Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.
Ia hanya ingin kaya.
Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.
Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Udara Segar Zona Elit
Suara decit logam tebal itu akhirnya berhenti total. Engsel raksasa Gerbang Sektor Tiga mengunci punggungnya dengan bunyi klik mekanis yang sangat pekat.
Wan Chen berdiri diam di atas aspal hitam. Permukaannya mulus parah. Tidak ada retakan, tidak ada genangan lumpur basah, apalagi bau pesing kotoran manusia yang biasa merendam sepatunya.
Neon biru dan ungu memantul tajam di atas jalanan yang baru saja disemprot mesin pembersih otomatis. Rapi.
Ia menarik napas lambat-lambat. Oksigen buatan yang merangsek masuk ke paru-parunya sama sekali tidak membuat tenggorokan gatal.
'Hanya udara hasil saringan filter raksasa,' batinnya datar. 'Tapi harganya setara organ manusia di luar sana.'
Orang-orang berjalan santai melewatinya. Mengenakan mantel tebal bersih atau sepatu kulit yang ujungnya mengilap menginjak trotoar.
Tidak ada tatapan lapar. Hanya lirikan sikut yang sarat akan rasa jijik saat ekor mata mereka menangkap jaket butut Wan Chen.
Ia membalas tatapan itu dengan wajah mati rasa. Jari tangannya masih tenggelam di saku celana.
Predator di zona ini tidak punya taring membusuk atau cakar yang kotor oleh tanah. Mereka memakai setelan rapi, tersenyum sopan, lalu memotong lehermu lewat nominal angka.
Tiga blok dari titik gerbang, kakinya berhenti di depan bangunan berlogo perisai perak. Penginapan kelas menengah ke atas. Garansi privasi mutlak bagi mereka yang sanggup melempar uang.
Mendorong pintu kaca geser itu, suhu ruangan langsung turun drastis. Karpet tebal seketika meredam suara langkah sepatunya yang kasar.
Resepsionis di balik meja marmer mengangkat pandangan. Senyum profesionalnya sedikit goyah saat melihat noda debu menempel di kerah baju pelanggannya.
"Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?" sapa wanita itu. Nada suaranya diatur rapi, tapi terkesan sangat dingin.
"Satu kamar. Privasi level maksimal. Aku tidak butuh layanan bersih-bersih," potong Wan Chen cepat.
Jari telunjuk dan tengahnya langsung menjepit kredit merah. Mengulurkan benda itu tepat di atas permukaan marmer yang mengkilat.
Mata resepsionis itu seketika berubah bentuk. Ramah. Menjijikkan.
"Tentu saja. Lantai empat, ujung lorong," ucapnya mengangguk cepat sambil menyodorkan kartu akses pipih.
Lima belas menit berselang, baju butut itu sudah berserakan asal di lantai keramik kamar mandi.
Pancuran air panas menyala keras. Menghantam punggungnya yang penuh bekas luka gores.
Mengusap wajahnya yang kasar, ia membiarkan air sabun luruh membawa kotoran hitam berminyak menuju saluran pembuangan.
Berapa tahun ia tidak mandi di bawah air mengalir yang steril? Entah. Otaknya terlalu lelah untuk repot-repot menghitung mundur.
Pakaian bersih berbahan katun sintetis sudah tersedia di lemari gantung kamar. Ia melilitkan sabuknya pelan-pelan.
Dunia di luar sana boleh hancur jadi kepingan debu. Monster mutan boleh menggerogoti tembok perbatasan setiap malam sampai pagi. Ia sungguh tidak peduli.
'Selama aku bisa memonopoli sumber daya,' gumamnya dalam hati, mematut pantulan dirinya di cermin retak. 'Aku akan terus hidup waras seperti ini.'
Udara malam terasa jauh lebih menggigit saat ia keluar dari lobi penginapan. Tujuannya kini bergeser lurus ke pusat perbelanjaan hunter di ujung perempatan distrik.
Gedung itu menjulang kotak. Kaca antipeluru berlapis kawat nano dipasang di mana-mana.
Masuk ke dalam, ia sengaja mengabaikan keriuhan lantai dasar. Suara kokangan senjata api dan tawar-menawar kaliber peluru di sana terlalu memekakkan telinga.
Senjata api itu alat bodoh. Memancing kawanan monster dari radius jauh, butuh peluru yang harganya mencekik leher, dan rawan macet saat ditarik pelatuknya.
Langkah kakinya langsung naik membelah keramaian menuju lantai dua. Etalase panjang menampilkan barisan baja dingin bermaterial khusus bernaung di bawah lampu sorot.
Pria bertubuh gempal dengan kacamata berlensa merah menghampirinya. Tangannya disilangkan santai di depan dada.
"Mencari barang tajam untuk merobek daging, Anak Muda?" tanyanya renyah. Terlalu dibuat-buat.
Wan Chen menunjuk salah satu bilah hitam pekat yang tertidur di balik kaca tebal.
"Yang itu. Spesifikasi materialnya." Nada suaranya murni menuntut.
Penjual itu tersenyum lebar hingga pipinya terlipat. Ia menekan panel kode di sudut meja. Kaca perlahan tergeser mundur.
"Mata yang sangat jeli. Pisau Taktis Karbon. Dilapisi serpihan core mutan tingkat rendah untuk menahan korosi cairan asam," rinci pria gempal itu.
Mengambil gagang pisau tersebut, Wan Chen menimbang beratnya. Ringan. Terlalu ringan, tapi porosnya solid menahan genggaman.
Ujung jarinya menekan sisi tajam bilah. Seberkas luka mikro langsung terbentuk di kulitnya. Presisi tanpa menimbulkan rasa sakit di awal.
"Empat ribu kredit tunai," sebut si penjual sambil mengetuk meja.
"Dua ribu delapan ratus. Gagangnya agak kendor di bagian pasak bawah," bantah Wan Chen tanpa mengubah mimik mukanya sama sekali.
Senyum penjual itu luntur perlahan. Kacamata merahnya diturunkan sedikit.
"Tiga ribu lima ratus. Angka itu sudah setara harga modal, Kawan."
"Tiga ribu pas. Atau aku turun sekarang ke lantai bawah dan memborong rongsokan logam biasa," tekan Wan Chen. Uang tunai sudah siap di tangannya.
Pria gempal itu mendengus kasar, membuang muka sesaat, lalu mengangguk malas. Transaksi dikunci mati.
Satu jam penuh berlalu, Wan Chen sudah kembali duduk diam di tepi kasur penginapannya.
Ruangan terkunci rapat. Tirai otomatis ditutup paksa.
Pisau Taktis Karbon yang baru dibelinya tergeletak diam di atas seprai putih bersih. Hitam kelam menantang cahaya lampu.
"Akses antarmuka," bisiknya pelan.
Layar biru semi-transparan berkedip tiba-tiba di depan matanya. Rentetan kode berputar cepat seperti air terjun yang tumpah dari langit-langit kamar.
Matanya langsung fokus pada deretan menu utama. Fungsi Duplikasi.
Meletakkan telapak tangannya tepat di atas bilah pisau, ia memusatkan pikirannya. Cahaya redup menjalar dari sela-sela jarinya, menelan logam karbon tersebut utuh-utuh.
Satu kedipan mata, satu pisau identik muncul di sebelahnya. Kedipan kedua, jumlahnya berlipat menjadi tiga. Empat. Lima.
Sempurna. Salinan itu terwujud presisi tanpa mengurangi kepadatan atom aslinya sedikit pun.
Dengan satu tarikan napas mental, kelima pisau pembunuh itu tersedot masuk. Lenyap tanpa jejak gravitasi ke dalam Penyimpanan Dimensional miliknya.
Aset cadangan aman terkendali. Istilah senjata patah di tengah medan tempur resmi terhapus dari daftar kekhawatirannya malam ini.
Menggeser layar antarmuka itu ke samping, tangannya menarik tuas proyektor kecil yang menempel di meja nakas.
Peta holografik menyala hijau seketika. Memetakan kontur wilayah perbatasan luar secara kasar dalam format tiga dimensi.
Jari telunjuknya bergerak perlahan. Menarik garis imajiner dari Sektor Tiga. Melewati zona merah berlumpur yang sangat luas. Berhenti tepat di area utara yang penuh arsiran duri tebal.
'Hutan Besi,' gumamnya nyaris tanpa suara. Matanya memantulkan kilau hijau dari proyeksi cahaya.
Lokasi itu merupakan zona bahaya kelas dua. Ekosistem gila tempat berkumpulnya serangga raksasa berkarapas baja.
Mengunci koordinat tersebut ke dalam memori otaknya. Ia mematikan mesin proyektor dengan satu tepukan keras. Kesunyian kembali menelan kamar itu utuh-utuh.