“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Helai-helai Keputusasaan dan Pengawasan Sang Sipir
Biasanya, kamar mandi berbalut marmer Italia itu menjadi suaka bagi Alika untuk melepas penat setelah hari yang panjang. Namun pagi ini, suasana di sana mendadak mencekam, bak sebuah bilik eksekusi.
Alika berdiri mematung di bawah kucuran air hangat, tubuhnya bersandar lemas pada dinding kaca. Ia baru saja mencoba mengeramasi rambutnya. Namun, begitu jemari yang membengkak dan kaku itu menyisir helaian rambut basah, napasnya seketika tercekat. Gumpalan demi gumpalan rambut luruh ke telapak tangannya tanpa perlawanan, seolah akar-akarnya telah menyerah sepenuhnya.
Alika segera membekap mulutnya sendiri, sekuat tenaga menahan isakan agar tidak terdengar hingga ke luar pintu. Ia menatap telapak tangannya dengan pandangan nanar. Jumlahnya terlalu banyak, jauh lebih parah dibanding minggu lalu. Pengurangan dosis imunosupresan secara drastis benar-benar memicu sistem imunnya untuk mengamuk dan menyerang folikel rambut tanpa ampun. Di atas lantai marmer putih, air sabun mengalir membawa ratusan helai rambut hitamnya menuju lubang pembuangan, hingga nyaris menyumbat saluran tersebut.
Tok. Tok. Tok.
"Nyonya Alika? Anda sudah di dalam selama dua puluh menit. Tuan Narendra berpesan agar Anda tidak mandi terlalu lama mengingat kondisi Anda yang masih anemia."
Suara datar Rasti dari balik pintu membuat jantung Alika nyaris meloncat dari rongganya. Perempuan itu tak ubahnya seorang sipir penjara yang tidak pernah mengenal waktu istirahat.
"Iya, Rasti! Aku sudah selesai. Sebentar lagi aku keluar!" seru Alika, berusaha memoles suaranya agar terdengar jengkel layaknya seorang majikan yang terganggu, bukan pasien yang sedang dirundung ketakutan.
Dengan gerakan panik, Alika mematikan shower. Ia berjongkok, mengabaikan rasa nyeri hebat yang menusuk sendi lututnya, lalu bergegas mengumpulkan setiap helai rambut yang berceceran di lantai dan lubang pembuangan. Ia meremas gumpalan basah itu, membungkusnya rapat-rapat dengan tumpukan tisu toilet, kemudian menyembunyikannya di dalam saku jubah mandi. Ia tidak boleh membuangnya ke tempat sampah di sini. Rasti pasti akan memeriksanya, karena Narendra telah memerintahkan perempuan itu untuk melaporkan setiap detail sekecil apa pun.
Dengan tangan gemetar, Alika menatap pantulan dirinya pada cermin yang berembun. Ruam merah berbentuk sayap kupu-kupu di wajahnya kini terasa panas dan gatal. Ia segera meraih tabung color corrector hijau dan foundation berdaya tutup tinggi atau full coverage dari kabinet.
Menggunakan jemarinya yang bengkak kemerahan, memegang spons riasan terasa seperti menggenggam duri. Setiap tekanan di wajahnya memicu rasa ngilu yang merambat hingga ke rahang. Namun, ia terus memulas dan meratakan krim tebal itu sampai rona merah kemarahan di kulitnya tenggelam di balik warna beige yang tampak sempurna. Ia kemudian mengambil hairpiece dan memasangnya dengan sangat hati-hati untuk menutupi bagian pitak di puncak kepalanya.
Begitu pintu kamar mandi terbuka, Rasti sudah berdiri tegak di dekat ranjang sembari memegang nampan sarapan dan sebutir pil vitamin. Mata tajam Rasti langsung memindai penampilan Alika dari ujung kepala hingga kaki.
"Nyonya terlihat jauh lebih segar pagi ini," komentar Rasti datar. Tatapannya tertahan sejenak pada wajah Alika yang tertutup riasan tebal. "Tuan Narendra pasti senang mendengarnya. Beliau akan melakukan video call dalam lima menit karena ingin memastikan Anda meminum vitamin di hadapannya."
Alika menelan ludah dengan susah payah. "Biar aku ganti baju dulu."
Lima menit berselang, Alika sudah duduk di sofa tunggal di sudut kamar dengan balutan blus sutra berwarna peach yang cerah. Rasti berdiri di sampingnya, memegang tablet yang sudah terhubung dalam panggilan video.
Di layar, muncul wajah Narendra. Pria itu duduk di kursi belakang mobil, kemungkinan besar dalam perjalanan menuju rapat penting. Matanya memicing tajam, menilai penampilan sang istri lewat layar.
"Kamu terlihat membaik, Alika," ucap Narendra. Suaranya tenang, namun sarat akan kepuasan yang arogan. "Lihat, kan? Tanpa obat-obatan ilegal dari dokter brengsek itu, tubuhmu bisa pulih hanya dengan istirahat. Kamu hanya terlalu memanjakan dirimu sendiri."
Alika menghujamkan kuku-kukunya ke telapak tangan, mengalihkan rasa sakit di persendian menjadi rasa sakit yang setidaknya bisa ia kendalikan. "Iya, Mas. Kamu benar."
Narendra menyeringai tipis, merasa egonya berada di atas angin. "Rasti, berikan vitaminnya."
Rasti menyodorkan gelas berisi air dan pil tersebut. Di bawah pengawasan ketat dari layar tablet, Alika memasukkan pil vitamin zat besi itu ke mulut dan menelannya. Vitamin yang sebenarnya sama sekali tidak membantu peradangannya, justru hanya akan membuat lambungnya semakin perih.
"Bagus," Narendra mengangguk puas. "Aku akan pulang terlambat malam ini karena ada makan malam dengan klien. Pastikan kamu tetap di kamar. Jika Dokter Hendrawan melaporkan hasil tes darahmu minggu depan sudah normal, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk melonggarkan pengawasan."
Sambungan diputuskan dan layar kembali gelap.
Alika menyandarkan punggungnya ke sofa. Ia berhasil melewati satu pagi lagi. Namun, saat ia merogoh saku jubah mandi yang tergeletak di keranjang cucian kotor untuk mengambil gumpalan tisu berisi rambut, ia menyadari satu kenyataan yang mengerikan.
Sampai kapan ia sanggup bertahan dalam sandiwara gila ini? Tubuhnya sedang menggerogoti dirinya sendiri dari dalam. Jika Narendra atau Dokter Hendrawan melakukan tes darah minggu depan, kadar leukositnya pasti akan melonjak tajam akibat peradangan tanpa obat, dan kebohongannya tentang "hanya kelelahan biasa" akan hancur berantakan. Sangkar emas ini bukan sekadar mengurungnya, melainkan sedang menghitung mundur waktu kematiannya.