Neysa seorang gadis cantik, terperangkap menjadi pelayan karena suatu alasan. Siapa sangka Anak Majikannya, Darren akan jatuh hati padanya. Seribu cara ia lakukan, agar Neysa jatuh ke tangannya. Namun siapa yang tahu, Neysa yang biasa saja, wanita yang selalu terpojok oleh keadaan itu menyimpan sesuatu hal yang besar. Ternyata ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
***
Hari itu berbeda dari biasanya. Rumah keluarga Barnes dipenuhi tamu, kedua keluarga besar—Barnes dan Cadmael—bertemu untuk membicarakan pertunangan yang sudah lama direncanakan.
Suasana ramai dengan percakapan tamu. Namun Jessica terdiam sejenak, menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikan dari sudut ruangan. Matanya menatap tajam ke arah Neysa, yang sedang berdiri jauh di belakang, mencoba menyembunyikan diri.
Jessica mengangkat kakinya dengan angkuh, menunjuk ujung sepatu hak merah yang ternoda. “Pelayan!” suaranya penuh perintah.
Neysa menunduk, melangkah pelan mendekat meski pergelangan kakinya terasa perih. Dengan tangan gemetar, ia mengambil tisu dan mulai membersihkan noda itu, berusaha menahan sakit yang semakin menjalar.
Tanpa peringatan, Jessica menekan kakinya dengan keras ke tangan Neysa. Neysa meringis, namun ia hanya bisa menahan napas, tak berani mengangkat wajahnya.
“Kau tahu, tempatmu di sini sangat rendah,” kata Jessica dingin. “Jangan terlalu mencolok. Kau hanya pelayan. Lihat saja bagaimana Darren menatapmu, dia ingin melihatmu tanpa sehelai kain.”
Dengan tangan yang masih tertindih sepatu, Neysa hanya bisa menahan air mata. "Saya tidak dekat dengan Darren," ujarnya, suara hampir pecah.
Jessica tersenyum puas, menatapnya dengan penuh ejekan. "Kau lebih baik tidak mengharapkan apapun darinya," katanya sebelum berbalik pergi, meninggalkan Neysa dalam kehinaan yang mendalam.
Neysa hanya bisa mengangguk lemah, tidak ingin menanggapi lebih jauh. Setelah itu, ia pergi ke belakang rumah, mencari tempat yang lebih sepi. Ia masuk ke gudang dan merobek kain yang tergantung di sana untuk menyumpal mulutnya, berusaha menahan tangis yang tak bisa lagi ia tahan.
Di keheningan itu, Neysa menangis sejadi-jadinya, mencela takdir yang telah membawanya pada kehidupan seperti ini.
Ketika ia merasa sedikit lebih tenang, tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki di ambang pintu. Darren berdiri di sana, menatapnya dengan ekspresi sinis, matanya penuh dengan kebencian. Tanpa berkata apa-apa, ia hanya mengucapkan satu kata.
"B o d o h."
Neysa tak menjawab, ia hanya diam, berusaha menahan amarah yang memuncak.
Darren mendekat, meraih tangan Neysa dan menempelkannya ke pipinya. Neysa terkejut, tapi dengan cepat ia menarik tangannya. Darren tidak menyerah, ia menariknya ke dalam pelukan, berbisik di telinganya, "Aku di sini. Kau boleh menangis, Neysa. Aku akan membawamu keluar dari tempat ini, dari rumah terkutuk ini."
Neysa terkekeh getir, suaranya penuh dengan kepedihan. "Bagaimana bisa, Darren? Kamu akan segera bertunangan, dan aku hanya seorang pelayan di acara itu. Kamu pikir bisa begitu saja membawa aku keluar dari sini?"
"Aku bisa," jawab Darren dengan tegas, menatapnya dengan penuh keyakinan. "Asal bersamamu."
Neysa menatapnya, bingung dan sakit. "Aku tertindas di sini, Darren. Apa kamu bisa membantuku tadi? Tidak. Kamu tidak bisa membantuku. Aku hanya ingin bekerja dengan tenang, sampai kontrakku habis. Apa kamu bisa paham itu?"
Darren tertawa sinis, meremehkan kata-kata Neysa. "Kau pikir bisa lepas begitu saja dari tanganku? Apa yang sudah menjadi milikku, tidak akan pernah lepas." Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, dan menatap Neysa seolah ia adalah miliknya.
"Begini saja," lanjut Darren dengan nada lebih lembut. "Aku bisa memberimu kebebasan, jika kau mau. Aku akan membayar kontrakmu. Tapi kau harus tetap di bawah pengawasanku."
Neysa menatapnya dengan tatapan penuh amarah. "Kau ingin menjadikanku budak, Darren? Lebih baik aku m a t i saja."
Darren mendekat, ekspresinya serius. "Aku ingin menikahimu. Secara diam-diam. Hanya kita berdua."
Neysa terdiam, matanya terasa panas, air mata menggenang. "Aku lebih memilih m a t i daripada hidup di bawah bayang-bayangmu," ucapnya pelan namun penuh keyakinan.
Darren terdiam, seolah kata-kata itu menyayat hati. Ia menatap Neysa dengan tatapan penuh amarah. "Kau tidak akan bisa menghindar selamanya," katanya, suara seraknya mengancam.
Neysa mundur, napasnya tersengal. "Aku sudah bilang, aku tidak mau menikah denganmu," teriaknya, mencoba mengendalikan ketakutannya.
Dengan gerakan cepat, Darren melangkah maju, meraih wajah Neysa dan memaksanya menatapnya.
Bersambung ....