NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Gedung auditorium kampus hari ini tampak lebih megah dari biasanya. Karangan bunga berjajar rapi di sepanjang selasar, aroma parfum mahal bercampur dengan ketegangan yang manis di udara. Hari ini adalah hari wisuda bagi angkatan Brant. Dan ​sejak dua hari lalu, aura Brant terlihat meredup. Kedatangan Lodrik Wiley dan Ny. Sofia langsung dari London mengubah dunianya kembali menjadi "The Royals" yang kaku.

​Di Ruang Tunggu .

​Brant berdiri di depan cermin besar, merapikan toga dan samir di lehernya. Wajahnya yang biasanya dingin kini terlihat lebih datar, hampir tanpa ekspresi. Rahang tegasnya mengeras saat ia mendengar gelak tawa dari arah belakang.

​"Woy, Pak Bos! Santai dikit dong mukanya. Ini hari kelulusan, bukan hari pemakaman," seru Clay sambil mencoba membenarkan toganya yang miring.

​Rey menyusul dengan cengiran khasnya. "Gue tahu kenapa dia pucat. Dia lagi mikirin cara gimana biar nggak ketahuan kalau dia kangen berat sama Luca, kan? Mana bokapnya ada di depan lagi."

​Jack yang sedang merapikan jam tangannya melirik Brant lewat pantulan cermin. "Bokap lo beneran jagain lo ketat banget?"

​Brant menghela napas berat, tangannya mengepal di atas meja. "Bukan ketat lagi, Jack. Tiap langkah gue dihitung. Mama terus-terusan nempel, dan Papa... dia nggak berhenti bahas jadwal keberangkatan minggu depan."

​"Gila, minggu depan?" Clay tertegun. "Cepet banget, Bro. Terus Luca, apa dia sudah tau?"

​Brant terdiam. Ia merogoh saku di balik toganya, merasakan getaran ponsel yang sengaja ia silent. Nama "Luca ❤️" muncul di layar. Ia ingin mengangkatnya, sangat ingin. Tapi pintu ruang tunggu terbuka, dan seorang ajudan ayahnya berdiri di sana.

​"Tuan, Bapak dan Ibu sudah menunggu di barisan depan," ucap ajudan itu formal.

​Brant mematikan layar ponselnya dengan berat hati, dan melangkah keluar dari ruang tunggu. "Gue duluan."

Ketiga sahabat Brant kini menyaksikan sendiri perbedaan nyata itu. Di hadapan orang tuanya, Brant menjelma menjadi sosok yang dingin dan kaku. Sangat kontras saat cowok itu bersama mereka atau Luca; Brant yang mereka kenal jauh lebih lepas, dan terlihat bahagia.

​Di Barisan Depan Auditorium

​Lodrik Wiley duduk tegak dengan setelan jas custom-made yang memancarkan wibawa luar biasa. Di sampingnya, Ny. Sofia tampak elegan dengan kebaya modern dan sanggul rapi.

​"Lihat putra kita, Lodrik. Dia yang paling menonjol di sana," bisik Ny. Sofia lembut saat melihat barisan wisudawan mulai memasuki ruangan.

​"Tentu saja. Dia seorang Wiley," jawab Lodrik tanpa menoleh, matanya menatap tajam ke arah Brant yang berjalan di depan. "Dia sudah menyelesaikan tugasnya di sini dengan baik. Sekarang waktunya dia menghadapi dunia yang sebenarnya. Tidak boleh ada lagi gangguan sepele yang menghambatnya."

​Ny. Sofia menghela napas halus. Sebagai ibu, dia bisa melihat ada sesuatu yang redup di mata putranya, tapi dia tidak berani membantah suaminya.

Di ​sisi Lain taman belakang kampus.

​Sementara keramaian pecah di dalam auditorium, Luca duduk sendirian di bangku semen taman belakang. Di pangkuannya bukan boba, melainkan ponsel yang layarnya sudah retak di pojokan.

​Ia membuka Instagram dan menekan profil Brant. Ada sebuah story yang diunggah oleh akun resmi kampus—foto Brant yang sedang menerima map ijazah dengan wajah dingin namun sangat tampan.

​"Ganteng banget..." bisik Luca pelan. Jarinya mengusap layar ponsel, tepat di wajah Brant. "Tapi kok Kak Brant nggak senyum sedikit pun ya?"

​Luca merasa sesak. Seharusnya dalam momen seperti ini, dia akan lari dan memeluk Brant sambil berteriak kegirangan. Tapi hari ini, dia bahkan tidak berani mendekati area auditorium karena tahu orang tua Brant ada di sana.

​Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah telepon masuk. Bukan dari nomor biasa, tapi panggilan suara via aplikasi.

​"Halo? Kak Brant?" ucap Luca cepat, suaranya sedikit bergetar.

​"Ca..." Suara serak Brant terdengar di seberang sana. Suasana di latar belakang terdengar riuh dengan suara tepuk tangan, tapi suara Brant terdengar sepi. "Gue cuma punya waktu sebentar, ini di toilet."

​"Kak Brant! Selamat ya! Aku liat fotonya, Kakak keren banget pakai toga," ucap Luca mencoba ceria, walau matanya mulai berkaca-kaca.

​"Makasih, Sayang. Maaf gue belum bisa ketemu lo sekarang. Papa bener-bener... gue nggak bisa lepas."

​"Nggak apa-apa, Kak. Aku ngerti kok. Kak Brant fokus aja sama acara di dalam. Aku di sini aja, jagain taman," canda Luca, tapi setetes air mata jatuh ke celana jeans-nya.

​"Jangan nangis, Luca. Gue denger suara napas lo." Brant terdiam sejenak. "Nanti malam gue usahain kabur sebentar ke tempat biasa. Gue kangen banget sama lo sampai rasanya mau gila."

​"Brant lo di dalam? Nyokap lu tadi nyariin, tuh" Panggil Rey yang suaranya terdengar samar-samar memanggil dari kejauhan di telepon itu.

​"Gue harus pergi. Love you, Ca."

​Klik. Sambungan terputus.

​Luca menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Ia mengusap air matanya dengan lengan baju, lalu berdiri. " Love kak...Oke, Luca. Jangan cengeng. Kak Brant lagi berjuang, kamu juga harus kuat."

Hari itu, Luca memilih pulang lebih awal dengan ojek; duduk sendirian di taman sambil memandang kemegahan auditorium dari kejauhan terasa begitu menyesakkan baginya, hingga sebuah tanya lirih tertinggal di dalam batinnya bahwa saat ini Kak Brant-nya mungkin memang lebih tepat berada di sisi orang tuanya.

​Begitu acara selesai, Brant dan kedua orang tuanya langsung bertolak ke sebuah restoran mewah. Tidak ada perayaan yang ada hanya ucapan selamat, dan jamuan makan bertiga yang terasa amat kaku. Begitu hidangan tandas, mereka segera beranjak pulang menuju kediaman orang tuanya.

malamnya Brant akhirnya bisa bernapas lega. Di sebuah kafe dengan lampu temaram di sudut kota, meja panjang sudah dipesan. Di sinilah "acara kelulusan" yang sebenarnya dimulai—tanpa jas formal, tanpa dekorasi megah, hanya ada mereka, tawa lepas, dan sisa-sisa masa kuliah yang akan segera jadi kenangan.

​Di meja itu sudah berkumpul Brant, Luca, Clay, Rey, Jack, dan juga Rose yang tampak tersipu malu karena datang sebagai undangan khusus dari Jack.

​"Jadi, setelah ini peta hidup kita ke mana nih?" Clay membuka obrolan sambil mengaduk es kopi susunya dengan sedotan. "Pak Bos kita yang satu ini sih udah jelas ya, langsung megang kendali."

​Rey menyenggol lengan Brant. "Iya, gila. Lulus pagi, siang makan mewah bareng The Royals, besoknya langsung duduk di kursi empuk perusahaan Bokap. Lu beneran nggak ada jeda napas ya, Brant?"

​Brant tersenyum tipis, tapi matanya melirik ke arah Luca yang duduk di sampingnya. Sejak tiba di kafe, Luca lebih banyak diam, jemarinya sibuk memainkan ujung sedotan.

​"Nggak langsung megang kendali juga," sahut Brant dengan suara beratnya yang tenang. "Gue mulai dari posisi bawah dulu di kantor pusat sini selama seminggu ini, sebelum penempatan resmi ke London minggu depan. Papa mau gue tahu semua prosesnya."

​Mendengar kata 'London' dan 'minggu depan', gerakan tangan Luca terhenti. Ada binar sedih yang melintas cepat di mata bulatnya. Brant yang menyadari hal itu diam-diam meraih tangan Luca di bawah meja, menggenggam jemari ramping itu dengan erat seolah ingin menyalurkan kekuatan.

​"Kalau lu sendiri gimana, Clay? Otak encer lu mau dibawa ke mana?" tanya Jack, mengalihkan perhatian agar suasana tidak mendadak mendung.

​Clay menyandarkan punggungnya ke kursi, mengembuskan napas panjang. "Gue? Gue mau break dulu, Bro. Otak gue udah mau meledak gara-gara skripsi kemarin. Gue mau traveling tipis-tipis dulu, nikmatin hidup sebelum masuk ke dunia korporat yang kejam."

​"Gaya lo, palingan juga tidur seharian di kamar," cibir Rey yang langsung disambut tawa oleh yang lain. "Kalau gue sih, realistis aja. Gue lagi siap-siap mau buka bisnis kecil-kecilan. Mau coba buka kios vape dekat area kampus sini. Modalnya dari tabungan sendiri plus tambahan dikit dari Bokap. Doain ya, biar jalan."

​"Bagus itu, Rey. Yang penting konsisten," ucap Brant mendukung.

​"Nah, kalau Kak Jack gimana?" Rose akhirnya memberanikan diri bersuara, menatap Jack dengan mata berbinar di balik riasan tipisnya yang cantik.

​Jack menoleh ke arah Rose, tatapannya yang biasanya dingin melembut sedikit. "Gue hampir mirip sama Brant. Langsung masuk ke perusahaan tempat Papa kerja. Kebetulan Papa Direktur di sana, jadi gue bakal ditempatkan di divisi operasional. Mulai bulan depan."

​Suasana kafe malam itu terasa magis. Ada rasa bahagia karena mereka semua akhirnya berhasil melewati masa-masa sulit di kampus, namun ada rasa haru karena jalur hidup mereka kini mulai bercabang ke arah yang berbeda.

​Clay tiba-tiba menegakkan duduknya, menatap Brant, Rey, dan Jack bergantian dengan tatapan yang tidak biasa—tatapan yang sangat dewasa.

​"Bro," kata Clay, nadanya merendah. "Makasih untuk kebersamaan kita selama 3 tahun ini, meskipun kita masih bisa telponan tapi gue bakal rindu saat kita kumpul-kumpul kek gini. Apalagi lu, Brant. Yang akan pergi jauh gue pasti kangen lu. Teman yang paling gampang keluarin duit buat traktiran kita." Kalimat terakhir di ungkapkan clay dengan senyum tulus

​Rey ikut tersenyum tipis, menepuk bahu Brant. "Iya, Brant. Jangan sampe di London nanti lu lupa sama rasa kopi instan di kantin kumuh kampus. Sukses buat lu di sana. Jaga diri baik-baik, dan juga buat kita semua tentunya. Rey memandangi semua temanya yang hadir malam itu dengan tatapan sedih.

​Brant ikut menatap sahabat-sahabatnya satu per satu. Kehangatan ini tidak ia dapatkan saat makan siang mewah bersama orang tuanya tadi. "Gue nggak bakal lupa. Kalian yang bikin masa kuliah gue nggak datar-datar amat. Makasih, Bro."

​Di sisi meja, Rose berbisik pelan pada Jack, "Kak, berarti nanti kalau udah kerja... bakal sibuk banget ya?"

​Jack menatap Rose, menyadari ada sedikit kekhawatiran di wajah gadis itu. "Sibuk pasti, Rose. Tapi bukan berarti gue nggak punya waktu. Kalau lo mau ditemenin cari perlengkapan kosmetik lo lagi, chat aja. Gue usahain selalu ada waktu."

​Pipi Rose langsung merona merah mendengar jawaban langsung yang tidak terduga dari si Kapten Basket yang biasanya kaku itu.

"Ciyee... si kapten gombalannya udah jago sekarang!" seloroh Clay, melirik Jack dan Rose bergantian.

​"Maklum, yang udah ada pawangnya mah beda, seneng terus," timpal Rey malas. Posisinya kini beralih menatap keluar jendela dengan tangan yang menumpu dagu di meja.

Jack hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kedua sahabatnya, lalu saling melempar senyum dengan Rose.

​Sementara itu, Luca masih menunduk. Genggaman tangan Brant di bawah meja terasa begitu hangat, namun kenyataan bahwa waktu mereka tinggal menghitung hari terasa begitu dingin.

​Luca mendongak, menatap mata dalam milik Brant. "Kak Brant..." bisiknya lirih, hanya bisa didengar oleh Brant. "Seminggu ini... Kakak bakal sibuk banget di kantor Papanya Kakak?"

​Brant membalas tatapan jernih itu. Ia mempererat genggaman tangannya, seolah berjanji lewat sentuhan. "Gue bakal sibuk, Ca. Tapi setiap waktu luang yang gue punya, semuanya cuma buat lu. Gue janji."

​Luca tersenyum kecil, sebuah senyuman tulus yang bercampur dengan rasa haru. Malam itu, di bawah temaram lampu kafe, mereka semua sadar bahwa kedewasaan telah mengetuk pintu kehidupan mereka, memaksa mereka untuk berjalan maju, namun dengan hati yang tetap saling menggenggam.

Pagi itu, suasana di kediaman mewah keluarga Wiley terasa sedikit berbeda. Jarum jam baru menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit, namun Brant sudah berdiri tegak di depan cermin besar kamarnya. Untuk pertama kalinya, bukan jersi basket atau kaus hitam santai yang melekat di tubuh atletisnya, melainkan sebuah kemeja formal sewarna biru dongker yang pas di badannya, dipadukan dengan celana kain hitam berpotongan rapi.

​Pintu kamarnya diketuk pelan sebelum terbuka. Ny. Sofia masuk dengan senyum lembut yang menenangkan. Di tangannya, tersampir sebuah dasi sutra berwarna senada dengan kemeja Brant.

​"Anak Mama ganteng sekali hari ini," puji Ny. Sofia, matanya berbinar bangga melihat putranya yang kini tampak sangat dewasa.

​"Pagi, Ma," sapa Brant, rahang tegasnya bergerak tipis saat ia mencoba tersenyum.

" pagi, sayang." Ny. Sofia melangkah mendekat, mengambil alih dasi di tangan Brant dan mulai memasangkannya dengan telaten. "Di kantor pusat nanti, ikuti ritme kerjanya dulu, ya. Papa sengaja minta kamu mulai dari divisi operasional bawah supaya kamu paham dasar-dasarnya sebelum ke London. Jangan tegang."

​"Iya, Ma. Aku paham," jawab Brant tenang, meski di dalam dadanya ada sedikit beban yang mulai bergemuruh.

Setelah memastikan simpul dasi putranya sempurna, Ny. Sofia menepuk bahu lebar Brant dan tersenyum dengan penuh kasih.

​Di gedung pencakar langit kantor pusat Wiley Group, Brant memancarkan aura profesionalisme yang pekat. Sebagai lulusan terbaik jurusan Bisnis, teori-teori manajemen operasional sebenarnya sudah ada di luar kepala Brant. Namun, menghadapi dunia kerja yang nyata tetap memberinya tantangan baru.

​Di ruang kubikel divisi operasional, Brant sedang memperhatikan sebuah monitor yang menampilkan grafik arus logistik perusahaan bersama salah satu staf senior bernama Pak Doni.

​"Nah, Mas Brant, untuk sistem input manifes yang baru, kita sekarang pakai integrasi otomatis yang ini," jelas Pak Doni sambil menunjuk beberapa kolom di layar. "Dasarnya sama dengan manajemen rantai pasok yang Mas Brant pelajari di kampus, hanya saja di sini temponya jauh lebih cepat."

​Brant mengangguk paham, matanya menatap tajam setiap detail data. "Berarti kalau ada keterlambatan di manifes A, sistem otomatis bakal re-routing ke jalur alternatif terdekat ya, Pak?"

​Pak Doni tampak terkesan. Ia tersenyum lebar. "Tepat sekali! Wah, cepat juga ya nyambungnya. Memang beda kalau anak Bisnis yang pegang. Sejauh ini pekerjaan Mas Brant rapi banget, tinggal pembiasaan dengan aplikasi internal kita saja."

​"Terima kasih, Pak Doni. Mohon bimbingannya terus minggu ini," sahut Brant formal dengan wibawa dinginnya yang khas.

Dan akhirnya Brant mulai terbiasa menjalani rutinitas barunya sebagai pekerja kantoran; bangun pagi-pagi, bergelut dengan tumpukan berkas logistik, hingga menghadiri rapat-rapat evaluasi yang padat. Meskipun jam kerja itu menguras energi dan terasa melelahkan bagi tubuh atletisnya, di luar dugaan Brant justru sangat menikmati setiap proses pekerjaan tersebut karena tantangannya yang dinamis membuat otaknya terus berputar.

Meskipun jam kerja menguras energinya, pikiran Brant tidak pernah benar-benar lepas dari satu nama. Begitu jam kantor usai, Brant langsung melajukan mobilnya membelah kemacetan kota demi menjemput Luca di kampus. Mereka tidak punya banyak waktu, jadi setiap menit yang tersisa harus dimanfaatkan dengan baik.

​Malam itu, mereka berakhir di tempat biasa: sebuah gerobak ketoprak di tepi pantai. Suasananya sangat kontras. Luca duduk dengan santai memakai kaus kebesaran dan celana jins, sementara Brant duduk di atas kursi plastik dengan setelan formal kantor lengkap—kemeja yang digulung hingga siku, dasi yang sudah sedikit dilonggarkan, dan sepatu pantofel mahal yang kini bersentuhan langsung dengan pasir pantai.

​"Kak Brant, ih, aneh banget liatnya! Berasa lagi makan sama bapak pejabat tahu nggak," celetuk Luca sambil mengunyah kerupuk ketopraknya hingga pipinya menggembung lucu.

​Brant terkekeh pelan, tangan berototnya yang uratnya tercetak jelas karena gulungan kemeja itu bergerak menyelipkan beberapa helai poni Luca ke belakang telinga. "Pejabat mana yang mau diajak makan ketoprak di pinggir pantai begini, Ca?"

​Luca menyengir kuda, matanya membulat jenaka. Mereka berdua kemudian terdiam sejenak, menikmati embusan angin laut yang sejuk dan pemandangan lampu-lampu kota yang memantul indah di atas permukaan air laut yang gelap. Suasananya begitu romantis dan tenang.

​Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama kalau namanya sudah melibatkan Luca Stellan.

​Luca tiba-tiba meletakkan piring ketopraknya yang sudah tandas ke atas meja kayu. Matanya menatap hamparan air laut di depan mereka dengan binar yang mencurigakan.

​"Kak Brant... mandi pantai yuk!" ajak Luca tiba-tiba dengan wajah super polos.

​Brant yang baru saja mau meneguk es teh manisnya langsung tersedak. "Uhuk! Apa, Ca? Mandi pantai? Malam-malam begini?"

​"Iya! Aku sering nonton di film-film romantis tahu. Tokoh utamanya jalan bergandengan tangan, terus lari-larian nyebur ke laut malam-malam sambil ketawa-tawa. Estetik banget, Kak! Ayoo!" Luca sudah bersiap-siap melepas sandalnya dengan penuh semangat.

​Brant menatap Luca dari atas ke bawah, lalu melirik pakaian formalnya sendiri, dan terakhir menatap laut malam yang gelap gulita. Wajah gantengnya langsung berubah datar.

​"Nggak ada estetik-estetiknya, Luca," ucap Brant dengan suara berat yang menahan tawa. "Itu di film. Kalau kita nyebur sekarang, yang ada besok pagi lu nggak masuk kampus gue nggak kerja, tapi ke puskesmas gara-gara masuk angin akut. Lagian lo mau gue berenang pakai celana kain sama pantofel?"

​"Ih, Kak Brant nggak seru! Kan bisa dilepas sepatunya!" gerutu Luca sambil mengerucutkan bibirnya sebal, pura-pura merajuk.

​Brant tidak bisa menahan senyum tipisnya lagi. Ia meraih tengkuk Luca, menarik "kucing penakut" yang tiba-tiba jadi pemberani itu ke dalam pelukannya. Di bawah temaram lampu kota dan suara deburan ombak, Brant mengecup puncak kepala Luca dengan dalam.

​"Nanti ya, kalau tempatnya pas dan airnya nggak sedingin ini," bisik Brant lembut di telinga Luca. "Sekarang, mending lo habisin kerupuk lo, terus kita pulang sebelum nyokap lo nyariin."

​Luca yang awalnya cemberut langsung tersenyum lagi, menduselkan wajahnya di dada bidang Brant yang terbalut kemeja kerja, menikmati sisa-sisa waktu kebersamaan mereka yang kian menipis dengan bahagia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!