NovelToon NovelToon
Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: Eliana. s

Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 Dugaan Yang Sulit Diterima

Bayangan wajah suamiku, Dean Junxian, terus berkelindan dengan wajah Kak Zhiyi di benakku, bergantian seperti lampu sorot yang menyilaukan. Aku ingin memastikan kebenaran dari dugaan yang mulai menusuk hatiku, namun di saat yang sama, setiap serat jiwaku menolak untuk mempercayainya.

Bagaimana pun juga, aku tidak sanggup menerima kenyataan itu.

"Tidak mungkin," pikirku, menelan ludah.

Dean Junxian adalah pria yang sangat mencintaiku. Sejak pertemuan pertama, kami saling mengenal, jatuh cinta, dan membangun rumah tangga yang penuh kebahagiaan bersama tiga anak kami yang menggemaskan. Sepuluh tahun pernikahan kami berlalu tanpa pertengkaran hebat sekalipun. Kelembutan, perhatian, dan kasih sayang yang ia curahkan setiap hari membuatku sepenuhnya percaya kepadanya.

Bagaimana mungkin dia tega melakukan hal yang bahkan tak terlintas dalam benakku? Tidak mungkin… sungguh tidak mungkin!

Namun, ada satu hal yang membuatku ragu. Kalau itu bukan Kak Zhiyi, kenapa rasanya begitu familiar?

Sebelum dia datang ke rumah kami, aku bahkan tidak mengenalnya. Kami tidak pernah bersinggungan dalam masalah pribadi, apalagi menyimpan dendam lama. Bahkan, gaji yang kuberikan padanya termasuk salah satu yang tertinggi di bidangnya.

Dulu, aku yang memilihnya sendiri. Usianya dua tahun lebih tua dariku, penampilannya rapi, dan gerakannya cekatan. Begitu lulus SMA, dia langsung menekuni bidang ini dan berhasil menjadi asisten rumah tangga yang dianggap “unggulan.”

Saat aku membawanya pulang, suamiku terlihat kurang sreg. Dia sempat berbisik dengan nada ragu, “Apa dia tidak kemudaan? Bisa diandalkan nggak, ya?”

Aku tersenyum kecil, menenangkan hatinya sambil membalas dengan nada manja dan penuh percaya diri, “Memangnya kalau muda berarti tidak becus? Lihat saja, dia rapi, lincah, dan pekerjaannya pasti sempurna. Dia ini asisten kelas satu, kamu jangan terlalu pemilih deh.”

Aku bahkan menambahkan sedikit godaan, “Harusnya aku yang merasa khawatir, bukan kamu!”

Dean Junxian tersenyum, mencubit pipiku dengan gemas, lalu berbisik di telingaku, “Mikir apa sih? Jangan ngomong sembarangan!”

Setelah itu, dia menarikku ke dalam pelukannya, hangat dan menenangkan, dan berbisik manja, “Ya sudah, yang penting kamu merasa cocok. Lagipula dia bekerja untukmu, dan dialah yang akan menemanimu setiap hari.”

Aku menutup mata sejenak, merasakan kehangatan yang selalu membuatku merasa aman namun bayangan dugaan yang mengganggu itu terus menggeliat di balik hatiku, menuntut jawaban yang mungkin tidak ingin kutemukan.

"Aku cuma takut anak muda itu nggak betah kerja. Baru sebentar sudah minta berhenti, itu repot sekali!"

Aku tersenyum pahit mendengar gumamanku sendiri. Siapa sangka, Kak Zhiyi justru orang yang sangat setia. Dia sudah bekerja denganku hampir delapan tahun lamanya. Selama itu, hubungan kami sangat harmonis; aku memperlakukannya seperti saudara sendiri. Mana mungkin dia tega melakukan hal yang jahat kepadaku, apalagi meracuniku?

Lagipula, jika benar dia pelakunya, mustahil Dean Junxian tidak menyadari perubahan kondisi tubuhku setelah minum obat itu. Dia tidak mungkin diam begitu saja tanpa menanyakan reaksiku, tidak mungkin…

Aku tidak berani membiarkan pikiran itu melangkah lebih jauh.

Mungkin karena aku tidak meminum seluruh semangkuk obat itu, atau mungkin karena shock melihat kondisi Cona, kucing kesayanganku, rasa kantuk yang biasanya menyerang tiba-tiba hilang sepenuhnya. Aku merasa seperti roh yang baru terbangun dari mimpi buruk yang panjang; kesadaranku menjadi sangat tajam. Setiap sel di tubuhku seolah meledak, membanjiri tubuh dengan energi yang luar biasa, hingga aku merasa berada dalam keadaan euforia yang tidak wajar.

Ketakutan yang bercampur kebingungan itu membuatku tak mampu memejamkan mata. Malam itu terasa begitu panjang, lambat, dan sepi.

Namun yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa sepanjang malam, tak ada seorang pun yang datang memeriksa keadaanku. Tak ada yang menanyakan apakah aku sudah makan, atau sekadar memedulikan keadaanku. Rasa sepi itu menusuk hingga ke dasar hati. Perlahan, aku mulai menyadari sesuatu: selama ini, hari-hariku banyak dihabiskan dalam kesendirian. Aku mengurung diri di ruang pribadi, tanpa ada seorang pun yang peduli.

Ternyata, perhatian Dean Junxian selama ini tidaklah setulus yang aku bayangkan. Sama seperti malam ini, perhatian yang aku harapkan darinya tidak pernah datang. Mungkinkah dia sudah terbiasa melihatku terlelap tanpa menunggu atau memperhatikanku?

Fajar mulai menyingsing, menyiram cahaya tipis ke ruangan. Cona, yang sedari tadi terlelap di balik selimut, mulai berangsur sadar. Tatapan matanya awalnya kosong, hanya mengeong lemah satu-dua kali. Perlahan, kaki dan tangannya bergerak, tubuhnya meregang dengan kuat, membalikkan badan, lalu meringkuk kembali di sampingku, kembali ke posisi tidurnya semula. Namun, meski sudah bergerak, ia masih tampak lesu dan tidak bersemangat; sepertinya belum sepenuhnya terjaga.

Kemiripan itu tak pelak membuat kecurigaanku kian membara, seperti bara api yang tak kunjung padam.

Dalam keputusasaan yang mencekam, aku memeluk Cona, si kucing kecil, seolah dia satu-satunya yang bisa kurengkuh di dunia yang mendadak terasa dingin dan asing ini. Wajahku menempel di bulunya yang halus dan lembut, dan air mata jatuh tanpa suara, menumpahkan segala kebingungan dan kepedihan yang menyesakkan dadaku.

Aku tidak mengerti mengapa semua ini harus terjadi. Siapa sebenarnya yang tega melakukan hal mengerikan ini padaku? Mengapa hidupku tiba-tiba dipenuhi oleh ketakutan dan kecurigaan yang mencekam?

Lama aku terdiam, membiarkan diri hanyut dalam gelapnya rasa takut. Namun akhirnya, aku mendongak perlahan, mengatupkan rahang rapat-rapat, dan memaksakan tekad yang kaku di hatiku: aku tidak boleh hanya diam menunggu nasib menentukanku. Aku harus menemukan kebenarannya, apapun risikonya.

Dengan tekad yang mulai membara, aku sadar bahwa langkahku harus sangat berhati-hati. Gegabah sedikit saja, dan semua rencana bisa hancur; lawanku akan segera menyadari bahwa aku mulai curiga. Aku harus tetap berpura-pura “tertidur”, seolah semuanya normal, sementara aku diam-diam menelusuri jejak kebenaran.

Langkah pertama yang harus kulakukan jelas: mencari tahu siapa yang memberikan obat itu, dan apa tujuan sebenarnya dari tindakan kejam ini. Setiap detail sekecil apapun bisa menjadi kunci untuk mengungkap misteri yang menakutkan ini.

Dalam kekalutan itu, aku masih menyimpan secercah harapan. Aku memilih untuk meyakinkan diri bahwa jika pelakunya memang Kak Zhiyi, mungkin aku bisa menanggungnya; mungkin itu lebih mudah untuk diterima daripada kenyataan lain yang lebih mengerikan.

Namun, kenyataan pahit itu menghantamku begitu cepat, seperti tamparan keras yang membuat dunia di sekitarku sejenak berhenti. Rasa sakitnya menusuk hingga ke tulang sumsum, meninggalkan bekas yang begitu dalam.

Dan yang lebih menyakitkan, kenyataannya jauh lebih kejam daripada apa pun yang pernah kubayangkan. Gelapnya tipu daya ini, dinginnya pengkhianatan, semuanya terasa seperti badai yang siap menelan setiap harapan yang tersisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!