NovelToon NovelToon
SENIOR,I LOVE YOU!

SENIOR,I LOVE YOU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:278
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.

Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.

Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.

Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Santai yang kelewat santai

Keesokan paginya, suasana kantor Pemasaran sudah mulai sibuk sejak pukul setengah delapan. Arini melangkah masuk ke ruangannya dengan segelas americano hangat di tangan kanan dan berkas di tangan kiri.

Langkah kakinya tetap terdengar tegas, meskipun kantung mata tipis di balik riasan wajahnya tidak bisa berbohong kalau dia menghabiskan sisa malamnya dengan memikirkan ulang proposal Rian.

Begitu melewati kubikel staf, mata Arini langsung tertuju pada meja Rian. Cowok itu sudah duduk di sana. Penampilannya sangat segar dengan kemeja oversized rapi, rambut yang tertata semi-kasual, dan—tentu saja—segelas es kopi susu baru yang sudah nangkring di sudut mejanya. Sama sekali tidak ada guratan lelah atau sisa begadang di wajahnya.

Teng! Tepat jam delapan pagi, pintu ruangan Arini diketuk.

"Masuk," ujar Arini ketat.

Rian melangkah masuk dengan senyum ramah yang menjadi ciri khasnya. "Pagi, Bu Arini. Sesuai janji, draft-nya sudah saya kirim semalam, ya. Apa ada bagian yang perlu saya revisi atau cetak sebelum kita rapat dengan Pak Hendra?"

Arini sengaja tidak langsung menjawab. Dia menyesap americano-nya perlahan, mencoba membangun aura intimidasi khas atasan, lalu menatap Rian lurus-lurus.

"Saya sudah baca e-mail kamu semalam, Rian," buka Arini, nadanya datar dan profesional. "Secara visual dan ide dasar, konsep Skincare Jujur kamu memang cukup menarik untuk pasar anak muda. Tapi, sebagai Kepala Staf, saya punya banyak catatan."

Arini memutar layar iPad-nya ke arah Rian, menampilkan draf proposal milik Rian yang sudah dipenuhi coretan merah digital oleh Arini.

"Kamu membuat konsep komedi satir tentang realitas pekerja Jakarta tahun 2026. Tapi, apa kamu sudah memikirkan risikonya? Sudut pandang ini terlalu berisiko kalau menyinggung pihak tertentu. Lalu, bagaimana kamu bisa menjamin metrik konversi penjualannya tetap tinggi kalau audiensnya terlalu fokus pada komedinya, bukan pada kandungan alami produk kita?" tanya Arini bertubi-tubi, sengaja mencecar dengan pertanyaan-pertanyaan berat untuk menguji mental Rian.

Arini bersendekep, menunggu reaksi Rian. Dia berharap cowok Gen Z ini akan mulai gugup, terbata-bata, atau minimal garuk-garuk kepala karena bingung mempertahankan idenya di depan sang Kepala Staf.

Namun, Rian justru mendengarkan dengan saksama tanpa memotong. Begitu Arini selesai bicara, Rian tersenyum tipis—bukan senyum meremehkan, melainkan senyum percaya diri yang matang

.

"Pertanyaan bagus, Bu Arini. Justru itu intinya," jawab Rian tenang, nadanya tetap santai tapi isinya sangat berbobot. "Anak muda sekarang sensitif sama iklan konvensional. Begitu mereka tahu itu iklan, mereka langsung scroll lewat. Tapi dengan komedi satir yang relatable, kita membangun trust dulu di awal video. Di detik ke-15, saat mereka merasa 'wah, ini gue banget', di situlah kita masukin produk kita sebagai solusi instan dari masalah mereka."

Rian memajukan sedikit posisinya, menunjuk salah satu bagan di iPad Arini. "Untuk masalah konversi, di halaman tiga saya sudah masukin skema affiliate dan tautan langsung ke keranjang kuning di Shopee Video dan TikTok Shop yang terintegrasi dengan filter interaktif. Jadi, audiens gak cuma nonton, tapi terdorong buat langsung beli hari itu juga demi dapet promo gratis ongkir Jakarta."

Arini terdiam. Penjelasan Rian begitu runtut, taktis, dan sama sekali tidak menyisakan celah untuk didebat. Semua argumen yang Arini siapkan untuk menjatuhkan mental Rian justru dijawab dengan solusi yang sangat masuk akal bagi industri digital tahun 2026.

"Bu Arini, Rian, Pak Hendra sudah menunggu di ruang rapat utama. Lima menit lagi dimulai ya," Citra tiba-tiba menyembulkan kepalanya di pintu, memecah keheningan yang sempat tercipta di antara mereka berdua.

Arini langsung merapikan iPad-nya, berusaha menyembunyikan rasa gengsinya yang kembali tergoncang. Dia berdiri dari kursinya.

"Oke, penjelasan kamu cukup masuk akal," kata Arini sambil berjalan menuju pintu. "Tapi ingat, mempertahankan ide di depan saya itu mudah. Sebentar lagi kita akan presentasi langsung di depan Pak Gunawan dan jajaran manajemen. Siapkan mental kamu, Rian. Di sana realitas korporat yang sebenarnya baru dimulai."

Rian ikut berdiri, merapikan iPad mini-nya, lalu berjalan di belakang Arini dengan langkah yang tetap santai tanpa beban. "Siap, Bu Arini. Mohon bimbingannya nanti di dalam."

Arini hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Alih-alih membuat Rian frustasi, Arini justru sadar bahwa dia baru saja membawa seekor "kuda hitam" yang siap mengguncang ruang rapat utama pagi ini.

Ruang rapat utama sudah terisi penuh saat Arini dan Rian melangkah masuk. Suhu pendingin ruangan yang disetel maksimal terasa menusuk kulit, menambah atmosfer tegang yang sudah menjadi ciri khas ruang manajemen. Pak Gunawan duduk di kursi utama, sementara beberapa kepala divisi lain tampak sibuk membolak-balik berkas fisik atau menatap layar laptop masing-masing.

"Silakan duduk, Arini, Rian," sambut Pak Gunawan, nadanya terdengar tak sabar namun penuh harap. "Kita langsung saja. Arini, bagaimana draf kampanye digital terbaru yang saya minta kemarin?"

Arini maju ke depan meja, mengoneksikan iPad miliknya ke layar proyektor besar di dinding. Sebagai Kepala Staf, dia mengambil alih kendali di awal.

"Pagi ini kami membawa konsep baru yang cukup eksperimental, Pak," buka Arini dengan suara lantang dan penuh percaya diri. "Melihat pergeseran pasar Jakarta di tahun 2026 ini, tim pemasaran merancang sebuah kampanye bertajuk 'Skincare Jujur'. Fokus utamanya adalah menarik pasar Milenial akhir dan Gen Z lewat pendekatan yang lebih organik."

Arini kemudian melirik Rian, memberi kode dengan anggukan kepala. "Detail teknis dan visualnya akan dipaparkan langsung oleh Rian, staf baru kita yang menyusun draf dasarnya."

Semua mata di ruangan itu seketika beralih kepada Rian. Arini menepi, bersendekep di sudut ruangan, memperhatikan setiap detail ekspresi Rian. Dalam hati, Arini membatin, 'Ayo, kita lihat apa lo bisa se-santai semalam di bawah tatapan tajam para petinggi kantor.'

Rian berdiri dengan tenang, tanpa ada gestur gugup sedikit pun. Dia memegang remot kontrol proyektor, lalu mengklik halaman pertama. Tampilan visual mind-mapping yang estetik dan penuh warna langsung mendominasi ruangan yang tadinya kaku itu.

"Selamat pagi semuanya," sapa Rian santai, tapi suaranya terdengar renyah dan jelas. "Singkat saja, kenapa 'Skincare Jujur'? Karena audiens sekarang sudah lelah dengan janji-janji instan iklan konvensional. Konsep ini adalah komedi satir yang mengangkat realitas kehidupan pekerja urban di Jakarta tahun 2026. Mulai dari pusingnya terjebak macet, tekanan target, hingga polusi udara yang bikin kulit kusam."

Rian memutar sebuah contoh draf video pendek berdurasi 30 detik yang sudah dia sunting semalam. Video itu menampilkan visual yang sangat dinamis, padat, dengan transisi cepat khas konten masa kini, namun tetap menonjolkan produk skincare alami mereka di akhir sebagai solusi praktis di tengah kesibukan.

Begitu video selesai diputar, keheningan sempat melanda ruangan selama beberapa detik.

"Menarik," celetuk Kepala Divisi Keuangan tiba-tiba memecah keheningan. "Videonya seru dan pasti disukai anak muda. Tapi sebagai orang keuangan, saya mau tanya yang realistis saja. Bagaimana konten komedi seperti ini bisa menjamin konversi langsung ke penjualan atau GMV kita bulan ini?"

Arini langsung menajamkan pandangannya. Ini adalah jenis pertanyaan jebakan yang biasa meruntuhkan mental anak baru. Dia bersiap untuk menembakkan argumen tambahan jika Rian mulai gelagapan.

Namun, dugaan Arini meleset lagi. Rian justru tersenyum tipis, tampak sudah sangat siap.

"Terima kasih atas pertanyaannya, Pak," jawab Rian lugas. Dia mengklik halaman berikutnya yang menampilkan bagan skema alur digital. "Kita tidak hanya mengandalkan satu video viral. Strategi ini terintegrasi langsung dengan program affiliate berskala besar. Kita akan membagikan tautan produk khusus di Shopee Video dan TikTok Shop, lengkap dengan filter interaktif yang bisa dicoba langsung oleh audiens. Begitu video ini masuk fyp (for your page), keranjang belanja sudah siap menampung pesanan dengan promo gratis ongkir."

Rian menjabarkan target angka, jam-jam optimal pengunggahan video berdasarkan algoritma terbaru 2026, hingga estimasi lonjakan penjualan dengan sangat detail dan percaya diri.

Pak Hendra yang sejak tadi menyimak tanpa suara, perlahan-lahan mulai mengangguk-angguk. Senyum kepuasan tercetak jelas di wajah sang manajer.

"Luar biasa," ujar Pak Hendra sambil bertepuk tangan pelan, yang langsung diikuti oleh anggota rapat lainnya. "Ini baru strategi yang segar! Benar-benar memanfaatkan insting anak muda tanpa kehilangan arah bisnisnya. Saya setuju dengan konsep ini."

Pak Hendra lalu menatap Arini. "Arini, eksekusi kampanye ini secepatnya. Dan saya mau, kamu mengawasi langsung Rian sebagai penanggung jawab utama proyek ini. Saya pasang target tinggi untuk produk kita bulan ini."

Arini mematung sesaat, sebelum akhirnya memasang senyum profesional terbaiknya. "Baik, Pak. Segera kami eksekusi."

Rapat pun ditutup dengan atmosfer yang jauh lebih cair. Begitu keluar dari ruang rapat, beberapa staf pemasaran lain langsung menghampiri Rian dan memberi selamat atas presentasinya yang memukau.

Arini berjalan di belakang mereka, menatap punggung Rian yang sedang asyik menanggapi pujian teman-temannya dengan gaya yang tetap... santai.

Niat awal Arini untuk memberi pelajaran dan membuat Rian kelelahan justru berbalik menjadi bumerang. Kini, dia tidak hanya harus menghadapi pembawaan Rian yang kelewat relaks, tapi dia juga harus bekerja sama sangat dekat dengan cowok Gen Z itu demi memenuhi target besar dari manajer.

Arini menghela napas panjang, merapikan letak iPad di pelukannya. 'Oke, Rian. Lo emang punya bakat. Tapi kerja sama dengan gue nggak bakal sesantai yang lo bayangin,' batin Arini, menyiapkan mental untuk babak baru di kantor mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!