Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Hari kamis sore di Kampus Pelita Bakti terasa sedikit lebih sibuk dari biasanya.
Kelas di mulai setelah habis asar, karena sang dosen yang biasanya mengadakan kelas secara virtual atau zoom.
Kali ini menginginkan mata kuliah diadakan di ruang kelas secara langsung.
Hukum ekonomi penjualan.
Koridor-koridor kampus dipenuhi mahasiswa dan mahasiswi yang bergegas menuju kelas mereka.
Melina berjalan menyusuri lorong gedung, mendekap buku tebal di dadanya.
Sore ini, Melina tampil santai dengan celana jeans kulot panjang, di padukan dengan baju rayon putih bergambar mickey mouse warna kuning, merah, biru.
Tas ransel coklatnya menggantung di bahu, memberikan kesan sebagai mahasiswi yang rajin dan sederhana.
Rambut Melina di ikat setengah dengan sisa gerai di bawahnya, sesekali ia selipkan ke belakang telinga saat tertiup angin sore.
Melina tadi diantara menggunakan supir pribadi, baru saja masuk kelas bisik-bisik mengenai dirinya mulai senter terdengar.
"Eh gila ya anak panti asuhan bisa nikah ama aktor."
"Ya buat apa kalo jadi bini tapi nggak ke up media, buat apaan njirr."
Mereka semua berbisik satu sama lain, membicarakan Melina.
Namun Melina tak pernah menanggapi, toh dirinya disini untuk kuliah, dan harus menabung untuk memulai bisnis.
Karena dirinya tahu tak bisa selamanya bisa bersama Ishan Ganendra, toh saat dirinya sudah memenuhi tugas dari Adisti---yakni melahirkan anak.
Mau tak mau gugatan cerai siap di layangkan padanya.
Di dalam ruang kelas yang cukup luas, Melina memilih tempat duduknya, saat mau duduk ada suara yang memanggilnya.
Sosok yang sudah tak asing lagi mendekat padanya.
Alvaro datang dengan gaya khasnya mengenakan kaos biru dongker bertuliskan 'Slank' sebuah grup band favoritnya.
Di padukan bagian bawahnya dengan celana jeans biru, tak lupa sebuah hoodie warna senada terselampir di belakang bahunya.
"Hallo Mel," sapa Alvaro sambil menarik kursi duduk di samping Melina.
Melina menoleh ke belakang dan tersenyum.
"Woy Al," sapa Melina kembali.
Alvaro memperhatikan wajah Melina dengan seksama, meski tertutup polesan 'BB Cream' dan bedak tipis.
Namun, mata Alvaro nampak tajam dengan penuh selidik, melihat hal yang tak beres.
Ada sedikit warna keunguan di dekap tulang pipi Melina.
"Mel, lu baik-baik aja 'kan?" tanya Alvaro dengan berbisik.
Melina tersenyum dan mengangguk.
"Lah BTW, itu pipi lu kenapa cokk? kaya lebam," tanya Alvaro dengan selidik.
Melina tersentak kaget, dirinya berfikir mungkin bekas lebam yang di alaminya karena tamparan dari Ishan membuatnya panik.
"Alas bedaknya agak luntur lagi, gara-gara tadi kena panas," dengus Melina dalam hati.
Melina terdiam sejenak, dan duduk dikuti Alvaro yang duduk dengannya.
"Mel lu kalo ada apa-apa cerita ama gua," ucap Alvaro pada Melina.
Tangan Melina segera meraih tas dan mengambil cermin kecil, untuk melihat pipinya yang lebam.
Melina menghela napas dan tersenyum.
"Oh ini? tadi siang gua lagi masak di dapur mau ngambil presto malah jatoh kena muka gua," ujar Melina.
"Pantes lu tambah pesek," kata Alvaro dengan terkekeh.
"Dih Anjirr," gerutu Melina.
"Canda Mel," jawab Alvaro dengan tersenyum.
Semalam Melina di tampar oleh Ihsan di bagian wajah, dan saat itu Adisti tak menyadari apa yang terjadi kepada menantunya.
Ucapan Ihsan terus dengan hinaan.
"Lo itu istri yang nggak becus yaa! kenapa kemeja gua di cuci!" makinya sambil menunjuk Melina.
Ucapan kasar yang di lontarkan suaminya masih teringat jelas, Ishan marah karena aroma parfum dari Livia hilang.
Alvaro yang duduk terdiam di samping Melina, hatinya bergejolak.
Seperti firasat seorang pria yang merasakan jika gadis yang di cintainya dalam masalah, entah mengapa Alvaro merasa demikian.
"Gua tahu lu istri orang Mel, tapi gua nggak bisa ngejauh dari lu. Hati gua mengatakan jika ada sesuatu antara lu ama suami lu," pikir Alvaro menatap Melina yang mengeluarkan buku-bukunya.
"Mel...," panggil Alvaro lirih sambil menepuk bahu Melina.
Melina menatap Alvaro dengan menoleh ke samping.
"Al kenapa?" tanya Melina.
Mereka berbicara sampai dosen datang.
"Lu kalo ada apa-apa bisa cerita ama gua," kata Alvaro menatap Melina dengan tulis.
Melina tersenyum, tangan Alvaro di bahunya di sentuh dan di turunkan perlahan----Melina tahu jika dirinya sudah menjadi istri orang lain.
"Makasih Al, tapi gua baik kok. Suwer dah," ucap Melina mengacungkan dua jarinya.
"Gua selalu cerita ama lu, dan lu selalu bantu gua selesaikan masalah. Gua minta masalah lu jangan di pendem," pinta Alvaro menatap tulus pada Melina.
Melina menghela napas, dan tersenyum.
"Iya Al, thanks yaa," sahut Melina.
Yah, Alvaro Von Hessen seorang anak pemilik perusahan----ayahnya orang Jerman dan Ibunya orang Bali.
Dirinya menyukai Melina sejak awal kuliah, saat itu hidupnya tanpa arah, karena kedua orangtuanya sibuk----dan Melina yang membuat dirinya kembali bersemangat lagi.
Keduanya terus bercakap-cakap di antara riuh suara teman-teman sekelas lainnya.
"Woyy itu Alvaro deketin Melina."
"Iya, harusnya dia sadar diri dong Melina udah jadi istri orang lain."
"Hush, udah jangan gossip." Salah satu mahasiswi menegur keduanya yang bergosip mengenal Meliana.
Terlihat Melina tertawa kecil saat bicara dengan Alvaro, bahkan apapun yang Alvaro tak tahu akan di kasih tahu Melina.
Tapi mereka tak sadar di sudut kelas yang gelap seorang pria yang di bayar Ihsan memantau Melina atas suruhan Ishan Ganendra.
Setiap senyum terulas dari bibir Melina, dan tatapan Alvaro terekam dengan jelas.
Ini akan di laporkan dan akan langsung terkirim ke dalam ponsel Ishan Ganendra, yang berada di lokasi syuting.
Tanpa disadari, keakraban Melina dan Ishan sore itu akan menjadi sebuah bahan bakar yang meledak.
Ishan akan melakukan sesuatu pada Melina yang tak pernah Melina bayangkan dalam hidupnya.
Di lokasi Syuting.
Ishan menggenggam ponselnya, bisa terlihat bagaimana Melina bisa sangat akrab dengan pria lain---padahal dirinya sudah menjadi istrinya.
"Dasar gadis binal, saya akan buat perhitungan nanti di rumah!" ujar Ishan dengan tekad.
Apa yang akan Ishan lakukan padanya, dan apa yang akan terjadi nanti di rumah.
*
*
*
*