Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Sang Tetua Klan
Keheningan hutan yang tadinya mencekam perlahan mencair menjadi bisikan kekaguman yang menjalar di antara pepohonan raksasa.
Wanita bercadar itu, yang kemudian diketahui bernama Lin Xi, menyarungkan belati tulangnya.
Ia memberikan isyarat tangan yang rumit ke arah rimbunnya dedaunan, dan seketika puluhan bayangan penjaga hutan yang mengintai mulai memudar, memberikan jalan bagi sang tamu asing.
"Ikutlah denganku," ujar Lin Xi, suaranya kini melunak namun tetap menjaga jarak. "Keberadaanmu bukan sesuatu yang bisa diputuskan oleh penjaga perbatasan. Penampilanmu ... adalah anomali yang hanya bisa dipahami oleh Sang Tetua."
Mereka berjalan menembus kabut hijau yang semakin tebal, hingga sampai di sebuah desa yang terintegrasi sepenuhnya dengan alam.
Rumah-rumah di sana dibangun di atas dahan pohon raksasa, dihubungkan oleh jembatan gantung dari akar-akar yang dikeraskan.
Cahaya di sana bukan berasal dari obor, melainkan dari jamur-jamur pendar yang tumbuh di kulit kayu.
Begitu mereka memasuki area pemukiman, suasana mendadak gempar.
Kedatangan orang asing adalah hal langka, namun kedatangan pemuda seperti Yan Bingchen adalah peristiwa sekali dalam satu abad.
Para wanita klan LIN, yang biasanya tenang dan fokus pada ramuan obat, menghentikan aktivitas mereka.
Mereka terpana melihat rambut merah-putih yang berkilau dan mata dualitas yang menembus jiwa.
Banyak dari mereka yang menjatuhkan keranjang obatnya, wajah mereka merona merah, jatuh hati dalam pandangan pertama pada pesona luar biasa yang dingin milik Yan Bingchen.
Namun, pemandangan berbeda terjadi pada Mo Ran. Ia justru dikerumuni oleh gadis-gadis muda dan anak-anak. Bukan karena ketampanannya, melainkan karena Si Hitam.
"Wah! Serigala apa ini? Bulunya sangat gagah!" seru seorang gadis sambil mencoba menyentuh telinga Si Hitam.
"Lihat matanya! Apakah dia bisa mengerti bahasa kita?" timpal yang lain.
Mo Ran yang tadinya ketakutan, kini mulai besar kepala. Ia mengelus leher Si Hitam dengan gaya sok keren. "Tenang, Nona-nona! Si Hitam ini memang terlihat garang, tapi dia sangat setia. Dia hanya patuh padaku dan Kak Bingchen. Jangan takut, dia tidak menggigit ... kecuali kalau kalian tidak memberinya daging segar, hehe!"
Si Hitam hanya bisa mendengus pasrah, membiarkan tangan-tangan lembut para wanita hutan mengelus bulunya, sementara matanya tetap melirik waspada ke arah Yan Bingchen yang berjalan lurus ke depan.
Yan Bingchen dipandu menuju pohon paling besar di pusat Federasi, yang dikenal sebagai Pohon Leluhur.
Di puncaknya, dalam sebuah aula terbuka yang menghadap ke seluruh hamparan hutan, duduklah seorang pria tua dengan rambut seputih salju yang menyentuh lantai.
Pria itu adalah Tetua Lin Mu, pemimpin tertinggi Federasi LIN yang berada di Tahap Pemutus Belenggu (Ranah ke-7).
Begitu Yan Bingchen melangkah masuk, Tetua Lin Mu membuka matanya. Seketika, tekanan Qi yang murni dan menenangkan memenuhi ruangan. Sang Tetua tertegun, ia berdiri dari duduknya—sebuah gestur yang sangat jarang ia lakukan.
"Luar biasa ..." bisik Tetua Lin Mu, suaranya seperti desau angin di puncak gunung. "Dua kutub yang saling bertolak belakang, api yang menghanguskan dan es yang membekukan, bersemayam dalam satu wadah yang begitu sempurna. Dan mata itu ... itu bukan sekadar mutasi, itu adalah Mata Samsara Elemen yang belum terbangun sepenuhnya."
Yan Bingchen membungkuk hormat dengan tata krama yang tak bercela. "Hamba Bingchen, memohon bimbingan Tetua untuk menenangkan badai di dalam tubuh hamba."
Tetua Lin Mu berjalan mendekat, menatap dalam ke arah mata merah dan biru Yan Bingchen. "Kau membawa takdir yang berat, Anak Muda. Di Benua Tiandi ini, kekuatanmu adalah berkah sekaligus kutukan. Aku bisa merasakan kau baru saja mencapai Pembentukan Fondasi, namun pondasimu lebih padat daripada mereka yang berada di ranah ke-5."
Sepanjang pembicaraan, beberapa murid wanita berbakat yang melayani sang Tetua berdiri di sudut ruangan, tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Yan Bingchen.
Tatapan mereka penuh damba dan kekaguman. Namun, Yan Bingchen sama sekali tidak melirik mereka.
Baginya, setiap detik adalah perjuangan untuk bertahan hidup. Cinta dan asmara baginya hanyalah gangguan yang bisa melemahkan konsentrasi Dantian-nya.
"Aku tidak tertarik pada urusan duniawi yang fana, Tetua," ujar Yan Bingchen seolah bisa membaca pikiran orang-orang di sekitarnya. "Tujuan hamba hanya satu: menjadi cukup kuat agar tidak ada lagi yang bisa mendikte hidup hamba."
Tetua Lin Mu tersenyum tipis, ada rasa kagum sekaligus iba di matanya. "Hati yang sedingin es dan tekad sekeras api. Baiklah, kau boleh menetap di sini. Federasi LIN akan membantumu menstabilkan energimu sebelum kau mencoba melompat ke Tahap Inti Sejati. Namun, ketahuilah, harga yang harus kau bayar adalah menjaga rahasia hutan ini dengan nyawamu."
Malam itu, Yan Bingchen diberikan sebuah pondok meditasi yang terpencil. Di bawah cahaya jamur pendar, ia mengeluarkan Pil Pelindung Jantung pemberian Kaisar Shan.
Meskipun banyak wanita cantik yang mencoba membawakannya buah-buahan atau ramuan penyegar sebagai alasan untuk bertemu dengannya, Yan Bingchen tetap menutup pintunya rapat-rapat.
Ia duduk bersila, membiarkan energi hutan yang murni masuk ke dalam pori-porinya, bersiap untuk tantangan terbesar dalam hidupnya: mengkristalkan energinya menjadi Inti Sejati.
Di kejauhan, suara tawa Mo Ran yang masih dikerumuni wanita terdengar sayup-sayup, namun bagi Yan Bingchen, kesunyian adalah satu-satunya teman yang ia butuhkan untuk mencapai puncak keabadian.