Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.
Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.
Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.
Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.
Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Lantai Dansa
“Beraninya kau menjual barang yang bukan milikmu! Dasar tidak tahu malu!”
Yvone naik pitam, hendak mendekati Alexa dan memberi pelajaran, tetapi Arsen menahannya.
“Tunggu, Rose. Apa yang akan kau lakukan?” Arsen mencekal pergelangan tangan Yvone.
“Lepaskan. Aku akan memberi pelajaran pada adikmu ini, Arsen!” Yvone tidak bisa menahan diri lagi. Kalung itu memang bukan asli miliknya, tetapi milik pemilik asli tubuh ini. Tetapi, sebagai orang yang jiwanya menyatu dengan tubuh ini, Yvone tidak terima.
“Sejak kapan, Rose? Sejak kapan kau jadi seperti ini?” cecar Arsen.
Rose menghempaskan tangan Arsen dengan sangat keras. “Aku sudah muak terus dihina oleh keluargamu. Mereka ingin kau menikah dengan Renata. Sementara kau masih suamiku. Lalu apa yang kau perbuat? Kau justru seolah memberi kejelasan tentang hubunganmu dengannya!”
“Masalah ini tidak ada hubungannya dengan Renata!”
“Memang, tapi aku sengaja membahasnya. Karena aku sudah muak pada kalian semua!” Yvone menatap Brighita dan juga Alexa. “Dengar, kalian akan menyesal melakukan semua ini!” ancam Yvone. Lalu ia kembali menatap suaminya.
“Dan kau…ini akan menjadi percakapan terakhir kita.”
Setelah berhasil membuat semua orang terdiam, Yvone menyeret langkahnya meninggal taman. Hatinya meradang. Amarahnya meletup-letup. Ia butuh pelampiasan.
Di saat seperti ini biasanya ia akan pergi ke arena tembak. Menghamburkan peluru dan menghancurkan papan sasaran. Atau pergi ke arena tinju, menghajar siapa saja yang menjadi lawannya.
Sementara Arsen masih membeku di tempat. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Untuk pertama kalinya, Rose berani membantahnya, tidak hanya itu, wanita itu bahkan berani mengancam.
‘Rose, ada apa sebenarnya denganmu?’ batin Arsen.
“Arsen, ini semua pasti karena pelayannya itu yang meracuni pikiran Rose,” bisik Brighita sambil mendekati putranya itu.
Arsen berbalik, menatap ibunya dengan tatapan dingin.
“Ma, kumohon. Jangan buat masalah lagi dengan Rose, karena jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak bisa melindungimu lagi.”
Arsen mengalihkan pandangannya pada Alexa. “Dan kau, katakan di mana kau menjual kalung itu. Aku tidak tahu kenapa kau bisa selancang ini! Selama ini aku memberikan semua yang kau inginkan, tapi kau masih saja menyentuh barang orang lain. Aku tunggu sampai 24 jam, jika kau tidak datang, aku akan mencabut semua fasilitas yang kuberikan padamu.”
Setelah mengatakan itu, Arsen membawa langkahnya pergi meninggalkan ibu dan adiknya.
Alexa yang merasa kesal karena baru saja ditegur oleh Arsen, segera mendekati ibunya.
“Ini semua gara-gara si gendut!”
Yvone tiba di kamarnya, napasnya memburu cepat lantaran amarah yang tak tersalurkan. Harusnya ia tadi memukul atau menendang dua manusia itu. Sayangnya ada Arsen yang menghalangi.
Sui yang sejak tadi mengekor di belakang Yvone, kini berdiri tak jauh dari Yvone. Tatapannya tampak sedih, menghujani punggung Yvone. Ia tahu keinginan kuat Yvone untuk merubah diri, dan butuh biaya untuk itu.
Tetapi, semua keinginan kuat itu, dipatahkan begitu saja oleh Brighita dan Alexa. Parahnya lagi, kalung pemberian orang tuanya, dijual oleh Alexa.
‘Benar-benar manusia jahat!’ batin Sui.
Melihat Yvone yang hanya diam, Sui berinisiatif untuk mendekat.
“Nyonya, bagaimana ini?”
“Tinggalkan aku sendiri, Sui!” Untuk saat ini Yvone butuh waktu sendiri untuk berpikir. Bagaimana lagi ia mendapatkan uang. Orang tuanya memang akan membantu, tetapi tetap saja tidak cukup.
Suara pintu ditutup dengan pelan terdengar. Itu artinya Sui sudah meninggalkan ruangan. Yvone menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kasur. Mengambil napas berkali-kali lalu membuangnya.
Hal tersebut ia lakukan untuk menetralisir amarah yang merongrong dada. Akan tetapi, jika mengingat wajah Brighita dan Alexa, kemarahan itu kembali muncul.
“Dasar manusia serakah! Aku pasti akan memberi pelajaran pada kalian nanti!”
Saat ini, bukan saatnya memikirkan hal itu, tetapi bagaimana cara mendapatkan banyak uang. Meminta pada Arsen akan percuma saja. Pria itu pasti tidak akan memberikannya begitu saja.
“Apa aku harus pulang ke rumah dan mengambil hartaku?” Entah kenapa Yvone justru berpikir ke arah sana. Itu karena Yvone menemukan jalan buntu.
Harta yang dimiliki Yvone sangat banyak. Tidak hanya cukup untuk melakukan operasi plastik, tetapiuntuk membeli rumah sakitnya. Ia juga bisa meminta kepada kedua orang tua kandungnya.
Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah, bgaimana caranya ia mengambilnya? Sementara dirinya bukan lagi Yvone Faranes, melainkan Rose Reinhart. Si wanita gendut yang lemah dan tidak berguna.
“Ah…sial!” Rose mengumpat keras. Ia benar-benar tidak menemukan jalan keluar. “Sebaiknya aku berendam saja.” Merendam tubuh dengan air dingin akan membuat Yvone menjadi lebih rileks.
Soal mendapatkan uang, Yvone akan memikirkannya nanti.
Waktu berjalan cepat. Siang berganti malam. Selesai berendam, Yvone segera berpakaian rapi. Lalu kembali memanggil Sui.
“Nyonya memanggil saya?” Sui tampak sedikit tenang karena melihat Yvone yang terlihat segar.
“Ya, kau bersiaplah. Temani aku keluar!”
“Malam-malam begini, Nyonya?” Sui merasa heran karena biasanya, di jam ini, Rose sudah pergi tidur.
“Ini masih pukul 9!” Di dunianya, Yvone bahkan terbiasa bersenang-senang hingga pagi.
“Tapi ini sudah malam.”
“Kau ini cerewet sekali. Kalau tidak mau ikut ya sudah aku pergi sendiri.”
Yvone meraih tas tangan lalu melangkah meninggalkan Sui.
“Nyonya, tunggu saya ikut!”
Sementara itu, Arsen memilih untuk menenangkan diri di luar. Datang ke klub malam dengan fasilitas VIP menjadi cara Arsen untuk melampiaskan semua kekesalannya yang ia pendam.
Musik mengalun keras. Dengan lampu kelap kelip yang bergerak mengikuti alunan musik.
Arsen duduk seorang diri di ruang atas balkon dengan ditemani oleh seorang bartender. Pria dengan kemeja putih meracik minuman, lalu menuangkannya di gelas Arsen.
Satu gelas ditenggaknya hingga habis tak bersisa. Ketika gelas telah kosong, bartender kembali mengisi gelas tersebut hingga penuh. Hebatnya, Arsen memiliki pengendalian diri yang bagus terhadap alkohol, jadi ia tidak akan mabuk.
“Wow…lihatlah siapa yang datang?” Seorang pria tinggi menjulang memasuki ruangan.
Arsen hanya meliriknya sekilas kemudian kembali fokus pada minumannya.
Pria itu adalah orang penting di klub malam ini. Tetapi, kehadirannya menjadi tidak penting di hadapan Arsen.
“Biar kutebak, kau datang kemari pasti karena ada masalah ‘kan? Katakan dengan siapa? Dengan istri gemoymu atau dengan si sekretaris seksi? Atau jangan-jangan istrimu sudah tahu hubunganmu dengan si sekretaris itu?” tebak Nicolas.
“Tutup mulutmu atau aku akan membuat klub malammu ini tutup?”
“Aku hanya bercanda, kawan!”
Nicolas tidak lagi berbicara karena memahami suasana hati Arsen sedang buruk. Dan Nicholas sebagai teman hanya bisa menemaninya minum. Lalu mengantarnya pulang saat mabuk.
“Nic,” panggil Arsen tiba-tiba.
Pria itu segera menoleh. “Hmm…”
“Apa menurutmu, seseorang bisa berubah dalam waktu singkat?” tanya Arsen dengan tatapan sayu.
Mendengar itu, Nicolas mengerutkan kening. Kemudian mengulas senyum tipis.
“Maksudmu, wanita yang di bawah sana?”
Arsen segera mengikuti arah pandangan Nicolas dan melihat sosok yang ia kenal, menari di lantai dansa.
“Rose?”