NovelToon NovelToon
Not Our Time

Not Our Time

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Keluarga
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"

Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.

Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.

Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?

~~~~~~
Happy reading 🦋🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#5

Sementara itu, di sebuah apartemen mewah bergaya penthouse yang terletak di kawasan strategis Downtown Los Angeles, atmosfernya begitu sunyi dan dingin.

Apartemen itu didominasi oleh warna-warna maskulin seperti abu-abu arang, hitam, dan aksen logam—cerminan sempurna dari kepribadian pemiliknya yang kaku dan teratur.

Di dalam kamar mandi utama, Landon Desmon sedang mengguyur tubuhnya di bawah pancuran air hangat yang deras.

Kepulan uap tipis memenuhi ruangan berlapis dinding granit kelabu tersebut, mengaburkan pandangan, namun sama sekali tidak mampu mengaburkan isi kepalanya yang sedang berkecamuk hebat.

Landon menyandarkan kedua telapak tangannya pada dinding granit yang basah, membiarkan kepalanya tertunduk pasrah di bawah kucuran air.

Butiran air mengalir melewati rambut hitamnya yang basah, menuruni rahangnya yang tegas, dan membasahi bahu serta dadanya yang bidang penuh otot.

Namun, fokusnya sama sekali tidak ada pada sensasi fisik tersebut. Ingatannya soal pertemuannya dengan Vexana Valerio di koridor rektorat tadi siang terus berputar tanpa henti, memicu reaksi berantai yang membawanya kembali pada labirin masa lalu.

Pertemuan singkat yang dipenuhi racun itu membuatnya mengingat kembali betapa buruknya hubungan mereka di masa-masa akhir sebelum semuanya hancur berantakan.

Hubungan yang semula begitu indah dan dipenuhi tawa remaja di bawah langit California itu harus berakhir secara tragis enam tahun yang lalu.

Landon memejamkan matanya, dan seketika itu juga, rasa sesak yang luar biasa menghantam dadanya. Enam tahun lalu adalah titik balik di mana cinta mereka yang membara perlahan berubah menjadi racun yang saling membunuh.

Pada masa itu, hubungan mereka yang berjalan setiap hari hanya berisi tuntutan waktu yang tak pernah menemui titik temu.

Landon, yang saat itu baru berusia dua puluh tahun, harus menghadapi tekanan luar biasa dari keluarganya untuk mengambil kelas akselerasi ekstrim di Fakultas Elektro.

Tugas-tugasnya begitu berat, riset laboratoriumnya begitu menyita waktu dan energi, hingga dia sering kali tidak tidur selama berhari-hari demi mengejar target kelulusan cepat yang dipaksakan kepadanya.

Di sisi lain, Vexana, yang saat itu juga sedang beradaptasi dengan dunia perkuliahan di Fakultas Bisnis, selalu menuntut waktunya.

Kata-kata rindu yang semula terdengar manis di telinga Landon, perlahan-lahan berubah menjadi beban tambahan yang menghimpit pundaknya.

Mereka terjebak dalam lingkaran yang melelahkan.

Setiap kali bertemu, alih-alih melepaskan rindu, mereka justru berakhir dengan perdebatan sengit tentang siapa yang lebih banyak berkorban dan siapa yang terlalu banyak memberikan effort dalam hubungan tersebut.

Landon merasa dia sudah mengorbankan waktu tidurnya demi bisa menemui Vexana di sela-sela riset, sementara Vexana merasa dia telah mengorbankan seluruh perasaannya untuk menunggu pria yang jiwanya seolah telah disita oleh laboratorium.

Dan puncaknya yaitu malam itu. Malam yang tak akan pernah bisa dihapus Landon dari sejarah hidupnya.

Malam itu, di apartemen mewah lamanya yang terletak dekat dengan kawasan kampus, ego Vexana memuncak.

Landon mengingat dengan sangat jelas bagaimana suasana malam itu dipenuhi oleh ketegangan yang pekat, bahkan sebelum pertengkaran hebat dimulai.

Vexana telah mengatakan kata putus berulang kali, meracau seharian penuh melalui pesan singkat dan telepon sebelum akhirnya mendatangi apartemennya dengan emosi yang meluap-luap.

Vexana, yang awalnya begitu mendukung ambisi akademis Landon dan selalu bangga akan kejeniusan kekasihnya, berakhir dengan menjatuhkan vonis paling kejam: dia mengatakan bahwa Landon adalah pria egois yang lebih memilih pendidikan dan masa depan pribadinya daripada dirinya.

Flashback Malam Itu...

Hujan deras disertai angin kencang khas badai Los Angeles menghantam kaca jendela apartemen malam itu, menciptakan suara berisik yang mengiringi ketegangan di dalam ruangan.

"Kau lupa hari penting kita," ucap Vexana, suaranya bergetar menahan tangis yang sudah menggenang di pelupuk matanya.

Dia berdiri di tengah ruang tamu, menatap Landon yang baru saja melangkah masuk dengan wajah yang sangat kuyu dan lingkaran hitam yang tebal di bawah matanya.

Hari itu adalah hari jadi hubungan mereka yang keempat, dan Landon melewatkannya karena terjebak dalam ujian presentasi proposal patennya.

Landon menghela napas lelah, meletakkan tasnya sembarangan di atas lantai, lalu melangkah mendekati kekasihnya.

Dia mencoba meredam kemarahan Vexana dengan sentuhan fisik, sebuah kebiasaan yang biasanya selalu berhasil melunakkan hati gadis itu.

"Maafkan aku, Bee," bisik Landon lembut, menyentuh kedua sisi pinggang Vexana, mencoba menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.

"Aku benar-benar sibuk di laboratorium seminggu ini. Otakku rasanya mau pecah. Kita akan merayakannya besok saja ya, aku menginginkanmu malam ini."

Landon tidak menunggu jawaban. Didorong oleh rasa lelah yang teramat sangat dan kebutuhan akan kehangatan dari wanita yang dicintainya, dia menundukkan kepalanya dan mencium bibir Vexana.

Itu adalah ciuman yang panas, menuntut, dan penuh keputusasaan—sebuah cara Landon untuk mengatakan bahwa dia sangat membutuhkan Vexana sebagai penenang di tengah tekanan hidupnya.

Vexana sempat membalas ciuman itu selama beberapa detik, membiarkan tubuh mereka saling menempel erat di tengah dinginnya malam badai.

Namun, tepat setelah ciuman panas itu terputus, Vexana tidak menunjukkan wajah merona seperti biasanya.

Dia menatap Landon dengan pandangan yang kosong dan terluka. Dengan suara yang sangat lirih, nyaris tak terdengar di antara deru suara hujan, dia mengatakan, "Kau egois."

Landon memejamkan matanya sejenak, mencoba menahan emosinya yang mulai tersentil. "Ini demi masa depan kita, Bee. Kumohon mengertilah. Setelah kelas akselerasi ini selesai, semuanya akan kembali normal. Aku melakukan semua kerja keras ini agar aku bisa segera melamarmu setelah lulus."

Namun malam itu, Vexana yang selama setahun terakhir selalu bersabar, selalu mengerti, dan selalu mengalah, tampaknya telah mencapai batas akhir dari kekuatannya.

Dia menggelengkan kepalanya dengan tegas.

"Ayo kita akhiri saja hubungan ini," ucap Vexana, kata-kata itu keluar dengan begitu dingin dari bibirnya. "Kau benar-benar mencampakkan aku, Landon. Aku bukan lagi prioritasmu. Aku lelah menjadi orang nomor dua setelah lembar riset dan laboratorium gila itu."

Mendengar kata "putus" yang kembali diucapkan Vexana setelah seharian penuh gadis itu menerornya dengan kata yang sama, kesabaran Landon yang setipis benang akhirnya putus.

Rasa lelah fisik dan mental yang dia pendam selama berminggu-minggu mendadak berubah menjadi letupan amarah.

"Hey sayang... kamu mengatakan putus seharian penuh, tak bisakah kau memaafkan aku?!" bentak Landon, suaranya mulai meninggi, mengalahkan suara gemuruh guntur di luar.

"Aku bahkan sudah sering menunggumu di Fakultas Bisnis! Dan kau sendiri bahkan lupa dan berakhir pulang sendiri, meninggalkanku yang seperti orang gila menunggumu di depan lobi selama berjam-jam!"

"Aku selalu mengerti dirimu, Vexana!" jawab Landon dengan napas yang memburu.

Vexana menatap Landon dengan tatapan tidak percaya. Air matanya kini benar-benar jatuh melewati pipinya.

"Kau mau hitung berapa kali kau menungguku? Begitu? Kau mau mengungkit hal itu setelah ratusan malam aku mengurung diri di kamar ini menunggumu pulang dari laboratorium?!" tanya Vexana dengan mata yang memerah dan suara yang meninggi, menantang kemarahan Landon.

Melihat air mata Vexana, kilatan amarah di mata Landon sempat mereda selama sedetik. Bagaimanapun, dia sangat mencintai gadis di depannya ini. Dia menarik napas dalam, mencoba menurunkan egonya yang terluka.

"Baik sayang, maafkan aku. Aku yang salah," ucap Landon, suaranya melunak, meskipun terdengar sangat tertekan.

Dia melangkah maju, mencoba meraih jemari Vexana. "Kumohon jangan katakan itu lagi. Jangan katakan kata putus. Aku mencintaimu, Vexana. Kau tahu itu."

Tapi kata-kata itu tampaknya sudah tidak memiliki sihir lagi bagi Vexana. Gadis itu menepis tangan Landon dengan kasar.

"Tapi aku muak dengan kata cintamu, Landon. Cinta tidak seperti ini. Cinta tidak membuatku merasa kesepian di dalam hubungan ini."

"Muak?" tanya Landon, matanya membelalak. Kata-kata Vexana barusan bertindak seperti korek api yang dilemparkan ke dalam tangki bensin. Seluruh emosi, ego, dan rasa lelah Landon yang tersulut emosi meledak seketika.

"Kau bilang muak?!" teriak Landon, suaranya menggelegar di dalam apartemen. "Aku yang lebih muak padamu, Vexana! Kau selalu kekanakan! Kau sering membuat ulah, kau sering bermasalah di kampus, membuat aku kewalahan bagaimana mengatasinya! Kau pikir bagaimana caraku membagi fokus antara riset akselerasiku dan membersihkan nama baikmu setiap kali kau bertengkar dengan mahasiswi lain atau membuat masalah dengan dosen seni?! Aku lelah, Vexana! Aku lelah mengurus sifat kekanakanmu!"

Deg.

Mendengar perkataan kejam yang keluar dari mulut kekasihnya, tubuh Vexana membeku.

Kata-kata Landon seperti sebuah belati yang menusuk tepat di ulu hatinya, menghancurkan seluruh harga diri dan kepercayaan yang dia miliki pada pria itu.

Tuduhan bahwa dia adalah beban dan sosok kekanakan yang merepotkan adalah hal terakhir yang dia harapkan keluar dari mulut seorang Landon Desmon.

Wajah Vexana berubah pucat pasi, namun matanya memancarkan kebencian yang mendalam. "Menyingkir dariku, brengsek!" ucapnya dengan suara yang bergetar hebat karena amarah yang memuncak.

Sambil meneriakkan kata itu, Vexana mendorong keras dada Landon.

Landon yang saat itu sedang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana boxer karena baru saja bersiap untuk mandi sebelum pertengkaran dimulai, terdorong mundur beberapa langkah akibat sentakan emosional Vexana yang luar biasa kuat.

Itu adalah pertengkaran hebat untuk kesekian kalinya di antara mereka dalam satu tahun terakhir. Namun, malam itu berbeda. Malam itu adalah titik nadir di mana rasa hormat di antara mereka telah lenyap, digantikan oleh ego yang saling mencakar.

Hingga akhirnya, keluar kata-kata dari mulut Landon untuk pertama kalinya dalam empat tahun kebersamaan mereka—sebuah kalimat yang tidak akan pernah bisa ditarik kembali, sebuah kalimat yang mengunci takdir mereka dalam lingkaran kebencian.

"Baik. Mari kita akhiri hubungan ini," ucap Landon dengan nada suara yang mendadak datar, dingin, dan penuh dengan kepasrahan yang mematikan. "Aku tidak akan memaksamu untuk selalu berada di sampingku lagi. Pergilah."

Kalimat itu diucapkan Landon dengan dingin, tepat saat Vexana dengan tangan yang gemetar hebat berusaha memakai kembali pakaian luarnya dan menyambar tas tangannya, bersiap untuk pergi menembus badai di luar.

Vexana menghentikan gerakannya selama sedetik. Dia menoleh, menatap Landon dengan pandangan yang dipenuhi rasa tidak percaya yang amat sangat.

"Kau mengusirku? Brengsek!!! Kau mengusirku di tengah badai seperti ini?!" teriak Vexana, suaranya pecah oleh tangis histeris.

Landon yang egonya sudah terlanjur membubung tinggi dan telanjur sakit hati oleh kata-kata Vexana, menolak untuk mundur. Dia membalas tatapan Vexana dengan sepasang mata esnya.

"Tidak, bukankah kau yang ingin mengakhiri hubungan kita sejak tadi pagi? Maka kukatakan, pergilah Vexana," ujar Landon, kata-katanya mengalir laksana racun yang membekukan atmosfer. "Aku menyesal pernah mengenalmu."

Aku menyesal pernah mengenalmu.

Kalimat terakhir itu bertindak sebagai palu hakim yang mengetok akhir dari kisah cinta mereka.

Setelah kalimat itu terucap, Vexana tidak mengatakan apa-apa lagi.

Dengan air mata yang mengalir deras dan dada yang sesak oleh kehancuran total, gadis itu berbalik, membuka pintu apartemen, dan berlari keluar menembus kegelapan malam dan badai Los Angeles—menuju takdir kelam selanjutnya yang melibatkan Amara.

Kembali pada masa sekarang...

Kucuran air hangat dari pancuran kini perlahan mulai mendingin, namun Landon Desmon tetap bergeming di posisinya.

Bahunya yang tegap tampak bergetar hebat. Di bawah guyuran air yang membasahi wajahnya, setitik air mata yang panas lolos dari sudut matanya, mengalir bercampur dengan air pancuran, menuruni pipi dan rahangnya yang mengeras.

Landon meneteskan air matanya. Sebuah pemandangan yang tak akan pernah dipercayai oleh siapa pun di kampus jika mereka melihatnya.

Sang profesor genius yang dikenal berhati dingin, tak tersentuh, dan tanpa emosi, kini sedang menangis dalam keheningan apartemen mewahnya.

Penyesalan selalu datang terlambat, dan bagi Landon, penyesalan itu adalah hantu yang mengikutinya selama enam tahun terakhir ini.

Dia membenci Vexana karena menganggap gadis itu ceroboh dan emosional hingga menyebabkan kecelakaan maut malam itu. Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, dia jauh lebih membenci dirinya sendiri.

Jika saja malam itu dia menekan egonya, jika saja malam itu dia tidak mengucapkan kalimat kutukan tersebut, dan jika saja dia tidak mengusir Vexana pergi menembus badai... Vexana tidak akan pernah mengalami kecelakaan itu, Amara masih akan hidup, dan hubungan mereka tidak akan pernah berubah menjadi puing-puing kebencian seperti sekarang.

Landon mematikan keran pancuran dengan sentakan kasar. Keheningan mendadak menguasai kamar mandi tersebut, hanya menyisakan suara napasnya yang berat dan tidak teratur.

Dia meraih selembar handuk putih, mengeringkan tubuh dan rambutnya dengan gerakan yang frustrasi, lalu melangkah keluar menuju ruang utama apartemennya.

Dia berjalan mendekati jendela besar yang menyajikan pemandangan gemerlap lampu kota Los Angeles. Dari lantai atas penthouse nya, kota itu tampak begitu indah namun sekaligus begitu asing dan kejam.

Landon mengepalkan tangannya di atas pembatas jendela. Pertemuannya dengan Vexana hari ini telah membuka kembali kotak Pandora yang selama ini dia tutup rapat.

Kebencian di antara mereka telah mengakar begitu kuat, namun air mata yang baru saja dijatuhkannya adalah bukti nyata bahwa di bawah lapisan es kebencian tersebut, sisa-sisa dari cinta pertamanya yang hancur masih memiliki kekuatan untuk menyiksanya sampai mati.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Happy reading kak 🥰 Mohon tinggalkan komentar kalo suka cerita ini 🙏🏻

1
Mei TResna Rahmatika
ngakak bangett🤣dady maximilian ada aja idenya ngerjain landon🤣
Ros 🍂: susuai reques pembaca 🤭😭😭😭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
satu kata buat pak Desmon"MAMPUSSS" ketawa jahat dulu aku Thor hahahahaha aduh sampai kering ini gigi ketawa Mulu dari tadi🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: huhuhu terharu loh aku kak, Kalo Cerita bikin ketawa 🤭🤣🤣🤣
btw ini kenapa pada musuhan sama bapak Desmon 😭
total 1 replies
nayla tsaqif
Baru bogem daddy max nihh,,, mana nih grandpa kensingtone,, gk mau kasih salam bogem jg,, 😌
Ros 🍂: entah kenapa Saya sulit menghadirkan para Tetua kak 🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
belum puas cuma tiga kali doang harusnya sampai masuk UGD🤭🤣🤣
Ros 🍂: kak astagaaa 🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Vibesnya kayak ketemu musuh bebuyutan waktu masa kcil lihat mommy Eleanor dan daddy max,, 🤣
Ros 🍂: Udahlah kak Author nggak tanggung-jawab sama mereka 🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Hukumannya ringan itu,, harusnya larinya pake baju balet warna pink,,,!!
Ros 🍂: kak😭 ngakak aku kak🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
aaah cuma sepuluh kali doang harusnya hukumannya yg lebih berat misal nyapu halaman mansion,nyabutin rumput mansion🤭🤣🤣🤣🤣🤣 itu terlalu ringan Thor mohon tambahkan hukuman pak Desmon🤭🤣
Ros 🍂: hahaha sesuai request para Reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
emaknya Mr. Desmon kocak asli🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Reader suka nggak ?🤭😅
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
akhirnya😍 gak sia" perjuangan landon🤣
Ros 🍂: Wkwkw 🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Nunggu daddy max ngasih bogem dan khotbah sama landon,, 😌
Ros 🍂: wah ide bagus itu kak🤭 sesuai request 🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
wahh landon siap bertarung ngadepin daddy max
Ros 🍂: semangatin kak🤭🤣
total 1 replies
Agus Hidayat
jreng jreenngggg akhirnya pak Desmon bisa liat jagoannya juga😍😍😍
Ros 🍂: Yahoooo🤭🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
akhirnya bomnya meledak juga
Ros 🍂: wkwkwk🤭
total 1 replies
Yunie
akhirnya mulai terungkap
Ros 🍂: iya kak🫶
total 1 replies
Yunie
ada apa selama 2 tahun?
Vanni Sr: ohh Aj ank ny vexa dn london , tp daddy ny nutupin seolah itu makam ank mereka , mkny london benci vexa.
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
pliss thorr abis ini bkin mereka sama" mengakui masih cinta😭 nyesek bangett baca dr bab 1 nangisin mereka mulu
Ros 🍂: huhuhu Maafkan author yaa kak 🤭🙏🏻 nanti dibuat sesuai request 😅
total 1 replies
N I S
kak ceritamu bagus banget😍
Ros 🍂: ma'aciww ya Kak 🫶🥰
total 1 replies
Thee-na Tooth
ayoo kak up maraton 🤭
Ros 🍂: siap ya kak🫶
total 1 replies
Kristina NellaWara
semngt up thorrr
Ros 🍂: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
Kristina NellaWara
lnjut thor
Ros 🍂: siap kak 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!