Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 3 : Tatapan Keluarga Mahendra
Pagi pertama sebagai penghuni rumah keluarga Mahendra dimulai dengan suasana yang begitu sunyi. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui tirai putih di kamar Nadira, membangunkannya lebih awal dari biasanya. Selama bertahun-tahun menjadi guru taman kanak-kanak, ia memang terbiasa bangun sebelum fajar untuk menyiapkan berbagai keperluan mengajar. Kebiasaan itu rupanya masih melekat, meski kini kehidupannya telah berubah sepenuhnya.
Nadira duduk perlahan di tepi tempat tidur. Selama beberapa saat ia hanya memandangi kamar luas yang kini menjadi tempat tinggalnya. Semua terasa begitu asing. Kemewahan yang mengelilinginya masih belum mampu membuatnya merasa benar-benar berada di rumah.
Ia menarik napas panjang sebelum melangkah menuju balkon. Udara pagi terasa sejuk, sementara taman luas di halaman depan terlihat begitu indah dengan embun yang masih menempel di dedaunan. Burung-burung kecil beterbangan di antara pepohonan, menghadirkan ketenangan yang kontras dengan kegelisahan di dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian terdengar ketukan pelan di pintu.
"Nyonya, apakah sudah bangun?"
Suara Wati terdengar dari luar.
"Sudah, Bu Wati. Silakan masuk."
Wati membawa nampan berisi secangkir teh hangat dan beberapa potong roti panggang.
"Saya hanya ingin mengingatkan bahwa pagi ini Tuan Arka sudah berangkat ke kantor."
Nadira mengangguk pelan.
"Beliau berangkat sangat pagi?"
"Seperti biasa. Tuan hampir tidak pernah terlambat."
Nadira hanya tersenyum tipis. Ia bahkan tidak sempat bertemu Arka pagi itu.
Setelah menikmati sarapan sederhana di kamarnya, Nadira mulai membereskan pakaian-pakaiannya. Ia lebih memilih mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda dibandingkan pakaian-pakaian mahal yang telah disiapkan. Baginya, kesederhanaan selalu terasa lebih nyaman.
Belum lama ia selesai merapikan lemari, suara telepon di atas meja berdering.
Wati kembali menghubunginya.
"Nyonya, Tuan Arka menitipkan pesan."
"Pesan apa?"
"Hari ini keluarga besar Mahendra akan datang berkunjung. Beliau meminta Nyonya bersiap."
Jantung Nadira berdegup sedikit lebih cepat.
Ia tahu cepat atau lambat pertemuan itu pasti terjadi.
Sebagai istri Arka, ia tentu harus diperkenalkan kepada keluarga besar.
Namun ia juga sadar bahwa tidak semua orang akan menerima kehadirannya.
Sekitar pukul sebelas siang, halaman rumah mulai dipenuhi mobil-mobil mewah.
Dari balik jendela lantai dua, Nadira dapat melihat beberapa orang turun dari kendaraan dengan penampilan yang begitu elegan. Mereka mengenakan pakaian bermerek, perhiasan mahal, dan berjalan dengan penuh percaya diri.
Semuanya tampak berasal dari kalangan atas.
Nadira merasakan telapak tangannya mulai berkeringat.
Ia berusaha menenangkan diri sebelum akhirnya turun menuju ruang tamu.
Arka ternyata sudah lebih dulu pulang dari kantor.
Pria itu berdiri tegak mengenakan setelan jas abu-abu yang membuat penampilannya semakin berwibawa.
Begitu melihat Nadira datang, Arka menghampirinya.
"Hari ini kau hanya perlu berdiri di sampingku."
Nadira mengangguk.
"Baik."
"Ingat aturan kita."
"Aku ingat."
"Tidak perlu banyak bicara."
"Ya."
Jawaban singkat itu membuat Arka kembali menganggukkan kepala sebelum melangkah menuju pintu utama.
Tak lama kemudian para tamu memasuki rumah.
Orang pertama yang menarik perhatian Nadira adalah seorang wanita paruh baya dengan penampilan anggun dan wajah yang masih terlihat cantik meski usianya telah melewati lima puluh tahun.
Tatapan matanya tajam.
Sorotnya penuh kewibawaan.
Wanita itu adalah Helena Mahendra, ibu Arka.
Di belakangnya berjalan beberapa kerabat lain yang tak kalah berkelas.
Begitu memasuki ruang tamu, Helena langsung memandang Nadira dari ujung kepala hingga kaki.
Tatapan itu tidak menunjukkan keramahan.
Justru seolah sedang menilai kualitas seseorang.
Arka membuka percakapan.
"Ibu."
Helena hanya mengangguk tipis.
"Lalu ini istrimu?"
"Ya."
Arka menggandeng tangan Nadira sekilas, hanya sebagai formalitas di depan keluarga.
"Nadira."
Nadira segera membungkukkan badan dengan sopan.
"Salam hormat, Bu."
Namun Helena sama sekali tidak membalas senyumnya.
Wanita itu hanya mengamati Nadira selama beberapa detik sebelum berkata pelan namun cukup jelas untuk didengar semua orang.
"Jadi ini wanita yang membuatmu buru-buru menikah?"
Arka menjawab tenang.
"Benar."
Helena kembali menatap Nadira.
"Kau bekerja sebagai apa?"
"Saya guru taman kanak-kanak."
Alis Helena sedikit terangkat.
"Guru TK?"
Nada suaranya terdengar meremehkan.
Beberapa anggota keluarga lain mulai saling berpandangan.
"Aku tidak menyangka keluarga Mahendra akhirnya memiliki menantu dari kalangan biasa."
Ucapan itu membuat suasana menjadi canggung.
Nadira tetap mempertahankan senyumnya.
"Saya memang berasal dari keluarga sederhana."
Helena tersenyum tipis.
Namun senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kehangatan.
"Setidaknya kau sadar diri."
Arka masih berdiri tanpa mengubah ekspresinya.
Seolah komentar ibunya merupakan sesuatu yang sudah biasa terjadi.
Helena kemudian duduk di sofa utama.
Tatapannya masih belum lepas dari Nadira.
"Katakan padaku."
"Apa yang membuatmu menerima lamaran Arka?"
Pertanyaan itu membuat seluruh ruangan mendadak hening.
Nadira tahu jawaban sebenarnya tidak mungkin ia ungkapkan.
Kontrak pernikahan mereka adalah rahasia.
Ia memilih menjawab hati-hati.
"Kami memiliki alasan yang sudah kami sepakati."
Helena terkekeh pelan.
"Jawaban yang aman."
Wanita itu menyilangkan kedua tangan.
"Aku hanya ingin memastikan."
"Memastikan apa, Bu?"
"Bahwa kau bukan pemburu harta."
Kalimat itu menghantam hati Nadira.
Beberapa kerabat lain mulai berbisik pelan.
"Memang terlihat begitu."
"Mana mungkin CEO sebesar Arka tiba-tiba menikahi guru TK."
"Pasti ada maunya."
Bisikan-bisikan itu terdengar jelas di telinga Nadira.
Namun ia memilih tetap diam.
Helena kembali berbicara.
"Keluarga kami memiliki banyak aset."
"Banyak orang yang ingin mendekat hanya karena kekayaan."
Tatapannya semakin tajam.
"Aku harap kau bukan salah satunya."
Nadira mengangkat wajahnya perlahan.
"Saya tidak pernah menginginkan harta keluarga Mahendra."
Jawabannya terdengar tenang.
"Saya hanya ingin menjalankan tanggung jawab saya sebagai istri."
Helena mendengus pelan.
"Kita lihat saja nanti."
Ucapan itu menutup pembicaraan mereka.
Meski tidak ada pertengkaran, semua orang bisa merasakan dinginnya suasana.
Nadira mencoba tetap bersikap sopan kepada setiap anggota keluarga yang memperkenalkan diri.
Namun sebagian besar hanya membalas dengan senyum tipis atau anggukan seadanya.
Tak seorang pun benar-benar menyambutnya sebagai anggota keluarga.
Di mata mereka, Nadira hanyalah wanita asing yang tiba-tiba masuk ke dalam keluarga Mahendra.
Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki yang pelan dari arah tangga.
Semua orang spontan menoleh.
Seorang pria lanjut usia berjalan perlahan dengan bantuan tongkat.
Rambutnya telah memutih seluruhnya, tetapi sorot matanya masih tajam dan penuh wibawa.
Beliau adalah Mahendra Wiratama, kakek Arka sekaligus pendiri kerajaan bisnis keluarga Mahendra.
Melihat kedatangannya, seluruh anggota keluarga langsung berdiri.
"Kakek."
Pria tua itu menganggukkan kepala.
Tatapannya segera mencari sosok Nadira.
"Mana cucu menantuku?"
Arka memberi isyarat kepada Nadira untuk mendekat.
Dengan sedikit gugup, Nadira menghampiri pria tua itu.
Ia membungkukkan badan penuh hormat.
"Salam hormat, Kek."
Kakek Mahendra tersenyum hangat.
Senyum pertama yang benar-benar tulus sejak Nadira memasuki keluarga itu.
"Jadi kau Nadira."
"Ya, Kek."
Pria tua itu memperhatikan wajah Nadira beberapa saat.
"Lihatlah aku."
Nadira perlahan mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada kesan menghakimi.
Tidak ada rasa curiga.
Yang ia lihat hanyalah kelembutan seorang kakek.
"Kau terlihat seperti gadis baik."
Kalimat sederhana itu membuat mata Nadira hampir berkaca-kaca.
Sejak pagi ia terus menerima tatapan sinis.
Kini akhirnya ada seseorang yang melihatnya tanpa prasangka.
Kakek Mahendra tersenyum lagi.
"Terima kasih sudah bersedia menjadi bagian dari keluarga ini."
Nadira menundukkan kepala.
"Sayalah yang seharusnya berterima kasih."
Pria tua itu menggeleng.
"Tidak."
"Aku sudah lama mengenal Arka."
"Dia keras kepala."
"Kalau bukan karena alasan penting, dia tidak mungkin menikah."
Arka yang berdiri di samping hanya tersenyum tipis.
Barangkali hanya di hadapan sang kakek ia mampu sedikit melunakkan ekspresinya.
Kakek Mahendra menggenggam tangan Nadira.
"Tidak usah memikirkan ucapan orang lain."
"Menjadi bagian dari keluarga besar memang tidak mudah."
"Tapi selama kau tulus, suatu hari nanti mereka akan mengerti."
Nadira menganggukkan kepala perlahan.
"Terima kasih, Kek."
Helena memperhatikan interaksi itu dengan wajah yang sulit dibaca.
Namun ia memilih tidak menyela.
Siang itu seluruh keluarga berkumpul untuk makan bersama.
Meja makan yang panjang dipenuhi berbagai hidangan mewah.
Nadira duduk di samping Arka sesuai arahan pelayan.
Selama makan berlangsung, beberapa anggota keluarga sesekali melontarkan pertanyaan.
"Kau tinggal di mana sebelum menikah?"
"Orang tuamu bekerja apa?"
"Apakah kau pernah ke luar negeri?"
Sebagian pertanyaan terdengar biasa.
Namun sebagian lainnya terasa seperti sedang menguji kelayakannya.
Nadira menjawab semuanya dengan sopan tanpa menunjukkan rasa tersinggung.
Sikap tenangnya justru membuat beberapa pelayan mulai menaruh simpati.
Di tengah makan siang, Kakek Mahendra kembali membuka pembicaraan.
"Nadira."
"Ya, Kek?"
"Apakah kau masih ingin mengajar?"
Pertanyaan itu membuat Nadira sedikit terkejut.
Ia melirik Arka sejenak sebelum menjawab.
"Kalau diizinkan, saya ingin tetap mengajar."
Kakek tersenyum puas.
"Itu bagus."
"Pekerjaan yang dilakukan dengan hati tidak boleh ditinggalkan."
Helena langsung menyela.
"Menjadi istri keluarga Mahendra tidak semudah itu, Ayah."
"Nanti orang akan bertanya-tanya kenapa menantu keluarga kita masih bekerja sebagai guru TK."
Kakek menatap putrinya dengan tenang.
"Lalu apa salahnya menjadi guru?"
Helena terdiam.
Kakek melanjutkan.
"Guru adalah pekerjaan yang mulia."
"Bukan kekayaan yang menentukan nilai seseorang."
"Melainkan karakter dan ketulusannya."
Ucapan itu membuat ruang makan kembali sunyi.
Tak seorang pun membantah.
Arka diam-diam melirik sang kakek.
Kemudian tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Nadira.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Arka melihat sesuatu yang berbeda di wajah wanita itu.
Nadira tetap tersenyum meski sejak tadi menerima begitu banyak sindiran.
Ia tidak membalas dengan kemarahan.
Tidak pula menunjukkan kebencian.
Ia hanya menjaga sikapnya dengan penuh kesabaran.
Arka tidak mengatakan apa-apa.
Namun entah mengapa, untuk sesaat ia mulai memandang Nadira sedikit berbeda dari sebelumnya.
Sore menjelang ketika seluruh keluarga mulai berpamitan.
Helena berdiri di depan pintu sebelum menaiki mobilnya.
Ia kembali menatap Nadira.
"Ingat satu hal."
Nadira mendengarkan dengan tenang.
"Status sebagai Nyonya Mahendra bukan berarti kau sudah menjadi bagian dari hati keluarga ini."
Helena berhenti sejenak.
"Kau harus membuktikan bahwa kau memang pantas berada di sini."
Setelah mengatakan itu, ia langsung masuk ke dalam mobil.
Iring-iringan kendaraan perlahan meninggalkan halaman mansion.
Rumah kembali sunyi.
Nadira mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.
Hari pertamanya bertemu keluarga besar Arka ternyata jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan.
Ia diterima dengan tatapan curiga, dinilai sebagai pemburu harta, dan dianggap tidak pantas menyandang nama Mahendra.
Namun di tengah semua penolakan itu, masih ada satu orang yang memberinya secercah kehangatan.
Kakek Mahendra.
Bagi Nadira, penerimaan tulus dari pria tua itu menjadi penguat bahwa dirinya tidak sepenuhnya sendirian di rumah besar tersebut.
Sementara Arka berdiri beberapa langkah di belakangnya, memandangi sosok Nadira yang tetap tegar meski baru saja menghadapi badai pertama sebagai menantu keluarga Mahendra.
Tanpa disadarinya, benih rasa hormat yang sangat kecil mulai tumbuh di dalam hatinya. Bukan karena cinta, melainkan karena ia melihat ketenangan dan ketulusan yang tidak dibuat-buat—sesuatu yang selama ini jarang ia temukan pada orang-orang di sekelilingnya.