Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Tuan Sanjaya
Suasana hening di ruang perawatan itu tiba-tiba pecah oleh sebuah gerakan halus. Hanum, yang masih menggenggam erat tangan sang ayah sambil menunduk, merasakan sesuatu yang nyata. Jari telunjuk Tuan Sanjaya bergerak, menyentuh pelan punggung tangannya Hanum.
Hanum tersentak, ia mengangkat wajahnya yang sembab.
"Kak Al! Jari Papah... Jari Papah bergerak!"
Alvaro yang sedang berdiri di dekat jendela segera menghampiri dengan langkah lebar. Ia melihat sendiri jemari Tuan Sanjaya bergetar pelan. Tanpa membuang waktu, Alvaro menekan tombol darurat di samping ranjang. "Aku akan panggil dokter sekarang!"
Tak lama kemudian, tim medis masuk dengan terburu-buru. Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan saraf dan respon pupil, dokter menoleh ke arah Hanum dan Alvaro dengan senyum yang menenangkan.
"Ini adalah sebuah kemajuan yang luar biasa. Respon motorik pasien meningkat drastis setelah mendengar suara Ibu. Sepertinya kehadiran Ibu Hanum memberikan stimulus emosional yang kuat. Kita bisa menyebutnya sebuah keajaiban," ujar Dokter tersebut.
Hanum menangis bahagia, kali ini air matanya terasa lebih ringan. Ia merasa Tuhan masih sangat baik memberikan kesempatan baginya untuk menebus dosanya di masa lalu.
"Kak Al, aku yakin jika sebentar lagi Papah akan sadar kembali seperti dulu!" ucap Hanum sambil meraih tangan Alvaro secara spontan.
Alvaro menggenggam balik tangan Hanum dengan hangat, memberikan kekuatan. "Iya, Num. Kakak sangat yakin kehadiranmu di sini telah membuat Papah tersadar kembali. Selama ini Papah selalu merindukanmu, dan sekarang akhirnya kau kembali kepadanya. Beliau butuh alasan untuk bangun, dan alasan itu adalah kamu."
*
*
Beberapa hari kemudian, doa-doa Hanum akhirnya terjawab sepenuhnya. Tuan Sanjaya benar-benar sadar secara total. Meski tubuhnya masih terlihat sangat kurus dan lemah, sorot matanya yang tajam telah kembali. Beliau kini telah dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP yang lebih nyaman.
Hanum tidak pernah beranjak dari sisi ranjang tempat tidur. Ia menggenggam tangan ayahnya seolah takut jika ia melepasnya sebentar saja, sang ayah akan menghilang. Tuan Sanjaya menoleh perlahan, menatap putri tunggalnya dengan pandangan penuh kasih sayang. Dengan sisa tenaganya, ia mengangkat tangan dan mengusap lembut kepalanya Hanum.
"Hanum... Papah bahagia bisa melihatmu kembali," bisik Tuan Sanjaya dengan suara serak dan pelan.
"Jangan pergi lagi, Nak..."
Mendengar permintaan lirih itu, pertahanan Hanum kembali runtuh. Ia langsung menghambur ke pelukan ayahnya, ia berhati-hati agar tidak mengganggu selang medis yang masih terpasang.
"Pah, maafkan Hanum.... Hanum sangat menyesal karena tidak mendengarkan nasihatnya Papah," isak Hanum di dada sang ayah. "Sekarang Hanum telah kembali dan Hanum janji tidak akan pernah meninggalkan Papah lagi! Hanum tidak mau kehilangan Papah untuk kedua kalinya."
Tuan Sanjaya hanya tersenyum lemah, mengelus kepalanya Hanum dengan gerakan yang menenangkan. Di sudut ruangan, Alvaro berdiri dengan tangan bersedekap, menatap pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Ia bahagia melihat Hanum kembali ke pelukan keluarganya, namun di sisi lain, ia tahu ada badai besar yang masih menanti mereka di Jakarta.
'Tidurlah yang nyenyak malam ini, Num,' batin Alvaro. 'Biarkan Papah memulihkan kekuatannya. Karena setelah ini, kita akan kembali ke Jakarta bukan untuk menangis, tapi untuk meruntuhkan kerajaan yang telah dibangun Johan di atas air matamu.'
Malam semakin larut di Singapura. Suara mesin medis yang ritmis menjadi musik latar di ruangan VVIP yang sunyi itu. Hanum, yang kelelahan setelah berhari-hari didera badai emosi, akhirnya jatuh tertidur lelap di atas sofa empuk. Kepalanya bersandar di siku kursi dengan bantal kecil yang menyangga lehernya. Napasnya teratur, namun sisa-sisa kesedihannya masih membekas di wajah pucat nya.
Alvaro berdiri tak jauh dari sana, menatap Hanum dengan tatapan yang sangat dalam. Rasa cintanya tidak pernah pudar, bahkan setelah lima belas tahun berlalu. Ia tetaplah pria yang sama, yang rela melakukan apa pun demi melihat wanita itu tersenyum.
Tanpa Alvaro sadari, Tuan Sanjaya memperhatikannya dari atas tempat tidur.
"Al, kemarin lah..." panggil Tuan Sanjaya dengan suara lirih namun tegas.
Alvaro tersentak. Ia segera menoleh dan mendapati sang Papah sedang menatapnya dengan kesadaran penuh.
"Iya, Pah. Ada apa? Tapi Papah jangan terlalu banyak bicara dulu, kata Dokter Papah harus istirahat."
"Papah sudah mendingan, putraku...." Tuan Sanjaya menarik napas perlahan.
"Al, Papah ingin bicara serius. Papah tahu Hanum sedang tertimpa masalah besar dengan suaminya, iya kan?"
Alvaro terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia tidak bisa membohongi insting tajam pria yang telah membesarkannya itu.
Tuan Sanjaya menghela napas panjang, sorot matanya berkilat penuh penyesalan sekaligus amarah. "Sudah kuduga. Akhirnya pria tidak tahu diri itu menunjukkan sifat aslinya.
" Al.... Papah ingin setelah Hanum dan pria itu berpisah, nikahilah Hanum."
Jantung Alvaro berdegup kencang. Ia terpaku mendengar permintaan itu.
"Papah hanya ingin kau yang menjadi suaminya," lanjut Tuan Sanjaya sambil menatap langit-langit ruangan.
"Jika seandainya Papah sudah tidak ada di dunia ini, kau yang akan menggantikan posisi Papah untuk menjaganya. Papah akan mati dengan tenang, Nak. Hanya kau yang bisa melindunginya. Dan Papah juga tahu, kau masih mencintainya, kan?"
Alvaro menatap ke arah Hanum yang masih terlelap, memastikan wanita itu tidak terbangun. Ia tidak ingin merusak kenyamanan Hanum yang selama ini sangat mempercayainya sebagai sosok kakak.
"Tapi Pah.... Hanum tidak mencintaiku. Dia hanya menganggap ku sebagai seorang kakak, tidak lebih," bisik Alvaro dengan nada getir.
Tuan Sanjaya meraih tangan Alvaro dan menggenggamnya dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Papah tidak peduli, Al. Yang terpenting kau mencintainya dengan tulus. Papah yakin lambat laun, hatinya Hanum akan luluh. Berjuanglah untuk mendapatkan hatinya, Nak. Papah akan selalu merestuimu."
Alvaro terdiam, merasakan kehangatan dan amanah besar dari tangan ayahnya. Sebuah senyum tipis akhirnya terukir di wajahnya yang tegas.
"Baik, Pah. Aku berjanji akan menjaga dan melindunginya dengan seluruh hidupku."
*
*
Keesokan harinya, saat fajar baru saja menyingsing, ponsel rahasia Alvaro bergetar. Ia segera melangkah keluar ruangan agar tidak mengganggu Hanum yang mulai menggeliat bangun.
"Tuan, kami sudah mengamankan pria itu," lapor suara di seberang telepon. "Pria yang mengaku sebagai asisten Tuan Jason. Ternyata dia adalah mantan narapidana kasus penipuan yang dibayar mahal oleh Johan. Kami sudah mendapatkan pengakuan tertulis darinya."
Mendengar laporan itu, Alvaro menyeringai penuh kemenangan. Ia menatap gedung-gedung tinggi di Singapura dengan mata yang berkilat tajam.
"Bagus. Siapkan jet pribadi. Kita kembali ke Jakarta sore ini," perintah Alvaro. "Pastikan dia tidak melarikan diri. Dia adalah tiket utama kita untuk meruntuhkan skenario perselingkuhan yang dibuat Johan."
Alvaro menutup teleponnya dengan perasaan lega. Ia tahu, sebentar lagi Hanum tidak hanya akan mendapatkan hak asuh Aliya dan Adiba, tapi juga martabatnya yang sempat terinjak. Dengan bukti ini, Johan tidak akan punya tempat untuk bersembunyi. Perangkap telah dipasang, dan kali ini, sang predator lah yang akan terjepit.
Bersambung...
2 dalam perahu,diluar malu padahal didalam hatinya mau, saking nyaman sama Alvaro,Hanum nggak sadar nyender ke Alvaro 🤔🤔🤔