NovelToon NovelToon
Kutukan Santau

Kutukan Santau

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:

---

*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti

pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*

_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

Tapi Sitoh tidak menyerah. Ia menjatuhkan diri berlutut, kepalanya sampai menyentuh tanah yang lembab dan dingin.

“Aku mohon, mbah! Tolong selamatkan suamiku,,,,! Aku salah dan Aku khilaf! Ambil semua harta aku, asal dia hidup!” Sambil menangis, tangannya naik memegang tangan dukun itu yang kasar dan berbau amis.

Dukun itu diam sejenak. Mata merahnya menatap Sitoh dari atas ke bawah, menimbang, seperti pedagang menimbang daging busuk di pasar. Akhirnya ia menarik napas panjang, dan bau busuk dari mulutnya menyembur ke wajah Sitoh.

“Selamatkan, katamu…” gumamnya....Ia mengetukkan tongkat bambu hitamnya ke lantai tiga kali.

_Tok. Tok. Tok._

Setiap ketukan, dinding gubuk bergetar. Dari sudut-sudut ruangan, suara berbisik mulai terdengar. Ratusan suara, berbisik dalam bahasa yang tidak manusiawi, menyebut nama “Samsul” berulang-ulang.

“Begini,” kata dukun itu pelan. “Santau ini sudah berpindah tuan. Aku tidak bisa mengeluarkannya begitu saja. Tapi…” Ia menunjuk ke arah Samsul yang kini terdiam, matanya hitam pekat menatap langit-langit.

“Ada satu cara dan Hukum balasannya bisa dipindah. Tapi harganya mahal.”

Sitoh mengangguk cepat, air matanya bercampur lumpur. “Apa pun! Apa pun harganya!”Dukun itu menyeringai di balik giginya yang hitam.“Nyawa ganti nyawa. Dan yang harus membayar…kau sendiri atau”.

dengan tubuh bibir gemetar sitoh bertanya,"atau apa Mbah" sambil terus menatap sitoh."kau harus mengorbankan saudara kandungmu atau yang masih mempunyai hubungan sedarah Denganmu".

Begitu kata itu keluar, angin di dalam gubuk mati. Tubuh Samsul yang diam tiba-tiba tersentak, lalu ia duduk tegak lalu Mulutnya terbuka lebar

Sitoh mengangguk cepat, air matanya bercampur lumpur.“Apa pun! Apa pun harganya!”

Dukun itu menyeringai di balik giginya yang hitam

“Nyawa ganti nyawa. Dan yang harus membayar…kau sendiri atau orang yang masih ada hubungan darah denganmu”.

Tubuh Samsul yang diam tiba-tiba tersentak. Kepalanya menghentak ke belakang sampai terdengar bunyi tulang retak pelan. Lalu ia duduk tegak, perlahan, seperti mayat yang baru saja dihidupkan. Mulutnya terbuka lebar dan terlalu lebar. Sudut bibirnya sobek, darah hitam menetes ke dagu dan dari dalam tenggorokannya keluar suara berlapis-lapis—suara tua, suara anak kecil, suara perempuan menangis—semuanya bertumpuk jadi satu.

.“Darah… darah yang sama…”.gumam suara itu, bukan suara Samsul.

Lantai tanah di bawah Samsul retak. Dari celah itu merembes asap hitam, merayap pelan menuju kaki Sitoh. Setiap tempat yang disentuhnya, tanah jadi gosong dan dingin seperti es.

Dukun itu mengangguk pelan, matanya merah menyala dalam gelap.

“Itu dia....! Santau itu sudah bicara. Dia mau dibayar dengan darah yang kau sebut tadi.”

Sitoh mundur sampai punggungnya menabrak tiang gubuk. Mukanya pucat pasi dan di pikirannya hanya ada.

“andaikan dia tidak tergoda dengan harta dunia, pasti dia tidak akan seperti ini, tapi semua penyesalan tidak gunanya lagi dan nasi sudah menjadi bubur."

Samsul mengangkat tangan dan tangannya tidak gemetar. Gerakannya terlalu halus, terlalu pasti, seperti dikendalikan sesuatu yang lain lalu Jari-jari hitam itu menunjuk lurus ke dada Sitoh. Dari mulut Samsul keluar tawa....Tawa rendah, dalam?

“Kau yang buka pintu. Sekarang kau yang pilih siapa yang ditutup.” diluar gubuk, angin tiba-tiba menderu dan sitoh akan mencari korban lain untuk memuaskan nafsunya.

Dan malam itu udara diluar gubuk dukun tersebut terasa sangat mencengkam. sitoh sudah dikuasi hawa nafsu setan, mengepalkan tangan kanannya dan dengan desisannya."aku akan melakukan apapun supaya suamiku sembuh, walaupun itu harus mengorbankan saudaraku sendiri."Lentera minyak di dalam gubuk berkedip sekali, lalu mati. Kegelapan langsung menelan segalanya.

Dari balik tirai bambu yang robek, terdengar langkah pelan. Bukan langkah manusia tapi Lebih seperti sesuatu yang diseret, dengan kuku-kuku panjang seperti menggaruk tanah.

"Saudaraku..." bisik suara serak dukun itu dari kegelapan. Suaranya sekarang bukan suara orang tua lagi. Dua nada bertumpuk, satu tua, satu lagi menggeram dari dalam perut bumi.

"dia sudah setuju dan berhentilah mengamuk." setelah mendengarnya, jin yang memasukin tubuh Samsul perlahan hilang dan hilang di kegelapan malam.

Sitoh menelan ludah, dadanya naik turun. Kata-kata barusan seharusnya membuat dia berhenti, tapi di kepalanya hanya ada satu wajah...! suaminya terbaring pucat di lantai berlapis tanah dan napasnya tinggal satu tarikan.

perlahan-lahan kondisi Samsul mulai membaik setelah jin tersebut keluar dari tubuh samsul, wajahnya yang tadi kehitam-hitaman, napasnya lagi tidak tersengal seperti ditarik dari dasar jurang. ketegangan malam itu tidak akan hilang.

Sitoh menelan ludah, dadanya naik turun. Kata-kata barusan seharusnya membuat dia berhenti, tapi di kepalanya hanya ada satu wajah...! Suaminya terbaring pucat di lantai berlapis tanah dan napasnya tinggal satu tarikan.

Perlahan-lahan kondisi Samsul mulai membaik setelah jin tersebut keluar dari tubuh Samsul. Warna wajahnya yang tadi keabu-abuan perlahan kembali, napasnya tidak lagi tersengal seperti ditarik dari dalam sumur. Tapi ketegangan malam itu tidak akan hilang.

Tangan tua dukun itu menyodorkan sesuatu dari balik kain hitam. Bungkus daun pisang yang kering, diikat dengan benang merah, dan masih terasa hangat seperti baru diambil dari bara."Ini...!" desisnya, matanya menyipit tajam.

"Ambil bungkusnya dan taburkan kepada orang tersebut. Dan ingat, harus kepada saudaramu atau saudara Samsul yang kau berikan."

Sitoh menerima bungkusan itu dengan tangan gemetar. Ada bau amis dan tembaga di dalamnya, seperti darah yang sudah mengering lama."Kenapa harus saudara?" suaranya pecah akan tangisan.

"Kenapa tidak bisa orang lain, kenapa harus yang sedarah denganku". ratap sitoh yang mulai dipenuhi penyesalan, tapi menyesal pun percuma karena ia sudah terlalu jauh

Dukun itu tertawa pelan. Kali ini suaranya murni suara manusia tua yang sudah lelah.

"Karena perjanjian darah hanya mau dibayar dengan darah yang dekat. Jin itu tidak mau tumbal orang luar. Dia mau rasa sakit yang nyata dan Rasa bersalah yang akan menghantuimu sampai mati."

Sitoh menatap bungkusan di tangannya, lalu menoleh ke arah suaminya yang mulai menggeliat pelan di lantai, Samsul hidup. Tapi harganya harus yang sedarah dengannya.

Dia punya dua pilihan....! buka bungkusan itu sekarang atau biarkan malam ini mengambil semuanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!