Andreas Bramawijaya, seorang CEO ternama yang tampan dan selalu bersikap dingin. Sikap dingin nya itu, tidak lain karena dia kecewa dengan keluarga nya, dan kehilangan istri dan anak tercinta nya karena kecelakaan.
Akibat kehilangan istri dan anak nya, Andreas menjadi seseorang yang sangat dingin, ketus dan jarang tersenyum sehingga ditakuti banyak orang.
Bu Stella, kepala pembantu di rumah Andreas, yang sudah menemani Andreas sejak kecil, sangat kasihan melihat tuan yang sudah dianggap seperti anak nya itu berubah menjadi pendiam setelah ditinggal anak istri nya.
Akhir nya Bu Stella inisiatif untuk mendatangkan anak semata wayang nya ke rumah Andreas untuk menemani dan merawat Andreas supaya mau berubah menjadi Andreas yang seperti biasa lagi.
Savanna Zelindra anak yang baru lulus SMA, terpaksa harus menuruti kemauan ibu nya untuk ikut pindah kerumah bos nya. Apakah Savanna akan bisa berhasil menaklukkan sang bos duda tampan yang dingin?
Ikuti terus ya cerita nya🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ell.ellsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keteledoran Savanna
Setelah keluar dari rumah sakit, Savanna dan Bu Stella menunggu taksi online.
"Bu, disini sangat ramai sekali ya, , aku harus belajar mandiri nanti ketika sudah kuliah, nanti aku kemana mana sendirian."
"Iya nak memang, tapi kalau gak disini dimana lagi? Ditempat kita kan gak ada."
"Iya juga ya, aku salut sama orang orang yang sangat mandiri diperantauan. Jauh dari orang tua, apa apa pasti di pendam sendirian."
"Inti nya, kamu harus selalu bersyukur dengan apa yang kamu rasakan saat ini."
"Tentu lah bu, aku sangat sangat bersyukur kok, apalagi punya ibu yang cantik dan sangat baik hati." Savanna memeluk lengan ibu nya.
Bu Stella tersenyum sambil mengacak rambut Savanna.
Taksi datang, akhir nya Savanna dan Bu Stella pergi meninggalkan Rumah Sakit.
Di mobil Savanna teringat sikap Andreas yang ternyata bisa perhatian juga.
"Berarti benar dia orang yang baik, hati nurani dia tak bisa bohong, kalau dia masih tergerak ketika melihat orang lain terluka. Padahal itu bukan kesalahan dia, ini murni keteledoran aku, tapi hati kecil dia mau membantu juga. Setelah sembuh nanti, aku harus coba dekati dia lagi." Savanna bergumam dalam hati sambil melamun melihat ke arah luar jendela mobil.
Sampailah mereka dirumah. Savanna di bopong lagi oleh ibu nya.
"Bu, gimana ya, 2 hari lagi pengumuman kelulusan di sekolah, sedangkan aku pasti tak bisa berangkat karena kaki ku belum tentu sembuh dalam 2 hari."
"Biar ibu yang telepon wali kelas mu. Pokok nya biar lah itu semua menjadi urusan ibu, kamu tinggal istirahat saja, dan mempersiapkan diri untuk pendaftaran kuliah."
Savanna lega mendengar perkataan ibu nya.
"Terima kasih bu."
"Tentu Nak, ibu pastikan akan memberikan yang terbaik untuk anak ibu tersayang."
Akhir nya Savanna berbaring di kasur. Tak lupa ia makan dan meminum obat yang tadi diberikan dokter.
Savanna belum ngantuk dan bosan, akhir nya dia mencoba scroll sosial media nya.
"Wah, sudah lama sekali aku gak lihat sosial media ku."
"Hah, ternyata gak ada yang seru. Oh iya, aku mau cek ah nama tuan itu. Sudah pasti ada di google. Tapi, siapa ya nama lengkap nya? aku gak tahu lagi. Ibu belum pernah cerita lagi sama aku. Kalau aku tanya ibu, ibu pasti curiga kalau aku udah mulai kepo soal tuan itu."
Savanna memikirkan, tapi tetap dia tidak tahu.
"Ah mending aku cari tahu tentang Universitas aja deh. Aku cari tahu jurusan Manajemen Bisnis ah, dimana ya yang paling bagus dan agak dekat dari sini." Savanna bergumam sambil mencari informasi di hp nya.
"Wow Universitas Cipta Bramawijaya ternyata sangat terkenal jurusan manejemen bisnis nya. Apa? Pemberi Donatur terbesar Andreas Bramawijaya? Apa ini tuan Andreas? Ah coba aku cari tahu."
"Haaaa..." Betapa terkejut nya Savanna setelah mencari tahu profil Andreas.
"Astaga, ternyata Universitas Cipta Bramawijaya punya keluarga nya Tuan Andreas? Oh my god. Jujur ini sangat sangat speechless, dan ternyata tuan Andreas pemberi donatur terbesar juga?" Savanna sampai menganga sampai geleng geleng kepala, bahkan yang tadi nya sedang tiduran pun, berubah menjadi duduk.
Savanna langsung mencari tahu tentang Andreas Bramawijaya.
Savanna lebih kaget lagi.
"Ya ampun, dia bukan orang kaya lagi, dia real sultan. Dia CEO di perusahaan Bramawijaya, anak perusahaan nya pun banyak, dan rumah sakit yang tadi, adalah punya keluarga nya juga."
"Aaaaaaaaaaa." Savanna berteriak sambil ngumpet dalam selimut.
"Apa apaan ini, pantesan ibu gak kaget pas tadi aku dibawa ke ruang VVIP, ternyata ibu udah tahu semua nya."
"Untung nya aku belum sempat membuat dia kesal, aku takut di blacklist dari kehidupan ini."
Tiba tiba bu Stella datang ke kamar, karena dia seperti mendengar teriakan Savanna.
"Nak, ada apa? Apakah kaki nya sakit lagi?"
Bu Stella kaget, karena melihat Savanna yang bersembunyi di dalam selimut.
"Ehh, engga kok bu, tadi kaya ada kecoa lewat deh." Savanna tersenyum melihat ibu nya yang memperhatikan dia.
"Ah kamu, aneh aneh aja, di sini kamar dan semua ruangan nya selalu bersih, 1 bulan sekali di bersihkan oleh pembasmi serangga, jadi gak mungkin ada kecoa, kamu aneh."
"Hehe." Savanna tersenyum sambil menggaruk tengkuk nya.
"Udah ah tidur, istirahat. ibu mau kerja lagi."
"Iya, maaf bu." Akhir nya Savanna berbaring dengan pikiran nya yang berkecamuk, lalu ia tertidur.
Dikantor Andreas jadi tak fokus, dia teringat kaki Savanna yang sangat bengkak.
"Aneh, padahal seperti kesandung biasa, tapi kaki nya sampai sebengkak itu. Kenapa dia sangat teledor sekali." Andreas bergumam sendiri, tak sadar kini dirinya sedang memikirkan orang lain.
Tok..Tok... suara pintu di ketuk
"Masuk." Andreas mempersilahkan masuk.
"Maaf pak Andreas ini laporan dari anak perusahaan sudah lengkap. Silahkan bapak cek kembali."
"Terimakasih Deva nanti saya cek."
"Iya pak. Permisi ya pak saya kembali ke ruangan saya."
Andreas hanya mengangguk.
Andreas kembali fokus untuk melihat berkas yang ada di hadapannya.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 05.00 sore, Andreas bangkit dari kursinya dan pulang.
" Tuan Andreas jangan lupa makan malamnya ya semuanya sudah Ibu siapkan."
Seperti biasa seseorang yang selalu menyapa dia ketika pulang dari kantor yaitu Bu Stella.
" Iya terima kasih. saya membersihkan diri dulu."
Bu Stella mengangguk lalu Andreas naik ke kamarnya.
Tak lama Andreas Turun ke bawah untuk makan malam. dia celingukan melihat keadaan rumah yang sepi.
"Mbak, mana Bu Stella?"
" Oh sepertinya sedang di kamarnya tuan membersihkan dulu luka anaknya, tadi dia bilang ke saya."
Andreas mengangguk. dia lupa kalau anak Bu Stella terluka.
Akhirnya dia makan sendiri.
Tiga hari kemudian akhirnya Savanna sembuh, dia kembali bisa berjalan dengan normal.
" Hah akhirnya aku bisa lari-larian lagi. Eh nggak nggak, sekarang aku harus hati-hati di rumah ini aku harus sangat berhati-hati. Takutnya aku menyenggol sesuatu dan aku disuruh ganti rugi, Oh my God itu gak boleh terjadi."
Setelah 3 Hari berlalu, Andreas baru melihat Savanna lagi. Karena selama Savanna kakinya sakit, dia tidak pernah keluar dari kamar ibunya.
" Oh anak tengil itu sekarang sudah sembuh." Andreas bergumam pelan sambil berlalu pergi akan pergi ke kantor.
" Nak sayang Savanna, Ibu boleh minta tolong? Mumpung Tuan Andreas masih di basement belum berangkat ke kantor, tolong antarkan makanan ini. Dia suka lupa makan siang kalau nggak bawa makanan dari rumah. Ibu ada urusan dulu sebentar sama Mbak Yuni."
" Oh iya Bu." Savanna tidak bisa menolak karena sepertinya ibunya ada urusan yang penting.
Akhirnya Savanna pergi ke basement dan ternyata Tuan kejam itu tidak terlihat.
" Apa dia sudah berangkat kerja ya? tapi kata ibu tadi dia belum berangkat." Savanna celingukan menengok kanan kiri.
" Kenapa mobilnya banyak sekali, padahal kan yang dipakai pasti cuma satu-satu memang benar-benar Sultan. padahal kan sayang banget mobilnya harus tetap diurus." Savanna bergumam sambil mengusap mobilnya lalu tiba-tiba alarm mobilnya berbunyi.
" Aduh gimana ini, Kenapa mobilnya bersuara? gimana ini, aku nggak bisa berhentiinnya."
Andreas yang mendengar alarm mobilnya berbunyi, dia langsung lari ke basement. Ternyata Andreas belum berangkat, seperti biasa dia dari ruangan barang antik nya dulu.
" Tuan maaf saya nggak sengaja. tadi saya lagi mau antarkan makanan ini tapi saya nggak sengaja usap mobil ini karena bagus, eh ternyata malah bunyi. Maaf ya Tuan." Savanna menunduk karena dia tahu dia salah.
Andreas tak menjawab.
" ini Tuan makanan dari ibu." Savanna menyodorkan tempat makanannya kepada Andreas.
Andreas mengambil makanan itu.
Savanna berbalik setelah makanannya diambil oleh Andreas. Tapi naas kaki Savanna terkait tali pembatas mobil. Untung Andreas sigap menangkap tubuh kecil Savanna.
Mereka saling berpandangan. Lalu buru buru Savanna berdiri.
"Tuan maaf." Lalu Savanna berlari karena dia sangat sangat malu dengan tuan nya itu.
"Hey jangan lari." Andreas berteriak karena dia ngilu melihat Savanna, yang selalu teledor.
"Astaga Savanna, kenapa sih selalu saja seperti ini." Savanna menepuk nepuk kepala nya, dia sangat kesal dengan keteledoran nya.