NovelToon NovelToon
Jodoh Beda Benua

Jodoh Beda Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cinta Karena Taruhan / Romansa Fantasi
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: fadiez

Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Setelah kejadian pagi itu, Maron tidak bisa lagi bersikap biasa saja. Tangannya tetap bekerja seperti biasa, mengelap meja, mengambil pesanan, sesekali membantu Cris di bar. Namun pikirannya jelas tidak berada di situ.

Matanya terus bergerak. Mengamati. Memperhatikan. Satu orang. Clay. Dan satu orang lagi. Nindi.

Dari tempatnya berdiri, Maron bisa melihat dengan jelas bagaimana Clay bekerja hari itu. Tenang seperti biasa. Datar. Tidak banyak bicara. Tapi Maron tahu. Ada sesuatu yang berubah. Dan perubahan itu hanya muncul ketika berkaitan dengan Nindi.

Maron menyeringai kecil. “Ketahuan…” gumamnya pelan.

“Ketahuan apa?”

Suara Cris tiba-tiba muncul di sampingnya. Maron sedikit terkejut, lalu menoleh. Cris berdiri sambil melipat tangan, menatapnya dengan ekspresi curiga.

“Kamu dari tadi aneh,” lanjut Cris. “Bolak-balik lihat Clay sama Nindi. Ada apa?”

Maron terkekeh pelan.

“Coba kamu perhatikan mereka,” katanya santai.

Cris mengerutkan kening, tapi tetap mengikuti arah pandang Maron.

Nindi sedang berdiri di kasir, mencatat pesanan pelanggan. Seperti biasa, senyumnya ramah, sikapnya profesional. Tidak ada yang aneh.

Cris lalu mengalihkan pandangannya ke Clay. Pemuda itu sedang membuat kopi. Gerakannya cepat, rapi, tanpa kesalahan. Masih tidak ada yang aneh.

“Terus?” tanya Cris.

Maron mendekat sedikit, menurunkan suaranya.

“Kamu ingat kejadian kemarin?” tanyanya.

“Kejadian yang mana?”

“Waktu Nindi jadi pusat perhatian dan di goda oleh para pelanggan laki - laki.”

“Oh…” Cris mengangguk pelan. “Yang itu.”

Maron menyeringai. “Kamu ingat reaksi Clay?”

Cris terdiam sejenak, mencoba mengingat.

“Dia… kelihatan kesal,” jawabnya ragu.

“Bukan cuma kesal,” potong Maron cepat. “Dia terganggu.”

Cris mengerutkan kening lagi.

Maron melanjutkan, kali ini dengan nada lebih yakin.

“Dan bukan cuma itu. Tadi pagi…” ia berhenti sejenak, seolah menikmati ceritanya sendiri, “aku tidak sengaja berdiri dekat di belakang Nindi. Dan aku juga tanpa sengaja memengang ujung kaos Nindi. Ingat cuma ujung kaos bukan kulitnya.”

Cris langsung menoleh. “Terus?”

Maron tertawa kecil. “Clay datang.”

“Datang?”

“Bukan sekadar datang,” lanjut Maron. “Dia langsung menarikku menjauh. Tanpa banyak bicara. Dan tatapan matanya…”

Maron berhenti. Senyumnya perlahan melebar. “…itu bukan tatapan biasa.”

Cris mulai tertarik. “Memang tatapannya bagaimana?”

Maron menyandarkan tubuhnya, lalu menatap ke arah Clay yang masih bekerja.

“Tatapan orang yang tidak suka,” katanya pelan. “Bukan karena aku ganggu dia…”

Ia menoleh ke Cris. “…tapi karena aku terlalu dekat dengan Nindi.”

Hening sejenak. Cris ikut melihat ke arah Clay. Kali ini lebih serius. Lebih teliti. Dan perlahan ia mulai menangkap sesuatu.

Setiap kali Nindi bergerak. Setiap kali ada pelanggan pria yang berbicara sedikit lebih lama dengan Nindi, Clay akan melirik. Cepat. Tajam. Lalu kembali bekerja. Seolah tidak terjadi apa-apa. Namun bagi orang yang memperhatikan, itu jelas.

Cris mengangkat alis. “Eh…”

Maron terkekeh pelan. “Baru ngeh, kan?”

Cris kembali menatapnya. “Jadi maksudmu…”

Maron mengangguk santai. “Fix.”

Satu kata. Pasti. “Clay punya perasaan sama Nindi.”

Cris terdiam beberapa detik. Lalu tanpa sadar, ia ikut tersenyum. “Gila…” gumamnya.

Maron tertawa kecil. “Sebetulnya ini sudah kuduga dari awal.”

“Serius?”

Maron mengangkat bahu. “Nindi itu tipe ideal Clay.”

Cris menatapnya bingung. “Tipe ideal?”

“Iya,” jawab Maron santai. “Cantik, jelas. Tapi bukan itu saja.”

Ia melirik ke arah Nindi.

“Nindi sangat tegas. Tidak gampang goyah. Dan yang paling penting…” Maron menoleh ke Cris.

“…tidak takut sama Clay.”

Cris mengangguk pelan. Masuk akal. Sangat masuk akal. Selama ini, hampir semua orang di kafe sedikit menjaga jarak dengan Clay. Bukan karena dia jahat. Tapi karena aura yang dimiliki Clay. Dingin. Sulit didekati.

Namun Nindi? Gadis itu tetap bicara seperti biasa. Tetap membalas. Bahkan kadang melawan. Dan Clay, tidak menjauh. Justru tetap di situ.

Maron menyeringai lagi. “Dan sekarang…” gumamnya pelan, “semuanya makin jelas.”

Cris menyilangkan tangan. “Terus?”

Maron menoleh. Matanya berkilat. “Nah, ini bagian serunya.”

Cris langsung merasa tidak enak. “Kenapa aku merasa kamu mau buat masalah lagi?”

Maron tertawa.

“Bukan masalah,” katanya santai. “Aku cuma mau, membantu.”

“Membantu?”

“Iya,” jawab Maron. “Bantu Clay sadar sama perasaannya sendiri.”

Cris menghela napas panjang. “Dan setelah itu?”

Senyum Maron berubah. Lebih lebar. Lebih jahil.

“Aku bakal mengolok - ngoloknya habis-habisan.”

Cris langsung menggeleng. “Kamu ini…”

Namun ia tidak benar-benar menolak. Karena jujur saja, ini menarik.

“Jadi rencanamu apa?” tanya Cris akhirnya.

Maron terdiam sejenak. Berpikir. Matanya kembali mengarah ke Nindi. Lalu ke Clay. Bolak-balik. Seperti sedang menyusun sesuatu di kepalanya.

“Kemarin,” katanya pelan, “Secara kebetulan karna Sonya memintaku untuk promosi, aku bisa pakai teman-temanku buat datang kesini.”

Cris mengangguk. “Dan itu berhasil.”

“Berhasil sekali,” Maron terkekeh. “Tapi sekarang…” Maron menyipitkan mata.

“Kalau pakai cara yang sama, efeknya bakal berkurang.”

Cris mengangguk setuju. “Clay bukan orang bodoh.”

“Itu kamu tahu.”

Maron menghela napas pelan. Lalu tersenyum. “Aku butuh cara lain.”

Cara yang lebih halus. Lebih dekat. Dan lebih sulit dihindari.

Cris menatapnya, mulai tidak nyaman. “Maron…”

Namun Maron belum selesai. “Kalau Clay cuma lihat…” gumamnya, “dia masih bisa pura-pura tidak peduli.”

Cris mengerutkan kening. “Jadi?”

Maron menoleh. “Harus lebih dari itu.”

Maron berpikir besar. Lebih dari melihat? Berarti : “Buat Nindi lebih dekat dengan orang lain.”

Satu kalimat. Namun cukup jelas. Cris langsung mengerti. Dan ekspresinya berubah.

“Maron…”

“Tapi santai saja,” potong Maron cepat. “Aku tahu batas.”

Namun cara Maron tersenyum, tidak sepenuhnya meyakinkan. “Aku cuma mau lihat,” lanjutnya, “seberapa jauh Clay bisa tahan.”

Cris menatapnya lama. Lalu akhirnya berbicara. Pelan. Tapi tegas.

“Sepertinya, kamu main api.”

Maron tertawa kecil. “Lebay.”

“Enggak,” balas Cris. “Kamu tahu sendiri Clay seperti apa.”

Maron tidak menjawab.

Cris melanjutkan. “Kalau dia benar-benar punya perasaan, dan kamu sengaja memprovokasi…” Cris berhenti sejenak. “Ini bisa jadi tidak lucu.”

Hening. Untuk pertama kalinya, Maron tidak langsung bercanda. Ia hanya menatap ke arah Clay. Beberapa detik. Lalu tersenyum tipis lagi.

“Tenang saja,” katanya ringan. “Aku tahu apa yang aku lakukan.”

Cris tidak terlihat yakin. Sama sekali.

Cris menghela napas pelan.

“Ya sudah, aku sudah memperingatkanmu,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah namun tegas.

Maron tidak langsung menjawab. Hanya tersenyum tipis, seolah peringatan itu tidak lebih dari angin lalu.

Cris tidak melanjutkan perdebatan. Tidak juga mencoba menahan lebih jauh. Karena percuma. Ia memalingkan wajahnya, kembali pada pekerjaannya.

Pasrah. Bukan karena setuju. Tapi karena ia tahu, apa pun yang terjadi setelah ini, bukan lagi dalam kendalinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!