Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Air Mata Buaya dan Bubur Ayam Kuah Kuning
Dua orang prajurit bertambang garang mengawalku menuju Paviliun Teratai Putih, tempat tinggal Laras.
"Jalan lebih cepat!" bentak salah satu prajurit, mendorong punggungku dengan gagang tombak.
"Sabar, Mas! Kain jarik ini sempit, bukan celana training!" balasku ketus. Aku, Kirana, masih belum terbiasa dengan langkah-langkah kecil ala putri keraton. Rasanya seperti berjalan dengan kaki diikat.
Paviliun Teratai Putih terletak di bagian timur kediaman Jenderal, menghadap taman air yang indah. Berbeda dengan kamar Tantri yang suram dan terpencil, tempat ini terang, wangi bunga, dan dipenuhi pelayan yang lalu lalang membawa baskom air hangat serta handuk.
Jelas sekali siapa yang jadi favorit di rumah ini.
Begitu aku melangkah masuk ke kamar utama, aroma obat herbal yang pahit langsung menyengat hidung. Jenderal Arga sudah ada di sana, duduk di tepi ranjang dengan wajah khawatir yang jarang ia tunjukkan.
Di atas ranjang dengan kelambu sutra tipis, terbaringlah sosok itu. Laras.
Dia cantik. Harus kuakui, dia sangat cantik dengan cara yang rapuh. Kulitnya pucat transparan, matanya besar dan basah, tubuhnya mungil seolah bisa patah jika disentuh terlalu keras. Dia adalah definisi "Gadis dalam Bahaya" yang memicu insting kepahlawanan setiap pria.
Termasuk Arga.
"Kakak Tantri..." Laras bersuara lirih begitu melihatku. Suaranya bergetar, air mata langsung menetes dari sudut matanya tanpa effort. Aktingnya layak dapat Piala Oscar.
"Kenapa Kakak tega?" isaknya. "Apa salah Laras? Laras hanya ingin membuatkan teh untuk Kakak kemarin, tapi kenapa Kakak menaruh racun di mangkuk Laras?"
Arga menoleh padaku. Tatapannya kembali dingin, sisa-sisa kepuasan makan Nasi Goreng tadi lenyap tak berbekas. "Jelaskan, Tantri. Dia baru siuman dan langsung menyebut namamu."
Aku menarik napas panjang. Oke, Kirana. Jangan emosi. Jangan jambak rambutnya. Pakai logika.
Di novel aslinya, Tantri yang asli akan mengamuk, berteriak "Bukan aku!", lalu menuduh Laras berpura-pura, yang justru membuat Arga semakin yakin Tantri bersalah karena terlihat histeris.
Aku tidak akan melakukan kesalahan pemula itu.
Aku berjalan mendekat dengan tenang. Aku berdiri tegak, dagu terangkat, tapi wajahku kusutkan sedikit agar terlihat prihatin (akting juga dong).
"Laras," sapaku lembut. "Aku bersyukur kau selamat. Jika kau mati, aku pasti sudah jadi hantu tanpa kepala sekarang."
Laras tertegun. Dia mengharapkan amukan, bukan kalimat syukur.
"Tapi Laras," lanjutku, mataku memindai wajahnya. "Kau bilang kau keracunan arsenik semalam? Muntah darah?"
"I-iya..." Laras terbatuk-batuk kecil sambil memegangi dadanya. "Rasanya... rasanya ususku terbakar..."
"Aneh," gumamku sambil mengetuk dagu. "Aku pernah belajar sedikit tentang racun dari... buku. Arsenik dosis tinggi akan membuat bibir membiru, kuku menghitam, dan korbannya akan kejang-kejang bahkan setelah siuman. Tapi kulihat... bibirmu merah muda segar. Kukumu bersih. Dan suaramu cukup lantang untuk menuduhku."
Arga mengernyitkan dahi. Dia menatap Laras.
Laras panik sekilas, tapi dengan cepat menutupinya dengan tangisan yang lebih kencang. "Huwaaa! Jenderal! Lihat! Dia malah mendoakan Laras mati! Dia bilang Laras bohong! Sakit... perut Laras sakit sekali..."
Dia menggeliat di kasur, memegang perutnya. Arga langsung panik lagi, memegang tangan Laras. "Panggil tabib! Cepat!"
"Tidak perlu tabib," potongku. "Dia hanya lapar. Perut kosong kena obat keras pasti perih."
Aku menatap Arga. "Jenderal, kau memberinya izin makan apa sejak siuman?"
"Dia menolak makan," jawab Arga gusar. "Dia bilang takut ada racun lagi di makanan dapur."
"Nah, itu masalahnya. Asam lambungnya naik. Kalau dibiarkan, dia bukan mati karena racun, tapi mati konyol karena maag. Persis sepertimu."
Arga melotot mendengar kalimat terakhirku. Berani-beraninya aku menyamakan penyakit lambung Jenderal dengan penyakit gadis manja.
"Biar aku yang masak," tawarku tiba-tiba.
"Apa?!" seru Laras dan Arga bersamaan.
"Jangan bercanda!" bentak Arga. "Kau tersangka utamanya! Kau mau meracuninya lagi lewat makanan?"
"Pikir pakai logika, Jenderal," kataku santai. "Aku sudah jadi tahananmu. Kalau Laras mati sekarang setelah makan masakanku, kepalaku langsung putus detik itu juga. Apa aku terlihat sebodoh itu mau bunuh diri?"
Arga terdiam. Logikanya masuk akal.
Aku menoleh ke Laras, tersenyum miring. "Atau... kau takut makan masakanku karena kau takut ketahuan kalau kau sebenarnya sehat walafiat dan bisa makan banyak?"
Itu provokasi. Laras, dengan egonya yang ingin terlihat sebagai korban yang teraniaya tapi 'memaafkan', tidak punya pilihan.
"A-aku... aku percaya Kak Tantri sudah berubah," kata Laras terbata, mencoba terlihat suci. "Kalau Kakak yang masak... Laras mau makan sedikit. Sekadar menghargai."
Kena kau.
"Bagus. Pinjam dapur kecil di paviliun ini. Aku butuh 20 menit."
[Dapur Kecil Paviliun Teratai]
Dapur ini jauh lebih bersih daripada dapur utama, tapi bahan makanannya terbatas. Hanya ada beras, ayam rebus sisa kemarin, seledri, kacang kedelai goreng, dan bumbu dasar.
Aku memutuskan membuat Bubur Ayam Kuah Kuning.
Kenapa bubur? Karena itu makanan orang sakit paling standar, tapi dengan teknik yang benar, rasanya bisa sangat menghibur (comfort food).
Aku merebus beras dengan kaldu ayam yang kumasak dengan jahe geprek dan bawang putih. Jahe akan menghangatkan perut Laras (dan menghilangkan alasan 'sakit perut'-nya).
Sambil menunggu bubur jadi, aku membuat kuah kuning.
Aku menumis kunyit, bawang merah, bawang putih, kemiri, dan ketumbar yang sudah diulek halus. Tumisan itu kumasukkan ke dalam sisa air rebusan ayam. Harum rempah langsung memenuhi ruangan kecil itu.
Ayam rebusnya aku suwir tipis-tipis.
Kacang kedelai aku goreng sebentar agar renyah.
Seledri aku iris halus.
Dalam 15 menit, semangkuk bubur ayam panas dengan kuah kuning yang gurih, taburan ayam suwir, kacang, dan seledri sudah siap. Tidak lupa, aku menambahkan sedikit kecap asin (pengganti kecap asin modern).
Aku membawa nampan itu kembali ke kamar Laras.
[Kamar Laras]
Aroma bubur ayam itu mendahuluiku masuk.
Perut Arga berbunyi lagi. Kruyuk.
Sial, Jenderal ini gampang sekali lapar kalau mencium bau enak.
"Ini dia," kataku, meletakkan mangkuk di meja samping ranjang. "Bubur Ayam Kuah Kuning. Aman, sehat, dan tanpa sianida."
Laras menatap bubur itu. Uapnya mengepul, membawa aroma gurih yang menggoda. Dia sebenarnya sangat lapar karena seharian cuma minum obat pahit demi akting sakitnya.
"Jenderal dulu yang coba," kata Arga, mengambil sendok.
Dia menyendok sedikit bubur dan kuahnya. Masuk ke mulut.
Ekspresi Arga berubah.
Tekstur buburnya lembut tapi tidak encer. Kuah kuningnya kaya rempah, menghangatkan tenggorokan. Jahenya terasa samar tapi nendang.
"Enak," gumam Arga tanpa sadar. Dia mau menyuap lagi, tapi sadar itu jatah 'pasien'. Dengan berat hati dia meletakkan sendok.
"Aman. Makanlah, Laras," perintah Arga.
Laras, melihat Arga bilang enak, jadi penasaran. Dia membuka mulutnya saat Arga menyuapinya (modus manja).
Suapan pertama. Mata Laras membola.
Enak!
Ini jauh lebih enak daripada bubur hambar buatan koki istana yang rasanya kayak lem kertas. Rasa gurihnya pas, ayamnya lembut.
"Gimana? Mual nggak?" tanyaku dengan tangan bersedekap.
"Emm... lumayan," jawab Laras gengsi. "Sedikit hambar, tapi... Laras bisa telan."
Padahal dalam hati dia bersorak. Mulutnya mengunyah cepat.
Satu suap. Dua suap. Lima suap.
Tanpa sadar, Laras makan dengan lahap. Lupa kalau dia sedang akting 'sekarat'. Dia bahkan meminta tambah kuah.
Aku tersenyum penuh kemenangan.
"Wah, Nona Laras makannya lahap sekali ya. Sepertinya racunnya sudah hilang total. Orang yang ususnya terbakar biasanya susah menelan air, apalagi kacang goreng."
Arga berhenti menyuapi. Dia menyadari sesuatu. Laras terlihat sangat bugar saat mengunyah. Pipinya merona, tidak pucat lagi.
Laras tersedak. Dia sadar dia kelepasan.
"Uhuk! Uhuk! I-ini karena... karena Laras menghargai usaha Kak Tantri... sebenarnya perut Laras sakit sekali..."
Dia mendorong mangkuk itu menjauh, pura-pura lemas lagi.
Tapi Arga bukan orang bodoh. Dia melihat mangkuk itu sudah habis setengah dalam waktu kurang dari lima menit.
Arga meletakkan mangkuk itu di meja. Dia berdiri, menatap Laras dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada sedikit keraguan di matanya tentang 'keparahan' penyakit Laras.
"Istirahatlah," kata Arga datar. "Tantri benar. Kau butuh makan agar sembuh."
Arga berbalik menatapku.
"Kau. Ikut aku."
[Koridor Kediaman]
Arga membawaku keluar dari paviliun Laras. Matahari sudah mulai terbenam, menciptakan siluet oranye di pilar-pilar kayu.
"Kau bermain api, Tantri," kata Arga tanpa menoleh.
"Aku cuma masak bubur, Jenderal. Api-nya untuk masak, bukan bakar rumah," jawabku santai.
Arga berhenti mendadak, membuatku hampir menabrak punggung tegapnya yang keras seperti tembok. Dia berbalik, menatapku lekat. Jarak kami sangat dekat hingga aku bisa melihat pori-pori wajahnya yang... oke, harus kuakui, mulus tanpa skincare.
"Siapa kau sebenarnya?" bisiknya tajam. "Tantri yang kunikahi tiga tahun lalu adalah wanita boros yang bahkan tidak tahu air mendidih itu panas. Tapi kau... kau memegang pisau seperti prajurit memegang pedang. Kau bicara dengan logika, bukan air mata."
Jantungku berdegup kencang. Apakah dia tahu?
"Orang bisa berubah setelah melihat gerbang kematian, Arga," jawabku, menatap matanya lurus-lurus. Aku memutuskan untuk memanggil namanya tanpa embel-embel Jenderal. Biar lebih dramatis.
"Mungkin Tantri yang dulu sudah mati ketakutan saat kau hunus pedang tadi pagi. Yang berdiri di depanmu sekarang adalah Tantri yang ingin hidup."
Arga terdiam. Angin sore menerbangkan helai rambutnya. Ada kilat ketertarikan di matanya yang dingin itu. Bukan cinta, belum. Tapi rasa penasaran.
"Baiklah, Tantri yang 'ingin hidup'," ucapnya. "Buktikan."
"Besok lusa, pasukan utamaku akan berangkat ke perbatasan Selatan. Koki barak sedang sakit. Persediaan makanan kacau balau."
Arga mendekatkan wajahnya ke telingaku. Suaranya rendah dan berbahaya.
"Buat perbekalan untuk 50 prajurit elitku. Makanan yang tahan lama, enak, dan bisa dimakan sambil berkuda. Jika kau gagal, atau jika ada satu prajuritku yang sakit perut..."
Dia menarik diri, menyeringai tipis.
"Kau akan kujadikan umpan meriam di garis depan."
Setelah itu, dia pergi. Meninggalkan aku yang melongo di koridor.
Apa katanya?
Masak buat 50 orang?! Makanan tahan lama untuk perang?!
Dia pikir aku pabrik sarden?!
"Dasar Jenderal Sinting!" teriakku frustrasi (setelah dia jauh, tentu saja).
Tapi kemudian, otak kokiku mulai bekerja.
Makanan tahan lama. Enak. Praktis. Energi tinggi.
Bukan sarden. Bukan mie instan.
Aku tersenyum.
"Oke, Arga. Kau mau makanan perang? Akan kuberi kau makanan perang terhebat dari Nusantara."
RENDANG DAN ABON SAPI.
Tunggu saja. Pasukanmu akan berperang dengan perut bahagia, dan kau akan berlutut memohon resep padaku.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
musuh baru akan segera datang
🤣
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
sampai segala cara di pake buat merebut arga
seperti apa kisah cinta mu jenderal