"Kamu di diagnosa kanker otak stadium 3,tapi masih gejala awal jadi tingkat kesembuhan masih ada 75 % lagi,asal secepatnya operasi"
"Jika aku tidak operasi?"
"Jangan gila,kau bahkan tidak akan bertahan sampai 5 bulan"
"Kalau begitu biarkan saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hantari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tumor ganas
Kini waktu sudah menunjukkan pukul Tiga sore,dan Adeline sudah beberapa menit yang lalu sampai di rumah sakit terakhir yang Ia datangi.
Sekarang Ia juga sudah masuk ke ruangan dokter spesialis kanker yang beberapa hari lalu Ia temui di sana.
Sementara dokter itu masih sedikit ada urusan,Ia menunggu di sana seorang diri.
"Yah lebih baik Tristan juga tidak perlu tau tentang kesehatan ku,aku mungkin bisa melewati ini sendiri.Aku di takdirkan sendiri jadi aku pasti bisa menghadapi ini sendiri"
Ia menyemangati dirinya sendiri,dan membangun kepercayaan dirinya.
Pada saat yang sama dokter paruh baya, Dokter Aland yang Ia jumpai kemarin masuk,dan duduk di depannya yang berbatasan dengan meja.
"Maaf sudah membuat mu menunggu"
"Tidak apa-apa dokter,saya juga baru menunggu sebentar"
"Oh iya,kenapa tidak ada yang menemani mu?,dimana keluarga mu?",tanya dokter dengan serius sembari mencatat sesuatu pada bukunya.
"Aku sengaja datang seorang diri dokter"
"Kenapa?", dokter itu menatapnya sebentar sembari memperbaiki kaca matanya dan kembali melihat pada catatan nya."Dalam situasi saat mu sekarang, tidak boleh di anggap remeh,harus ada keluarga yang memberikan dukungan dan semangat"
"Saya juga perlu berbicara dengan orangtuamu mengenal hal ini"
Lanjut dokter itu lagi.
"..."
"Saya...,saya tidak punya keluarga dokter"
Beberapa kata itu akhirnya menghentikan aktivitas sang dokter, dan membuatnya membeku pada posisinya beberapa detik.
"Maaf,saya tidak tau."
Ujar sang dokter merasa tidak enak,dan Adeline membalasnya dengan senyuman dan anggun kan.
"Tapi sejujurnya saya katakan kalau setidaknya ada satu orang yang mendampingi pasien kanker,karna kami perlu konfirmasi nya atau tand tangannya saat pasien sedang dalam kondisi koma atau tidak sadar saat dalam proses perawatan hingga operasi sampai selesai"
Jelas dokter lagi dengan sungguh-sungguh dan sudah menyingkirkan catatannya dan fokus sepenuhnya pada pasien.
"Tristan?,Hanya dia satu-satunya yang ku harapkan untuk hal ini,tapi sekarang aku juga menjadi ragu memberitahunya.Aku tidak ingin merepotkan Nya"
Melihat Adeline terdiam dan tampak berpikir, dokter itu kembali membuka suara."Kau benar-benar tidak punya satupun orang yang kau yuk
"Dokter saya memang tidak punya siapapun,tapi saya bisa sendiri.Untuk masalah dokumen apapun yang perlu di tandatangani saya akan melakukan semuanya sebelum operasi."
"Dan saya percaya pada anda dokter Aland,selama saya koma pasca operasi"
Dokter Aland yang mendengar nya,tak lagi mengatakan apapun dan hanya bisa diam kemudian setuju.
"Baiklah,saya pasti akan melakukan yang terbaik"
"Terimakasih dokter, untuk semua biaya saya akan bayar hari ini"
"Kau bisa melakukan transaksi setelah pemeriksaan"
Seorang suster masuk dan di tugaskan oleh dokter Aland untuk mengantarkan Adeline ke ruang pemeriksaan, sementara Ia masih duduk di sana menyiapkan beberapa peralatan nya.
Namun saat Adeline di bawa keluar oleh suster,Ia menggeleng sembari menghela nafas."Entah kehidupan seperti apa yang di hadapi wanita muda ini"
***
Setelah perbincangan yang cukup panjang,saat ini Adeline akhirnya berbaring di brankar,memeriksa dan melakukan USG pada otaknya.
Dalam layar monitor,sebuah gambaran dalam otaknya memperlihatkan sebuah benjolan yang cukup besar,dan di yakini oleh dokter Aland yang ukuran nya akan semakin bertambah hingga kemungkinan besar menyumbat pembuluh darah,bahkan kondisi yang lebih parahnya pembuluh darahnya bisa pecah karna tekanan dalam waktu kurang dari 1 bulan, yang akan sangat menyiksa.
"Ini tumor ganas",ujar sang dokter memperhatikan hasil USG pada monitor dengan seksama."Tidak bisa langsung melakukan operasi,harus di jinakkan dan di kecilkan dulu untuk melakukan pengangkatan", lanjutnya berbicara dengan dokter rekan nya.
Sementara beberapa dokter di ruangan itu tengah mendiskusikan penanganan sebelum melakukan operasi,saat ini Adeline tetap berbaring menatap ke langit-langit dalam diam.
Setelah ini Ia ingin pergi sejauh mungkin,dan hanya ingin kehidupan yang damai dan tentram bersama dengan ibu nya.
Membayangkan nya saja membuat nya bersemangat.
***
Sekembalinya Ia dari rumah sakit,Ia ingin langsung pulang ke apartemen nya,namun saat beberapa langkah lagi keluar dari rumah sakit itu,Ia justru berpapasan dengan Helena bersama dengan suaminya ayah,mantan mertuanya.
Ketika mereka melihatnya,Ia sama sekali tidak berniat untuk berhenti menyapa,atau sekedar tersenyum.Sejak pertemuan terakhir dengan wanita paruh baya itu dimana dia mengusirnya dengan cara paksa dari rumah yang sebenarnya diberikan Damar untuk nya dan mempermalukan hingga merendahkannya di depan ibu tirinya dan saudara tirinya itu,Entah kenapa Ia menjadi begitu membenci nya terlebih siang tadi ketika Ia bahkan percaya dengan tuduhan ibu tirinya, padahal sudah tau bagaimana dirinya dan pernah mencari tau tentang nya sebelum masuk ke keluarga mereka.
Namun Ibu mertuanya itu seolah akan selalu percaya apapun yang mereka katakan, dan itu membuat rasa hormatnya pada wanita itu hilang begitu saja.
Tapi pada saat akan melalui mereka,Helena wanita paruh baya itu menahan tangannya yang membuat nya mau tidak mau harus berhenti.
"Adeline,apa kabar mu?,kenapa kau datang ke rumah sakit?.Apa kau sedang sakit?"
Tanya Helena saat menghampirinya,suaranya begitu lembut namun canggung.
"Aku hanya bertemu seseorang di sini",jawabnya singkat.
Helena tampak melirik suaminya kemudian meraih tangan nya."Adeline,masalah kemarin mama ingin meminta maaf pada mu.ucapan ku sudah terlalu kasar dan tidak pantas.Seharus nya mama tidak perlu mengatakan perkataan seburuk itu"
"Jujur saja,meskipun kau bukan lagi menantu keluarga kami.Mama masih akan selalu menganggap mu sebagai putri keluarga kami"
"Sebenernya saat itu mama datang ke rumah untuk membuat perpisahan dengan mu.Mama dan juga keluarga Pradipta ingin meminta maaf pada mu,selama kamu menjadi menantu di keluarga Pradipta kami membuatmu merasa di perlakukan tidak adil,dan kau sering kali merasa tidak nyaman di tengah-tengah kami"
"Tidak perlu di bahas lagi, semuanya juga sudah berlalu.Aku juga sudah tidak bisa mengembalikan 4 tahun terakhir yang ku habiskan.Kalau bisa dan aku tau bagaimana masa depan ini,aku juga akan memilih tidak masuk ke dalam keluarga kalian"
Helena terdiam,dan tersenyum pahit.
"Tapi waktu tidak bisa di putar,dan hanya tersisa penyesalan dan ikhlas.Semoga anda menemukan menantu yang tepat untuk putra anda,saya permisi dulu", ujarnya dengan tenang dan senyum yang lembut.Setelah mengatakannya,Ia perlahan pergi meninggalkan keduanya yang masih berdiam diri di tempat nya.
Ya,jika bisa di ulang.Ia juga tidak akan pernah mau menghabiskan waktunya dengan masuk dan menikah dengan putra keluarga Pradipta,yang membuat mentalnya yang dulu perlahan membaik semakin memburuk sejak berada di tengah-tengah keluarga itu.
***
Semangat kk..
pengen lihat adel bangkit dan melihat karma si dua perempua jahat itu