NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Pukul dua siang, Jasmine sudah kembali berada di dalam kamarnya. Suasana kafenya Liam tadi benar-benar berhasil membuat tubuhnya rileks, sampai-sampai dia sempat tertidur pulas selama beberapa jam dikasurnya. Begitu terbangun, Jasmine langsung mendapati ponselnya dipenuhi oleh belasan notifikasi dari grup WhatsApp tim mereka. Jasmine membuka ponselnya sambil menyandarkan punggung di kepala ranjang.

Kak Bryan : Hei! Jasmine, kamu utang cerita ya! Tadi siang aku lewat depan danau, kok aku lihat kamu keluar dari kafe baru yang estetik itu? Kamu gak lagi janjian sama cowok lain kan selain Kak Axel?

Kak Kenzie : Bryan, mulut lo dijaga. Gak usah bikin gosip random.

Kak Ilias : Tahu nih Bryan. Jasmine kan cuma jalan-jalan cari angin pagi. Tapi emang beneran ada kafe baru ya di sana, Jasmine?

Jasmine menghela napas, jarinya dengan cepat mengetik balasan di layar ponselnya.

Jasmine : Itu cuma kafe bunga, Kak. Pemiliknya tetangga baru di seberang jalan. Aku cuma mampir minum teh sebentar karena tadi pagi sempat terpeleset di dekat sana.

Tidak butuh waktu lama, sebuah notifikasi panggilan suara langsung masuk ke ponsel Jasmine. Nama di layarnya membuat jantung Jasmine sedikit berdegup. Kak Axel.

Jasmine langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan ponselnya ke telinga. "Halo, Kak Axel?"

"Kamu terpeleset tadi pagi? Di mana? Ada yang luka enggak?" Suara Axel di seberang telepon terdengar sangat buru-buru, memotong kalimat Jasmine dengan nada protektif yang sangat kental. Sifat dingin cowok itu langsung menguap kalau menyangkut keselamatan Jasmine.

"Aku gak apa-apa, Kak Axel. Cuma terpeleset sedikit di rumput karena licin, tapi enggak sampai jatuh kok," jelas Jasmine buru-buru agar kaptennya itu tidak panik berlebihan. "Tadi... ada pemilik kafe itu yang nolongin aku."

Sejenak, suasana di seberang telepon menjadi hening. Jasmine bisa mendengar suara embusan napas berat dari Axel.

"Pemilik kafe? Laki-laki?" tanya Axel dengan nada suara yang mendadak kembali dingin dan datar, ciri khasnya.

"Iya, Kak. Namanya Kak Liam. Orangnya agak aneh, tapi dia baik kok. Tadi aku dikasih minuman hangat gratis di kafenya," jawab Jasmine jujur tanpa curiga sedikit pun.

"Lain kali kalau mau keluar rumah, tunggu aku saja, Jasmine. Aku bisa ke rumah kamu atau kita jalan bareng lewat panggilan suara. Jangan pergi sendirian ke tempat orang asing yang belum kamu kenal dengan jelas," kata Axel, nadanya terdengar sangat posesif namun tetap penuh kehati-hatian agar tidak menakuti Jasmine. "Ingat, bulan depan kita harus ke London. Fokus kamu harus tetap pada latihan tim. Jangan sampai fokus kamu terganggu oleh hal-hal tidak penting di sekitar rumah kamu."

Jasmine tertegun mendengar kalimat panjang dari Axel. Dia tahu betul bahwa Axel sangat menyayanginya, bahkan sudah seperti pelindung utamanya sejak dia keluar dari panti asuhan dan masuk ke dunia game profesional. Namun kadang, perhatian Axel yang terlalu ketat membuat Jasmine merasa sedikit sesak, meskipun dia tahu Axel melakukan itu semua demi kebaikannya sendiri.

"Iya, Kak Axel. Aku tahu. Aku gak akan ganggu jadwal latihan tim kita kok," balas Jasmine pelan.

"Ya sudah. Nanti malam jam delapan kita mulai latihan lagi dengan tim lain. Kamu istirahat lagi sekarang. Jangan lupa makan siang," ucap Axel sebelum akhirnya menutup panggilan telepon tersebut.

Jasmine menurunkan ponselnya dari telinga, menatap layar kaca yang kembali gelap. Dia menghela napas panjang, memeluk lututnya di atas kasur. Perhatian Kak Axel sangat menenangkan, tapi entah kenapa, setelah bertemu dengan Kak Liam tadi pagi, ada sebuah sisi di dalam hati Jasmine yang mendadak menginginkan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak melulu bicara tentang target kompetisi, latihan, dan masa depan game yang melelahkan. Jasmine bangkit dari kasurnya, berjalan ke arah jendela, dan melirik ke arah luar. Di seberang jalan, lampu-lampu gantung di dalam kafe bunga milik Liam sudah mulai dinyalakan, memancarkan cahaya kuning keemasan yang hangat ke permukaan danau. Dari kejauhan, Jasmine bisa melihat siluet tubuh tinggi Liam yang sedang menyiram tanaman bunga di area depan halaman.

"Kak Liam... sebenarnya siapa sih?" gumam Jasmine dengan dahi berkerut, merasa sangat sebal karena cowok itu berhasil mengusik kedamaian pikirannya yang biasanya hanya dipenuhi oleh taktik game PC.

Jasmine menghela napas panjang, lalu memutuskan untuk beranjak dari posisi berdirinya di dekat jendela. Dia berjalan lunglai menuju tempat tidur, menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk yang berantakan, lalu menatap langit-langit kamar yang tinggi. Pikirannya benar-benar kacau. Sebagai seorang pro player, fokus adalah segalanya. Biasanya, satu-satunya hal yang bisa membuat otaknya berputar keras hanyalah strategi line up karakter, rotasi map, atau cara mengcounter taktik tim musuh. Tapi hari ini, pertahanannya bobol hanya karena seorang pemilik kafe bunga berumur 30 tahun yang hobi memelihara bebek rusuh. Rasa kesal itu makin bertambah karena setiap kali Jasmine mencoba melupakan senyuman jahil Kak Liam, ingatan masa kecilnya yang samar justru ikut terangkat ke permukaan. Ada sebuah memori yang sangat terkunci di sudut kepalanya, memori tentang sebuah panti asuhan yang riuh, bau tanah basah setelah hujan, dan sosok anak laki-laki remaja yang selalu berdiri di sudut halaman panti, memperhatikannya dengan tatapan peka yang sama persis seperti yang dimiliki oleh Kak Liam.

"Ah, gak mungkin. Aku pasti cuma terlalu lelah sampai mikir yang enggak-enggak," batin Jasmine, mencoba menepis dejavu itu. Dia memejamkan matanya rapat-rapat, memaksa tubuhnya untuk segera beristirahat karena malam nanti dia harus menghadapi jadwal latihan yang super padat bersama anak-anak timnya.

---

Ting! Ting!

Ponsel di samping bantalnya kembali bergetar beruntun, menandakan bahwa obrolan di grup chat masih jauh dari kata selesai. Jasmine meraih benda pipih itu dengan malas, membuka layar kuncinya, dan mendapati rentetan pesan baru dari Kak Bryan yang tampaknya masih sangat bersemangat membahas topik yang sama.

Kak Bryan : Eh tapi beneran deh, Jasmine. Aku denger-denger dari grup sebelah, pemilik kafenya itu ramah banget sama cewek. Tadi sore aja emak-emak komplek pada ngumpul di depan tamannya cuma buat minta foto. Saingan Kak Axel fix bersertifikat internasional ini mah! Haha!

Kak Ilias : Bryan, udahlah. Jangan kompor terus. Nanti kalau Axel baca chat lo, lo yang kena amuk pas latihan malam nanti. Mending lo push rank akun cadangan lo sana, tier lo masih merosot tuh.

Kak Kenzie : Bener kata Ilias, Bry. Jangan ganggu Jasmine terus. Jasmine kan emang dasarnya anak rumahan, wajar kalau dia mau tahu lingkungan sekitar rumahnya. Jasmine kapan-kapan kalau kita kumpul tim, kita main ke sana yah.

Jasmine : Iya, Kak Kenzie. Kak Liam orangnya memang agak kasual, tapi enggak seperti yang Kak Bryan bilang kok.

Jasmine tersenyum tipis setelah mengirimkan pesan balasan tersebut. Memiliki orang-orang seperti Kak Ilias yang penyabar dan Kak Kenzie yang selalu bertindak sebagai gentleman di dalam tim benar-benar membuat Jasmine merasa beruntung. Mereka sudah seperti abang kandung yang selalu melindunginya sejak dia memutuskan untuk keluar dari panti asuhan di usia 15 tahun dan pontang-panting kerja part time demi bisa bertahan hidup. Jasmine meletakkan kembali ponselnya, lalu menarik selimut tebal sampai sebatas dada. Matanya perlahan terasa berat seiring dengan rasa hangat yang menjalar di hatinya. Paling tidak, meski rumah asri di tepi danau ini terasa sangat sepi, dia tahu dia memiliki tim yang sudah seperti keluarga untuknya. Jasmine pun akhirnya terlelap, membiarkan tubuhnya mengisi energi kembali, bersiap untuk menghadapi latihan taktis intensif yang sudah menunggunya nanti malam.

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!