NovelToon NovelToon
GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.

Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.

Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.

Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayah Kandung Melody

Melody duduk di ruangan itu bersama staf Dinas, staf sekolah, perwakilan pengadilan, dan seorang pria asing. Pria itu dikenal sebagai ayahnya.

Ruangan terasa sangat pengap. Ia menatap keluar lewat tirai yang kotor, melihat sinar matahari menerangi gelas air yang diberikan padanya. Cahaya itu begitu terang hingga butiran debu yang beterbangan pun terlihat jelas. Jelas sekali tempat ini jarang dibersihkan, sama seperti semua tempat yang pernah ia tinggali sejak umur sebelas tahun.

Melody mengira perlakuan buruk orang tuanya dulu adalah hal terburuk. Nyatanya, dipaksa berpisah dari sahabatnya jauh lebih menyakitkan.

Petugas pengadilan sibuk membolak-balik berkas di dalam map cokelat bertuliskan nama: Melody Lukita.

"Pak Lukita, apakah Bapak tahu riwayat kasus Melody?" tanya petugas penghubung pengadilan.

Tentu saja tidak. Pria itu tidak tahu apa-apa soal dirinya karena ini pertama kalinya mereka bertemu. Melody sadar mereka punya rambut pirang gelap yang sama, tapi kulit ayahnya pucat sementara kulitnya kecokelatan seperti ibunya yang berdarah nusa tenggara.

"Tidak."

Mata pria itu yang berwarna cokelat kopi menatapnya, tapi Melody memilih pura-pura cuek, padahal telinganya menangkap setiap suara. Ia sudah terbiasa bersembunyi dan diam saja.

Di atas meja ada tumpukan berkas berisi laporan kekerasan, foto bukti pengabaian, catatan penangkapan, dan daftar keluarga asuh. Bahkan nilai-nilai bagus di sekolah pun tercatat di sana, meski sepertinya tidak ada yang peduli.

"Baiklah, selain Melody punya catatan kriminal dan bakal ulang tahun ke-18 delapan minggu lagi, dia harus tetap di bawah pengawasan Bapak sampai lulus SMA. Itu keputusan sidang terakhir."

"Putusan sudah tetapkan, kalau dia melanggar perjanjian ini, kasusnya akan diproses seperti orang dewasa. Dia harus masuk penjara wanita," jelas petugas itu panjang lebar.

"Kamu ngerti kan risikonya apa, Melody?" kali ini staf dari Dinas Perlindungan Anak yang bicara dengan nada ketus.

Melody melihat petugas pengadilan menggeleng, memberi kode agar temannya itu berhenti menekan. Ia juga melihat jaket cokelat pekerja sosial itu kusut, dan ada noda kopi mencolok di bajunya.

Tapi Melody tetap diam. Mereka semua tahu dia tidak akan bicara. Ia sudah tidak mudah terpengaruh atau emosional lagi.

Semua orang di ruangan ini tahu Melody hanya akan duduk diam membiarkan mereka mengambil keputusan. Secara hukum dia masih di bawah umur dan tanggungan negara.

Kecuali si ayah kandung ini benar-benar mau menerimanya dan bertanggung jawab sekarang. Mereka sudah mencarinya dan memaksanya hadir di sini.

Saat kasus kekerasan terakhirnya membuat hakim geram, pihak berwenang mencari kerabat keluarga. Selain ibunya dan pamannya, hanya pria inilah yang berhasil ditemukan.

Mereka bilang pria itu dapat surat resmi dan entah kenapa akhirnya mau datang. Melody tidak tahu alasannya. Drama ini makin rumit saja.

Pahlawan macam apa ini?

Sebenarnya Melody sudah tidak peduli. Tinggal di sini sama saja dengan di panti asuhan atau penjara anak. Cuma tempat buat makan, tidur, dan menunggu waktu sampai bisa hidup mandiri.

Dia juga butuh tempat ini supaya tidak masuk penjara karena kasus pencuriannya dulu.

Maka Melody tetap duduk diam, menyembunyikan tangan di balik sweter hitam yang menutupi kepangannya. Semua pembicaraan mereka cuma suara bising yang dia abaikan.

Dia hanyalah sebuah kasus, dan sekarang mereka menemukan cara untuk memindahkam beban tanggung jawab itu ke orang lain. Satu masalah akan berkurang untuk negara, satu berkas berat hilang dari tumpukan arsip.

...***...

Wanita staf sekolah dari SMA elit itu menoleh ke arahnya. Melody langsung tahu asal sekolah ini, tempat yang letaknya jauh dari rumah lamanya bersama ibu dan ayah tiri yang brengsek itu.

Wanita itu menyunggingkan senyum palsu seraya bicara. Seragam biru tua dengan logo emas SMA Gonzaga di saku dada sangat ikonik dan sering ia dengar sejak kecil.

"Melody, nilai-nilai kamu dulu bagus dan lulus ujian. Jadi kamu bisa lanjut kelas terakhir di sini."

Melody memutar mata malas lalu memalingkan wajah.

"Saya Bu Indri, yang urus pendaftaranmu. Ayahmu..."

Kepala Melody terangkat cepat, rahangnya mengeras. Ia menunjuk laki-laki yang sama sekali tak ia anggap keluarga. "Pria itu bukan ayahku."

Melody menatap tajam wajah yang memerah menahan amarah karena sudah dipermalukannya. Memangnya selama ini dia ada di mana?

Pria itu tidak punya hak sama sekali.

"Tenang saja, Melody. Aku ngerti kamu marah."

Pekerja sosial itu mencoba menenangkan situasi lalu menatap Edgard Lukita.

"Mengingat keadaannya, kami paham kamu merasa diperlakukan tidak adil dan dikecewakan banyak orang. Tapi Edgard Lukita memang ayah kandungmu. Hasil tes DNA sudah mengonfirmasi itu. Dia di sini buat ambil hak asuh dan jadi walimu sampai semua urusan pengadilan selesai."

Melody mendengus kesal. Rasanya mereka semua berharap ia tak pernah lahir, sama seperti si brengsek di sebelahnya ini. Aksi baik pria itu terasa amat palsu, entah untuk siapa sandiwara ini dipentaskan.

Perasaan takut mulai menjalar di ulu hati. Mungkin dia sama jahatnya dengan yang lain dan cuma mau memanfaatkan situasi.

"Kalian udah cek belum dia orang baik? Apa latar belakangnya bersih?"

"Kamu serius ngomong gini?" geram Edgard.

Melody langsung bangkit dari kursi dan berbalik menghadap pria itu. "Kenapa? Menurutmu aku bercanda ya? Dari mana aku tahu kalau kamu gak cabul kayak yang lainnya?"

Suara desahan napas terdengar memenuhi ruangan saat Melody melontarkan tuduhan itu. Ia ingin semua orang dengar kebenarannya.

"Aku tahu kamu udah banyak menderita, nona cantik. Tapi aku nggak akan biarin kamu hina aku di depan orang lain. Paham?" desis Edgard melalui gigi yang terkunci rapat.

Belum pernah Melody membenci seseorang yang baru dikenal sebesar ini. Biasanya rasa itu tumbuh seiring waktu, tapi kali ini instingnya langsung bilang kalau pria ini berbahaya.

"Tuan Lukita!" tegur pekerja sosial itu tegas.

Pria itu menoleh cepat ke arahnya.

"Bukan begini kesepakatannya. Ini semua masih baru buat dia. Aku memang nggak suka sikapnya, tapi melihat keadaannya, dia berhak curiga dan bertanya."

Edgard mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Jas abu-abunya meregang mengikuti otot lengannya yang kekar. Jelas sekali pria ini rajin olahraga dan tubuhnya atletis.

Melody bisa mengerti apa yang dilihat ibunya dulu dari pria itu, selain tentu saja status sosial yang diincar wanita itu saat mengandungnya. Namun setelah ditinggal, ibunya mencari pengganti lainnya, ayah tirinya yang sekarang menjadi sampah masyarakat itu.

"Aku tahu ... maaf."

Edgard menatap Melody dengan mata cokelat kopi dan rambut pirang gelap yang rapi.

"Maaf tadi aku emosi. Bukan begini caraku mau kenalan. Aku ..." Pria itu pun memejamkan mata bingung harus berkata apa.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!