Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.
Celestine setuju.
Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.
Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 24 : Kilat dibalik badai Es
Pagi itu, suasana di bawah Paviliun Mawar jauh lebih sibuk daripada biasanya. Suara dentuman palu yang bertemu dengan logam bergema di lorong-lorong bawah tanah yang baru saja digali. George berdiri di tengah ruangan bundar yang masih setengah jadi, memperhatikan para pekerja memasang lempengan emas peredam mana di dinding.
"Kau yakin ruangan ini bisa menahan serangan frekuensi seperti kemarin, Theodore?" tanya George sambil mengetuk dinding logam itu dengan tangan kristalnya.
Theodore yang sedang memeriksa cetak biru bangunan itu menoleh. "Seharusnya bisa, George. Eldric bilang emas adalah konduktor terbaik untuk menyebarkan tekanan mana secara merata. Jika Orde menyerang lagi dengan teknik penguras energi, ruangan ini akan bertindak sebagai sangkar pelindung."
"Tapi mawar itu butuh cahaya matahari, Kak. Bagaimana dia bisa bertahan di ruang bawah tanah yang gelap begini?" tanya Celestine yang baru saja turun membawa beberapa botol kristal berisi ekstrak cahaya.
Theodore tersenyum bangga. "Itulah gunanya menara pemantul yang sedang kita bangun di atas. Cahaya matahari akan dipantulkan melalui serangkaian cermin kristal langsung ke pusat ruangan ini. Mawar itu tidak akan tahu kalau dia sedang berada sepuluh meter di bawah tanah."
Julian masuk ke ruangan dengan wajah serius, membawa sebuah kotak besi kecil. "Kak George, ada sesuatu yang harus kau lihat. Aku menemukan ini di sisa jubah ksatria Orde yang kau kalahkan semalam."
George menerima kotak itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah lencana perak dengan ukiran mawar yang dibelah oleh sebuah pedang es. "Ini lambang keluarga kita, Julian. Kenapa mereka membawanya?"
"Itu bukan lambang keluarga biasa, George." suara Master Eldric terdengar dari balik pintu. Pria tua itu masuk dengan kacamata pembesarnya yang masih terpasang. "Jika kau perhatikan detail di bagian kelopaknya, ada inisial nama ibumu, Eleanor."
George tertegun. Jantungnya berdegup kencang. 'Ibu? Kenapa namanya ada di tangan pembunuh Orde?' batin George dengan perasaan berkecamuk.
"Maksudmu ibu terlibat dengan Orde Kristal Hitam?" tanya George dengan nada suara yang mulai meninggi.
"Bukan terlibat, Kak. Sepertinya Ibu adalah target asli mereka sejak lama. Ayah pernah bercerita kalau Ibu berasal dari garis keturunan penjaga mawar salju yang sudah punah di Utara." Julian menjelaskan dengan suara rendah.
Celestine meletakkan botol-botolnya dan mendekati George. "Artinya, mawar yang kita tanam kemarin bukan sekadar mawar salju biasa, George. Itu adalah mawar keturunan terakhir yang selama ini dicari oleh Orde."
"Jadi mereka tidak menginginkan energiku? Mereka menginginkan darah yang mengalir di dalam mawar itu?" tanya George sambil menatap mawar salju yang kini sudah dipindahkan ke tengah ruangan bawah tanah.
"Mungkin keduanya, George." sahut Theodore. "Darahmu adalah kunci untuk membuka kekuatan mawar ini, dan mawar ini adalah kunci untuk menguasai energi seluruh Utara. Itulah kenapa mereka sangat terobsesi padamu."
George berjalan mendekati pot pualam mawar itu. Bunga itu bersinar lembut, seolah menyapa kehadirannya. "Aku menghabiskan seluruh hidupku menganggap es ini sebagai kutukan. Ternyata, ini adalah warisan yang harus ku lindungi."
"Lalu apa rencana kita sekarang, Kak? Kita tidak bisa terus bersembunyi di bawah tanah ini." tanya Julian.
"Kita tidak akan bersembunyi, Julian. Kita akan memancing mereka keluar." jawab George tegas.
"Kau gila? Itu sangat berbahaya, George!" seru Celestine.
"Celestine, selama mereka berpikir mawar ini masih lemah, mereka akan terus mengirim pembunuh bayaran. Kita harus menunjukkan bahwa mawar ini sudah menyatu denganku. Kita akan mengadakan pesta pertunangan kita di lapangan terbuka, seperti yang sudah direncanakan." kata George.
"Tapi itu sama saja dengan memasang umpan di tengah kerumunan serigala, George." Theodore memperingatkan.
"Benar, Theodore. Tapi serigala hanya akan keluar jika mereka melihat mangsa yang empuk. Kita akan menyiapkan jebakan di sekeliling area pesta. Julian, kau akan memimpin unit pengintai dari Utara. Celestine, kau dan Eldric siapkan perisai matahari terluas yang pernah kalian buat." George mulai memberikan perintah.
"Dan aku? Apa peranku dalam rencana nekat ini?" tanya Theodore sambil menyilangkan tangan.
"Kau akan menjadi raja yang seperti biasanya, Theodore. Tetaplah terlihat tenang dan bangga. Biarkan mereka berpikir kita tidak tahu apa-apa tentang rencana mereka." jawab George.
'Aku harus memastikan Celestine dan mawar ini aman, apa pun risikonya,' batin George sambil menatap mata Celestine yang masih penuh kekhawatiran.
"Baiklah, Jenderal. Aku akan mengikuti permainanmu. Tapi jika sesuatu terjadi pada adikku, aku sendiri yang akan membekukan mu kembali." gurau Theodore, meski matanya menunjukkan keseriusan.
"Aku mengerti, Theodore." jawab George singkat.
"Julian, bantu aku menyiapkan perlengkapan pengintaian. Kita butuh alat peredam suara yang lebih canggih dari milik Orde." kata George pada adiknya.
"Siap, Kak! Aku akan pastikan tidak ada tikus yang bisa lewat tanpa seizin kita." Julian menjawab penuh semangat.
Setelah yang lain pergi meninggalkan ruangan bawah tanah, tinggal George dan Celestine yang tersisa. Keheningan kembali menyelimuti mereka, hanya terdengar suara tetesan air dari sistem irigasi alkimia.
"George, jujurlah padaku. Apakah kau melakukan ini karena ingin melindungi kerajaan, atau karena kau ingin membalas dendam atas apa yang mereka lakukan pada ibumu?" tanya Celestine lembut.
George menghela napas panjang. "Mungkin keduanya, Celestine. Tapi yang paling penting, aku ingin dunia tahu bahwa kita tidak bisa ditekan lagi. Aku ingin kita bisa menikah tanpa harus takut ada bayangan yang mengintai di balik pintu."
Celestine memeluk George dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung ksatria itu. "Aku takut, George. Aku takut kehilanganmu tepat saat aku baru saja menemukanmu kembali."
George berbalik dan memegang wajah Celestine dengan tangan manusianya. "Kau tidak akan kehilanganku. Cahayamu dan esku sudah menjadi satu. Ingat apa yang terjadi di lapangan kemarin? Mawar itu melindungi kita. Kita adalah satu kesatuan sekarang."
"Berjanjilah padaku satu hal, George." kata Celestine.
"Apa itu?"
"Jangan pernah menghadapi mereka sendirian lagi. Gunakan kekuatanku juga. Jangan memikul semua beban ini di pundakmu sendiri." pinta Celestine.
"Aku berjanji, Celestine. Kita akan menghadapi mereka bersama." jawab George.
'Aku harus lebih kuat dari sebelumnya. Bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menjaga matahari ini tetap bersinar,' batin George dengan tekad yang semakin bulat.
Tiba-tiba, mawar salju di depan mereka mengeluarkan pendaran cahaya yang sangat kuat, menerangi seluruh ruangan bawah tanah itu hingga menjadi seputih salju. Kelopaknya bergoyang pelan, seolah-olah memberikan persetujuan atas sumpah yang baru saja diucapkan George.
"Lihat, George. Dia mendengar mu." bisik Celestine dengan penuh kekaguman.
"Dia tidak hanya mendengar, Celestine. Dia bersiap bersama kita." jawab George.
Keesokan harinya, persiapan pesta pertunangan dimulai dengan skala yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Seluruh Valley berhias. Bendera emas dan biru berkibar di setiap sudut kota. Namun, di balik kemeriahan itu, ribuan prajurit dan alkemis sedang bersiaga dalam bayang-bayang.
"Semua sudah siap, George. Unit pengintai Julian sudah di posisinya masing-masing." lapor Theodore saat mereka berdiri di balkon istana melihat kerumunan rakyat di bawah.
"Bagus. Biarkan pesta dimulai. Mari kita lihat siapa yang akan datang membawa mawar hitam untuk kita." kata George dengan nada dingin yang mematikan.
Persiapan di ruang bawah tanah masih terus berlanjut, namun suasana mendadak terasa lebih berat saat George menghunus pedang hitamnya untuk diperiksa oleh Master Eldric. Bilah pedang itu tampak bergetar pelan, mengeluarkan suara dengung rendah yang tidak biasanya.
"George, ada sesuatu yang aneh dengan pedangmu. Sejak pertempuran melawan Vane, logam ini terus menyimpan sisa statis yang cukup tinggi," ujar Master Eldric sambil mendekatkan alat pendeteksi mananya.
George menghela napas, ia menyentuh bilah pedang itu dengan tangan kristalnya. "Itu bukan sisa sihir lawan, Master. Itu adalah energiku sendiri."
Theodore yang sedang meminum tehnya langsung tersedak. "Tunggu dulu. Energimu? Aku tahu kau adalah pengguna es tingkat tujuh, yang merupakan pencapaian luar biasa bagi ksatria Utara. Tapi suara dengung itu... itu terdengar seperti petir."
George menatap Theodore dengan lekat. "Maafkan aku karena baru menceritakan ini sekarang. Di Utara, memiliki elemen petir dianggap sebagai anomali yang berbahaya bagi pengguna es. Mereka menyebutnya 'Kilat Terlarang'. Itulah sebabnya aku selalu menekan elemen itu dan hanya menggunakan sihir es tingkat tujuh untuk menutupi identitasku."
"Jadi kau memiliki elemen ganda?" tanya Celestine dengan mata membelalak kagum.
"Bukan sekadar elemen ganda, Celestine. Alasan kenapa aku bisa mencapai tingkat dua belas dalam keahlian berpedang dan menjadi Master Pedang adalah karena aku menggunakan kecepatan petir untuk mempercepat gerakanku, sementara lawan mengira aku hanya mengandalkan kekuatan fisik," jelas George.
Julian mengangguk pelan dari sudut ruangan. "Aku pernah melihat Kak George berlatih di tengah badai salju saat malam hari. Gerakannya begitu cepat hingga ia tampak seperti menghilang di antara butiran es. Ayah melarangnya menunjukkan itu di depan publik agar Orde tidak semakin terobsesi untuk membedah tubuhnya."
"Tingkat dua belas dalam ilmu pedang... pantas saja kau bisa menghancurkan zirah Kross tanpa menggunakan setetes pun mana es," gumam Theodore sambil geleng-geleng kepala. "Kau benar-benar monster yang penuh rahasia, George."
"Aku tidak bermaksud menyembunyikannya dari kalian. Tapi petir adalah elemen yang sulit dikendalikan jika digabungkan dengan es. Jika aku salah sedikit, es dalam tubuhku bisa hancur karena resonansi listrik," kata George.
'Aku harus memastikan bahwa kekuatanku ini bisa menjadi kejutan terakhir bagi Orde,' batin George sambil merasakan aliran listrik statis di ujung jemarinya.
"George, jika kau adalah seorang Master Pedang tingkat dua belas, artinya pesta pertunangan besok akan menjadi panggung pembantaian bagi siapa pun yang mencoba menyerang," ujar Theodore dengan nada yang kini lebih percaya diri.
"Aku tidak ingin ada pertumpahan darah di hari bahagiaku, Theodore. Tapi jika mereka memaksa, mereka akan merasakan betapa cepatnya badai yang sesungguhnya," jawab George dingin.
Celestine mendekati George dan menyentuh bahunya. "Kenapa kau terlihat begitu terbebani? Memiliki kekuatan ekstra seharusnya membuatmu merasa lebih aman."
"Masalahnya adalah mawar salju ini, Celestine. Dia bereaksi sangat kuat terhadap elemen petirku. Setiap kali aku melepaskan sedikit saja aliran listrik, kelopaknya akan berpendar sangat terang. Aku takut jika aku bertarung dengan kekuatan penuh, mawar ini akan ikut meledak karena kelebihan energi," jelas George.
"Itu sebabnya kita butuh ruangan ini!" sela Master Eldric dengan semangat baru. "Emas di dinding ini bukan hanya peredam mana, tapi juga konduktor petir yang sempurna. Jika kau bertarung di luar sana dan mawar ini mulai menerima limpahan energimu, sirkuit emas ini akan mengalirkan kelebihannya ke dalam tanah."
"Jadi, aku bisa bertarung tanpa perlu menahan diri?" tanya George untuk memastikan.
"Secara teori, ya. Tapi kau harus tetap waspada. Tingkat dua belas adalah wilayah di mana tubuh manusiamu akan menanggung beban yang sangat besar," peringat Eldric.
'Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit. Yang tidak bisa kuterima adalah kegagalan,' batin George dengan tekad yang semakin mengeras.
"Julian, siapkan pedang cadanganku yang terbuat dari baja hitam murni. Aku butuh senjata yang tidak akan meleleh saat aku mengalirkan petir ke dalamnya," perintah George.
"Siap, Master Pedang!" sahut Julian dengan nada bangga yang tidak bisa ia sembunyikan.
"George, berjanjilah padaku satu hal lagi." Celestine menatap mata George dengan sangat serius.
"Apa itu?"
"Jangan pernah menggunakan tingkat maksimalmu jika itu artinya kau harus mengorbankan dirimu sendiri. Aku lebih suka memiliki suami yang lambat daripada kehilangan ksatria yang terlalu cepat," pinta Celestine.
George tersenyum kecil, ia menarik Celestine ke dalam pelukannya. "Aku tidak akan ke mana-mana, Celestine. Petirku hanya akan digunakan untuk memastikan masa depan kita tetap terang."
Theodore berdiri dan menepuk tangannya. "Baiklah! Dengan Master Pedang tingkat dua belas di sisi kita, aku rasa aku bisa tidur lebih nyenyak malam ini. Mari kita selesaikan persiapan ini. Besok, seluruh dunia akan melihat kekuatan asli dari Pelindung Fajar Valley!"