NovelToon NovelToon
Kejar Tenggat

Kejar Tenggat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Honey Brezee

Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21 - Berbeda

Pagi itu terasa sedikit berbeda.

Satu orang tidak ada di rumah. Pandji sudah berangkat sejak subuh, mengantar Nadine kembali ke Jakarta untuk kuliah. Biasanya, setiap hari Senin, Pandji pasti sarapan di rumah karena meski ia sudah tinggal di apartemennya sendiri, akhir pekan selalu menginap di rumah ini. Tapi pagi itu, meja sarapan terasa kosong tanpanya.

Di tengah suasana yang lebih sepi dari biasanya, Gwen berdiri dengan tas kerja di bahunya. Hari ini adalah hari pertamanya—sebagai Junior Design Lead di ArtVia Headquarters.

“Selamat ya, Sayang. Ayah ikut senang dengarnya,” ujar Ayah sambil mengusap kepala Gwen, menatap putrinya yang sudah rapi dan siap memulai hari pertamanya sebagai Junior Design Lead.

Linda menggeleng, senyum tipisnya menyindir.

“Ibu heran sama kamu… dikasih yang mudah, malah pilih yang sulit. Udah enak jadi Design Director, malah turun jadi Junior Design Lead.”

"Ck, emang kenapa sih, Bu? Nggak semua hal harus diukur dari jabatan. Yang penting rezekinya halal."

"Ibu hanya takut Gwen malu. Paling tua di kantor."

“Halah, biarin. Nggak apa-apa,” Cipto terkekeh “Wajah anak Ayah imut, nggak bakal ada yang nyangka usianya sudah tiga puluh tahun. Ayah nggak bohong, dari belakang masih kayak anak SMA.”

Ia melirik Linda sekilas, lalu melanjutkan dengan nada lebih tegas.

“Lagipula, mending mana? Anakmu kerja yang jelas tujuannya, atau di perusahaan besar tapi ujung-ujungnya money laundry?”

Kata-kata Cipto membuat Linda terdiam. Begitu pula Gwen.

Dalam hati, Gwen merasa hangat—bukan semata karena dibela, tapi karena ia punya Ayah yang memahami dan berdiri di sisinya. Meski begitu, ada perasaan tak nyaman yang menyelip… ia tetap tidak ingin kedua orang tuanya bertengkar.

Ia menunduk sejenak, jemarinya merapikan tali tas di bahunya. Ia menarik napas pelan, menenangkan diri.

“Aku berangkat dulu, Yah… Bu,” ucapnya lembut, namun mantap.

“Ayah anterin kamu, ya,” ujar Cipto sambil meraih kunci mobil.

Gwen menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis. “Nggak usah, Yah. Gwen bisa sendiri.”

“Sekali-sekali biarin Ayah nganter anaknya di hari pertama kerja,” sahut Cipto santai, sudah berjalan lebih dulu.

Gwen tidak membantah lagi. Ia hanya mengangguk kecil. “Makasih, Yah.”

“Jaga sikap di kantor,” suara Linda terdengar dari belakang, datar tapi tegas. “Jangan sampai bikin malu.”

Gwen berhenti sejenak, lalu menoleh. “Iya, Bu.”

Ia tidak menambahkan apa-apa lagi.

Beberapa menit kemudian, Gwen sudah duduk di kursi penumpang. Mobil perlahan keluar dari halaman rumah.

Di dalam mobil, suasana lebih tenang.

Tidak ada sindiran, tidak ada tekanan.

Cipto melirik putrinya sebentar. “Deg-degan?”

Gwen menghembuskan napas pelan, lalu tersenyum kecil. “Sedikit.”

Cipto mengangguk, tangannya tetap tenang di setir.

“Soal Ibu, nggak usah terlalu dipikirin, ya.”

Gwen menoleh pelan, mendengarkan.

“Ibu cuma punya cara sendiri buat khawatir,” lanjutnya, suaranya lebih lembut. “Tapi bukan berarti semua yang dia bilang harus kamu telan.”

Ia sempat melirik Gwen sekilas.

“Kamu sudah cukup dewasa buat tahu mana yang perlu kamu denger, mana yang nggak.”

Gwen terdiam, mencerna.

“Jadi… fokus aja sama jalan yang kamu pilih,” tambah Cipto ringan. “Ayah percaya kamu tahu apa yang kamu lakukan.”

...__Kejar Tenggat__...

Sesampainya di ArtVia Headquarters, Gwen melangkah masuk gedung dengan jantung berdebar. Beberapa pegawai meliriknya, ada yang berbisik-bisik pelan.

Bu Elina sudah menunggu di lantai desain. Ia mengenalkan Gwen pada tim arsitek.

“Ini Gwen, Junior Design Lead baru kita. Dia akan handle beberapa proyek premium mulai minggu ini.”

Beberapa orang mengangguk sopan, tapi Gwen langsung merasakan tatapan sinis dari sebagian besar tim. Ada yang memandangnya dari atas ke bawah, ada yang saling pandang lalu tersenyum tipis yang tidak ramah. Suasana langsung terasa dingin.

“Ruangan ini sementara ya, Gwen,” kata Bu Elina ramah. “Kita masih menunggu persetujuan dari Lead Architect untuk penempatan timmu.”

Gwen mengangguk. “Terima kasih, Bu.”

Setelah Bu Elina pergi, Gwen berdiri sejenak di tengah ruangan, menatap sekeliling dengan perasaan campur aduk. Ruangan yang diberikan sangat kecil—hanya seperempat dari ruangannya dulu di Emporio Architect. Meja kerja sederhana dari kayu putih, satu rak buku kecil yang sudah agak penuh dengan katalog lama, dan kursi kerja yang rapi meski tanpa kesan istimewa. Jendela kecil di sisi kanan menghadap taman belakang gedung, cahaya matahari pagi masuk samar-samar.

Rasa bingung perlahan merayap naik ke dada Gwen. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Tidak ada briefing, tidak ada tugas, tidak ada arahan. Ia hanya berdiri di sana, tangannya masih memegang tali tas kerja, merasa seperti tamu yang tidak diinginkan di rumah sendiri.

Akhirnya Gwen memberanikan diri keluar ruangan dan mendekati meja Martha, wanita yang bertanggung jawab di tim arsitek.

“Maaf, Mbak Martha… ada tugas apa yang bisa saya kerjakan hari ini?” tanya Gwen sopan.

Martha meliriknya sekilas dari balik kacamata, ekspresinya datar.

“Duduk manis saja dulu. Belum ada instruksi khusus untuk kamu.”

Gwen mengangguk pelan, merasa agak tersinggung tapi berusaha menyembunyikannya. Ia kembali ke ruangannya. Sepanjang pagi, tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang mau mengobrol dengannya. Beberapa kali ia mencoba tersenyum saat ada yang lewat di depan pintu ruangannya, tapi mereka hanya mengangguk dingin atau pura-pura sibuk dengan layar ponsel. Suasana terasa sangat kaku dan dingin.

Tak ingin hanya duduk diam, Gwen mengeluarkan sketchbook-nya dan mulai membuat sketsa-sketsa baru. Tangannya bergerak lincah di atas kertas, mencoba mengalihkan pikiran dari rasa tidak nyaman. Siapa tahu sketsa ini bisa terpakai nanti untuk proyek villa atau proyek lain.

Tiba-tiba ponselnya bergetar.

Aga : Selamat hari pertama, Baby. Aku yakin kamu bakal luar biasa hari ini. Aku harus ke Singapura ada pekerjaan, tapi bayangin kamu makan siang tanpa aku bikin aku pengin teleport ke sana 😏🔥

Pandji : Kak Gwen! Semangat hari pertamanya! Nanti sore aku usahain pulang kerumah bawa es krim kesukaan Mbak. Jangan stress ya, Mbak! Fighting! 💪”

Gwen tersenyum kecil membaca kedua pesan itu. Ia membalas keduanya dengan cepat sebelum kembali fokus ke sketsanya.

Saat jam makan siang tiba, Gwen memutuskan pergi ke kantin. Ia mengambil nampan dan mencari tempat duduk. Anehnya, tidak ada satupun yang mau duduk dekatnya. Beberapa meja sudah penuh, tapi saat ia mendekat, orang-orang langsung menunduk atau menggeser kursi agar tidak ada tempat kosong di sebelahnya. Gwen akhirnya duduk sendirian di meja pojok dekat jendela. Rasa sepi itu terasa lebih nyata di tengah kantin yang ramai.

Ia baru saja menyendok nasi ketika sebuah nampan diletakkan di depannya.

Bu Elina duduk dengan santai, tersenyum tipis. “Boleh gabung?”

Gwen terkejut. “Bu Elina… silakan, Bu.”

Awalnya Gwen merasa canggung. Ia mengira Bu Elina orang yang galak dan kaku seperti kesan awal. Tapi setelah mengobrol beberapa menit, Gwen baru sadar bahwa wanita itu ternyata sangat ramah dan pintar.

“Desain villa kamu kemarin bagus sekali,” kata Elina sambil menyantap makan siangnya. “Kamu punya insting yang tajam untuk membaca brief klien. Itu langka di kalangan desainer muda.”

Gwen tersipu. “Terima kasih, Bu. Saya masih banyak belajar.”

Elina menggeleng pelan. “Jangan rendah hati berlebihan. Kamu sudah tiga puluh tahun, pengalamanmu nggak sedikit. Saya lihat CV kamu. Kamu nggak menyia-nyiakan pendidikan dan waktu kamu.”

Bu Elina mengeluarkan tabletnya dan memperlihatkan beberapa hasil karyanya sendiri — bangunan-bangunan mewah yang pernah ia rancang di berbagai kota. Ia tidak pelit berbagi ilmu, menjelaskan detail pemilihan material, cara menghadapi klien yang sulit, hingga trik kecil yang biasanya tidak diceritakan orang lain.

Gwen menatap tablet itu, terkesima. Setiap gambar, setiap penjelasan, membuatnya kagum sekaligus termotivasi. Ia bisa merasakan lika-liku yang ditempuh wanita itu untuk sampai ke titik ini — proyek gagal, klien sulit, keraguan dari orang lain — dan betapa tekun serta sabarnya wanita itu bertahan.

Garis kesuksesan setiap orang tidaklah sama. Ada yang lurus, ada yang sedikit berliku, bahkan ada yang harus berputar-putar. Jalanku, jalanmu, jalan kita semua berbeda. Jadi… tak bisakah kita berhenti untuk saling membandingkan?

1
mitha
Lanjut kak
lilyrose
syuukkurin 🤣
Honey Brezee: hihi 🤭
total 1 replies
lilyrose
to the point aman sih si hilman 😂😂😂
Honey Brezee: iy, hahaha 🤣
total 1 replies
Patrish
nyambung amat Bang
Honey Brezee: nyambung di next kak 🤣
total 2 replies
mitha
Ceritanya gak ngebosenin 😍
Anita
Ibu tiri 😭
Anita
Seruuuuuu 😍
Patrish
hati hayi anak muda jangan sampai kebablasan
Honey Brezee: tenang ada penjaga nya si pandji 🤣🤣
total 1 replies
Patrish
ini ibu kandung apa ibu tiri sih...
Patrish: 🤣🤣🤣🤣pokoknya dibuat sakit tapi jangan sampai menyusahkan anaknya🤣🤣🤣
total 4 replies
Patrish
setiap keputusan membawa resiko..(baik maupun buruk)..setiap pilihan menuntut keberanian
inilah inti perjalanan ke depan
Honey Brezee: makasih kak ❤
total 1 replies
Patrish
ini ceritanya mereka hidup di Bali...sedang ayah Gwen di jakarta....nadine tinggal di mana?
Honey Brezee: gwen di Bali kak, ayah gwen bolak balik ke jakarta karna ada kerjaan
total 1 replies
Patrish
aku gagal focus di sini..Pikirku Panji nganter Nadine ke luar kota...
Honey Brezee: nanti aku revisi 🙏
total 1 replies
Patrish
Panji....pinter ya
Patrish
mulai....ada bara menyala...
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "Pacar Melamar Mantan Menggoda" ✨️✨️
Silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata. Kudu baca kalau kalian suka drama yang deep dan dewasa 🤌
total 1 replies
lilyrose
keren banget..ga muter muter ceritanya
good job thor
lanjuttt
Honey Brezee: huhuhu..Thankyou 😭🙏❤
total 1 replies
lilyrose
baru nemu novel sebagus ini..keren banget
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍
Honey Brezee: makasih kak 🥺😭🙏❤
total 1 replies
Patrish
novel bagus gini...belum ada yang nemu....🤭🤭🤭🤭aku juga baru kemarin😀😀😀
Patrish: semoga segera banyak yang baca
total 2 replies
Patrish
sampai di sini...kalimatnya enak dinikmati....lanjuut aku...👍🏻👍🏻
Honey Brezee: terimakasih kak 🥺🙏❤
total 1 replies
Patrish
tapi kamu keren Gwen....seharusnya sejak kemarin kamu begitu...
Patrish
yoookkkk...lanjuuut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!