NovelToon NovelToon
Titik Tertinggi Mencintai

Titik Tertinggi Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:597
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Baru

Waktu berjalan tanpa pernah menunggu kesiapan hati siapa pun. Di kota kecamatan kecil yang berudara sejuk itu, musim telah berganti beberapa kali, membawa serta sisa-sisa kenangan pahit yang perlahan mulai terkikis oleh rutinitas baru. Bagi Neya, setiap fajar yang terbit kini bukan lagi tentang pengusiran atau jerat asmara yang mencekik batin, melainkan tentang sebuah lembaran bersih yang harus ia tulisi dengan keringat dan harga diri.

Tekadnya untuk bangkit dari kemiskinan dan membuktikan bahwa dirinya tidak bisa lagi diinjak-injak oleh kaum elite kini mulai membuahkan hasil. Setelah berbulan-bulan mengirimkan berkas lamaran ke berbagai tempat, sebuah kabar baik akhirnya datang ke rumah kayu mereka. Neya dan Kak Aldo, kakak angkat yang selama ini menjadi pelindungnya, resmi diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang komoditas lokal di kota tersebut. Meskipun posisi mereka dimulai dari staf tingkat bawah, bagi Neya, ini adalah pilar pertama dari fondasi kehidupan mandiri yang ia impikan.

"Ney, sarapannya dihabiskan dulu. Hari pertama kerja tidak boleh terlambat," suara bariton Kak Aldo memecah keheningan meja makan pagi itu. Pria itu sudah rapi dengan kemeja kerjanya, memancarkan aura seorang kakak sekaligus kepala keluarga yang bertanggung jawab.

Neya tersenyum tipis, mengangguk patuh sembari menyuap sisa roti bakarnya. "Iya, Kak. Aku hanya sedang memastikan dokumen administrasi Ishita tidak ada yang tertinggal di atas meja."

Membicarakan Ishita, senyum di wajah Neya seketika mengembang lebih lebar. Remaja perempuan yang merupakan adik kandung Kak Aldo itu baru saja menyelesaikan pendidikan tingginya dengan hasil yang sangat memuaskan. Langkah Ishita bahkan jauh lebih mulus; ia langsung diterima bekerja di sebuah perusahaan besar yang baru saja membuka kantor cabang regional di wilayah mereka. Bagi keluarga kecil tanpa ikatan darah ini, keberhasilan Ishita adalah perayaan terbesar mengalahkan semua duka di masa lalu.

Di kamar sebelah, Ishita keluar dengan setelan kerja formalnya yang pertama. Wajahnya yang polos tampak berbinar-binar penuh semangat khas anak muda yang baru saja siap menaklukkan dunia profesional.

"Kak Neya, Kak Aldo, lihat! Apakah penampilanku sudah seperti wanita karier yang sukses?" tanya Ishita sembari berputar kecil di tengah ruangan, memamerkan rok kerja dan blus sewarna salem yang dibelikan oleh Kak Aldo dari gaji tabungannya.

Aldo terkekeh lembut, mengusap puncak kepala adiknya dengan bangga. "Kamu selalu tampak luar biasa, Ishita. Ingat, bekerja di perusahaan besar seperti itu membutuhkan kedisiplinan yang tinggi. Jangan buat nama baik kita tercoreng."

"Siap, Bos Aldo!" sahut Ishita riang dengan pose hormat yang jenaka. "Aku mendengar dari bagian personalia kemarin, perusahaan tempatku bekerja ini adalah salah satu raksasa bisnis terbesar di ibu kota. Namanya Dirgantara Group. Mereka bilang, pemilik utamanya adalah seorang pangeran mahkota muda yang sangat jenius namun terkenal dingin."

Neya yang sedang merapikan tas kerjanya mendadak menghentikan gerakan jemarinya sejenak mendengar nama tersebut. Dirgantara. Nama itu terdengar asing, namun entah mengapa memberikan kesan berwibawa yang sangat kuat di telinganya.

"Baguslah kalau tempat kerjamu bonafide, Ishita," ucap Neya lembut, menyembunyikan getaran aneh di dalam dadanya. "Jaga dirimu baik-baik di sana. Jangan mudah terpengaruh oleh politik kantor."

"Pasti, Kak Neya. Aku bekerja untuk masa depan kita bertiga," jawab Ishita tulus, memeluk Neya dari belakang dengan penuh rasa sayang.

Sebelum melangkah keluar rumah untuk menghadapi hari pertama kerja yang penuh tantangan, Neya menyempatkan diri duduk di sudut teras, memegang ponselnya yang sudah cukup tua. Ada satu tugas penting yang tidak pernah ia lewatkan setiap bulannya: memberi kabar kepada satu-satunya sosok ibu yang pernah memberikannya kehangatan keluarga di masa kecil.

Neya mendial sebuah nomor, dan tidak butuh waktu lama hingga suara lembut seorang wanita paruh baya terdengar di seberang telepon.

"Halo, Neya... Anak manis Bunda," suara Imelda, bunda angkat Neya, terdengar begitu teduh, membawa kedamaian yang instan ke dalam hati Neya yang sempat tegang.

"Halo, Bunda. Bagaimana kabar Bunda hari ini? Sehat, kan?" tanya Neya, suaranya melembut, menyiratkan kerinduan yang mendalam.

"Bunda sehat, Nak. Sangat sehat. Hari ini anak-anak di panti sedang sibuk membantu Bunda merapikan kebun belakang. Suasana di sini selalu ramai," jawab Imelda dengan kekehan kecil yang hangat.

"Bunda, Neya hanya ingin memberi tahu... mulai hari ini, Neya dan Kak Aldo sudah mulai bekerja di perusahaan yang sama di sini. Dan Ishita juga sudah diterima di perusahaan besar," ucap Neya dengan binar mata yang berkaca-kaca menahan haru. "Neya ingin Bunda tahu kalau kami di sini baik-baik saja. Kami makan dengan teratur, dan lingkungan di sini sangat aman."

Di seberang sana, terdengar helaan napas lega yang sarat akan doa dari Imelda. "Alhamdulillah... Bunda selalu tahu kamu adalah anak yang kuat, Neya

Neya menghapus setetes air mata yang lolos di sudut matanya.

Setelah menutup sambungan telepon, Neya berdiri dan menatap langit pagi yang cerah di atas gunung. Di dalam hatinya yang terdalam, ia tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa nama Kinan dan rasa cinta yang begitu besar pada pria itu masih tersimpan rapat, terkunci di sudut paling gelap dan tidak boleh disentuh lagi. Fokus hidupnya sekarang telah bergeser sepenuhnya. Menjadi orang miskin di dunia ini memang sangat menyakitkan—ia telah merasakan bagaimana rasanya diusir dan dianggap sepi seolah nyawanya tidak berharga.

Kini, dengan seragam kerja barunya, Neya melangkah keluar pagar bersama Kak Aldo dan Ishita. Langkah kakinya mantap, berjalan menuju masa depan di mana ia tidak akan lagi membiarkan siapa pun menginjak-injak harga dirinya, tanpa pernah tahu bahwa roda takdir yang digerakkan oleh nama Dirgantara perlahan-lahan mulai berputar kembali mendekati hidupnya.

Hari pertama di kantor pusat regional Dirgantara Group berjalan begitu cepat bagi Ishita. Gedung berlantai dua puluh yang dilapisi kaca antipeluru itu memancarkan aura kekuasaan yang luar biasa menekan bagi seorang lulusan baru seperti dirinya. Di departemen perencanaan tempatnya ditempatkan, semua orang bergerak dengan ritme yang cepat, kaku, dan perfeksionis.

Namun, keceriaan alami di dalam diri Ishita tidak redup begitu saja. Dengan senyum manisnya, ia dengan cepat menyelesaikan tugas administrasi awal yang diberikan oleh mentor seniornya.

"Ishita, tolong antarkan berkas revisi anggaran ini ke lantai paling atas," ujar sang mentor sore itu sembari menyerahkan sebuah map kulit hitam tebal. "Langsung ke meja sekretaris utama. Jangan banyak bertanya dan jangan membuat kegaduhan di sana. Hari ini, pemilik tertinggi korporasi sedang turun langsung meninjau cabang kita."

"Baik, Mbak. Segera saya antarkan," jawab Ishita riang, menerima map tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab.

Di dalam lift menuju lantai puncak, jantung Ishita berdegup sedikit lebih kencang. Ia teringat cerita rekan-rekan kerjanya tentang pucuk pimpinan tertinggi Dirgantara Group—seorang pria yang memimpin dengan tangan besi setelah merombak total seluruh struktur perusahaan beberapa bulan lalu. Desas-desus mengatakan bahwa sang CEO tidak pernah tersenyum, memiliki tatapan mata yang bisa mengintimidasi lawan bisnisnya dalam sekejap, dan sangat membenci kesalahan sekecil apa pun.

1
Unicha
apa sebenarnya yang sedang direncanakan Neya?
Unicha
apa yang akan dilakukan sherly setelah membaca pesan itu ?
Unicha
madu ? apakah haris sudah menikah sebelumnya? atau siapa wanita yang mengaku menjadi madu Neya itu ?
Unicha
apakah perlahan Kinan akan mencintai Sherly dan melupakan neya ?
sakura
...
Unicha
Kenapa Imelda menangis ,apa yang Imelda sembunyikan?
Unicha
Siapakah laki laki yang menjadi suami neya itu ? ,apakah neya benar sudah menikah ?
lalu Kinan ?
Unicha
Apakah Kinan dan neya benar benar akan berakhir?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!