Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga
Cahaya keemasan yang memenuhi ruangan sempit itu perlahan meredup, menyisakan keheningan malam yang hanya dipecahkan oleh suara rintik hujan di luar jendela.
Lin Chen membuka matanya. Sepasang manik mata yang biasanya dipenuhi keputusasaan itu kini memancarkan kilatan cahaya emas yang tajam sebelum kembali normal. Ia menarik napas dalam-dalam, dan seketika wajahnya dipenuhi rasa tidak percaya.
Rasa sakit yang menyiksa dadanya setiap kali ia bernapas telah hilang sepenuhnya. Lebih dari itu, ia bisa merasakan aliran energi yang kuat berdesir di dalam tubuhnya. Lin Chen buru-buru memeriksa kondisi internalnya dan menahan napas.
Meridiannya yang dulu terputus dan hancur berkeping-keping kini telah menyatu kembali. Tidak hanya pulih, urat-urat meridiannya kini bercahaya keemasan, sepuluh kali lebih lebar dan lebih kokoh dari baja! Jika meridian manusia biasa diibaratkan seperti parit kecil, maka meridian Lin Chen saat ini adalah sungai besar yang menderu.
"Hmph, jangan bertingkah seperti orang udik yang baru pertama kali melihat dunia."
Suara kuno yang serak itu kembali bergema di dalam pikiran Lin Chen.
Lin Chen terkesiap, segera melihat ke sekeliling ruangan sebelum menyadari bahwa suara itu berasal dari dalam kepalanya. "Siapa di sana? Keluar!"
"Bocah bodoh, aku ada di dalam Lautan Kesadaranmu, tepat di dalam sisik hitam yang selama ini kau gantung di lehermu," dengus suara itu, terdengar sedikit arogan. "Kau bisa memanggilku Mo Xuan. Aku adalah roh sisa yang tertidur di dalam Sisik Naga Primordial ini selama ribuan tahun, sampai darahmu membangunkanku."
"Mo Xuan? Sisik Naga Primordial?" Lin Chen menyentuh dadanya. Sisik hitam usang itu kini telah menghilang, menyatu dengan tubuhnya. "Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhku?"
"Meridian fanamu yang rapuh itu telah kuhancurkan sepenuhnya dan kuganti dengan Meridian Naga," jelas Mo Xuan. "Ibumu bukanlah manusia biasa, bocah. Ia meninggalkan sisik ini untuk melindungimu, tapi butuh darah yang mengandung keputusasaan dan keinginan membunuh yang ekstrim untuk memecahkan segelnya."
Mendengar kata 'ibu', hati Lin Chen bergetar. Selama ini ayahnya selalu bungkam mengenai identitas ibunya.
"Kau tahu di mana ibuku?" tanya Lin Chen dengan nada mendesak.
"Dengan kekuatanmu yang bahkan tidak mencapai Ranah Pengumpulan Qi, mengetahui hal itu sekarang hanya akan mengantarmu pada kematian," jawab Mo Xuan dingin, menyiramkan air es ke harapan Lin Chen. "Dunia ini jauh lebih luas dari yang kau bayangkan. Jika kau ingin mencari ibumu, dan jika kau ingin membalas dendam pada orang-orang yang menginjak-injakmu, kau harus menjadi kuat!"
Lin Chen terdiam, lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Mo Xuan benar. Tanpa kekuatan, ia hanyalah serangga yang bisa diinjak siapa saja, seperti yang dilakukan Lin Lang padanya hari ini.
"Bagaimana caranya? Meridianku memang sudah pulih, tapi aku telah tertinggal tiga tahun dari generasi sebayaku," ucap Lin Chen.
Mo Xuan tertawa keras, tawanya menggetarkan jiwa Lin Chen. "Tertinggal? Dengan Meridian Naga dan Seni Pemakan Surga Sembilan Naga, kau akan menelan mereka semua bulat-bulat! Tutup matamu dan fokuskan pikiranmu."
Lin Chen segera duduk bersila dan menutup matanya. Tiba-tiba, aliran informasi yang sangat besar membanjiri otaknya. Barisan aksara emas kuno melayang di dalam kesadarannya, membentuk sebuah gulungan teknik kultivasi.
[Seni Pemakan Surga Sembilan Naga]
Teknik ini bukanlah metode kultivasi biasa yang menyerap Qi spiritual alam secara perlahan. Sesuai namanya, teknik ini memakan segala bentuk energi di langit dan bumi secara paksa. Pil, tanaman obat, racun, bahkan aura pertarungan—semuanya dapat ditelan dan diubah menjadi Qi murni di dalam tubuh penggunanya!
"Teknik yang mengerikan..." gumam Lin Chen, keringat dingin menetes dari dahinya. Di dunia kultivasi ortodoks, teknik yang menelan kekuatan secara paksa sering dianggap sebagai ilmu iblis.
"Iblis atau dewa, itu hanya sebutan yang dibuat oleh mereka yang lemah!" cemooh Mo Xuan. "Cobalah putar sirkulasi Qi-mu sesuai dengan bait pertama teknik itu."
Lin Chen membuang keraguannya. Ia mulai mengatur napasnya dan menjalankan Seni Pemakan Surga Sembilan Naga.
Seketika itu juga, udara di dalam kamarnya bergejolak. Energi spiritual yang tipis di udara malam tiba-tiba tersedot dengan ganas ke arah tubuhnya, membentuk pusaran angin kecil. Qi spiritual itu masuk melalui pori-pori kulitnya, mengalir ke dalam Meridian Naga dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Krak!
Suara tulang yang bergeser dan otot yang mengencang terdengar dari dalam tubuh Lin Chen.
Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 1!
Lin Chen tidak berhenti. Meridian naganya seperti lubang hitam yang tak pernah puas, terus melahap energi dari sekitarnya. Tiga tahun tertahan tanpa kemajuan, energi yang selama ini terbuang seolah terkompresi dan kini meledak keluar.
Bum!
Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 2!
Bum!
Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 3!
Hanya dalam waktu satu jam bernapas, Lin Chen berhasil menembus tiga tingkatan sekaligus, berhenti tepat di puncak Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 4.
Ketika ia membuka mata, energi berlebih menghempas perabotan kayu di kamarnya hingga bergeser. Lin Chen menghela napas panjang, mengeluarkan uap keruh dari mulutnya. Ia merasakan kekuatan ledakan di setiap otot tubuhnya. Pukulan biasa darinya sekarang bisa dengan mudah menghancurkan batu karang.
Namun, bau busuk yang menyengat segera menyadarkannya. Ia menunduk dan melihat seluruh permukaan kulitnya tertutup oleh cairan kental berwarna hitam pekat. Itu adalah kotoran dan racun yang mengendap di dalam tubuhnya selama bertahun-tahun, yang kini dipaksa keluar oleh Qi murni.
Lin Chen bergegas keluar kamar menembus hujan malam, menuju ke sumur tua di halaman belakang. Ia menimba air es dan mengguyurkannya ke sekujur tubuhnya, membersihkan lapisan hitam tersebut.
Di bawah cahaya bulan yang mulai menyingsing dari balik awan, kulit Lin Chen yang sebelumnya pucat dan penuh bekas luka kini berubah menjadi bersih, kencang, dan sekuat tembaga. Tubuh kurusnya telah tergantikan oleh otot-otot ramping yang proporsional.
Ia menatap pantulan dirinya di genangan air hujan. Kilat tekad memancar kuat dari matanya.
"Lin Lang, Tetua Klan... kalian pikir kalian bisa membuangku begitu saja?" Lin Chen menyeringai dingin, hawa membunuh tipis menguar dari tubuhnya. "Ujian Klan bulan depan akan menjadi panggung di mana aku mengambil kembali semua yang menjadi milikku."