"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"
#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGKHIANATAN DI BAWAH BULAN BERDARAH
Debu semen masih menggantung di udara seperti kabut maut saat Arka berdiri di tengah reruntuhan hanggar. Di depannya, dua Shadow Guard yang tersisa berdiri kaku, rantai hitam mereka berdenting pelan, menciptakan melodi kematian yang ganjil.
Arka bisa merasakan energi dari Giok Langit yang baru saja ia "hisap" sedang berperang di dalam pembuluh darahnya. Rasanya seperti menelan pecahan kaca yang membara. Pedih, tapi kuat.
"Hanya ini?" Arka meludah ke samping, darahnya berwarna merah pekat berbaur dengan sisa-sisa energi emas. "Konsorsium mengirim mayat-mayat kaleng ini untuk menjemput nyawaku?"
Tanpa aba-aba, kedua Shadow Guard itu melesat. Mereka bukan bergerak seperti manusia; mereka meluncur seperti bayangan yang robek. Rantai hitam mereka memanjang, melilit pilar-pilar beton dan menghantam ke arah Arka dari dua sudut yang mustahil.
BRAAAKK!
Lantai beton tempat Arka berdiri hancur berkeping-keping. Arka melompat ke udara, berputar 360 derajat sambil melepaskan gelombang Ki berbentuk sabit emas.
SLASH!
Salah satu lengan Shadow Guard putus, tapi tidak ada darah yang keluar. Hanya cairan hitam kental berbau kimia yang menyembur. Makhluk itu bahkan tidak mengerang. Ia justru menggunakan rantainya untuk menangkap lengannya sendiri yang putus di udara dan melemparkannya kembali ke arah Arka seperti bom.
"Sialan, mereka benar-benar bukan manusia," umpat Arka.
Ia mendarat dengan mulus, namun tepat saat itu, jantungnya berdenyut hebat. Efek dari penyembuhan Jenderal Pratama tadi pagi kembali menagih hutang. Mata Saktinya berkedip tidak stabil. Pandangannya sempat kabur selama setengah detik.
Dan di dunia persilatan kelas atas, setengah detik adalah perbedaan antara hidup dan mati.
SREEEET!
Ujung rantai hitam itu menyayat pipi Arka, meninggalkan luka bakar yang mengeluarkan asap ungu. Arka terhuyung. Di saat itulah, Shadow Guard ketiga yang tadi terlempar, kembali muncul dari balik reruntuhan.
Namun, ia tidak menyerang.
Makhluk itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Di jemarinya yang pucat, menggantung sebuah kalung perak dengan liontin batu safir kecil yang retak.
Waktu seolah berhenti bagi Arka.
"Kalung... Ibu?" bisik Arka. Napasnya tercekat.
Itu adalah kalung yang selalu dipakai Maria. Kalung yang kata ibunya adalah satu-satunya kenang-kenangan dari ayahnya yang hilang. Arka tahu persis goresan di sudut batu safir itu. Itu kalung yang seharusnya ada di leher ibunya yang sedang dijaga ketat di aman-mansion Wijaya.
"Kenapa... kenapa itu ada padamu?!" Arka meraung. Kemarahannya meledak, memicu Mata Saktinya hingga mencapai tahap yang belum pernah ia capai sebelumnya: Evolusi Tahap 2.5: Murka Naga.
Udara di sekitar Arka mulai bergetar hebat. Tekanan gravitasinya naik hingga membuat para pengawal Macan Putih di kejauhan jatuh berlutut karena sesak napas. Tuan Li sendiri sampai harus menancapkan bola bajanya ke lantai agar tidak terhempas.
"Kembalikan!"
Arka melesat. Kali ini, kecepatannya sudah melampaui batas suara. BOOM! Ledakan sonik menghancurkan sisa-sisa kaca di pasar bawah tanah itu.
Ia mencengkeram leher Shadow Guard yang memegang kalung itu. Tangannya membara dengan api emas. Ia siap menghancurkan kepala makhluk itu hingga menjadi atom.
Tapi, tepat di saat jemari Arka hampir meremukkan leher sang pembunuh, sebuah suara halus terdengar tepat di belakang telinganya. Suara yang sangat familiar. Suara yang selama ini ia percayai sebagai perlindungannya.
"Maafkan aku, Arka. Harga yang mereka tawarkan terlalu tinggi untuk ditolak."
JLEB!
Dunia mendadak menjadi sangat sunyi.
Arka terpaku. Ia menunduk perlahan. Sebuah bilah tipis berbahan kristal hitam menembus punggungnya, tepat di titik saraf yang mematikan aliran Ki-nya, dan tembus hingga ke dada depan. Darah hangat mulai membasahi kemeja putihnya, berubah menjadi mawar merah yang mekar dengan cepat.
Arka menoleh dengan gerakan kaku. Di belakangnya, berdiri Clarissa.
Gadis itu masih tampak anggun. Wajahnya tetap cantik seperti biasanya, namun matanya yang biasanya penuh kekaguman kini sedingin es kutub. Di tangannya, ia memegang hulu pedang kristal yang kini bersarang di tubuh Arka.
"Clarissa... kau?" suara Arka serak, tersumbat oleh darah yang naik ke tenggorokan.
"Konsorsium tidak cuma punya uang, Arka. Mereka punya 'obat' untuk kutukan keluargaku," bisik Clarissa sambil memutar sedikit bilah pedangnya di dalam tubuh Arka. "Kau adalah keajaiban, tapi kau adalah keajaiban yang berbahaya. Ayahku, Klan Wijaya... kami lebih memilih bertahan hidup daripada mati bersamamu."
Tuan Yan, yang berdiri beberapa meter di sana, langsung mencabut pistol peraknya ke arah Clarissa dengan tangan gemetar. "Nona Clarissa! Apa yang kau lakukan?! Kau gila?!"
"Diam, Yan! Atau kau mau aku mengirim kepala Maria kepadamu?" bentak Clarissa.
Arka terjatuh ke lututnya. Kekuatannya menguap seperti embun terkena matahari. Pedang kristal itu bukan pedang biasa; itu adalah Qi-Nullifier, senjata langka yang dirancang khusus untuk membekukan energi kultivator.
Ketiga Shadow Guard itu kini berdiri melingkari Arka yang sekarat. Salah satu dari mereka menjatuhkan kalung Maria ke lantai, tepat di depan wajah Arka yang kini berlumuran debu dan darah.
"Jadi... semua ini sandiwara?" Arka tertawa kecil, suara tawa yang diiringi batuk darah. "Penyelamatan di Tower Regalia... aliansi kita... semuanya?"
Clarissa tidak menjawab. Ia menarik pedangnya dengan kasar dari punggung Arka.
Arka tersungkur. Matanya mulai meredup. Cahaya emas di pupilnya hilang, menyisakan tatapan manusia biasa yang rapuh.
"Habisi dia," perintah Clarissa pada para Shadow Guard. "Bawa kepalanya ke Dewan Konsorsium. Aku akan mengambil alih sisanya."
Shadow Guard terbesar mengangkat rantai hitamnya, melilitkannya ke leher Arka, dan bersiap untuk memenggalnya. Tuan Li dari Macan Putih hanya bisa menonton dengan wajah pucat; dia tidak berani melawan Konsorsium jika mereka sudah turun tangan secara total.
Namun, di saat maut tinggal satu senti dari leher Arka, sebuah getaran aneh muncul dari bawah lantai hanggar.
Bukan getaran gempa. Tapi getaran detak jantung.
Thump... Thump... Thump...
"Ruang kosong itu..." gumam Arka di dalam pikirannya.
Di dalam kegelapan yang hampir merenggut kesadarannya, Arka melihat ibunya, Maria. Tapi bukan Maria yang lemah di tempat tidur. Ia melihat sosok Maria yang berdiri di atas hamparan bintang, mengenakan jubah putih yang memancarkan cahaya yang bisa mematikan mata siapa pun yang melihatnya.
Arka, putraku... Naga tidak mati karena tusukan semut. Naga mati hanya jika dia menyerah pada takdirnya. Bangun... dan ambil apa yang menjadi milikmu!'
Tiba-tiba, kalung safir yang tergeletak di debu itu pecah.
Bukan pecah biasa, tapi meledak menjadi partikel cahaya biru yang sangat pekat. Partikel itu bukannya menyebar, malah masuk ke dalam luka tusukan di dada Arka.
Luka itu tidak tertutup, tapi terbakar.
Mata Arka terbuka lebar. Tapi kali ini, matanya tidak berwarna emas. Mata kirinya berubah menjadi hitam pekat sepekat lubang hitam (Black Hole), dan mata kanannya berubah menjadi putih menyilaukan (Supernova).
Mata Sakti Evolusi Tahap 3: Dualitas Kehampaan.
Tekanan energi yang keluar dari tubuh Arka begitu kuat hingga Clarissa terlempar puluhan meter ke belakang hingga menghantam pilar besi. Ketiga Shadow Guard itu langsung hancur menjadi debu bahkan sebelum mereka sempat bergerak.
Arka berdiri perlahan. Rambutnya yang hitam kini memiliki gurat-gurat perak. Ia tidak lagi memandang Clarissa dengan kebencian. Ia memandang dunia seolah semuanya hanya butiran debu yang tidak berarti.
"Clarissa," suara Arka bukan lagi suara manusia. Itu adalah suara ribuan jiwa yang berbicara secara bersamaan. "Kau bilang kau ingin bertahan hidup?"
Arka mengangkat satu tangannya. Ruang di sekitar Clarissa mulai melintir, seolah-olah realitas di sana sedang diperas oleh tangan raksasa yang tak terlihat.
"Maka hiduplah dalam neraka yang kau buat sendiri."
Arka tidak membunuh Clarissa. Dia melakukan sesuatu yang jauh lebih kejam: Dia menghapus seluruh jalur Ki dan memori Clarissa, menjadikannya "wadah kosong". Namun, saat Arka akan menjemput ibunya, dia menyadari satu hal yang mengerikan. Maria yang selama ini dia jaga... bukanlah Maria yang asli. Maria yang asli tidak pernah meninggalkan "Dunia Atas". Lantas, siapa wanita yang selama ini ia panggil Ibu?
semangat kak👍