JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Angin malam yang berembus bebas dari jendela lantai dua menyapu wajah Haura, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang masih agak lembap. Di bawah sana, dalam remang bayangan lampu taman mansion, Marco berdiri tegak tanpa bergeming. Ponselnya masih menempel di telinga, menatap ke arah Haura dengan sorot mata yang begitu intens, mengunci seluruh atensi wanita itu.
"Pulang, Marco. Ngapain kamu di situ... Ini udah malem!" bisik Haura tertahan ke dalam ponselnya. Suaranya serak, bergetar hebat karena sisa tangis yang belum sepenuhnya reda, berkejaran dengan rasa panik yang tiba-tiba menyergap.
Di seberang telepon, Marco mengembuskan napas panjang. Suara helaan napasnya terdengar begitu nyata di telinga Haura. "Gue nggak bakal pulang sebelum lo tenang, Haura. Gue di sini."
"Nggak, kamu pulang, Marco! Tolong jangan bikin masalah baru lagi malam ini. Kalau Papa atau Kak Elang lihat kamu di sini, urusannya bisa panjang!" Haura mencengkeram kusen jendela kayu kamarnya dengan erat. Tubuhnya masih bergetar hebat—kombinasi antara dinginnya angin malam, sisa emosi setelah bentrokan dengan ayahnya, dan fakta bahwa berondong berusia dua puluh tahun ini bener-bener senekat itu kembali ke mansionnya hanya dalam waktu singkat.
"Gue nggak peduli sama bokap lo atau kakak lo," sahut Marco, suaranya terdengar sangat berat, dingin, dan penuh penekanan dari bawah sana. "Gue cuma peduli sama lo yang lagi nangis di atas sana gara-gara gue. Turun, Haura. Atau gue yang naik lewat pipa saluran air di samping balkon lo sekarang juga. Lo tahu gue nggak pernah main-main sama ucapan gue."
"Marco, kamu gila ya—"
Klik. Marco memutus sambungan telepon secara sepihak. Haura membelalakkan matanya saat melihat pemuda di bawah sana benar-benar memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket bomber, lalu melangkah mendekati pilar beton yang tersambung langsung dengan balkon kamarnya.
"Marco! Jangan!" panggil Haura dengan kepanikan yang sudah mencapai ubun-ubun. Namun, ia tidak berani berteriak kencang karena takut memicu perhatian penjaga malam atau ayahnya di dalam rumah.
Melihat Marco yang sudah mulai menumpu kakinya di atas pembatas taman, bersiap untuk memanjat, Haura akhirnya menyerah kalah. "Oke! Oke, stop! Jangan manjat! Aku turun sekarang!" bisik Haura setengah frustrasi.
Haura segera menutup kembali daun jendelanya, membiarkan tirainya bergoyang. Dengan tergesa-gesa, ia menyambar sebuah kardigan rajut panjang berwarna abu-abu untuk menutupi gaun tidur satinnya, lalu melangkah keluar kamar dengan sangat hati-hati. Ia menuruni anak tangga lantai bawah dengan gerakan seringan kucing, melewati ruang tengah yang beruntung sudah kosong karena Anggara tampaknya sudah masuk ke dalam kamar utamanya.
Haura membuka pintu samping dekat dapur—pintu yang sama yang ia gunakan bersama Marco semalam—dan menyelinap keluar ke dalam kegelapan taman samping mansion.
Begitu kakinya melangkah di atas rumput taman yang basah oleh embun, sosok tinggi Marco langsung muncul dari balik bayangan pohon palem, memotong jalur jalannya. Sebelum Haura sempat mengeluarkan satu kata pun untuk mengomel, Marco sudah mengambil langkah lebar, mengikis jarak di antara mereka dalam sekedipan mata.
"Marco, kamu bener-bener—"
Grep.
Kata-kata Haura tersangkut di tenggorokan ketika kedua tangan kekar Marco langsung melingkar protektif di sekeliling pundak dan punggungnya. Tanpa aba-aba, Marco menarik tubuh ramping Haura masuk ke dalam dekapan dadanya yang bidang dan hangat. Jaket bomber hitamnya yang agak dingin karena angin malam justru terasa seperti benteng kokoh yang langsung mengisolasi Haura dari seluruh dunia luar.
"Diem dulu, Haura. Bentar aja," bisik Marco, suaranya terdengar begitu dalam di dekat telinga Haura. Tangan besarnya bergerak naik, mengusap bagian belakang kepala Haura yang rambutnya masih menyebarkan aroma sampo herbal yang menenangkan.
Haura sempat menegang, tangannya yang berada di antara dada mereka mencoba mendorong bahu Marco. "Lepas, Marco... Kamu ngapain sih..."
"Gue bilang diem, Tante Sayang," gumam Marco lagi, justru mempererat dekapannya hingga tidak ada celah tersisa di antara tubuh mereka. "Gue tahu tubuh lo masih gemeteran kayak gini. Gak usah sok kuat di depan gue. Keluarin aja semuanya sekarang, di sini nggak ada bokap lo yang bakal ngehakimi lo."
Pertahanan diri Haura yang ia jaga mati-matian sejak berada di ruang tamu tadi seketika runtuh total mendengar kalimat lembut namun protektif dari Marco. Kehangatan tubuh pemuda itu, detak jantungnya yang berdegup konstan dan menenangkan, serta aroma parfum maskulinnya yang familier bener-bener menjadi pemicu yang meruntuhkan tanggul air matanya yang sempat mengering.
Isak tangis Haura kembali pecah, terdengar begitu lirih dan menyakitkan di dalam dada Marco. Haura akhirnya berhenti merontak. Kedua tangannya perlahan naik, mencengkeram erat sisi jaket bomber Marco, menenggelamkan wajah sembabnya di ceruk leher pemuda itu. Ia menangis sejadi-jadinya, meluapkan seluruh rasa sakit hati, kelelahan, dan tekanan batin akibat tuntutan menjadi sempurna yang selama tiga puluh delapan tahun ini menghimpit hidupnya.
Marco tidak berbicara lagi. Ia membiarkan kaos hitam di bagian bahunya basah oleh air mata Haura. Tangan kanannya terus bergerak konstan, mengusap punggung Haura dengan gerakan lambat yang sangat menenangkan, sementara tangan kirinya mendekap pinggang ramping wanita itu dengan erat, seolah-olah sedang menyalurkan seluruh kekuatannya agar Haura tidak terjatuh.
Di bawah naungan kegelapan taman mansion Widjaja, waktu seolah berhenti berputar bagi mereka berdua. Bagi Haura, pelukan berondong yang usianya terpaut delapan belas tahun darinya ini mendadak terasa jauh lebih hangat dan lebih layak disebut "rumah" dibandingkan seluruh kemewahan bangunan mansion megah di belakang mereka.
Setelah beberapa menit yang dipenuhi oleh suara isak tangis yang perlahan mereda, Haura mulai menguasai dirinya kembali. Napasnya masih tersisa satu-satu, dadanya naik turun dengan cepat. Ia perlahan menjauhkan wajahnya dari leher Marco, namun tangan Marco tidak sepenuhnya melepaskan lingkaran di pinggangnya, hanya memberikan jarak agar mereka bisa saling menatap.
Marco menundukkan kepalanya, ibu jarinya bergerak lembut menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipi halus Haura. "Udah puas nangisnya, Ratu Jastip?" tanya Marco, suaranya kembali melembut, menyisakan nada jahil yang tipis namun sarat akan rasa sayang yang mendalam.
Haura memukul dada Marco dengan pelan menggunakan kepalan tangannya yang lemas. "Kamu... kamu bener-bener kurang ajar, Marco. Datang-datang langsung main peluk begini."
Marco terkekeh rendah, membiarkan dahinya maju sedikit untuk menyentuh kening Haura yang hangat. "Kalau gue nggak kurang ajar begini, lo bakal terus-terusan ngurung diri di kamar sambil mikir kalau lo itu wanita gagal, kan?" Pandangan mata cokelat gelap Marco mendadak berubah menjadi sangat serius, mengunci manik mata sayu Haura. "Dengerin gue, Haura Widjaja. Lo itu wanita paling hebat, paling mandiri, dan paling cantik yang pernah gue temui seumur hidup gue. Kalau bokap lo nggak bisa liat hal itu hanya karena lo belum nikah, berarti mata dia yang bermasalah, bukan lo."
Haura tertegun, menatap lekat garis wajah tegas pemuda berumur dua puluh tahun di depannya yang kini tampak begitu dewasa di matanya. "Tapi Marco... status kita, perbedaan umur kita, Papa aku..."
"Gue udah pernah bilang semalam, kan?" potong Marco, seulas senyum miring yang penuh keyakinan terukir di bibirnya. Ia merapikan anak rambut Haura yang berantakan di pelipisnya. "Lo tinggal duduk manis jadi Ratu lo yang anggun. Biar gue—bocah tengil yang lo panggil berandalan ini—yang bakal hancurin semua batasan sampah itu sampai bokap lo nggak punya pilihan lain selain ngelepasin lo buat gue."
***
Kok makin sepi ya. ceritaku hehe. Adakah pembaca fizzo novel? Aku rencana mau bikin cerita juga disana...
semangattt