," cegah kakek tua itu sambil memegang pergelangan tangan Erlang. Cengkeramannya terasa sangat aneh, meskipun fisiknya sekarat, ada aliran kehangatan tak kasatmata yang sempat menjalar ke telapak tangan Erlang. "Aku ini seorang pesilat yang sudah puluhan tahun malang melintang. Aku tahu persis batas kemampuan tubuhku sendiri. Pukulan tenaga dalam berselimut racun dari pemimpin penyamun itu sudah menghancurkan jantung dan limfaku. Ajalku... sudah berada di ujung tenggorokan."

"Tapi, Kek... pasti ada cara untuk menyembuhkannya! Kalau kita cari tabib di desa terdekat bagaimana?" tanya Erlang dengan nada memohon. Ia tidak tega melihat orang tua meninggal di depannya lagi, mengingatkannya secara langsung pada kematian Ki Suro dua minggu lalu.

"Tidak akan sempat, Nak. Jarak ke desa terdekat dari pinggir hutan ini butuh waktu setengah hari perjalanan kaki. Uhuk!" Kakek tua itu kembali terbatuk darah. Pandangan matanya mulai meredup, menyempit, dan tampak berkabut. "Dengarkan aku baik-baik, Erlang... Waktuku tidak lebih dari beberapa hitungan napas lagi."

Erlang menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia mengangguk pelan. "Iya, Kek. Saya mendengarkan. Apa yang bisa saya bantu untuk Kakek?"

Kakek tua itu tersenyum lembut, sebuah senyuman ikhlas dari seorang pendekar tua yang merasa telah menemukan akhir dari perjalanan panjangnya di tempat yang tepat. "Tuhan rupanya masih baik kepadaku... Di saat-saat terakhir, Dia tidak mengirimkan musuh jahat untuk mencincang jasadku, melainkan mengirimkan seorang pemuda berhati murni seperti dirimu untuk menemani sisa napasku..."

"Kek..." Erlang meremas tangan kakek itu, merasakan kehangatan di tubuh orang tua itu yang perlahan-lahan mulai mendingin dan berubah menjadi kaku.

"Singkongmu... simpan saja untuk dirimu sendiri... Jalani pengembaraanmu dengan baik, Nak Erlang... Tetaplah menjadi orang baik... jangan biarkan dunia yang kejam ini... mengubah hatimu..." Suara kakek tua itu semakin mengecil, bergetar, lalu menghilang ditiup angin hutan yang berembus pelan.

"Kek? Kakek tua?" panggil Erlang dengan cemas.

Kakek tua itu tidak menjawab lagi. Sepasang matanya perlahan menutup sepenuhnya. Sentuhan tangannya yang tadi memegang pergelangan tangan Erlang kini terlepas dan jatuh terkulai di atas tanah yang berlumuran darah. Napas terakhir telah berembus dari dadanya yang terluka.

Erlang terdiam di tempatnya berlutut, menatap jasad kakek tua yang baru saja ditemuinya beberapa menit lalu itu. Suasana di pinggiran Hutan Roban mendadak terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara kicauan burung liar di kejauhan. Erlang menghela napas panjang, menaruh potongan singkong bakarnya di samping jasad sang kakek, lalu menundukkan kepalanya sejenak untuk mendoakan ketenangan jiwa sang pendekar tua yang malang tersebut.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!