Aurora sudah terlihat cantik dengan riasan wajah natural flowles dan glowing. ia mengenakan gaun pengantin impiannya rancangan sahabatnya sendiri Vera.
Di sudut ruangan rias Maxime yang tak lain sahabat Aurora berdiri mengamati kecantikannya dengan takjub.
Tiba-tiba sebuah kabar buruk datang jika pengantin pria yaitu Andre tidak datang melainkan pergi tanpa kabar sejak semalam. kepanikan seketika melanda terutama Aurora sampa jatuh pingsan dan harus di tenangkan oleh teman dan keluarganya. hingga waktu yang di tentukan Andre tak juga datang. demi menyelamatkan nama keluarga besar akhirnya Maxime bersedia menikahi Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nur danovar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8 Ada Yang Menonjol
Aurora menggeliat menggerakkan tubuhnya yang serasa terkunci. dengan susah payah ia menggerakkan badannya, Aurora membuka matanya ia meraba lengan kekar Maxime melingkar di pinggangnya. pantas saja serasa berat sekali.
"Max lepas!" Aurora tentu sadar jika bangun pagi kali ini ia ada di samping Maxime. ia masih ingat kejadian mati lampu semalam yang membuatnya takut tidur sendirian.
Saat menggerakkan pinggulnya Aurora tersentak ada sesuatu yang terasa menyentuh bagian belakang asetnya. Aurora terkesiap, wajahnya memerah tentu ia tahu benda apa yang menyentuh asetnya. ia wanita dewasa dua puluh tujuh tahun sudah mengerti seluk beluk soal biologi yang membahas aktivitas pria di pagi hari.
"Max!!!" teriak Aurora mengejutkan Maxime hingga memaksa Max terbangun membuka mata lebar-lebar.
"Ada apa?!"
"Ih ada apa?!" Aurora memukul lengan Maxime sembari menunjuk sesuatu.
Maxime yang pandangannya mengikuti arah jemari Aurora langsung terkejut dan menarik selimut menutup sebagian tubuhnya. ada sesuatu yang menonjol di balik celana pendeknya.
"Mau bagaimana lagi aku pria sehat dan normal! kalau pagi si Joni pasti bangun" ucap Max sembari kembali berbaring membelakangi Aurora karena malu.
Aurora menggelengkan kepala ia langsung turun dari ranjang dan beranjak pergi ke kamarnya sendiri.
Pagi ini Aurora sudah aktif lagi bekerja di kantor papanya. karena itu ia harus bergegas sebelum jalanan ibu kota macet parah dan membuatnya terlambat ngantor.
selesai bersiap Aurora segera turun ke lantai utama menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Maxime. meski hanya roti panggang tapi lumayan untuk mengganjal lambung di pagi hari.
"Pagi" Max menyapa Aurora mengusap lembut kepala Aurora yang sedang duduk menikmati sarapan.
"Pagi, makanlah cepat" kata Aurora sembari menyodorkan kopi hitam pada Maxime.
"Makasih tuan putri" kata Maxime tersenyum lega karena Aurora sudah kembali seperti semula. setidak nya itu yang terlihat dari luar, jika di hati Aurora masih sedih itu wajar, Maxime akan menghiburnya perlahan-lahan hingga kesedihan Aurora benar-benar menghilang.
Maxime membuka harian online di ponselnya sembari menyesap kopi buatan Aurora. ia membaca sekilas berita tentang Andre yang masih buron. Max melirik Rora yang sepertinya belum membaca berita soal mantan kekasihnya itu.
Ponsel Max berbunyi ada panggilan telepon dari Wisnu.
"Ada apa?"
"Bos ada polisi mencari ke perusahaan mereka ingin tahu informasi soal Andre. karena bos pernah ada kerja sama bisnis dengan Andre jadi polisi pikir bos bisa memberi sedikit keterangan"
Lagi-lagi Maxime menatap Aurora yang kali ini sedang sibuk merapikan rambutnya.
"Suruh tunggu sampai saya datang, ini saya mau berangkat ke kantor".
Kalau polisi meminta keterangan dariku soal Andre bisa saja mereka juga akan meminta keterangan dari Aurora. jangan sampai Rora panik dan stress gara-gara Andre.
"Aku berangkat ya, kau mau diantar sopir?" tanya Max sambil memandang Aurora yang masih belum beranjak dari duduknya.
"Iya aku mau di jemput sopir papa, kau hati-hati ya" kata Rora.
Maxime tersenyum mengangguk ia lantas pergi dengan mobilnya menuju kantor karena polisi sudah menunggu.
Setibanya di kantor Max di sambut oleh dua orang polisi yang tidak mengenakan baju seragam atau pakaian dinas. mereka ingin meminta sedikit keterangan soal Andre.
Setelah selesai memberi keterangan Max bertanya pada para polisi itu. apakah mereka akan menanyai Aurora juga soal Andre atau tidak.
"Yah tentu setelah ini kami akan meminta keterangan bu Aurora karena sesuai informasi beliau adalah calon istri dari saudara Andre" kata salah satu polisi.
"Begini pak, saya adalah suami dari Aurora jadi bisakah saya menemaninya saat bapak bertanya pada istri saya soal Andre?"
"Tentu saja pak Maxime bisa menemani istri bapak, untuk waktunya nanti kami akan koordinasi lagi"
"Oke fine, terimakasih pak" Maxime menjabat tangan polisi sebelum mereka meninggalkan ruang kerja Maxime.