Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
"Lagian saya beneran gak bohong kok, Pak. Pak Adrian kan... emang ganteng banget. Makanya jadi pusat perhatian di sini," celetukku spontan, menatapnya dengan tatapan polos tanpa dosa.
Duk! Duk!
Dua tendangan beruntun kembali menghantam kakiku dari bawah meja. Fika bahkan sudah menutup mukanya dengan kedua tangan, sementara Mbak Dian pura-pura batuk kering karena syok mendengar ucapan nekatku.
Pak Adrian tertegun. Sepasang mata tajamnya sempat melebar sesaat, terkejut mendengar pujian blak-blakan yang keluar dari mulut stafnya yang baru saja mengatainya sableng. Detik berikutnya, dia berdeham pelan, berusaha menguasai kembali ekspresi wajahnya yang sempat buyar.
Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin. Benar saja, beberapa karyawan di meja lain sudah mulai berbisik-bisik dan melirik ke arah meja kami, penasaran kenapa sang CEO mendadak berdiri di sudut kantin karyawan biasa.
Sadar dirinya mulai menjadi pusat perhatian yang terlalu mencolok, Pak Adrian kembali menatapku. Senyuman tipisnya yang misterius itu muncul lagi.
"Lanjutkan makan siangmu, Aruna. Dan bersiaplah, besok tugas rekapitulasi datamu akan bertambah," ujarnya dingin tapi penuh arti.
Tanpa menunggu jawabanku, Pak Adrian langsung berbalik dan melangkah lebar meninggalkan area kantin dengan langkahnya yang tegap. Begitu punggungnya menjauh, aku langsung merosot di kursi, sementara Fika dan Mbak Dian langsung mengerubungiku dengan wajah histeris.
"Aruna! Lo bener-bener cari mati, ya?!" semprot Fika setengah berbisik, langsung menguncang-guncang bahuku heboh begitu bayangan Pak Adrian menghilang di balik pintu kaca kantin.
"Gila lo, Runa! Bisa-bisanya lo ngatain dia menyebalkan, terus sedetik kemudian bilang dia ganteng di depan mukanya langsung! Jantung gue rasanya mau copot!" Mbak Dian ikut menimpali sambil mengusap dadanya, wajahnya masih syok berat.
Aku hanya bisa menopang dagu di atas meja dengan lemas. Mangkok bakso di depanku mendadak kehilangan selera. "Aku panik, Mbak, Fik... Otakku langsung blank. Daripada aku langsung dipecat di tempat karena ngatain dia sableng, mending kupuji aja mukanya. Kan emang beneran dia ganteng..." cicitku.
"Tapi lo denger sendiri kan kalimat terakhirnya tadi?" Fika menatapku prihatin. "Besok tugas rekapitulasi data lo bakal ditambah. Fix, lo resmi masuk daftar hitam Bos Besar!"
Aku mengerang frustasi, membenturkan dahi pelan ke permukaan meja. Sialan. Alih-alih terbebas dari jeratan Pak Adrian dengan cara menyuruh Fika yang naik ke atas, aku malah menggali lubang kuburanku sendiri di kantin.
***
POV ADRIAN
Aku melangkah masuk ke dalam lift dengan sisa kedutan di sudut bibir yang masih sulit kutahan. Begitu pintu lift tertutup rapat dan menyisakan aku seorang diri, tawa rendahku akhirnya pecah juga.
"Ganteng?" gumamku sendiri, menggelengkan kepala tak percaya.
Gadis itu benar-benar aneh. Setelah dengan sangat berani mengataiku sableng, pelit tanda tangan, dan suka melihat karyawan menderita di depan teman-temannya, dia bisa-bisanya berbalik menawariku bakso hangat lalu memujiku ganteng dengan wajah sepolos itu saat tertangkap basah.
Sial, aku bahkan sempat kehilangan kata-kata selama beberapa detik tadi. Pujian dari kolega bisnis atau para wanita sudah menjadi makanan sehari-hari yang terdengar palsu di telingaku. Tapi mendengar pujian yang keluar dari mulut Aruna yang jelas-jelas murni karena dia panik setengah mati terasa jauh lebih menghibur.
Begitu lift berdenting di lantai atas, aku melangkah keluar dengan ekspresi wajah yang sudah kembali datar dan berwibawa. Ariana yang duduk di meja sekretaris langsung menegakkan posisi duduknya.
"Ariana," panggilku sambil menghentikan langkah di depan mejanya.
"Iya, Pak Adrian? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan senyuman manis yang dibuat-buat.
"Hubungi Danu manajer dari divisi administrasi. Katakan padanya, mulai besok semua dokumen laporan, berkas logistik, dan rekapitulasi data fisik gedung lima tahun terakhir harus diserahkan secara berkala per hari ke ruangan saya."
Ariana tampak mengerutkan dahi, bingung dengan perintahku yang mendadak. "Baik, Pak."
Aku memutar kenop pintu ruang kerjaku, lalu menoleh sedikit ke arah Ariana. "Katakan pada Danu, saya hanya mau menerima dokumen-dokumen itu jika diantar oleh staf bernama Aruna. Tidak boleh digantikan oleh orang lain dengan alasan sibuk atau apapun."
"B-baik, Pak. Dimengerti," jawab Ariana, meski nada suaranya terdengar tidak suka dan penuh rasa penasaran.
Aku menutup pintu ruangan, berjalan menuju meja kerjaku dan mendudukkan diri di kursi.
Aku menyandarkan punggung, mengetukkan pulpen mahal di atas meja sambil tersenyum tipis. Kita lihat saja besok, bagaimana ekspresi wajah transparan Aruna saat tahu bahwa pelariannya harus berakhir sebelum sempat dimulai.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat ketika mobil yang membawaku keluar dari area gedung perkantoran Aurora Corporation. Jalanan kota masih cukup padat, membuat sopir pribadiku terpaksa mengambil rute alternatif yang memutar, melewati daerah pinggiran yang agak jauh dari pusat kota.
Mataku menatap kosong ke luar jendela kaca yang gelap, memperhatikan lampu-lampu jalanan yang berkelebat, sampai mobil kami melintasi sebuah taman kota yang agak sepi.
Pandanganku terfokus oleh sebuah pemandangan di sudut taman. Aku menyipitkan mata, memastikan bahwa penglihatanku tidak salah. Di bawah lampu taman yang remang, ada sosok gadis dengan kemeja kerja yang sangat kukenal.
Aruna.
"Pak Hadi, tolong hentikan mobilnya sebentar," perintahku datar.
Mobil bergerak lambat di tepi jalan sebelum berhenti. Dari jarak yang cukup aman, aku memperhatikan Aruna yang ternyata sedang bersama seorang pria. Kalau tidak salah ingat dia pria malam itu yang mencoba menyentuh Aruna dan mengaku sebagai pacarnya.
Namun, pemandangan di depan sana sama sekali tidak terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan. Pria itu tampak bersujud-sujud, memegang pergelangan tangan Aruna, dan memohon-mohon dengan gestur tubuh yang frustasi.
Bukannya luluh, Aruna justru terlihat sangat murka. Dengan sentakan kasar, dia mendorong dadanya hingga pria itu terhuyung ke belakang. Aruna kemudian mengangkat jari telunjuknya, menunjuk lurus ke arah jalan raya dengan kilatan amarah yang kentara di matanya, mengusir pria itu agar segera pergi sejauh mungkin dari hadapannya.
Pria itu sempat hendak mendekat lagi, namun tatapan tajam dan penolakan mutlak dari Aruna membuatnya akhirnya menyerah. Pria itu berbalik dan berjalan pergi dengan langkah gontai, meninggalkan Aruna sendirian di taman yang sepi.
Begitu punggung pria itu menghilang, pertahanan Aruna tampak runtuh. Bahunya yang tadi tegak menantang langsung merosot lesu. Dia berjalan dengan langkah berat ke arah sebuah minimarket yang berada tidak jauh dari sana, lalu duduk di salah satu kursi besi yang disediakan di area teras.
Begitu duduk, dia langsung melipat kedua tangannya di atas meja dan membenamkan wajahnya di sana.