Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.
***
Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.
Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?
~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"
"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Ridho orangtua adalah ridho Allah
Tidak seperti biasanya, Lova justru memilih pakaian yang benar sekarang, dress sopan dengan potongan memayung. Ia juga memakai kerudung dengan benar, benar-benar rapi tidak mencuatkan anak rambutnya bahkan ia memasang ciput agar terlihat lebih rapi.
"Hm, jadi kaya Herfiza ini mah!" tawanya meledak mematut diri di depan cermin. Tak lupa ia menyemprotkan parfum miliknya biar acara mengaji mereka lebih terasa nyaman.
"Oke, last moment buat ustadz Afif biar ada kenang-kenangan manis selama ngajar aku." angguknya mantap.
Terdengar sebuah motor kini memasuki halaman rumahnya. Dari tempatnya, Helaian ujung dress menyapu lantai kamar kala si pemakainya bergerak mengintip ke arah jendela, "oh udah dateng." gumamnya mengangguk.
Kali ini sepertinya ustadz Afif lebih memilih datang menggunakan motor trailnya ke rumah Lova.
Ia mengetuk dan mengucapkan salam, memancing mbak Astri untuk membuka pintu.
"Eh, mas ustadz...tadi dapet pesen dari bapak katanya kalo ada mas ustadz bilang aja sebentar lagi bapak pulang dari kantor, ibu juga lagi otewe pulang dari kerjaan..."
Afif tersenyum, "oh iya mbak. Matur suwun. Lova?"
"Neng Love ada----"
Terdengar suara langkah sandal rumahan yang mendekat sebelum mbak Astri merampungkan ucapannya. Dan sosok yang selanjutnya berada di balik badan mbak Astri adalah...
"Hadir tadz..." serunya mengunjukan tangannya ke atas.
Afif langsung membeku, desir hatinya bergemuruh melihat sosok gadis di balik balutan pakaian rapi nan cantiknya. Tidak seperti biasanya yang tampil apa adanya, semrawut namun tetap menggemaskan, menurut Afif....
Apakah Lova sudah tau jika? Makanya kali ini ia?
"Mbak, minum sama cemilannya?" tegur Lova mendadak manis. Namun Afif memilih untuk tak terbuai lebih dulu. Ia masuk setelah mbak Astri undur diri dari gawang pintu dan mempersilahkannya masuk.
"Kan bagus kalo kamu pakenya bener gini, itu namanya pakaian muslimah---hijab...Lova." Afif menaruh tasnya dan duduk. Lova terkekeh, ia justru menepis udara, "lagi bagus cuacanya tadz...bentar deh, aku ambil dulu Al-Qur'annya." ujarnya pamit.
Namun itu tak berlangsung lama, karena jelas hanya kurang dari 1 menit saja, Lova sudah kembali duduk di bawah bersama meja dan Al-qur'annya.
"Taro aja mbak disitu makanannya. Biar aku ngaji dulu, biar cepet selesainya..." ucap Lova bersemangat kembali membuat Afif melengkungkan bibir, karena Lova yang ia kenal justru akan mengulur-ulur waktu mengaji, sakit perut lah, ngobrol hal tak penting, nguras kesabaran lah.
"Kamu sudah berubah, apa sudah sembuh luka hatinya?" tanya Afif praktis membuat gadis itu menoleh dengan keterkejutan, "ya?" Lova menatap pria yang kini sedang menyeruput kopi di kursi sofa itu dengan seribu makna. Lelaki matang yang mungkin nantinya tak akan lagi ia temui.
Ada rasa sayang sekaliii...jika wajah rupawan ustadz Afif tak akan ia temui lagi. Tapi tak apa, mungkin calonnya nanti lebih tampan dari guru mengajinya itu.
"Haha! Ustadz apa sih...siapa juga yang punya luka hati." Gelengnya mengelak, "lagian, wajar kan...kalo manusia pernah sakit hati. Kemaren-kemaren aku cuma lagi galau aja, lagi ada di titik terbodoh aja sebagai manusia."
Afif mengulas senyuman tipisnya, tanpa Lova sadari jika sikap Afif ini sedikit lebih manis, lebih ramah dan lebih santai padanya. Kenapa ngga dari kemaren-kemaren sih tadz, jadi ngga usah ada kesan galak, judes dan kejam dari Lova! Mungkin jika begitu, ia sudah mempertahankan acara mengaji private mereka.
"Kamu betul. Manusia itu gudangnya kesalahan, sering keliru, dan tempatnya kekecewaan...resiko menyukai manusia, ya sakit hati, terluka dan kecewa. Makanya, cinta terbesar kita itu harus sama yang menciptakan. Karena Allah tidak akan pernah membuat hambanya kecewa."
Lova mengulas senyumnya manis, "ustadz bener. Aku makin yakin...buat terima saran ayah sama bunda. Semoga keputusan Lova kali ini memang karena Allah..."
"Aamiin." Jawab Afif tersenyum.
Lova melihat manisnya senyuman Afif itu, haaaa jadi ngga rela kalo sebaik ini! Kenapa harus di detik-detik akhir sih!
"Maafin Lova kalo selama ngajar Lova, Lova banyak nyebelinnya ya tadz, banyak bikin jengkel...Lova do'ain semoga ustadz makin sukses karir dosennya, dapet jodoh yang baik menurut Allah..."
Ting! Praktis Afif mengernyit dengan ucapan Lova itu. Jadi? Ck!
Rupa-rupanya Afif salah paham. Lova belum tau yang sebenarnya, jadi perubahan sikapnya hari ini adalah?
"Hari ini, semoga bukan hari terakhir Lova ketemu ustadz. Walaupun, kayanya hari terakhir ustadz ngajarin Lova ngaji...semoga dengan menjadi lebih baiknya Lova, ustadz dapet kesan baik selama ngajarin Lova...ya meskipun cuma kali terakhir..." tawa Lova renyah. Gadis itu sudah membuka kitabnya dan menunjuk ayat lanjutan.
"Ya barik..." Gertak Afif tak menyangka, jika Lova seniat itu ingin kabur darinya.
Namun bukannya kesal, ia justru jadi terkekeh geli....tak sabar melihat reaksi Lova saat kedua orangtuanya pulang.
"Memangnya mau kemana, sampe bilang hari terakhir?" tanya Afif membuat Lova yang sudah bersiap memulai mengambil nafas mendongak menatap Afif lagi.
"Emangnya ayah belum ngomong sama ustadz Afif, atau ustadz Insan...kalo aku mau dijodohin? InsyaAllah Lova mau melewati proses ta'aruf tadz. Sama calon pilihan ayah--bunda, kan perantara ta'arufnya sendiri tuh ustadz Insan? Ustadz Afif ngga tau?"
Kini Afif hanya bisa mengulum bibirnya kencang-kencang, harusnya gadis itu meralat ucapannya barusan. Ia sangat tau, bahkan diantara perantara itu ada dirinya yang menjadi calon Lova. Karena diantara cv kandidat yang diterima ayah Agas, jelas lembaran milik Afif lah yang diterimanya dan sang istri.
"Oh." Afif hanya beroh singkat, lucu sekali calonnya itu. Ia akui, selama proses mengajari Lova, gadis itu memang absurd, manja dan sedikit gila. Sering membuatnya naik da rah, namun lebih sering lagi membuatnya tertawa dalam diam. Terutama jika sikap lugunya ini sedang mode on.
"Menurut ayah--bunda, calon Lova matang tapi bukan kakek kakek."
Afif sangat menahan tawanya mendengar itu.
"Aku taksir sih kayanya udah usia 20an lebih. Katanya juga udah matang secara finansial, pinter akademik, agama sama akhlaknya sesuai apa yang dimau ayah sama bunda."
Catat! Apa yang dimau ayah--bunda, Afif akan bertanya poin penting itu.
"Lalu?" tanya Afif lagi hingga lupa jika seharusnya mereka mengaji.
"Jadi, mungkin...mulai hari ini. Setelah Lova di khitbah calon Lova, ustadz ngga bakalan ngajar Lova lagi, Lova bakalan diajarin suami nanti."
Afif mengangguk-angguk paham, "terus kamu kenal sama calonmu? Kamu terima? Dari mana kamu tau kalo calonmu itu sesuai dengan apa yang kamu bilang sama saya sekarang?"
Lova terdiam sejenak memandang netra hitam Afif dengan manik coklat miliknya bersama sorot mata yang menunjukan keraguannya juga, ustadz Afif bener juga! Darimana aku tau ya kalo ayah bunda sama ustadz Insan bener?!
"Kamu seperti membeli kucing dalam karung?"
Namun Lova memiliki jawaban ala dirinya, "karena Lova percaya ayah sama bunda. Selama ini ayah bunda selalu lakuin yang terbaik buat Lova, kalaupun hasilnya mengecewakan, tidak sesuai apa yang dimau Lova...seperti ustadz bilang tadi, karena mereka manusia. Gudangnya kekecewaan, gudangnya kekeliruan." Jawabnya sudah pintar meniru.
"Kamu bakalan nolak?"
Lova menggeleng, "kayanya engga. Selama ini ayah sama bunda selalu ngabulin permintaan Lova, sekali pun permintaan Lova aneh-aneh dan bikin mereka susah..." Lova seolah sedang menerawang moment-moment yang telah berlalu.
"Selama ini, ayah sama bunda selalu mau yang terbaik buat Lova. Maka Lova yakin, apa yang sudah jadi keputusan ayah sama bunda adalah yang terbaik menurut mereka buat Lova ke depannya. Dan apa salahnya, kalo kali ini..." Lova meloloskan helaan nafas beratnya, jika berbicara tentang kedua orangtua, ia selalu sedih.
"Lova yang membalas mengabulkan permintaan mereka. Ayah bunda ngga pernah banyak nuntut Lova kaya orangtua lain, yang pengen anaknya sesuai project mereka. Selama hidup, baru kali ini ayah sama bunda minta sesuatu sama Lova...dan itu untuk Lova sendiri." Suaranya bahkan sudah bergetar.
Afif tersenyum, tak menyangka jika gadis selugu, se-absurd Lova bisa berpikir sampai kesitu. Cara berpikirnya bahkan sesimple itu. Membuat kedua orangtuanya merasa bahagia, merasa lega karena tak harus mengkhawatirkannya terjerumus pada pergaulan toxic. Ridho orangtua adalah ridho Tuhannya.
.
.
.
.
itu baru dalemanya va, kalau isinya gimana 🤭
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
jujur kpn va tentang Afnan ny
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny