Deskripsi
The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertempuran di Kabut Utara.
Angin bertiup semakin kencang dan dingin saat rombongan kapal yang membawa Hunter, Taylor, Elizabeth, dan rombongan mereka semakin menjauhi perairan hangat ibu kota. Lautan di wilayah utara ini memiliki karakter yang jauh berbeda; airnya berwarna biru tua hampir menghitam, ombaknya besar dan bergejolak seolah tidak pernah tenang, serta sering diselimuti kabut tebal yang melayang rendah di permukaan air, menyembunyikan apa saja yang ada di baliknya. Perjalanan ini memang sulit, namun semangat seluruh rombongan tetap tinggi. Di atas geladak kapal utama Cahaya Persahabatan, mereka berdiri menatap ke arah utara, penuh harapan untuk sampai ke pulau-pulau terluar itu dan membawa perubahan bagi saudara-saudara mereka yang hidup terabaikan di sana.
Panglima Argan, yang berdiri di haluan kapal memegang erat pagar kayu yang kasar, wajahnya terlihat lebih tegang dari biasanya. Sebagai pelaut sejati yang telah mengarungi seluruh samudra, dia tahu betul bahaya yang mengintai di perairan ini. Bukan hanya badai alam yang bisa datang tiba-tiba, tetapi juga manusia-manusia jahat yang menjadikan wilayah ini tempat persembunyian. Meskipun begitu, dia tetap berusaha terlihat tenang di depan rombongan tamunya, berusaha meyakinkan mereka bahwa pengawalan ketat yang dia bawa—lima kapal perang terbaik Kerajaan Samudera Biru yang berlayar mengapit kiri dan kanan—sudah cukup untuk menghadapi ancaman apa pun.
Namun, firasat buruk itu tidak bisa dia singkirkan begitu saja. Sejak berangkat dari ibu kota, ada hal-hal ganjil yang dia rasakan. Kapal-kapal pengintai yang biasa terlihat di perbatasan wilayah menghilang tanpa jejak, dan kapal-kapal pedagang yang seharusnya ramai berlalu-lalang di jalur perdagangan utama ini seolah menghilang ditelan bumi. Lautan ini terasa terlalu sepi, terlalu sunyi, seolah alam dan semua makhluk hidup tahu bahwa sesuatu yang mengerikan sedang akan terjadi dan memilih untuk menyingkir.
"Yang Mulia," kata Argan mendekati Hunter dan kedua orang tuanya, suaranya rendah namun tegas diiringi suara deburan ombak yang keras. "Kita akan segera memasuki wilayah yang tertutup kabut tebal. Di sini pandangan akan sangat terbatas. Saya perintahkan seluruh awak kapal untuk bersiap siaga penuh. Mohon Anda berteduh di ruang tengah kapal, lebih aman di sana."
Hunter mengangguk mengerti, namun matanya tetap menatap tajam ke arah kabut putih yang mulai menyelimuti pandangan. "Kau merasakan ada sesuatu yang salah, bukan, Panglima?"
Argan terdiam sejenak, lalu mengangguk jujur. "Ya, Yang Mulia. Lautan ini terlalu sunyi. Dan kabut ini... sepertinya bukan kabut alami semata, atau mungkin ada tangan yang mengatur agar cuaca mendukung rencana jahat seseorang. Kita harus berhati-hati. Sangat berhati-hati."
Belum sempat Argan menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba suara terompet peringatan terdengar nyaring dari kapal pengawal yang berlayar di sebelah kanan. Suara itu memecah keheningan yang mencekam, membuat seluruh awak kapal seketika bergerak tegang. Dari balik kabut putih yang tebal itu, perlahan namun pasti, muncullah bayangan-bayangan gelap yang bergerak cepat memotong jalan mereka. Bentuknya panjang, ramping, dan hitam pekat, seolah menyatu dengan air laut yang gelap. Jumlahnya ada tujuh buah, bergerak dalam formasi mengelilingi rombongan Hunter, memotong jalan ke depan dan jalan mundur.
"Itu bukan kapal kita!" teriak Argan, suaranya menggelegar memberi perintah. "Siagakan senjata! Bentuk barisan pertahanan! Lindungi kapal utama!"
Kapal-kapal perang Samudera Biru segera bereaksi cepat, berputar dan bergerak menghadang kapal-kapal asing itu. Namun, kapal-kapal asing itu bergerak dengan kecepatan dan ketangkasan yang luar biasa, jauh lebih cepat daripada kapal perang biasa. Saat mereka semakin mendekat, terlihatlah lambang yang terlukis besar di layar mereka: tengkorak putih di atas latar belakang hitam. Itu adalah tanda para perompak laut yang paling ditakuti, yang konon tidak pernah meninggalkan korban yang selamat. Namun, bagi mata Argan yang berpengalaman, ada sesuatu yang ganjil. Kapal-kapal ini terlalu rapi, senjata mereka terlalu baru, dan gerakan mereka terlalu terlatih untuk sekadar kelompok penjarah liar. Ini adalah pasukan khusus yang menyamar.
Di atas salah satu kapal perompak itu, berdiri seorang laki-laki bertubuh besar berjaket kulit hitam, rambutnya panjang dan kusut, wajahnya tertutup sebagian kain, namun matanya memancarkan kekejaman yang dingin. Itu adalah Kapten Krag, seorang pendekar bayaran yang kejam yang disewa langsung oleh Grup Tangan Besi. Dia mengangkat pedang lebarnya tinggi-tinggi, lalu berteriak dengan suara parau dan keras.
"Hancurkan mereka! Jangan ada yang lolos! Dan ingat, tangkap pemimpin utama hidup atau mati, tapi pastikan tidak ada bukti yang tertinggal!"
Serangan itu pun dimulai seketika. Hujan panah dan anak panah api melayang di udara, bersahutan dengan suara benturan kayu dan jeritan perintah. Kapal-kapal perompak itu menyerang dengan ganas dan terorganisir. Mereka tahu persis kelemahan kapal-kapal kerajaan, mereka tahu cara bergerak di kabut, dan mereka tahu persis posisi kapal utama tempat Hunter berada. Jelas sekali, mereka telah memantau perjalanan ini sejak awal, mereka tahu rute, waktu, dan kekuatan pasukan pengawal.
Pertempuran itu sangat tidak seimbang. Meskipun pasukan Argan berjuang dengan gagah berani, mereka dikepung dan diserang dari segala arah. Kapal-kapal pengawal mulai rusak satu per satu, layar mereka robek, dan badan kapal mereka berlubang terkena serangan tongkat pendobrak. Darah mulai membasahi geladak dan bercampur dengan air laut, menciptakan pemandangan yang mengerikan namun heroik.
Di atas geladak kapal Cahaya Persahabatan, Hunter berdiri teguh, tidak mau bersembunyi di ruang dalam. Dia membantu mengobati awak yang terluka, memberi semangat kepada para prajurit, dan mengatur strategi pertahanan sebaik mungkin bersama Argan. Taylor dan Elizabeth, meski sudah tua, tetap tenang dan berani. Elizabeth dengan sigap memimpin para wanita dan tabib merawat korban luka, sementara Taylor, dengan pengalaman tempurnya yang luas di masa muda, membantu mengarahkan kapal agar tidak terjebak dalam serangan tubrukan.
"Argan!" teriak Taylor di tengah suara hiruk-pikuk pertempuran. "Mereka tidak ingin sekadar merampok! Mereka ingin menghancurkan kita sepenuhnya! Ini pembunuhan terencana!"
"Aku tahu, Yang Mulia!" jawab Argan sambil menebas jatuh seorang perompak yang mencoba melompat ke atas kapal mereka. "Dan aku tahu siapa dalangnya! Tapi sekarang kita harus bertahan hidup dulu! Kabut mulai menipis, tapi kita masih jauh dari wilayah aman!"
Saat pertempuran semakin memuncak, Kapten Krag sendiri akhirnya memimpin kapalnya mendekat ke kapal utama. Dengan kecepatan tinggi, kapalnya menabrak sisi kiri kapal Cahaya Persahabatan dengan keras, membuat seluruh kapal berguncang hebat hingga hampir miring. Jembatan penghubung dilemparkan, dan puluhan perompak terlatih melompat naik, menerobos pertahanan yang semakin menipis. Pertarungan jarak dekat pun terjadi di atas geladak. Pedang beradu dengan pedang, teriakan pertempuran menggema, dan nyawa melayang dengan cepat.
Krag sendiri melompat naik, bergerak menembus kerumunan dengan mudahnya, menebas siapa saja yang menghalangi jalannya. Matanya tertuju langsung pada Hunter yang sedang berjuang melindungi kedua orang tuanya. Dengan senyum kejam, Krag mengayunkan pedang besarnya ke arah Hunter dengan kekuatan yang luar biasa. Hunter berhasil menangkis, namun kekuatan serangan itu membuatnya mundur beberapa langkah dan hampir jatuh.
"Jangan melawan, Pangeran dari daratan!" ejek Krag dengan suara berat. "Hari ini adalah hari terakhir hidupmu. Tidak ada yang akan menolongmu di sini. Lautan ini akan menjadi kuburan bagimu dan omongan kosongmu tentang keadilan!"
Hunter bernapas berat, memegang pedangnya dengan erat, matanya menatap tajam ke arah musuh yang jauh lebih kuat dan berpengalaman itu. "Siapa yang menyuruhmu? Siapa yang mengirimmu? Perompak sejati menginginkan harta, tapi kau menginginkan nyawa kami!"
Krag tertawa keras. "Memang ada harta besar yang menunggu jika tugas ini selesai. Dan itu lebih dari cukup bagiku untuk memotong lehermu!"
Krag menyerang lagi dengan serangan yang lebih ganas. Hunter bertahan sekuat tenaga, namun perbedaan kekuatan fisik dan keahlian tempur sangat terasa. Dia mulai terdesak. Taylor dan Elizabeth berusaha membantu, namun mereka juga dikepung oleh anak buah Krag. Panglima Argan yang berusaha mendekat untuk menolong terhalang oleh banyaknya musuh dan luka di lengannya yang mulai parah.
Saat pedang tajam Krag hampir menyentuh dada Hunter, tiba-tiba suara terompet panjang dan nyaring terdengar dari kejauhan, suara yang berbeda dari semua suara yang ada di medan perang. Suara itu kencang, berirama, dan penuh kekuatan. Dari balik sisa-sisa kabut yang mulai menipis, muncullah bayangan-bayangan kapal baru. Kali ini bentuknya berbeda lagi, kecil, cepat, namun kokoh, bergerak dengan lincah seolah menari di atas ombak. Di haluan kapal-kapal itu, berkibar bendera berlukiskan daun pohon dan ombak, lambang kesatuan penduduk kepulauan utara.
"Itu... itu mereka!" seru Argan dengan mata berbinar penuh harapan. "Penduduk Asli Kepulauan Utara! Mereka yang paling paham seluk-beluk perairan ini!"
Kapten Krag menoleh dengan marah dan kaget. "Apa? Siapa yang memanggil mereka? Tidak mungkin!"
Kapal-kapal kecil itu menyerbu masuk ke tengah pertempuran dengan kecepatan kilat. Penduduk asli ini, yang selama ini terpinggirkan, terlantar, dan dididik oleh ajaran kebaikan yang dibawa oleh rombongan Hunter sebelumnya, ternyata mengawasi perjalanan ini dari jauh. Mereka mendengar kabar buruk, mereka melihat kapal-kapal mencurigakan, dan mereka datang dengan seluruh kekuatan yang mereka miliki untuk membalas kebaikan yang diterima rakyat mereka.
Mereka tidak memiliki senjata canggih atau pasukan besar, namun mereka memiliki pengetahuan sempurna tentang laut ini, keberanian yang luar biasa, dan rasa terima kasih yang mendalam kepada orang-orang yang telah berani memihak mereka. Dengan strategi yang cerdik memanfaatkan ombak dan arus laut, mereka menyerang kapal-kapal perompak dari sisi yang tak terduga, melempar jaring-jaring berat untuk melumpuhkan kemudi musuh, dan menggunakan anak panah api yang tepat sasaran.
Keseimbangan pertempuran berubah seketika. Pasukan Krag yang awalnya yakin menang kini menjadi panik dan kacau. Mereka tidak siap menghadapi serangan dari pihak ketiga yang sama sekali tidak mereka duga dan sangat menguasai medan. Kapal-kapal perompak mulai rusak dan tenggelam satu per satu.
Melihat kekalahannya sudah di depan mata, Kapten Krag dengan marah dan putus asa mencoba melakukan serangan terakhir. Dia berusaha menerobos lagi ke arah Hunter, berniat menyeret pemimpin itu mati bersamanya. Namun, kali ini Argan yang melompat menghadangnya, meski terluka parah. Diikuti oleh bantuan para pemuda kepulauan utara yang berani, mereka berhasil melumpuhkan Krag dan mengikatnya erat-erat sebelum sempat melukai siapa pun lagi.
Sisa-sisa pasukan perompak yang masih hidup memilih untuk melarikan diri secepat mungkin ke balik kabut, meninggalkan kapal-kapal mereka yang rusak dan rekan-rekan mereka yang tertangkap atau tewas.
Ketenangan perlahan kembali ke lautan itu, digantikan oleh aroma darah, kayu patah, dan asap yang membumbung tipis. Lautan yang tadinya berwarna kebiruan kini berwarna kemerahan di beberapa bagian. Di atas geladak kapal yang penuh lubang dan goresan itu, suasana campur aduk antara rasa lega, sedih, dan haru.
Hunter, Taylor, dan Elizabeth berdiri di tengah geladak yang rusak itu, menatap para penduduk asli kepulauan utara yang berdatangan untuk memberi hormat dan menolong. Pemimpin mereka, seorang laki-laki tua berwajah keras namun mata lembut bernama Kepala Suku Bayu, berjalan mendekat dan berlutut di hadapan ketiga pemimpin itu.
"Kami mendengar ada kapal asing yang mengepung wilayah ini, dan kami khawatir... kami berharap dan berdoa agar itu bukan kalian," kata Kepala Suku Bayu dengan suara serak. "Kami tidak punya banyak kekuatan, kami hanya orang-orang kecil yang terabaikan. Tapi, kalianlah satu-satunya orang yang selama ratusan tahun ini berani datang ke pulau kami, duduk di lantai kami, makan makanan kami, dan mendengarkan keluh kesah kami. Kalianlah yang mengajarkan kami bahwa kami juga berharga, bahwa kami juga berhak atas keadilan. Maka, nyawa kami pun adalah milik kalian."
Hunter segera membantu orang tua itu berdiri, memeluknya dengan erat. Air mata haru menetes di pipinya. "Bukan kami yang menyelamatkan kalian hari ini, Saudara. Kalianlah yang menyelamatkan kami. Kalianlah yang membuktikan bahwa ajaran kebaikan dan persaudaraan itu bukan sekadar kata-kata, tapi kekuatan yang jauh lebih besar daripada pedang atau kapal perang apa pun. Hari ini, kami melihat dengan mata kepala kami sendiri bahwa persatuan yang kita bangun adalah benteng pertahanan terkuat yang pernah ada."
Sementara itu, Kapten Krag yang terikat erat dan terluka parah diseret mendekat. Di bawah ancaman pedang dan bukti-bukti yang sudah terlihat jelas—termasuk peta rute perjalanan yang ada di kapalnya—Krag akhirnya tidak mampu lagi menyangkal. Dengan wajah penuh kebencian dan kekalahan, dia mengaku segalanya. Dia mengaku disewa oleh orang-orang dari pusat kota, perantara dari Grup Tangan Besi, dengan bayaran emas yang sangat besar untuk memastikan rombongan ini tidak pernah kembali lagi.
Pengakuan itu menggema jelas di seluruh kapal, didengar oleh semua awak, para prajurit, dan para pemimpin kepulauan. Kebenaran akhirnya terungkap sepenuhnya. Ini bukan kecelakaan laut. Ini adalah pembunuhan berencana yang kejam dan pengecut, dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya menjaga negeri ini, hanya karena takut kehilangan kekuasaan dan keuntungan pribadi mereka.
Berita ini akan menjadi ledakan besar saat mereka kembali ke ibu kota. Ini adalah bukti nyata, saksi hidup, dan alasan yang sah untuk menghadapi musuh-musuh kebaikan itu secara terbuka dan tegas.
Rombongan itu melanjutkan perjalanan mereka dengan perlahan, menuju pulau-pulau utara dengan pengawalan ganda yang kini jauh lebih kuat karena didukung oleh seluruh kekuatan rakyat setempat. Namun, di hati Hunter dan seluruh rombongannya, ada perubahan besar. Rasa damai dan sopan santun mereka kini dibalut dengan tekad baja. Mereka menyadari bahwa musuh bukan hanya berniat menghalangi perubahan, mereka berniat memusnahkan kebaikan itu sampai ke akar-akarnya.
Perang ide dan keadilan kini telah berubah menjadi pertempuran nyata. Saat mereka kembali ke Kota Bintang nanti, suasana akan jauh berbeda. Tidak ada lagi basa-basi atau senyum palsu. Garis pertempuran sudah digambar dengan jelas. Di satu sisi ada keadilan, kebenaran, dan rakyat banyak. Di sisi lain ada keserakahan, kekuasaan, dan kejahatan yang kini terbongkar telanjang.
Dan di balik semua itu, Kaisar Liora sedang menunggu kabar dengan hati yang gelisah, sementara Grup Tangan Besi sedang bersiap untuk langkah terakhir dan paling gila, karena mereka tahu bahwa jika rencana pembunuhan ini gagal, maka kehancuran bagi mereka sudah berada di depan mata.