NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 - Jebakan di Balik Pohon Nipah

Labirin rawa terasa semakin menyempit saat perahu dayung Mbah Jarot berbelok memasuki celah di antara gundukan tanah berlumpur.

Daun-daun nipah yang panjang dan tajam menjuntai rendah, beberapa kali menyapu atap kepalaku serta jaket pelabuhan yang kukenakan.

Suasana sisa-sisa kengerian dari bunker beton milik Baron pelan-pelan mulai memudar, digantikan oleh kesunyian malam yang teramat pekat. Hanya ada bunyi jangkrik rawa yang bersahut-sahutan dan kecipak pelan dari ujung dayung kayu Mbah Jarot yang membelah air

berminyak.

Aku mengembuskan napas panjang, mencoba mengurai ketegangan yang sedari tadi membuat dadaku sesak. Melihat ke depan, jalur air di depan kami tampak sedikit terbuka. Aku mengira siasat gilaku kali ini berhasil. Kami sudah melewati titik paling berbahaya, mematahkan rute darat yang dijaga ketat, dan sebentar lagi mungkin akan mencapai batas aman di pedalaman hutan bakau.

Namun, keheningan di tengah rimbunnya pohon nipah itu ternyata menyimpan mata pisau yang siap menghunjam.

Klik. Klik. Klik.

Bzzzzzzzt!

Dunia di sekeliling kami mendadak berganti warna dalam satu kedipan mata. Kegelapan rawa yang gulita pecah berantakan ketika belasan sorot lampu senter berdaya tinggi menyala serentak dari balik kerimbunan pohon nipah. Cahaya putih yang teramat menyilaukan itu menghantam wajahku, membutakan mata kami seketika. Aku refleks memejamkan mata erat-erat, merintih pelan sambil mengangkat tangan kiri untuk menghalau jilatan cahaya yang membuat pandanganku menyisakan bayangan hitam berputar-putar.

"Berhenti di situ, Lara! Jangan ada yang bergerak kalau tidak mau bodi perahu ringsek jadi saringan tahu!"

Sebuah suara yang sangat kukenal bergema di antara deru angin rawa. Suara cempreng, sok berkuasa, dan penuh nada ejekan.

Saat mataku mulai terbiasa dengan kilatan cahaya senter yang memantul di permukaan air rawa yang keunguan, sosok si pemilik suara melangkah maju ke tepian lumpur. Itu Roy. Kurir senior dari depo sortir logistik yang selalu memakai cincin akik murah di jarinya. Dia berdiri dengan berkacak pinggang, mengenakan sepatu bot karet tinggi, ditemani oleh belasan pria berbadan tegap dengan seragam hitam legam tanpa atribut resmi.

Di tangan orang-orang itu, moncong senapan otomatis laras panjang sudah terarah lurus ke dada kami.

"Roy..." desisku, cengkeramanku pada ransel oranye di pangkuanku mengerat hingga kuku-kukuku memutih. Amarah mendadak membakar ubun-ubun karena melihat wajah liciknya yang tampak begitu puas.

"Kaget, ya? Kau pikir kau sudah hebat betul bisa main kucing-kucingan dengan orang-orang Baron?" Roy tertawa hambar, suaranya terdengar sangat memuakkan di tengah kesunyian rawa. Dia meludah ke dalam lumpur, tepat di samping sepasang akar nipah yang mencuat. "Anak kemarin sore seperti kau ini, mau coba-coba memotong jalur komisi besar. Sadar diri sedikit, Lara. Kau itu cuma kurir kuyu yang hidup dari recehan uang kosan."

"Bagaimana... bagaimana kau bisa tahu kami lewat sini?" tanyaku, mencoba mengulur waktu sambil mataku liar mencari celah di antara kepungan pasukan yang berdiri rapat di tepian lumpur. Rute tikus Mbah Jarot ini rahasia, bahkan tidak ada dalam peta resmi pelabuhan Tanjungbalai.

Roy terkekeh pelan, lalu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk kotak hitam dengan lampu indikator merah yang berkedip pelan. "Kau hebat soal mencari jalan pintas, Lara. Tapi kau bodoh kalau urusan teknologi. Kau pikir untuk apa seminggu lalu aku pura-pura memeriksa kelayakan rantai motor bebek tuamu di depo sortir? Aku cuma butuh waktu setengah menit untuk menempelkan pelakar GPS kecil ini di bawah spakbor motormu."

Jantungku rasanya seperti berhenti berdetak saat melihat benda di tangan Roy.

Bodoh! Kecerobohan macam apa ini! Aku mengutuk diriku sendiri di dalam hati. Rasa sesal yang teramat sangat menghantam dadaku hingga membuatku lemas. Logika jalanan yang selama ini kubanggakan patah total hanya karena sebuah benda kecil yang luput kuperiksa di bawah spakbor motor bebek tuaku. Aku telah membawa maut langsung ke hadapan Kala dan Mbah Jarot karena kecerobohanku sendiri.

"Sekarang, serahkan mahluk peliharaanmu itu," ujar Roy lagi, menunjuk Kala dengan ujung lampu senter di tangan kirinya. "Tuan Baron sudah kehabisan kesabaran, dan kepalamu dihargai sangat mahal malam ini, Lara. Kalau kau menyerah sekarang, mungkin aku bisa minta bagian keuangan depo untuk tidak memotong sisa gajimu bulan ini. Lumayan, 'kan, untuk bayar tunggakan kamar nomor empatmu yang atapnya bocor itu?"

Langkah kaki pasukan berseragam hitam bergerak semakin maju, mengunci ruang gerak perahu dayung kami di sudut tikungan rawa yang sempit.

Jarak mereka kini hanya terpaut beberapa meter dari lambung perahu.

Di depanku, Kala yang sedari tadi terdiam mulai bergerak. Walaupun tubuh besarnya masih terlihat sangat lemas dan gemetar akibat dehidrasi air tawar, cowok bermata emas itu memaksakan diri untuk menggeser posisinya. Sisik keperakan di pelipis matanya kembali memunculkan pendaran tipis yang samar, terpicu oleh ketegangan situasi yang mengancam nyawa kami. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Kala menempatkan bahunya yang lebar tepat di depanku, memasang badan seutuhnya untuk menghalangi sorot lampu senter dan todongan moncong senjata yang mengarah padaku.

"Jangan sentuh dia," bisik Kala dengan suara serak yang berat, matanya yang berpupil vertikal menatap tajam ke arah Roy tanpa ada rasa takut sedikit pun.

"Kala, jangan... tubuhmu belum pulih," bisikku panik, mencoba menarik ujung kain sarung kotak-kotak yang dia kenakan agar dia kembali duduk. Jika mereka melepaskan tembakan dalam jarak sedekat ini, dengan kondisi Kala yang lemah, dia bisa hancur berantakan di tempat.

"Gadis kurir," sebuah suara parau memotong kekhawatiranku.

Aku menoleh sedikit ke arah belakang perahu. Mbah Jarot masih memegang gagang dayung kayu dengan tangan kirinya, namun tangan kanannya perlahan turun, meraba pinggang belakangnya di balik gulungan kain sarung tua miliknya. Di sana, aku tahu ada sebilah belati jala yang biasa dia gunakan untuk merobek jaring yang tersangkut di batu karang. Wajah nelayan tua bau sirih itu tampak dingin, tidak ada kepanikan sama sekali, hanya ada keputusan bulat yang mengerikan di matanya.

"Saat aku bilang lompat, kau tarik bocah sisi itu ke dalam air. Jangan menoleh ke belakang," bisik Mbah Jarot dengan nada yang teramat datar, hampir tidak menggerakkan bibirnya agar tidak memancing kecurigaan pasukan di tepian lumpur.

"Mbah, jangan nekat..." kalimatku tertahan di tenggorokan.

Kepungan di sekeliling kami terasa semakin merapat. Suara gesekan sepatu bot pasukan Baron di atas lumpur hidup terdengar semakin jelas, beradu dengan bunyi deru napas Kala yang memburu kasar di depanku. Todongan senjata kini benar-benar terkunci lurus pada bodi kayu perahu kami yang lapuk. Roy tersenyum penuh kemenangan, mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, bersiap memberikan aba-aba kepada para pria bersenjata di belakangnya untuk melepaskan tembakan pemungkas.

Di bawah temaram lampu senter yang menyilaukan dan bau amis air rawa yang menguar pekat, waktu seolah berjalan melambat. Jari Mbah Jarot sudah mencengkeram erat hulu belati di pinggangnya, Kala siap melompat maju dengan cakar keperakannya, dan aku hanya bisa menahan napas, bersiap menghadapi pecahan badai yang akan meledak dalam hitungan detik berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!