“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Bayangan di Lobi Rumah Sakit
Begitu jarum jam menyentuh pukul 16.45, Alika segera mematikan komputernya. Napasnya memburu tipis, menahan rasa perih di lambung yang kini merambat menjadi kram perut yang begitu menyiksa. Sambil mencangklong tas di bahu dan memastikan tidak ada dokumen yang tertinggal, ia melangkah keluar ruangan, berusaha sekuat tenaga agar tetap terlihat normal.
"Saya ada meeting di luar dengan vendor. Kalian pulanglah tepat waktu," pesan Alika kepada para stafnya sebelum bergegas menuju lift.
Setibanya di lobi utama, Alika tidak melangkah menuju area parkir VIP tempat sopir kantor biasanya menunggu. Ia justru menyelinap ke pintu keluar utara dan masuk ke dalam sebuah taksi daring perak yang sudah dipesannya lima menit lalu. Alika menyandarkan kepala pada kaca jendela mobil yang dingin, memejamkan mata rapat-rapat demi menghalau rasa mual yang terus mendera sepanjang perjalanan membelah kemacetan sore Jakarta.
Tanpa ia sadari, sebuah sedan hitam yang tersamar milik tim keamanan internal Artha Group perlahan membuntuti dari belakang sejak ia keluar dari gerbang gedung.
Di lantai lima puluh, ponsel di atas meja marmer milik Narendra bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari kepala keamanan.
"Taksi daring Nyonya Alika menuju ke arah selatan. Tim kami terus mengikuti. Titik akhir berdasarkan rute GPS adalah Rumah Sakit Medika Utama."
Dahi Narendra berkerut dalam saat membaca pesan itu. Rumah Sakit Medika Utama? Itu tempat yang sama saat Alika pingsan dua minggu lalu. Apakah istrinya benar-benar sakit dan selama ini membohonginya? Ataukah ada alasan lain yang memaksa Alika harus kembali ke sana secara sembunyi-sembunyi?
"Siapkan mobil, Joshua," titah Narendra dengan suara sedingin es melalui interkom. "Kita berangkat sekarang."
Dalam waktu lima belas menit, SUV hitam mewah yang membawa sang CEO Artha Group itu sudah membelah jalanan, dipandu oleh koordinat dari tim keamanan. Sepanjang jalan, rahang Narendra mengeras. Jika Alika memang sakit, mengapa harus dirahasiakan? Namun, jika ini hanyalah kedok untuk kebohongan yang lebih besar, Narendra bersumpah tidak akan melepaskan istrinya begitu saja.
Bau menyengat antiseptik kembali menyapa indra penciuman Alika saat ia melangkah masuk ke ruang praktik dr. Raditya. Dokter muda itu langsung bangkit dari kursinya begitu melihat wajah Alika yang pucat pasi bak kertas.
"Duduk di ranjang periksa dulu, Ibu Alika. Pelan-pelan saja," ujar Raditya lembut namun tetap cekatan.
Raditya segera menyiapkan ampul obat pelindung lambung. Dengan gerakan profesional yang sangat hati-hati, ia menyuntikkan cairan bening itu ke pembuluh darah di lipatan lengan Alika.
"Tarik napas dalam-dalam, lalu embuskan," pandu Raditya sembari menekan bekas suntikan dengan kapas beralkohol. "Obat ini akan bekerja dalam sepuluh menit. Kram di perut Anda akan berangsur mereda."
Alika mengangguk lemah dan membiarkan tubuhnya bersandar pada bantal ranjang periksa. Benar saja, beberapa menit berselang, rasa panas yang melilit lambungnya mulai memudar, menyisakan rasa lelah yang luar biasa.
"Terima kasih, Dokter," ucap Alika dengan suara parau. Ia menatap Raditya yang sedang mencuci tangan di wastafel sudut ruangan. "Saya tidak tahu harus bagaimana kalau Dokter tidak memaksa saya datang."
Raditya membalikkan badan, menatap pasiennya dengan pandangan teduh. "Ini sudah tugas saya. Namun, saya peringatkan lagi, Ibu Alika, tubuh Anda sedang berperang dengan dirinya sendiri. Tolong, jangan abaikan kesehatan Anda hanya demi menutupi sesuatu atau melindungi seseorang."
Ucapan Raditya seolah menembus pertahanan batin Alika. Untuk pertama kalinya dalam hari yang panjang dan menyakitkan ini, seulas senyum tulus yang lega mekar di bibir pucatnya. "Saya akan berusaha, Dok."
"Mari, saya temani Anda menebus resep penetral asam lambung di apotek bawah. Anda masih terlihat oleng," tawar Raditya.
Saat Alika turun dari ranjang dan kakinya menjejak lantai, kepalanya mendadak pening karena lambung yang kosong seharian. Tubuhnya sedikit terhuyung ke samping. Dengan refleks cepat, Raditya mengulurkan tangan, memegang siku Alika dengan erat namun tetap sopan untuk menjaga keseimbangan wanita itu.
"Hati-hati. Pegang lengan saya jika butuh tumpuan," ucap Raditya.
Alika mengangguk, membiarkan tangan Raditya memandu sikunya saat mereka berjalan bersisian keluar dari ruang praktik menuju lift, lalu turun ke lobi utama rumah sakit yang mulai ramai.
Namun, di balik pilar besar tak jauh dari pintu kaca lobi, sepasang mata tajam sedang mengawasi mereka bak elang yang mengincar mangsa. Narendra baru saja tiba di sana beberapa menit yang lalu. Matanya menyalang saat menangkap sosok istrinya keluar dari lift. Niat awalnya untuk memastikan kondisi kesehatan Alika seketika menguap tak bersisa saat melihat siapa pria di samping istrinya.
Itu dr. Raditya. Dokter muda yang sama yang pernah menceramahinya di UGD dua minggu lalu.
Darah Narendra mendidih seketika. Ia melihat bagaimana tangan dokter itu memegang siku istrinya. Ia juga melihat wajah Alika yang biasanya selalu tampak dingin dan kaku di rumah Menteng, kini justru tersenyum begitu tulus dan santai saat menatap pria berjas putih itu.
Ego seorang Narendra Pradipta langsung menarik kesimpulan yang fatal. Di kepalanya, ruam di wajah dan getaran tangan Alika pagi tadi bukanlah gejala penyakit, melainkan kedok murahan. Alika berpura-pura sakit dan menyelinap menggunakan taksi daring bukan untuk berobat, melainkan untuk bertemu pria ini.
Narendra mencengkeram ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Alih-alih menghampiri dan membuat keributan yang bisa merusak reputasi perusahaannya, Narendra memilih mengangkat ponsel dan mengambil satu foto dari jarak jauh—sebuah bukti visual yang mengabadikan kedekatan dr. Raditya dan Alika.
"Sedang bermain api di belakang saya, Alika?" desis Narendra pelan, suaranya setajam belati. "Mari kita lihat, seberapa jauh kamu bisa lari."
Pria itu berbalik, melangkah keluar lobi menuju SUV hitamnya dengan aura gelap yang menyelimuti. Babak baru dalam pernikahan mereka telah terbuka; bukan lagi soal kebebasan, melainkan tentang obsesi, kecemburuan buta, dan kesalahpahaman fatal yang perlahan akan menyeret mereka berdua ke dasar neraka.