Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Keheningan yang membentang di ruang kerja Louis malam itu terasa lebih berat daripada beton-beton dermaga Brooklyn.
Pertanyaan Christine yang menyebut nama Adiba Abbey menggantung di udara laksana vonis mati bagi ketenangan semu yang mereka pertahankan selama ini.
Louis tidak bergerak. Sepasang mata elang abu-abunya menatap cangkir kopi yang dibawa Christine, melihat uapnya perlahan menipis dan menghilang ke dalam udara dingin ruangan. Rahangnya mengatup begitu rapat hingga otot-otot di sekitar pipinya menegang ekstrem.
"Kenapa kau diam, Louis?" suara Christine bergetar, setitik air mata mulai menggenang di pelupuk mata bulatnya yang jernih.
Dia melangkah maju, mengabaikan jarak tak kasat mata yang sengaja diciptakan Louis sejak dua hari lalu. "Koran-koran di Manhattan, berita di televisi... semuanya membahas tentang perceraian Raynazh dan kepergian Adiba ke Swiss. Dan sejak malam itu juga, kau berubah menjadi orang asing. Kau tidak tidur, kau mengurung diri bersama Zack, dan kau... kau menjauh dariku. Katakan padaku, Louis, apa yang sebenarnya terjadi?"
Louis menarik napas panjang melalui hidungnya, sebuah hembusan napas yang terdengar teramat berat dan sarat akan frustrasi yang memuncak.
Dia membalikkan tubuhnya, menatap Christine dengan pandangan mata yang kini meredup, kehilangan kilat kasarnya.
"Ini urusan bisnis Osborn Group, Christine," ucap Louis, suaranya terdengar datar namun bergetar di ujung kalimat. Kebohongan itu terasa seperti menelan kerikil tajam di tenggorokannya.
"Klan Abbey menarik seluruh investasi mereka sepihak. Itu mengancam stabilitas seluruh proyek pelabuhan yang sedang kupegang. Aku hanya sedang berpikir bagaimana cara menyelamatkan wilayah kita."
Christine menggelengkan kepalanya perlahan, air matanya kini luruh melewati pipinya yang pucat.
"Kau berbohong. Aku mengenalmu bukan baru satu atau dua hari, Louis. Jika ini hanya tentang bisnis atau pelabuhan, kau akan memaki, kau akan turun ke jalanan, kau akan menghancurkan barang-barang untuk meluapkan amarahmu. Tapi ini tidak... kau diam. Kau dihantui oleh sesuatu, Louis. Tatapan matamu... seolah kau baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga."
Deg.
Kata-kata Christine menghantam ulu hati Louis dengan ketepatan yang mengerikan.
Kehilangan sesuatu yang berharga? Logika Louis ingin membantah, ingin meneriakkan bahwa dia membenci Adiba dan menganggap wanita itu monster gila.
Namun, denyut hampa di dadanya sejak kepergian Adiba di pelataran parkir itu tidak bisa dimanipulasi.
Kenyataan bahwa janin di rahim Adiba adalah darah dagingnya telah mengubah seluruh lanskap emosinya menjadi medan perang yang gersang.
"Kembalilah ke kamarmu, Christine," ucap Louis lagi, kali ini nadanya lebih rendah, sebuah perintah mutlak yang tidak ingin didebat.
Dia membalikkan badannya kembali menghadap meja kerja, memunggungi Christine. "Aku tidak ingin membahas ini lagi."
Christine menatap punggung tegap itu dengan rasa sakit yang murni. Dia tahu, dinding kokoh yang dibangun Louis di sekeliling dirinya malam ini tidak akan bisa dia tembus.
Dengan tangan yang gemetar, Christine menghapus air matanya, berbalik lambat, dan melangkah keluar dari ruang kerja, meninggalkan Louis sendirian bersama tumpukan peta digital Zurich yang kini terasa laksana ejekan visual bagi kebodohannya.
Sementara itu, di kediaman Long Island yang sunyi, malam bergerak lambat membawa atmosfer yang sepenuhnya berbeda.
Adiba Abbey berdiri di balkon kamarnya, membiarkan angin malam dari pantai Long Island memainkan rambut hitam panjangnya.
Sudut bibirnya terangkat tipis, melukiskan sebuah garis senyuman yang teramat dingin dan hambar.
Louis benar-benar mengirim orang ke Swiss. Pria itu benar-benar mencari bayangannya ke ujung Eropa setelah mengetahui kebenaran tentang janin di rahimnya.
"Kau terlambat, Louis Enver Osborn," bisik Adiba pada kegelapan malam di depannya.
Suaranya terdengar begitu tenang, seolah seluruh badai obsesi yang merasuki jiwanya selama sepuluh tahun telah menguap, berganti menjadi zat cair yang membekukan seluruh hatinya.
"Kau mencari anak yang kau sebut hina? Kau mencari wanita yang kau sebut menjijikkan? Carilah... habiskan seluruh energi dan kekuasaanmu untuk mengejar angin kosong di Swiss."
Tangan kanan Adiba perlahan turun, meraba permukaan perutnya.
Di dalam sana, di dalam rahimnya yang hangat, kehidupan baru sedang tumbuh. Anak itu tidak bersalah, namun anak itu lahir dari rahim seorang ibu yang cintanya baru saja dibantai oleh sang ayah.
"Dia tidak akan pernah menyentuhmu, Sayang," gumam Adiba, matanya menggelap tajam, memancarkan kilat kebencian yang pekat.
"Aku bersumpah demi sisa napas duniaku... sampai hari aku mati, aku tidak akan pernah memaafkan apa yang dia katakan padamu. Kau hanya milikku. Hanya anak dari Adiba Abbey."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, badai yang diprediksi oleh klan Abbey benar-benar menghantam menara Osborn Group di Manhattan.
Lantai bursa Wall Street dibuka dengan kepanikan masif saat siaran pers resmi dari Abbey Enterprises menyatakan pemutusan total hubungan kerja sama dan penarikan seluruh modal dari mega proyek pelabuhan Brooklyn.
Pengumuman itu laksana bom hidrogen yang dijatuhkan di tengah-tengah rasa percaya diri keluarga Osborn. Nilai saham mereka terjun bebas sebesar 12% dalam tiga jam pertama perdagangan, memicu kepanikan di kalangan dewan komisaris.
Di dalam ruang rapat utama—ruangan yang sama tempat Adiba menerima surat cerai—suasananya kini teramat panas. Seluruh jajaran direksi duduk dengan wajah tegang, sementara Arthur Osborn berdiri di kepala meja dengan wajah yang memerah padam menahan murka.
"Di mana Raynazh?!" bentak Arthur, suaranya menggelegar menghantam dinding kaca.
"P-Pak Raynazh belum tiba di kantor sejak pagi, Pak Arthur," jawab sekretaris direksi dengan suara bergetar ketakutan. "Ponselnya tidak aktif."
Arthur mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia membalikkan tubuhnya menatap jendela, memandang ke arah Brooklyn di seberang sungai.
Skenario bisnisnya berantakan total karena kebodohan putra mahkotanya yang tidak bisa mempertahankan seorang wanita dari klan Abbey.
"Hubungi Louis," perintah Arthur mendadak, suaranya merendah namun sarat akan otoritas yang dingin.
"M-Maaf, Pak Arthur? Pak Louis?" Sekretaris itu memastikan.
"Kau tuli?!" raung Arthur, berbalik dengan kilat kemurkaan di matanya. "Katakan pada berandal itu, jika dia ingin mempertahankan pelabuhan Brooklyn dari kebangkrutan, dia harus berada di ruanganku dalam waktu satu jam! Sekarang!"
Kurang dari satu jam kemudian, pintu ganda ruang kerja CEO Osborn Group terbuka dengan hantaman kasar.
Louis Enver Osborn melangkah masuk dengan pembawaannya yang angkuh dan kasual, bertolak belakang dengan atmosfer formal ruangan tersebut.
Dia hanya mengenakan jaket kulit hitamnya yang dipenuhi tato di bagian leher yang menyembul, celana jins gelap, dan sepasang sepatu bot yang menyisakan jejak debu di atas karpet mahal Arthur.
Penampilannya berantakan, matanya merah karena tidak tidur selama dua hari, namun aura intimasinya tidak berkurang sedikit pun.
"Kau mencariku?" ucap Louis sinis, berjalan tanpa permisi menuju kursi di depan meja Arthur dan menghempaskan tubuh tegapnya di sana.
Arthur menatap putra keduanya itu dengan pandangan menilai. Di tengah situasi krisis ini, dia terpaksa mengakui bahwa Louis memiliki ketahanan mental dan kegarangan yang tidak dimiliki oleh Raynazh yang cengeng.
"Klan Abbey menarik seluruh modal mereka pagi ini, Louis. Saham kita hancur," ucap Arthur langsung pada intinya, melempar berkas laporan keuangan ke depan dada Louis.
"Proyek pelabuhan Brooklyn yang kau kelola akan Hancur dalam waktu dua minggu jika kita tidak mendapatkan suntikan dana segar atau jika kita tidak bisa bernegosiasi ulang dengan George Abbey."
Louis menatap berkas itu dengan pandangan dingin. Di dalam kepalanya, berita penarikan modal ini tidak lagi mengejutkannya.
Ini adalah konfirmasi telanjang bahwa Adiba telah menyatakan perang total terhadap keluarganya—sebuah perang yang dipicu oleh kata-katanya di pelataran parkir.
"Lalu apa hubungannya denganku?" Louis terkekeh getir, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Bukankah kau memiliki anak emasmu, Raynazh? Suruh dia pergi berlutut di depan pintu George Abbey untuk mengemis belas kasihan istrinya."
"Raynazh sudah tidak ada gunanya!" bentak Arthur, bersandar pada mejanya, menatap Louis dengan tatapan mengunci. "Adiba telah terbang ke Swiss dua hari lalu setelah menandatangani surat cerai mereka. Hubungan mereka sudah mati. Dan pagi ini, aku secara resmi menonaktifkan Raynazh dari kursi CEO Osborn Group."
Louis menegang. Sepasang mata elang abu-abunya menyipit tajam. Menonaktifkan Raynazh?
"Aku ingin kau mengambil alih posisinya, Louis," lanjut Arthur, suaranya kini terdengar seperti bisikan ular yang menawarkan apel beracun.
"Aku tahu kau menguasai jalanan Brooklyn. Aku tahu kau memiliki jaringan dermaga gelap yang bisa kita gunakan untuk menutupi kerugian finansial ini. Ambil alih kursi CEO, selamatkan pelabuhan Brooklyn, dan tunjukkan pada klan Abbey bahwa keluarga Osborn tidak bisa dihancurkan hanya karena seorang wanita jalang yang melarikan diri ke Eropa!"
Brak!
Louis bangkit berdiri dengan sentakan kasar, menghantam meja mahoni Arthur dengan kedua telapak tangannya hingga menimbulkan bunyi dentuman yang nyaring.
Wajahnya menggelap ekstrem, urat-urat di lehernya menegang, dan tatapan matanya memancarkan kemurkaan yang teramat masif.
"Jaga mulutmu, Arthur!" raung Louis, suaranya yang rendah kini dipenuhi oleh getaran amarah yang tidak bisa disembunyikan.
"Jangan pernah sekali-kali kau berani menyebutnya sebagai wanita jalang di depanku!"
Arthur tersentak mundur satu langkah, terkejut oleh reaksi yang luar biasa keras dari Louis.
Selama ini, Louis selalu menunjukkan ketidakpedulian atau kebencian pada Adiba Abbey yang merupakan istri kakaknya.
Kenapa sekarang pria itu tampak seperti seekor singa yang siap mencabik-cabik siapa saja yang menghina wanita itu?
"Kenapa kau begitu marah, Louis?" Arthur menyipitkan matanya, sebuah kecurigaan baru mendadak melintas di dalam otaknya yang licik. "Apakah ada sesuatu di antara kau dan Adiba Abbey yang tidak kuketahui?"
Louis mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan bergetar.
Dia menyadari dia baru saja menunjukkan celah emosinya di depan sang ayah yang laksana iblis. Louis menarik napasnya dalam-dalam, menguasai kembali pembawaan dinginnya, meski dadanya masih bergemuruh hebat oleh rasa bersalah dan kemarahan yang bercampur menjadi satu.
"Tidak ada apa-apa," desis Louis, suaranya kembali mendingin laksana es. Dia menegakkan tubuhnya, menatap Arthur dengan tatapan menantang.
"Aku menerima posisi CEO itu. Bukan untuk menyelamatkan mukamu atau perusahaan sialanmu ini. Aku mengambilnya hanya untuk satu alasan: memastikan pelabuhan Brooklyn tetap berada di bawah kendaliku."
Louis berbalik, melangkah lebar menuju pintu keluar tanpa menunggu jawaban dari ayahnya.
Di dalam kepalanya, posisi CEO ini adalah senjata baru yang dia butuhkan. Dengan kekuasaan penuh atas Osborn Group, dia bisa menggunakan seluruh aset perusahaan untuk memperluas pencarian Adiba ke Eropa.
Dia harus menemukan wanita itu, dia harus melacak keberadaan anaknya, tidak peduli seberapa tebal dinding pelindung yang dibangun klan Abbey di sekeliling mereka.