NovelToon NovelToon
Beyond The Contract

Beyond The Contract

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Siangnya di kantin, kepalaku rasanya mau pecah. Aku duduk menghadapi semangkuk mi ayam bersama Fika dan Mbak Dian. Karena suasananya sudah terlanjur heboh, aku akhirnya memutuskan untuk menceritakan semuanya daripada mereka mengira aku menggunakan jalur dalam yang aneh-aneh.

"Serius?! Lo ditarik rapat sama investor Singapura di hari pertama kerja?!" Mbak Dian hampir tersedak baksonya.

"Iya, Mbak! Waktu hari pertama aku masuk, Mbak Dian kan nggak masuk karena sakit. Nah, pas di lift aku mau keluar buat nemuin pak Danu, pak Adrian sangka aku asisten barunya dan gak dengerin penjelasan aku sepatah katapun. Tiba-tiba di kasih tablet sama map pas di lift, mana sempat aku keluar dari lift kan, terus di ajak rapat tiba-tiba." ceritaku berapi-api, menyumpit mi ayamku dengan gemas seolah-olah itu adalah Adrian.

"Terus lo ikut rapatnya? Padahal lo gak tahu apa-apa, kan?" tanya Fika, matanya berbinar kepo.

"Ya terpaksa! Aku cuma bisa melongo dengerin bule-bule itu cuap-cuap. Tapi untungnya, aku masih bisa fokus, aku catat semua data fisik yang ditampilin di layar proyektor. Detail banget sampai ke angka-angkanya. Ternyata catatan itu yang bikin Pak Adrian mutusin mindahin aku sekarang. Katanya kerjaan aku rapi. Padahal itu murni karena aku takut dipecat di hari pertama!"

Mbak Dian menggeleng-gelengkan kepalanya dramatis. "Ya ampun, Na... takdir lo emang beruntung. Tapi jujur ya, mending lo siapin mental. Jadi sekretaris Pak Adrian itu kayak kerja rodi di zaman modern."

Sore harinya, jam pulang kantor akhirnya tiba. Dengan langkah berat, aku kembali ke kubikel untuk mengambil barang-barangku sebelum naik ke lantai atas.

Barangku memang tidak banyak. Hanya sebuah buku binder catatan, beberapa alat tulis, dan sebuah tumbler kosong warna pastel yang sengaja selalu kutinggalkan di tempat kerja. Aku memasukkan semuanya ke dalam tote bag kecil.

Fika dan Mbak Dian melambaikan tangan dengan wajah penuh simpati atau lebih tepatnya wajah melepas martir ke medan perang.

Aku menarik napas dalam-dalam, memeluk tote bag-ku, dan melangkah masuk ke dalam lift menuju lantai direksi. Mulai besok, hidupku di kantor ini dipastikan tidak akan pernah tenang lagi.

Aku membereskan barang-barangku begitu tiba di meja sekertaris depan ruangan pak Adrian. Lift terbuka, sebuah bayangan tinggi berhenti tepat di depanku. Aku mendongak. Itu pak Gavin, Manajer Operasional.

"Aruna, ya?" tanya Gavin, menatapku sambil tersenyum tipis, tipe senyuman ramah tapi sebenarnya sedang menilai.

"Eh, iya, Pak Gavin," jawabku agak canggung, refleks membenarkan posisi tas di pundakku.

Gavin mengangguk-angguk kecil, lalu menepuk mejaku dua kali. "Semoga betah ya. Dan... semoga gak bikin kesalahan."

Kalimat terakhirnya terdengar seperti peringatan halus sekaligus doa keselamatan bagi orang yang mau masuk ke kandang singa. Sebelum aku sempat membalas, Gavin sudah berbalik dan melangkah masuk dengan santai menuju ruangan Adrian. Aku hanya bisa menghela napas panjang. Betah? Belum kerja di sini saja rasanya aku sudah mau resign.

Karena jam kantor memang sudah habis, aku memutuskan untuk langsung pulang. Pikiranku sepanjang perjalanan benar-benar penuh dengan bayangan betapa mengerikannya hari esok.

Jumat Pagi.

Jantungku rasanya mau copot saat melangkah melewati lobi utama. Di meja resepsionis, aku diserahkan sebuah name tag baru berwarna perak berkilau. Di sana tertulis jelas namaku: ARUNA – SEKRETARIS DIREKSI. Rasanya masih tidak nyata.

Dengan tangan sedikit gemetar karena jantungku berdebar, aku memasang name tag itu di dada kiri kemejaku, lalu menekan tombol lift menuju lantai paling atas. Aku sengaja datang tiga puluh menit lebih awal agar punya waktu untuk beradaptasi dengan meja baruku di depan ruangan Adrian. Aku yakin bos perfeksionis itu belum datang jam segini.

Namun, begitu pintu lift berdenting terbuka langkahku langsung terhenti. Pintu ruangan Adrian agak terbuka, dan lampu di dalamnya sudah menyala terang.

Aku memberanikan diri mengintip sedikit lewat celah pintu, dan sedetik kemudian mataku membelalak.

Di dalam sana, Adrian sedang berdiri di dekat meja kerjanya sambil memeriksa beberapa berkas tebal. Penampilannya berantakan sekali. Jauh dari kata rapi dan klimis yang biasanya selalu dia pamerkan. Kancing kemeja paling atasnya terbuka, lengan kemejanya digulung asal-asalan sampai ke siku, dan rambutnya yang biasa tertata rapi menggunakan gel kini tampak acak-acakan seperti habis diacak-acak frustasi. Tapi dia terlihat… tampan!

Dan yang paling membuatku syok, kemeja biru tua yang dia pakai itu adalah kemeja yang sama dengan yang dia pakai kemarin! Apa dia tidak pulang semalaman?

KREK.

Sial, sepatuku tidak sengaja menggeser tempat sampah kecil di dekat pintu. Adrian langsung menoleh tajam ke arah luar. Begitu melihatku, matanya yang tampak sedikit merah karena kurang tidur langsung menatapku lurus.

"Aruna? Baguslah kamu sudah datang," suaranya terdengar serak, kehilangan sedikit wibawa diktatornya tapi tetap terdengar tegas. "Tolong buatkan saya kopi. Sekarang."

"Eh? Ah, i-iya, Pak!" jawabku refleks.

"Bawa ke ruangan saya secepatnya." Setelah mengatakan itu, dia kembali menunduk menatap berkas-berkas di mejanya.

Aku buru-buru berbalik menuju lift. Alih-alih menggunakan pantry lantai atas yang belum kuberi tahu letaknya sebelah mana, aku memilih turun ke lantai lima, ke pantry yang sudah sangat akrab denganku selama sebulan ini.

Di dalam lift, kepalaku mulai berpikir yang tidak-tidak. Melihat kondisinya yang sekacau itu, sepertinya ucapan dia kemarin memang benar. Dia tidak sedang mengerjaiku, tapi dia memang benar-benar sibuk setengah mati sampai harus menginap di kantor. Pantas saja belakangan ini dia jarang mencari gara-gara denganku, ternyata energinya sudah habis terkuras oleh pekerjaan. Rasa kesalku perlahan menyusut, digantikan sedikit rasa kasian. Ternyata jadi bos besar sesengsara itu ya, batinku.

Sampai di pantry, aku langsung menyalakan pemanas air. Aku mengambil cangkir, merobek satu saset kopi hitam premium yang tersedia di sana, lalu menyeduhnya.

Saat air panas beraroma kopi itu mengepul, tanganku bergerak ke arah toples gula.

Pak Adrian biasanya minum kopi manis atau pahit, ya?

Pertanyaan itu mendadak melintas di kepalaku. Dan disinilah kesalahan fatalku dimulai, aku terlalu malas untuk kembali ke atas atau meneleponnya hanya untuk menanyakan hal sepele seperti takaran gula. Lagi Pula, mana ada orang stres kurang tidur yang mau minum kopi pahit? Pasti butuh yang manis-manis untuk mendongkrak energi, kan?

Sambil mengangguk yakin pada analisaku sendiri, aku mengambil dua sendok penuh gula pasir, memasukkannya ke dalam cangkir kopi hitam itu, lalu mengaduknya hingga larut sempurna.

"Selesai! Dijamin segar lagi setelah minum ini," gumamku bangga, tanpa tahu kalau keputusan sok tahuku ini adalah awal dari bencana pagi ini.

Aku berjalan kembali ke lantai atas dengan langkah penuh percaya diri, kedua tangan memegangi tatakan cangkir kopi panas yang baru saja kubuat. Di dalam lift, aku sempat melirik pantulan diriku di dinding kaca. Name tag perak di dadaku berkilau, dan aku merasa cukup bangga karena bisa tanggap melayani bos yang sedang stres berat di hari pertama kerja resmiku ini.

Aku mengetuk pintu ruangannya yang masih terbuka sedikit, lalu melangkah masuk.

"Kopinya, Pak Adrian," ujarku dengan nada suara seprofesional mungkin, lalu meletakkan cangkir itu dengan perlahan di sisi meja yang kosong agar tidak menyenggol berkas-berkasnya.

Adrian tidak langsung mengangkat wajahnya. Dia hanya bergumam pelan sebagai tanda terima kasih, sementara tangan kanannya masih sibuk menandatangani selembar kertas. Namun, aroma kopi yang menguar tampaknya berhasil menarik perhatiannya. Dia meletakkan pulpen, bersandar pada kursi kerjanya, dan meraih cangkir itu.

Aku berdiri tegak di depan mejanya, memperhatikan gerak-geriknya dengan perasaan sedikit cemas tapi juga penasaran.

Adrian meniup permukaan kopi itu sebentar, menimbulkan asap tipis yang menerpa wajah lelahnya. Kemudian, dia menyesapnya. Satu sesapan kecil.

Detik berikutnya, gerakan Adrian langsung membeku. Cangkir kopi itu masih menempel di bibirnya, tapi matanya yang tadinya sayu mendadak terbuka lebar. Dia diam membatu selama beberapa detik, seperti sedang mencerna sebuah hantaman rasa yang luar biasa asing di lidahnya.

Pelan-pelan, Adrian menurunkan cangkir itu dari bibirnya. Dia tidak langsung marah atau menyemburkan kopinya, melainkan hanya menatap cairan hitam di dalam cangkir dengan dahi berkerut dalam, seolah-olah baru saja merasakan ramuan ajaib yang salah resep.

Setelah itu, pandangannya beralih. Mata elangnya menembus lurus, menatapku dengan intensitas yang membuatku mendadak salah tingkah.

Aura di dalam ruangan langsung berubah canggung. Aku mulai merasa tidak nyaman. Karena keheningan itu terasa makin mencekam, aku akhirnya memberanikan diri untuk bersuara dengan polosnya.

"Ada... ada apa ya, Pak?" tanyaku, mengerjapkan mata tanpa dosa. "Kopinya kurang panas atau terlalu panas, ya?”

1
Alia Chans
Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Agatha soul: terima kasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!