Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.
cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.
maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.
maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.
akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pembalasan pertama
Hari-hari berikutnya...
Banyak desas-desus yang tersiar diantara penduduk desa tentang sosok perempuan cantik yang kerap terlihat berjalan di sekitaran hutan pinus.
Ada yang mengatakan itu hanya khayalan semata, ada pula yang membenarkan.
Yang jelas, kini banyak pemuda lajang ataupun yang sudah beristri sering tersesat karena mendengar nyanyian suara merdu dari seorang perempuan.
Tak jarang beberapa pendatang juga kerap mengalami kendaraan mereka tersesat diantara rimbunnya hutan pinus yang sejuk. Jika dipikir secara logika itu sesuatu yang tak masuk akal. Bagaimana mungkin sebuah mobil bisa masuk dan berjalan di deretan pepohonan hutan pinus yang rapat?
Hal mistis lainnya kerap terjadi. Diantaranya adalah banyak ibu hamil yang tiba-tiba kehilangan janin mereka padahal sebelumnya baik-baik saja.
Lain pula hal yang terjadi pada lelaki tampan. Jika mereka mendengar kidung dari perempuan di hutan pinus, bisa dipastikan akan menghabiskan malam bersama perempuan cantik bernama Maharani dan esoknya akan berakhir di telaga merah didalam gua.
Mereka hilang tanpa jejak dan tanpa siapapun yang tahu.
Seperti malam ini. Seorang pria berbadan tegap sedang berhenti tepat di tepi hutan pinus.
Dia berhenti karena sedang kebelet.
Motornya diparkir ditepi jalan.
"Mas... sedang apa disitu?" sebuah suara manis mendayu mengejutkan si pria.
Sontak dia segera menarik tinggi resleting celananya dan berbalik.
Bola matanya berbinar ketika menyadari siapa yang bertanya.
"Eh ada neng cantik...Sedang apa disini? Ini sudah gelap, apa neng cantik tersesat?" tanyanya berjalan mendekat.
"Anu mas... Aku tadi tersesat. Kalau mas nggak keberatan, boleh bantu anterin aku pulang?"
"Boleh-boleh... Mas mu ini nggak keberatan sama sekali... Ayo, kita naik motor... disana" tunjuk si pria pada motor yang terparkir di tepi jalan.
Senyum manis perempuan itu merekah bak madu yang baru dipanen.
"Ayo mas antar.... Dimana rumah neng manis ini?"
"Disana mas... lewat hutan pinus ini, nanti ada gubuk didalamnya... Itu rumah nenekku...." tunjuknya kearah dalam hutan.
"Boleh, ayo naik...." ucap si pria menyetujui tanpa pikir panjang.
"Tapi ngomong-ngomong, nama neng manis ini siapa? Kok mas baru lihat...? Baru ya dikampung ini?"
"Namaku Maharani mas... iya, aku baru disini...." jawab Rani tetap menampilkan senyum manis yang berhasil memikat si pria.
"Oooo gitu... Nama mas Tedy... Tapi orang-orang selalu panggil mas Genda atau Gendeng.... he he..." ujar si pria sambil terkekeh.
Rani ikut tersenyum.
Keduanya lalu menaiki motor dimana Rani duduk berboncengan di jok belakang.
Tangan putih bersih Rani melingkari pinggang Tedy.
Tak lupa juga jari-jari lentiknya bermain di sana.
Mengelus dan meraba perut Tedy yang sedikit buncit.
"Oohhh... Dek Rani udah punya pacar?"
"Belum mas... aku masih single"
Tedy tersenyum puas.
Otaknya merencanakan sesuatu. Apalagi ditambah dengan tangan Rani yang sudah mulai meraba sisi paha Tedy.
Seketika benda yang masih terbungkus celana jeans itu mulai menggeliat.
Tedy menghentikan motornya.
"Loh kok kita berhenti mas...?" tanya Rani heran.
"Motornya mogok....? Bentar ya, mas cek dulu" ucap Tedy beralasan.
Rani berdiri tepat di sisi motor dan memperhatikan Tedy yang sedang mengecek motornya.
Namun tiba-tiba, Tedy membekapnya dan berusaha melancarkan aksi bejat yang sejak tadi terlintas dikepalanya.
Tedy berusaha menarik kancing kebaya Rani hingga terlepas dan menampakkan isinya yang bulat menggoda.
Rani terjatuh ketanah.
Bukannya takut, Rani justru menantang Tedy yang nafsunya sudah diubun-ubun dengan melebarkan kedua kakinya hingga mengekspose paha putih mulusnya.
"Mas kalau mau tidurin aku itu bilang, nggak usah kasar... Aku siap kok temani mas Tedy malam ini, sampai pagi juga bisa kok..." ujar Rani menggigit ujung jari telunjuknya dengan senyum menggoda.
"Oh ya... Ayo kita mulai... Mas udah nggak tahan..." Tedy membuka seluruh pakaiannya hingga polos.
Dia mulai mencumbui Rani. Menciumi leher Rani hingga meninggalkan jejak ungu disana.
Baru saja benda tumpul milik Tedy hendak masuk menerjang lembah milik Rani, pria itu mengerang kesakitan.
Rani menancapkan kuku-kukunya yang panjang dan runcing ke punggung Tedy.
"Aaaaa..... Ishhhhhh....." jerit Tedy merintih kesakitan dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman Rani.
Tedy beringsut menjauh. Wajahnya pucat pasi.
"Ayo mas, katanya mau tidur sama aku..." Rani berjalan pelan ke arah Tedy yang ketakutan.
Rani menampakkan wujud aslinya.
Matanya merah, gigi-gigi taring keluar dari mulutnya serta rambut yang panjang berantakan.
Belum lagi aroma tubuh yang tercium amis.
"Ayo mas... kita bersenang-senang seperti malam itu kalian menyetubuhiku walaupun aku sudah minta ampun pada kalian. Tapi kalian dengan kejam terus melakukannya hingga aku pendarahan lalu menguburku tanpa belas kasih. Ayo mas... Aku siap melayanimu malam ini..." Rani terus merengsek maju dengan senyum mengejek.
"Tidak...! jangan sakiti aku... ampun... Aku tidak tahu apa-apa. Aku cuma dibayar oleh kekasihmu... Ampuni aku..." Tedy mengerang ketakutan. Punggungnya yang polos terluka karena gesekan pada tanah yang dipenuhi akar-akar pohon yang mencuat dari dalam tanah.
Rani terus melangkah maju.
Ditangannya ada sebuah kapak yang berkilau.
Kepalanya terteleng kekiri dan kekanan seperti sedang menikmati alunan musik.
Tawa mengerikan keluar dari bibirnya.
"Kalian para lelaki tidak bisa menghargai perempuan... Bukankah ibu kalian juga perempuan?Hanya karena uang, kalian rela menjual harga diri kalian... Menyakiti orang-orang lemah... Biad*p!!!! Kau akan segera menerima karmamu!!" Rani mengayunkan kapak dan hampir saja mengenai kepala Tedy jika saja dia tidak menghindar.
"Ampun Rani... Tolong ampuni aku.... aku bersalah...." Tedy bersimpuh memohon ampun.
Dia terus memohon untuk nyawanya yang berada diujung tanduk.
Tapi Rani yang sudah dipenuhi dendam tak menggubrisnya.
"Tidak ada ampun bagi laki-laki bejat seperti mu!!!" ucap Rani dingin.
Disaat seperti itu, 7 iblis kecil berdatangan.
Tedy dicabik-cabik layaknya dimangsa hewan buas.
Dan setelahnya, puluhan dedemit penghuni hutan ikut berdatangan menghisap darah Tedy hingga kering.
Mereka tertawa karena mendapat santapan.
Rani menatap nyalang pada tubuh Tedy yang tersisa kulit pembalut tulang.
Dimatanya, terpancar sebuah rasa dendam.
Dia tersenyum tipis dan dingin tanpa belas kasih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Oi... Si Tedy Gendeng lihat nggak?" tanya Nonok, rekan Tedy yang selalu setia melakukan kejahatan bersama-sama.
"Nggak... Ponselnya aktif tapi nggak ada sahutan dari tadi...." sahut rekannya yang lain yang masih sibuk main gaple.
"Tadi gua sempat telponan sama si Tedy, katanya dia lagi menuju kemari... Tapi ini udah tiga jam lebih kok belum nongol ya? Apa jangan-jangan dia udah senang-senang sama perempuan bayarannya?" seru rekan Nonok yang lainnya.
"Coba telpon lagi"
Nonok yang kesal langsung menghubungi Tedy.
Hanya suara tut tut tut yang terdengar lalu disambut suara operator.
Nonok berdecak.
"Sialan si Tedy...! Kalau sampai dia main duluan, gua habisi tu orang!" umpatnya kesal.
"Emang lo dibayar berapa sih sama bos lo yang masih jadi rahasia itu? Kok duit kalian nggak habis-habis. Lo punya kerjaan kagak bagi sama kita-kita? Kenapa cuma sama si Tedy...?" usik rekan-rekannya ingin tahu.
Nonok meneguk minuman keras yang sejak tadi cuma di genggamnya.
"Gua dibayar 50 juta... Tedy 25 gua 25..." bisiknya.
"Wuih gede itu... Kalau sewa cewek bisa main sampai dua hari dua malam ini..." teriak girang rekan Nonok.
"Bisa dikecilin nggak volume suara lo Kir... Lo bisa ngundang orang lain buat nguping" ujar Nonok kesal pada rekannya yang bernama Sukir.
"Iya.. iya... maaf...."
"Tugasnya apaan Nok? Berat nggak?" tanya rekan Nonok yang lain ikut penasaran.
"Biasa... Nyumpal mulut orang yang rese kayak lo pada...!" ujar Nonok santai tapi bikin merinding.
"Si*lan lo... Kita dibilang rese..." sahut Sukir tak terima.
"Ajak-ajak kita lah... Gua sama Jojo lagi nganggur nih... Mana bini gua mau lahiran lagi... Pusing gua...!" pinta Sukir memelas.
"Boleh, asal kalian bisa tutup mulut... Kalau kalian ember, kalian juga bisa berakhir sama dengan orang-orang itu" ujar Nonok serius.
Sukir dan Jojo saling pandang.
Mereka tahu sepak terjang Nonok dan juga Tedy.
Keempatnya bertemu saat mereka sama-sama jadi warga binaan.
Kejahatan Tedy dan Nonok bisa dibilang kejam sementara Sukir dan Jojo hanyalah maling kampung yang kebetulan lagi apes.
Cukup lama ketiganya nongkrong diwarung remang-remang yang berada di jalan perbatasan desa dan kota.
Hingga pagi, Tedy tak kunjung datang.
Nonok yang kadung kesal segera tancap gas kerumah Tedy.
Tapi dia harus menelan pil pahit, Tedy tak ada dirumahnya.
Kata istrinya, Tedy bahkan sudah seminggu tidak pulang.
Nonok mengepal kedua tangannya.
Lagi, dia mencoba menghubungi Tedy tapi tetap hasilnya nihil. Ponselnya tidak aktif.
Nonok langsung tancap gas tanpa pamit pada istri Tedy.
bersambung....