Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.
Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.
Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Evakuasi Dan Borgol Elektromagnetik
Kapsul penyelamat itu akhirnya mengapung di permukaan laut yang tenang. Begitu pintunya terbuka, bukan pelukan romantis yang menyambut, melainkan deru helikopter taktis milik kepolisian Kota Metropol yang dipimpin langsung oleh Reyhan.
"Semuanya, angkat tangan! Kecuali tim Feng Group!" teriak Reyhan dari pengeras suara helikopter.
Pasukan katak kepolisian langsung mengepung sisa-sisa petinggi Ouroboros yang mencoba melarikan diri dengan pelampung darurat. Di tengah kekacauan itu, The Architect yang babak belur ditarik paksa dari reruntuhan kapsul oleh Chen Lian.
"Secara logika taktis, kau sudah tamat, Arsitek," ucap Chen Lian dingin sambil menyerahkan pria itu kepada Reyhan.
"Borgol dia dengan frekuensi pengacau saraf, Reyhan!" seru Rania yang muncul dari balik helikopter dengan wajah cueknya yang legendaris. Ia memegang sebuah borgol khusus berbahan titanium. "Dia punya microchip di balik kulitnya. Kalau tidak segera diisolasi, dia bisa meretas sistem helikopter ini dalam lima detik."
Reyhan mendengus, menerima borgol itu. "Kau selalu saja mendikteku, Nona Dingin. Tapi... baiklah, idemu masuk akal."
KLIK!
The Architect resmi ditahan. Di sisi lain, Feng Yan sedang membantu Lin Diya naik ke atas dek kapal penyelamat. Gaun pengantin Diya sudah hancur lebur, menyisakan kain putih yang compang-camping namun tetap terlihat anggun.
"Diya, kau siap?" tanya Feng Yan lembut. "Kita punya waktu dua jam untuk mandi, ganti baju, dan menyiapkan berkas penuntutan sebelum sidang darurat dimulai sore ini."
Diya menghirup napas dalam-dalam, menatap The Architect yang sedang diseret masuk ke sel isolasi di kapal polisi. "Secara hukum acara pidana, Tuan Feng... saya tidak butuh dua jam. Berikan saya laptop, segelas kopi pahit, dan ruangan yang tenang. Saya akan menghancurkannya di depan hakim hari ini juga."
Anitha tertawa sambil menepuk pundak Diya. "Itu baru temanku! Tuan Hantu, ayo bantu aku mengamankan bukti-bukti hard drive yang diselamatkan Rania tadi. Jangan sampai ada yang 'tercecer' ke pasar gelap."
Chen Lian mengangguk, namun matanya tetap waspada menatap Rania. "Gadis itu... dia punya metode yang aneh."
"Namanya efisiensi, Tuan Hantu," sahut Rania tanpa menoleh, matanya masih fokus pada tabletnya yang sedang mengunggah data ke server kejaksaan. "Sesuatu yang sepertinya jarang kalian temui di dunia 'Bayangan' kalian yang penuh drama."
Reyhan yang mendengar itu hanya bisa geleng-geleng kepala. "Tuan Feng, anak buahmu yang baru ini benar-benar tidak punya filter bicara ya?"
Feng Yan tertawa lebar, ia merangkul Diya dengan bangga. "Justru itu yang kita butuhkan, Reyhan. Sekarang, ayo ke daratan! Kita punya 'pesta' yang jauh lebih seru di ruang sidang daripada di Pulau Nol!"
Tiga jam kemudian. Gedung Pengadilan Tinggi Kota Metropol.
Suasananya sangat kontras. Di luar, wartawan berkerumun. Di dalam, Lin Diya sudah berdiri tegak dengan jubah pengacara hitam yang baru dan sangat rapi. Rambutnya disanggul kencang, menampakkan wajahnya yang penuh tekad.
Di kursi terdakwa, The Architect menatap Diya dengan kebencian mendalam.
"Yang Mulia," Diya memulai pembukaannya, suaranya jernih dan berwibawa. "Bukti-bukti yang kami bawa dari dasar Samudera Pasifik bukan sekadar data. Ini adalah saksi bisu atas kejahatan kemanusiaan yang tersembunyi selama tiga dekade. Terdakwa menggunakan teknologi bukan untuk memajukan peradaban, melainkan untuk menyunting takdir orang lain sesuai keinginannya."
Di kursi penonton, Feng Yan duduk berdampingan dengan Rania, Reyhan, Anitha, dan Chen Lian. Sementara Rendy memantau dari galeri atas bersama Maya, siap memblokir serangan siber apa pun dari sisa-sisa pengikut Ouroboros.
"Secara logika hukum perdata dan pidana..." Diya mengeluarkan sebuah flash drive emas. "Ini adalah rekaman asli tahun 1996. Rekaman yang membuktikan bahwa ayah saya bukan korban kecelakaan, melainkan target eliminasi yang diperintahkan oleh pria ini!"
Ruang sidang gempar. Hakim mengetuk palu berkali-kali.
"Ini palsu!" teriak The Architect. "Data itu bisa dimanipulasi!"
"Manipulasi?" Rania tiba-tiba berdiri dari kursi penonton, membuat seluruh mata tertuju padanya. "Secara autentikasi digital tingkat militer, Tuan Terdakwa, data ini memiliki tanda tangan enkripsi yang hanya dimiliki oleh komputer induk Anda sendiri. Membantah data ini sama saja dengan membantah keberadaan otak Anda sendiri."
Reyhan menarik Rania untuk duduk kembali. "Nona, ini ruang sidang, bukan kelas debat!" bisiknya gemas.
Rania hanya mengangkat bahu cuek. "Aku hanya membantu mempercepat prosesnya, Inspektur."
Hakim menatap The Architect dengan tatapan dingin. "Terdakwa, silakan duduk kembali. Nona Pengacara, lanjutkan."
Diya tersenyum tipis. "Terima kasih, Yang Mulia. Dengan ini, saya menuntut hukuman maksimal tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat. Biarkan dia membusuk di sel yang paling jauh dari sinyal satelit mana pun di dunia ini."
Setelah sidang ditunda untuk putusan, tim berkumpul di lobi pengadilan.
"Hebat, Diya!" seru Anitha. "Kau benar-benar bikin dia kutu kupret di depan hakim!"
"Secara logika..." Diya menoleh ke arah Feng Yan, "...kita akhirnya selesai dengan bagian ini, Tuan Feng. Sekarang, bisakah kita benar-benar melanjutkan pernikahan kita tanpa ada yang mencoba membunuh kita lagi?"
Feng Yan memegang tangan Diya, lalu melirik ke arah Rania dan Reyhan yang sedang beradu argumen soal prosedur barang bukti. "Aku tidak menjamin soal 'tanpa pembunuhan', Mutiara. Karena sepertinya, dengan tim baru kita yang isinya orang-orang 'ajaib' ini, hidup kita akan jauh lebih berisik setelah ini."