NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:817
Nilai: 5
Nama Author: Iskak M

Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Harus Sehat

Pagi itu gue lagi duduk di ruang meeting tim marketing, kepala agak pusing tapi gue tahan sebisa mungkin. Sudah beberapa hari ini sering pusing ringan, tapi gue anggap cuma capek kerja berat. Bu Sita masuk dengan map tebal di tangan, wajahnya serius seperti biasa.

“Bram, syarat promosi ke Yogya harus general check up dulu. Perusahaan nunjuk Lab Bio Test di Kuningan. Lo berangkat hari ini juga. Hasilnya harus sehat total baru promosi bisa keluar. Jangan ditunda,” katanya tegas sambil naruh map di depan gue.

Gue ngangguk pelan, meski dalam hati agak was-was. “Siap Bu. Gue berangkat sekarang juga.”

Gue langsung pamit dari meeting dan nyetir ke Lab Bio Test. Prosesnya panjang dan melelahkan. Mulai dari antri registrasi, ambil darah di lengan, tes urine, rontgen dada, sampai tes treadmill yang bikin gue keringetan. Perawatnya ramah, tapi gue merasa badan gue lagi ga enak-enak. Keluar dari lab jam 2 siang dengan badan capek berat. Hasil lab katanya bisa diambil sore hari.

Sore harinya gue langsung ke klinik Maya. Sekarang Maya sudah resmi jadi dokter pribadi gue setelah ibu gue restui sepenuhnya. Aprilia yang dulu sering nemenin udah jarang muncul, sibuk banget di banknya.

Maya duduk di ruang praktik dengan jas putih rapi, kacamatanya turun sedikit di hidung, jerawat kecil di pipinya masih keliatan. Tapi senyumnya tetap manis dan menenangkan.

“Hasilnya udah keluar Mas Bram,” katanya sambil buka map dengan ekspresi serius.

Gue duduk di depan meja periksa. Maya baca satu per satu dengan teliti, alisnya kadang naik.

“Ada beberapa catatan penting. Kadar gula darah lo agak tinggi, berpotensi diabetes tipe 2 kalau ga dijaga dari sekarang. Terus… ada gejala typus. WBC lo tinggi, ada tanda infeksi bakteri. Lo sering pusing ya akhir-akhir ini? Rupanya itu gejala typus yang lo abaikan karena anggap capek kerja,” jelas Maya dengan suara lembut tapi tegas.

Gue kaget berat. “Typus? Gue kira cuma kecapean kerja aja, May.”

Maya ngangguk, tangannya memegang map lebih erat. “Untung ketahuan dini. Lo harus istirahat total. Libur kerja minimal 5 hari biar typusnya hilang. Obat antibiotik rutin, istirahat cukup, makan teratur yang sehat. Diabetes-nya juga harus dijaga kurangi makanan manis, olahraga ringan, dan kontrol gula darah rutin. Kalau ga diurus, bisa tambah parah.”

Gue menghela napas panjang. “Oke. Gue lapor ke kantor dulu.”

Gue langsung telepon Bu Sita. “Bu, dokter Maya kasih rujukan istirahat 5 hari karena typus dan gula darah tinggi.”

Bu Sita mendesah di seberang. “Baiklah Bram. Lo istirahat dulu yang bener. Promosi ke Yogya ditunda sampai lo sehat total. Jangan main-main sama kesehatan.”

Maya nyengir kecil setelah gue tutup telepon. “Pulang ke apartemen aja Mas. Klinik aku deket situ. Aku yang rawat pagi hari. Biar lebih mudah kontrol kondisi lo.”

Malam harinya di apartemen, Maya dateng bawa tas obat dan makanan sehat yang dia masak sendiri — bubur ayam tanpa bumbu berat, sayur rebus, dan buah. Dia jaga gue dengan telaten: ukur suhu badan, kasih obat tepat waktu, ingetin minum air putih banyak, bahkan duduk di samping kasur sambil cerita soal pasien-pasiennya biar gue ga bosen.

Pagi harinya Maya yang jaga sebelum berangkat praktek. Sore sampai malem bergantian Marita dan Dian. Entah mereka bertiga mengatur jadwalnya gimana, tapi setiap kali satu pulang, yang lain dateng bergantian dengan rapi. Marita bawa makanan enak dan cerita gosip kantor, Dian bawa obat tambahan dan pelukan hangat yang penuh perhatian, sementara Ria sesekali nyempil pas yang lain ga ada dateng malam-malam bawa sup hangat dan “perhatian spesial” yang bikin gue tersenyum dalam hati.

Rasanya aneh tapi bahagia. Diperhatikan banyak wanita cantik yang sudah gue coba semuanya. Maya yang tenang dan telaten, Marita yang usil tapi setia, Dian yang diam-diam posesif, Ria yang ganas dan penuh nafsu. Gue cuma bisa senyum-senyum sendiri di kasur, merasa seperti raja kecil yang sedang dirawat haremnya.

Pagi ketiga, Maya dateng seperti biasa setelah praktek pagi. Hari itu dia keliatan agak capek. “Mas, aku mandi dulu ya. Pinjem baju kamu,” katanya sambil tersenyum lelah.

Gue kasih kaos oversized hitam dan celana pendek. Maya keluar dari kamar mandi dengan rambut basah menetes, kaos gue kebesaran di badannya yang mungil. Bau sabun mandi gue nempel manis di kulitnya. Ada rindu yang lama tertahan di dada gue.

“Maya… sini sebentar,” gue panggil pelan dari kasur.

Maya mendekat, duduk di tepi kasur. Gue tarik tangannya pelan ke pangkuan gue. “Kangen… kita lama ga ketemu yang begini.”

Maya blushing, tapi matanya ada api kecil yang menyala. “Ini pertama kali buat aku Mas… pelan-pelan ya. Aku agak takut.”

Gue tarik dia ke dalam pelukan hangat. Ciuman kami mulai lembut, bibir saling menyentuh dengan penuh kasih sayang, lalu perlahan semakin dalam dan penuh gairah. Gue lepas kaosnya pelan-pelan, kulit Maya yang putih mulus terpapar di depan mata. Gue cium lehernya yang harum, turun perlahan ke dada yang kecil tapi kenceng dan sensitif. Maya mendesah pelan, tangannya memegang kepala gue dengan lembut.

Gue rebahkan dia di kasur dengan sangat hati-hati, seolah dia barang rapuh. Tangan gue menjelajah tubuhnya yang masih asing dengan sentuhan lembut dan penuh penghormatan di setiap lekuk. Maya menggeliat pelan, napasnya semakin cepat, kulitnya memerah karena sentuhan. Gue bimbing tangannya untuk menyentuh gue, dia melakukannya dengan malu-malu tapi penuh rasa ingin tahu yang membuat gue semakin terbakar.

Saat gue masuk pelan-pelan, Maya menggigit bibir bawahnya, matanya berkaca-kaca karena sensasi baru, tapi bukan karena sedih. Ada rasa sakit sebentar yang cepat berganti dengan desahan manis. Dia langsung memeluk punggung gue erat, “Lanjut Mas… enak… pelan aja dulu…”

Gerakan kami pelan dan penuh kelembutan, seperti dua orang yang sedang saling belajar. Gue tuntun dia dengan sabar, mencium bibirnya setiap kali desahannya keluar. Maya mulai ikut bergerak, pinggulnya naik turun pelan mengikuti irama. Matanya setengah terpejam, bibirnya terbuka sedikit, wajahnya penuh kenikmatan yang polos dan murni.

“Kamu… enak sekali Mas…” bisiknya di telinga gue dengan suara gemetar.

Kami bergerak semakin selaras, keringat tipis muncul di kulit kami yang saling menempel. Gue remas pinggulnya pelan, cium dada dan lehernya dengan penuh kasih. Maya semakin berani, kuku jarinya menancap ringan di punggung gue. Akhirnya kami mencapai puncak bersama, tubuh Maya menegang lembut, desahannya manis dan panjang seperti hembusan angin pagi.

Setelahnya, Maya rebahan di dada gue, napasnya masih cepat dan hangat. Dia ngeliat gue dengan mata berkilau penuh kebahagiaan.

“Bisa lagi Mas? Aku mau ulangi… rasanya enak banget,” katanya malu-malu tapi ada keberanian baru di sana.

Gue ketawa kecil, cium keningnya lama. “Nanti ya, biar lo ga capek. Kita pelan-pelan aja.”

Maya cuma senyum lebar, peluk gue lebih erat. “Aku ga nyangka rasanya segini enak… makasih Mas. Aku seneng banget hari ini.”

Siang harinya Maya pulang praktek, tapi janji balik malam. Marita dateng sore dengan makanan rumah dan cerita gosip kantor yang lucu. Dian dateng malemnya dengan obat tambahan dan pelukan hangat yang penuh kasih sayang. Ria nyempil tengah malam, “Cuma cek kondisi lo doang,” katanya sambil nyengir nakal sebelum memberikan “perhatian spesial” yang membuat malam semakin panas.

Gue berbaring di kasur, mikirin semuanya dengan dalam. Promosi ke Yogya tertunda karena kesehatan, tapi gue dapet perhatian yang luar biasa dari mereka semua. Laras masih nunggu jawaban keseriusan gue, Angga masih ancam lewat telepon, Bu Sita lagi awasin CCTV kantor.

1
Iskak
terima kasih , boleh tukeran baca
S.Moonlight
hi, penulis baru.. ceritamu seru kok. semangat ya 💪

btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!